Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Lepaskan!


__ADS_3

''Kalau memang sudah tidak menginginkan Alisa menjadi istrimu lagi, maka lepaskan! Aku siap menjadi penampung. Karena sedari dulu aku sudah menyukai nya! Jika bukan otakku ini waras memikirkan jika kau itu saudara kak Rita, maka dari dulu aku sudah merebut Alisa darimu!''


Emil terkejut begitu juga dengan Alisa. Alisa menatap Alvian, sedang Alvian menatap Emil dengan dingin.


''Seharusnya kau bersyukur memiliki istri sepertinya! Bukannya malah kau hina! Kau harus ingat bang, jika seorang istri itu adalah pakaian untuk suaminya. Kau tega mengkoyak pakaian itu di depan orang lain! padahal selama ini, pakaian itulah yang selalu menutupi semua kelakuan buruk mu dan kekurangan mu! Tega kau bang Milham!''


Deg.


Emil mengepalkan kedua tangannya. Ia semakin geram dengan si Alvian tetangga nya ini.


''Aku selalu mencoba untuk mengalah, agar aku tidak menyakiti hati mu dan juga Alisa akan membenci ku, jika tau aku sudah menyukai nya sedari dulu. Sekarang? kau ingin membuangnya begitu saja?? Baik! Jika kau membuangnya, maka aku yang akan menampung nya. Kau memang tidak pantas bersanding dengan nya! Bisanya hanya menuduh saja, tanpa melihat fakta yang ada! selalu menuduh orang lain berbuat buruk, padahal diri sendiri lebih parah kelakuan nya!''


Emil semakin geram dengan ucapan Alvian. Ia mendekati Alvian dengan melangkahi kedua anak itu.


Emil melayang kan tinju ke wajah Alvian.


Bug!


''Astaghfirullah! Alisa!!'' pekik Alvian.


Emil mematung. Ia kira jika Alvian lah yang ia tinju. Ternyata...


Alisa meringis menahan sakit di pipinya. Pipinya terasa kebas. Tanpa di pinta buliran bening mengalir di pipinya.


''Ya Allah, dek! apa yang kamu lakukan?? Kenapa jadi kau yang menghalanginya?! Aduh! perut mu?? perutmu gimana??'' ucap Alvian begitu panik karena melihat Alisa meringis memegangi perutnya dan juga sebelah pipinya.


''Breng sek kau bang Emil! tega-teganya kau memukul istri mu hah?!'' sentak Alvian.


Membuat dua anak kecil itu terbangun karena suara sentakan Alvian. ''Ayo Lis! kerumah sakit! Kamu gimana sih?! buat apa coba ngalangin bajingan itu meninjuku?! biarkan ia kenapa?! Dan kau bang Emil! urusan kita belum selesai!'' tunjuknya pada Emil dengan wajah yang begitu memerah menahan amarah.


Alisa terus saja meringis. Ia mencoba bangkit, tapi tidak bisa. Kakinya terasa kaku karena terlalu lama terlipat.


Alvian yang melihat nya, berinisiatif ingin menggendong Alisa. Belum sempat tangan Alvian merengkuh tubuh Alisa, Emil sudah menyentaknya kembali.


''Jangan sentuh istriku!!!'' Sentaknya begitu kuat.


Hingga membuat kedua anak kecil itu ketakutan. Ira dan Niko berlari dan bersembunyi di belakang Alvian.


Alvian yang mendengar sentakan Emil menoleh. ''Kenapa?? Kau takut jika semua orang tau, kalau kaulah yang memukul istrimu?! Kau takut jika orang menyangka, aku menikung mu?! Apa yang ada di otak mu bang Emil! lihatlah Alisa! ia begitu kesakitan! Semua itu karena kesalahan mu! karena kau! Alisa menjadi seperti itu! Cukup bang Emil! Cukup! Biar aku yang membawa istri mu ke klinik! Sedari dulu pun aku juga yang membawa nya!'' tukas Alvian begitu geram.

__ADS_1


Emil terdiam. Ia menatap nanar pada Alisa yang digendong Alvian menuju ke klinik. Emil masih saja berdiri mematung disana.


Alvian membawa motor nya lumayan ngebut. Beruntung nya jalanan aspal itu mulus. Nggak ada polantas tidurnya.


