
Setelah urusannya dengan Hendra selesai, kini Alisa bisa bernafas lega. Ia tersenyum membayangkan wajah Emil. Tak hentinya bibir Alisa mengukir senyum hingga jadi bahan ledekan sahabatnya.
'' Cie cie yang lagi kesemsem sama kang mas! ayo mikirin apa??'' ejek Moli.
'' Nggak ada.. cuma lagi bayangin aja nanti pulangnya ketemuan nggak ya..?''
'' Ihh.. Alisa udah rindu berat nih sama kangas rupanya! ayo sob kita bilangin bang Emil, agar mau ketemuan sama Alisa.!''
'' Ihh.. kamu kok gitu sih Moli .. nggak gitu juga kali...'' serunya.
Alisa tersenyum tapi tak lama setelah itu ia murung. Ia jadi memikirkan tentang seseorang disana yang sangat menyukai calonnya. Apakah ia mampu menghadapi nya mati ketika pulang sekolah? Hah, Alisa murung jadinya.
Melihat Alisa yang murung seperti itu, membuat Moli bertanya tanya ada apa sebenarnya dengan sahabatnya itu.
'' Kamu kenapa Lis ?? tadi senyum, sekarang kok malah murung? ada sesuatu yang kami tidak tau lis??''
Alisa menggeleng. Ia takkan menceritakan yang sebenarnya kepada mereka semua. Baginya biarlah ia sendiri yang tau tapi tidak dengan orang lain. Karena itu akan menjadi celah dalam hubungannya dengan Emil.
Lagi, Alisa membuang nafasnya pelan.
''Ya sudah jika kamu tak ingin bicara, Tapi... jika nanti kamu butuh bantuan ataupun solusi berbagilah dengan kami. Kami sahabat mu siap membantu okey??''
Alisa mengangguk '' terimakasih sahabat ku.. kalian yang terbaik!!'' ucapnya seraya menunjukkan dua jempolnya.
'' Tentu dong... kita gitu loh...'' mereka semua tertawa bersama. Berharap sedikit saja mengurangi rasa gundah dihati Alisa.
Entah mengapa, ia merasa jika kak Ros akan menunggunya pulang dan berbicara padanya. Alisa menarik nafasnya terus membuangnya keudara.
Semoga saja itu tidak terjadi.
****
Selesai dengan urusan sekolahnya, kini saatnya Alisa pulang kerumah seperti biasa. Tapi ada yang berbeda, rumahnya itu tidak lagi sama. Semua itu berubah sejak kedatangan Emil dalam hidupnya. Entah apa jadinya nanti jika Alisa menikah dengan pemuda itu, apakah akan terjadi goncangan yang lebih dahsyat lagi??
Entahlah! iapun tak tau.
__ADS_1
Alisa mengayuh sepeda dengan pelan. Seperti biasa ia selalu melewati tikungan jalan didepan toko kak Ross. Entah mengapa perasaan nya jadi tak karuan. Ingin balik, tapi tak mungkin rumahnya disana. Ingin menjauh tapi berat sekali rasanya. Karena toko kak Ross serba lengkap barang dagangan nya.
Alisa mencoba tenang, ia berharap tidak bertemu dengan kak Ross nantinya. Ia mengayuh sepedanya sambil melamun. Tak terasa ia sudah sampai didepan toko kak Ross. Dan tepat seperti dugaannya, jika kak Ross sudah menunggunya.
Alisa takut, ia jadi gamang ingin bertemu dengan nya. Tatapan matanya mengisyaratkan sesuatu yang entah seperti apa. Sangat dalam dan tajam. Saking tajamnya menebus hingga ke jantung.
Wajah nan dingin sedingin hatinya untuk Alisa.
Alisa yang melihat nya berpaling ke arah lain. Alisa mencoba menetralkan detak jantungnya.
Alisa berpura pura tidak melihat kak Ros, dan pada akhir kak Ros memanggilnya.
