Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Maulana Akbar vs Nenek Rima


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Ibu Rima sudah bersiap. Hari ini ia akan bertandang kerumah Emil. Karena baru saja mendapatkan kabar jika Alisa hamil lagi.


Hamil anak ketiga. Yang berarti cucu ketiga dari Emil. Sebenarnya ia malas kesana, tapi karena Nia yang mengajaknya, mau tak mau dia harus pergi ke rumah menantu sialan nya itu.


Ya, semenjak Ayah Bram meninggal, kini panggilan nya jadi berubah untuk Alisa. Dulunya baik karena ada Ayah Bram yang membela nya dan sekarang?


Bukankah Ayah Bram sudah tiada? Jadi untuk apa lagi berbaik hati dengan menantu sialan nya itu. Pikirnya.


''Udah siap, Mak??'' tanya Nia.


''Udah!'' ketusnya.


Nia menghela nafasnya. Sulit sekali untuk membujuk Mak nya ini agar bisa berbesar hati menerima Alisa.


Nia dan Mak Rima mendatangi rumah Alisa dan Emil saat masih pagi. Dan kebetulan hari ini hari Minggu.


Pastilah kedua cucu nya itu berkumpul dirumah. Setibanya disana, Nia memarkirkan motornya di depan rumah Emil, sedangkan ibu Rima langsung saja masuk dan mengucapkan salam.


''Assalamualaikum... Mil? Ira? Lana!'' Panggilnya.


Ira yang mendengar ada suara orang mengucapkan salam berlari keluar dengan spatula berisi sambal ada di tangan nya.


''Waalaikum salam! Nenek?? Sama siapa??'' Ira kebingungan melihat Nenek nya pagi-pagi sekali sudah ada dirumah mereka.


Ya, rumah kontrakan itu sekarang sudah menjadi rumah Emil. Karena setiap bulan Alisa lah yang menyicil nya. Tinggal separuh lagi sisa pembayaran nya.


Emil tidak tau tentang itu. Yang dia tau jika itu masihlah rumah Kakak nya. Untuk pembuatan teras kemarin saja Alisa yang memberikan uang nya kepada Rita, agar ditambah ke depan sedikit.


Kalaupun hujan tidak tempias, begitu pikir Alisa. Sempat Emil menolak, tapi karena Rita yang memintanya jadilah Emil menuruti keinginan Kakak nya itu.


Mak Rima yang melihat Ira sedang memegang spatula, tersenyum sinis kepada cucu nya.


''Mak mu kemana? Kenapa kamu yang masak?? Apa segitu parahnya hamil yang ketiga ini, hingga anak sendiri di perbudakkan dan suruh sana sini??'' ketus Mak Rima.

__ADS_1


Ira yang mendengar terkejut. ''Bukan seperti itu, Nek! Mak sedang sakit, jadi Kakak yang memasaknya. Apa salahnya coba jika Kakak yang memasak!'' sahut Ira sembari bersungut-sungut. Ia begitu kesal dengan ucapan Nenek nya tadi.


''Lihatlah! Akibat didikan dari menantu sialan itu! Sekarang cucu ku berani melawan diriku! Dasar menantu kurang ajar! Bisanya hanya tidur dan makan saja?! Mati anakku mencari makan setiap hari untuk mengurus wanita sampah sepertinya! heh!''


Deg!


Lana yang baru saja datang dari luar terkejut mendengar ucapan Nenek nya itu untuk Mak nya. Wajah Lana berubah menjadi datar.


Tangannya mengepal erat. Jika seandainya bisa ia menghajar orang tua itu, maka akan di hajar oleh nya.


''Masak apa kamu?? Mak mu mana? Panggil keluar! Anak masih kecil kok disuruh masak! Nggak takut apa? Rumah ini akan terbakar?!'' ketus nya lagi.


Ira diam tidak mau menyahuti. Karena ia tau, Mak nya selalu salah dimata Nenek nya ini.


''Ayo Ira! Panggil Mak mu keluar! Hamil kok tiduran aja?! Gerak sana! Mertua datang malah tiduran! Bisanya apa sih selain tidur aja? Oh.. pastilah menghabiskan uang anakku! Anakku mati-matian mencari uang! Sedang dirinya enak-enakan dirumah! tidur dan makan! Sedang pekerjaan rumah? Anak nya yang mengerjakan! Cih! Sungguh menantu tidak tau diri! Menantu sialan!! Menantu pembawa sial!!!''


Ddddduuuaaarrrr...


Lana yang mendengar nya semakin marah. Sedangkan Alisa di dalam kamar memejamkan kedua matanya.


''Panggilkan menantu pembawa sial-''


''Cukup!!! Cukup Nenek Rima!!! Jika kedatangan nenek kesini hanya untuk menghina Mak ku? Lebih baik Nenek pulang!! Keluarrr!!!'' sentak Lana.


Deg!


Emil dan Nia terkejut mendengar suara Lana yang begitu lantang memekik Mak mereka. Sedangkan Mak Rima mematung mendengar suara cucu lelaki nya itu.


