Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Terluka


__ADS_3

Emil menarik tangan Alisa hingga sampai kerumahnya. Sesampainya disana, Emil melepas tangan Alisa dan membuang nafasnya gusar.


Sesekali ia mengusap wajahnya kasar.


Alisa memandang nya tanpa kedip. Emil yang merasa dirinya sedang diperhatikan, menoleh. Dan ia melihat Alisa sedang menatapnya tanpa kedip, membuat amarahnya yang tadinya sedang meluap luap jadi hilang entah kemana.


Ia tersenyum melihat Alisa yang memandangnya tanpa kedip. Alisa sadar ketika Emil menyentuh lengannya.


Alis kaget. Ia jadi salah tingkah, karena ketahuan sedang menatapnya tanpa berkedip. Ia jadi malu. Karena malu, wajahnya menyembulkan semburat merah di pipinya.


Membuat Emil gemas. Ingin sekali ia mencubit pipi yang sedang kemerahan itu. Tapi ia tahan, takut nantinya akan menjadi masalah untuknya dan juga Alisa.


Lama ia memandang Alisa yang menunduk, tidak berani menatap Emil. Emil semakin gemas dibuatnya.


'' Dek.. lihat Abang atuh.. kok menunduk sih?? Kan nggak keliatan muka cantiknya!'' godanya, membuat Alisa bertambah malu.


Alisa terus saja menunduk. Tak mau menatap Emil. Malu..


'' Lihat Abang dek.. kali ini Abang ingin ngomong serius sama kamu! bisakan tatap Abang sebentar??'' imbuhnya, seraya terus melihat Alisa yang tertunduk.


Jantung Alisa berdebar. Ia jadi merasa takut, apakah ini ada hubungannya dengan kak Ros tadi yang menghina nya.


Alisa mendongak menatap Emil yang juga menatapnya dalam.


'' A-apa yang ingin Abang bicarakan??'' ucapnya, sekuat tenaga Alisa berusaha menjawab omongan Emil. Kakinya gemetar hingga keringat dingin mencuat di dahi nya.


'' Kenapa tadi kamu diam saja saat dihina seperti itu olehnya?? Kenapa kamu tidak membela diri sendiri?? Orang seperti itu harus dilawan dek! bukan di diamkan! Gimana sih kamu ini?'' ucapnya kesal


'' Ma-maaf bang .. bukan Alisa nggak ingin melawan, hanya saja saat ingin menjawabnya keburu diserobot atuh omongan Alisa sama Abang.. eh?'' Alisa menutup mulutnya.


Emil bengong.


'Bener juga sih' pikirnya.


'' Lalu tadi kenapa juga kamu hanya berdiri mematung? Tak mau membalasnya? kenapa?''


'' Bu-bukan nggak mau balas Abang.. Alisa hanya nggak mau menyakiti hatinya! karena Alisa tau, jika kak Ros sedang patah hati!''


'' Patah hati??''


'' Hooh.. itu yang Alisa lihat dari matanya. Bukankah kak Ros menyukai Abang?? Abang udah taukan?? Atau Abang, pura pura nggak tau didepan Alisa?? Iya??''


Deg!


Emil terkejut. Jantung berdenyut keras membuat kepalanya terasa pening seketika.


Waduh.. dari mana ni anak tau? Kalau si Ross menyukaiku?? Apakah ia mendengar obrolan kami pada hari itu?? Kalau iya.. apa yang harus aku jawab sekarang?? Mampus !!


Gumamnya dalam hati.


Emil jadi salah tingkah sendiri. Alisa terus saja memandanginya, membuat Emil tidak karuan ditatap Alisa seperti itu.

__ADS_1


'' Kenapa Abang diam?? Benarkan yang Alisa katakan??''


Emil gelagapan ditanya alasan saja seperti itu.


'' E-enggak.. bu-bukan seperti itu dek..Abang hanya nggak mau kamu terluka.. itu saja..'' kilahnya.


'' Memangnya Abang tau jika Alisa terluka karena itu? Darimana Abang tau? Sedang Alisa tidak pernah mengatakan nya sama Abang!''


*Mati aku!!


Dijawab salah ! nggak dijawab juga lebih salah.. CK! dasar perempuan ! selalu ingin menang*..!!


Emil diam, ia tak berani lagi berkata apapun. Lama mereka terdiam, larut dalam pemikiran masing-masing.


Pada akhirnya, Emil yang sudah tidak tahan didiamkan buka suara..


'' Ya sudah kalau begitu, lain kali jika Adek mendapatkan kesulitan baik itu dari luar atapun keluarga, Adek jangan segan untuk ngomong sama Abang ya..? Kapan saja Abang siap membantu. Okeyyy cantik??'' imbuhnya seraya menggoda Alisa.