'' Alisa Febriyanti binti Yoga Sebastian..!!'' panggilnya dengan nada dingin sedingin kutub es di kutub Utara.
Alisa terkejut. Hampir saja ia jatuh. Saking terkejutnya wajah Alisa pucat memandang kak Ros yang menatapnya tajam.
Mati aku! Sekarang aku harus apa? Bang Emil .. bantu Alisa...
Bisiknya dalam hati sembari mendekati kak Ros. Alisa takut melihat raut wajah kak Ros yang tak seramah biasanya. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Tatapan mata setajam silet.
Kak Ross berjalan mendekati Alisa. Setelah tiba didekat Alisa, kak Ros mencengkeram stang sepeda Alisa dengan kuat. Seolah sedang menyalurkan rasa amarahnya kepada Alisa melalui sepedanya.
Alisa jadi gugup ditatap seperti oleh kak Ros. Kak Ros melihat Alisa yang ketakutan tersenyum sinis. Ia menduga, jika Alisa takut padanya dan akan melepaskan Emil untuknya. Begitu pikir kak Ross.
'' Ayo ikut dengan ku! kita harus bicara!'' ucapannya dingin membuat Alisa merinding.
Alisa yang ketakutan mencoba berani dihadapan kak Ross. '' Ki-kita ke-kemana kak??'' tanpa sadar ia tergagap membuat kak Ros tersenyum miring.
Melihat Kaka Ros tersenyum seperti itu bertambah takutlah Alisa. Tangannya bergetar dan mengeluarkan keringat dingin.
Kak Ros terkekeh melihat Alisa. Alisa yang melihat kak Ros terkekeh bertambah ciut lah semangatnya. Melihat kekehan kak Ros, seperti kekehan Mak lampir yang sedang terbang mengejar mangsanya. Hii serem!
Kak Ros terus saja menarik Alisa hingga sampai dihalaman belakang rumahnya. Alisa dengan sabar mengikuti nya dari belakang.
'' Duduk!!'' perintahnya, membuat Alisa terduduk disana. Setelah melihat Alisa duduk barulah ia melepaskan cekalan tangannya pada Alisa.
__ADS_1
Alisa masih saja menunduk. Kaka Ros terus saja memperhatikan setiap gerakan Alisa. Baginya sangat puas melihat Alisa yang ketakutan berhadapan dengan dirinya.
'' Alisa! kamu tau? kenapa kamu dipanggil kesini?'' tanyanya
Alisa menggeleng, ia benar tidak tau ada maksud apa kak Ros padanya. Walaupun hati kecilnya mengatakan jika ini berkaitan dengan Emil.
'' Katakan! sejak kapan kamu jadi wanita penggoda??''
Deg!
Alisa terkejut dengan pernyataan kak Ros. Ia tak menyangka kak Ross tega menuduhnya seperti itu. Alisa yang menunduk, mendongak menatap kak Ros yang tersenyum sinis padanya.
'' Apakah sudah menjadi kebiasaan keluargamu jika ingin memikat lelaki dengan cara jadi wanita penggoda??'' tanya lagi.
Alisa memejamkan matanya sesaat. Sungguh keterlaluan kak Ross ini menuduh keluarganya pula. Melihat Alisa terdiam mmembuat kak Ros ingin mencecar Alisa lebih dalam lagi.
'' Apa yang sudah kamu berikan padanya? Sehingga Emil begitu ingin memiliki mu?? Apakah kamu menjual tubuhmu pada nya??''
Deg!
Deg!
Alisa menatap nanar pada kak Ros.
💟💟💟💟
Hayo kak Ros.. kamu akan membangunkan singa yang sedang tidur itu.. awas kamu kak...😄😄
Terimakasih yang udah mampir.. othor mengucapkan banyak terimakasih.
Yang masih nunggu.. semoga klean nggak bosan ya.. maklum othor sibuk sama bocil dan juga persiapan lebaran nanti.
Semoga kalian suka..
Pencet like dan komen ye...
__ADS_1
😁😁😁🤗🤗