Emil dan Nia bergegas masuk. ''Ada apa ini? Kenapa kau menyentak Nenek mu seperti itu! Nenek Rima itu Mak ku! Kau tak berhak memarahi nya! Karena dia adalah surga ku!'' ucap Emil kepada Lana.


Lana menoleh pada Emil dengan tatapan dinginnya. ''Jika Ayah tidak atau apapun, tidak usah berbicara! Disini yang berhak bicara adalah aku! aku putra Alisa Febriyanti! Alisa itu surga ku! Sama seperti Ayah! Lantas kenapa Mak, Ayah menghina surgaku hingga sekeji itu? Apakah selama ini kurang yang Mak ku berikan kepada Mak Ayah??'' tanya Lana dengan raut wajah datar nya


Emil terkejut mendengar ucapan Lana. ''Apa maksudmu??''

__ADS_1


Lana menoleh pada nenek Rima yang terkesiap karena ucapan nya. ''Nenek tau apa maksudku! Apa harus ku jelaskan disini Nek??'' tanya nya pada nenek Rima.


Nenek Rima semakin terkejut dengan ucapan Lana. ''Ah, eh, em.. Emil! Sebaiknya Mak pulang saja ya? Kapan-kapan Mak kesini lagi! Salam aja sama Alisa.'' Imbuhnya, kemudian dengan segera berlalu pergi.


Uwak Nia heran melihatnya, karena sedari tadi ia sedang berbicara dengan Emil dan juga Maya.


Istrinya dokter Alvian. ''Loh? Kita pulang? Tapi belum ketemu sama Alisa loh? Mak??'' tanya Uwak Nia.


Mak Rima semakin cepat melajukan langkahnya. Lana yang melihatnya tersenyum sinis.


''Berani nenek menghina Mak ku! Maka kartu Nenek akan ku buka sekarang juga! Jika bukan karena Mak yang melarang ku, maka dari dulu aku sudah mengatakan nya pada Ayah.'' Gumam Lana masih terdengar oleh Ira.


Sedangkan Emil menatap tajam pada Lana. ''Kamu-''


''Jangan Ayah menceramahi diriku! Aku tau siapa dan dimana aku harus berbicara seperti itu! Bukan seperti Ayah! Istri sendiri pun di bentak dan dikasari! Ingat Yah! Segala tindak tanduk Ayah sekarang akan ada balasan nya nanti! Aku memang tidak bisa membalas perlakuan Ayah, tapi akan ada seseorang yang akan membalas rasa sakit hatiku pada Ayah, karena telah menganiaya surgaku tanpa belas kasih!''


''Sekarang Ayah bisa tenang, tapi ingatlah ini! Jika suatu saat Ayah mendapatkan karma dari semua perbuatan Ayah, berarti di saat itulah seseorang itu akan datang dalam kehidupan Ayah! Maka dialah yang akan membalas semua apa yang selama ini kami sembunyikan! Cukup Yah! Cukup sudah Ayah menyakiti surgaku! Ayah berani membentak ku karena aku melukai perasaan surga mu? Lalu bagaimana dengan ku? Jika setiap harinya, mulai dari sarapan hingga makan malam Ayah selalu saja memarahi surgaku dengan alasan yang tidak jelas! Surgamu dan surga ku sama Ayah! mereka berdua wanita! Wanita yang telah melahirkan kita!''


''Aku tak akan membiarkan siapapun lagi menghina dan merendahkan harga diri Mak ku! Surgaku! Jika orang itu berani melakukan nya, maka akulah lawannya! Aku, MAULANA AKBAR PUTRA KANDUNG ALISA FEBRIYANTI yang akan menghajar siapa pun yang berani menghina dan melukai surgaku! Aku memang di lahir kan untuk melindungi surgaku dari orang-orang yang sengaja berniat ingin menghancurkan kehidupan nya!''


''Ingat itu ayah Milham! Itupun berlaku untukmu! Aku tak peduli jika kau adalah Ayahku! Apapun akan kulakukan untuk Mak ku! Surga ku! Camkan itu! Ayo Kak! Abang bantu masak! Tadi Mak pingin makan bubur pulut putih sama buah nangka kan??'' tanya nya pada Ira.


Ia tak memperhatikan raut wajah Emil yang begitu terkejut karena ucapan putra semata wayang nya itu.


Lana bergegas ke dapur, namun sebelum itu ia berbalik dan berbicara lagi pada Ayah Emil dengan raut wajah datar dan dingin.


''Jika ingin kita dihargai orang, maka terlebih dahulu hargailah orang lain. Jangan mentang-mentang kita yang paling tua saja, kita yang harus terlebih dahulu di hargai. Tapi hargailah baik itu tua muda sama saja. Ingat Yah! Ajarkan Mak, Ayah untuk menghargai Mak ku walau sedikit saja! Sudah cukup selama ini Mak ku selalu kalian hina! Jika sekali lagi kalian menghina Mak ku, maka jangan salah kan aku jika Ayah yang akan menanggung akibatnya! Ayo Kak!''


💕


Ramah konflik!


Siapkan hati!

__ADS_1


TBC


__ADS_2