Alisa tersenyum.


'' Akhirnya bidadari surgaku.. tersenyum juga! nggak sia sia dong Abang ngegombal?'' ucapnya sambil menggerakkan alisnya naik turun.


'' Haha.. Abang bisa saja!''


'' Ya sudah, Abang pulang ya.. kamu hati hati dirumah. Istirahat yang cukup dan jangan lupa belajar oke? Abang balik dulu..'' imbuhnya lagi.


Alisa tersenyum manis, '' Ya.. Abang juga hati hati..''


Ia melihat kemanan dan kirinya. Merasa ada yang kurang.


'' Ada yang kurang? Tapi apa ya??'' ia celingak celingukan mencari sesuatu.


Sepeda..


Alisa menepuk jidatnya.


''Waduh sepeda aku ketinggalan di toko kak Ros kayaknya. Tapi.. nanti ketemu lagi sama tuh orang.. ah udahlah! orang aku mau ngambil barangku kok.. bukan mau jahatin diakan? Bodoh amatlah!'' ucapnya seraya berbalik, dan kembali memutar tubuhnya kebelakang, ia ingin kembali kesana untuk mengambil sepedanya.


Akhirnya Alisa berjalan kembali ketika kak Ross. Sampainya disana ia terkejut melihat seseorang yang ia cintai sedang memeluk perempuan lain selain dirinya.


Ia memicing, benarkah kiranya jika perempuan itu adalah kak Ross?? Serta laki laki itu adalah tunangannya??


Alisa mendekati mereka.


Alisa mematung melihat pemandangan itu. Ia tidak salah melihat jika itu benar Emil dan juga kak Ross, yang sedang saling berpelukan dengan Emil mengusap belakang nya.


Ia menatap nanar mereka berdua.Ia menatapnya tanpa kedip. Tanpa dipinta bulir bening mengalir di pipinya. Hatinya sesak.. seperti di iris sembilu.


Baru saja tadi ia merasa bahagia.. tapi dengan sekejap ia dihempaskan ketanah.


Sakit! sungguh sakit! ingin ia menjerit, tapi itu tak mungkin. Ia menatap datar kerja berdua.

__ADS_1


***


Setelah mengantar Alisa kerumahnya dan berbicara sebentar, ia kemudian kembali ketempat kak Ros berada.


Ia tau, jika memberi tahu Alisa, pasti Alisa akan kecewa padanya. Ia akan dianggap membohonginya. Tapi jika tidak diberitahu pun akan salah juga.


Serba salah!


Setelah sampai disana, Emil melihat kak Ros duduk tepekur disana. Sambil terisak, ia memukuli dadanya.


Emil merasa kasihan melihatnya duduk menangis tersedu. Lalu ia mendekatinya..


'' Bangun Ross..''


Deg!


Emil...


Kak Ross sangat hafal dengan suara itu. Ia berdiri dan berbalik, ia melihat Emil disana berdiri terpaku menatap nya.


Tanpa ragu, kak Ros menubruk Emil dan memeluknya erat. Emil terkejut dengan perlakuan nya.


Ingin melepas, tapi pelukan itu begitu kuat. Kak Ross memeluknya erat hingga Emil sulit bernafas. Ia takut akan ada yang melihat. Nantinya akan timbul salah paham.


Berulang kali dicoba untuk melepas, tetap saja tidak bisa. Kak Ross memeluknya sangat sulit untuk terlepas.


Lelah Emil mencoba melepas pelukan kakak Ross, akhirnya Emil mengalah. Emil mengusap bahu kak Ros lembut. Membuat nya begitu senang.


Tanpa sadar, Emil sudah melakukan kesalahan fatal. Yang berujung panjang. Kesalahpahaman yang akan berbuntut panjang.


Mereka tak menyadari jika ada sepasang mata menatap nanar pada mereka berdua.


Lagi. Hatinya begitu terluka. Disakiti oleh orang yang sama. Tanpa dikomando air bening mengalir pipinya. Hati nya terkoyak melihat orang yang dicintai sedang memeluk wanita lain.


Yang lebih parahnya, wanita itu sengaja memanasi nya. Ia dengan sengaja menunjukkan jari tengahnya pada Alisa. Dengan senyum sinis menghiasi bibir nya.


Sakit!


Lagi dan lagi!


Dengan orang yang sama!


💟💟💟💟


Ihh.. gemesnya.. sama bang Emil. Pingin tak tabok orangnya!!


🤣🤣🤣🤣


See you


😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2