Jadi aman untuk mengebut. Dua menit, mereka sampai. Melihat Alisa turun dari motor bersama Alvian, bidan Novi berlari.


''Ada apa Al?? kenapa lagi dengan Alisa?! Ya Allah.. tiada hentinya cobaan ini!'' seru bidan Novi.


Dengan segera Alvian membopong Alisa untuk di tidurkan di bangkar. Sedang dua anak kecil itu berlari mengikuti Alvian dan bidan Novi.


Dengan sigap bidan Novi langsung saja menangani Alisa. Alvian yang berdiri di luar merasa cemas.


Ia mondar mandir sembari menjambak rambutnya. ''Sial! kenapa pula Alisa yang kena tinju si kampret Emil?! Aduhh.. aku harus ngomong apa nih sama kak Rita?? Ngomong nggak ya??'' Alvian terus saja mengumpat Emil, sesekali ia menggumam tak jelas.


Ira dan Niko hanya bisa terdiam. Karena mereka berdua baru saja bangun tidur. Dari kejauhan, Ira melihat Emil datang.


Ira turun dari kursi duduknya dan berlari memeluk kaki Alvian. Alvian terkejut. ''Kamu kenapa?? Ada apa??''


Ira semakin bersembunyi di belakang nya. Tepatnya di sela kedua kaki Alvian yang memakai celana pendek sebatas lutut.


Alvian berusaha membujuk Emil, namun nihil. Gadis kecil itu tetap bersembunyi dibalik kaki Alvian.


''Bagaimana dengan Alisa??''


Alvian menoleh saat mendengar suara seseorang yang begitu ia kenal. Bahkan sangat kenal.


Saking kenalnya, ingin sekali ia memukul orang itu. ''Masih di periksa.'' sahutnya datar.


Ira semakin ketakutan ketika melihat wajah Emil yang datar seperti itu. Ia semakin erat memeluk kaki Alvian.


''Kak ..'' panggil Emil.


Ira semakin bergetar tubuhnya. ''Sudah jangan dipaksa. Yang ada nanti tambah bahaya lagi. Psikisnya akan terganggu karena kelakuan ayah nya.'' ucap Alvian masih dengan wajah datar.


Emil menghela nafasnya.


Beberapa saat kemudian, Alisa selesai di periksa. Baru saja keluar, tapi sudah di sambut dengan wajah datar nan dingin dari bidan Novi.


''Alvian!'' panggilnya.

__ADS_1


''Saya kak! Bagaimana dengan keadaan Alisa?? Apakah baik-baik saja?? Kandungan nya gimana?? Tidak apa-apa kan, kak??'' sahut Alvian.


Ia memberondong bidan Novi dengan semua pertanyaan yang seharusnya ditanyakan oleh Emil.


Suami Alisa.


Tapi sayang, sang tersangka hanya bisa diam saja. Ia tak berkutik sama sekali. Emil menatap datar pada bidan Novi.


''Hah! hampir saja! telat sedikit saja, maka nyawa nya dalam bahaya! Kandungannya terguncang karena terkejut. Janin didalam terkejut hingga sedikit bergeser. Alhamdulillah.. sekarang sudah kembali normal. Kau lupa dengan yang aku katakan dulu Alvian?? Apakah kau tidak menjaganya?? Berulang kali aku peringatkan! Jaga Alisa. Jaga kandungannya! Kau mau kejadian yang sama terulang lagi Alvian?!'' sahut Bidan Novi. Ia bertanya, menjelaskan sekaligus menyindir Emil dengan cara berbicara kepada Alvian.


''Maaf kak..'' lirih Alvian.


Emil diam.


''Sekali lagi Alisa seperti ini, maka dipastikan! Janinnya tidak akan selamat! Begitu juga dengan dirinya. Pendarahan yang ia alami dua bulan yang lalu, sangat bahaya Alvian. Kamu seorang dokter! Seharusnya kamu tau itu!'' kesal bidan Novi.


Alvian hanya bisa menunduk. Ia pasrah jika bidan Novi kembali memarahi dirinya karena kecerobohan nya tidak bisa menaga Alisa.


''Dan kau!'' tunjuknya pada Emil.


''Apakah Telinga mu itu tuli hah?! Sudah berapa kali aku katakan! Jaga Alisa. Jangan sampai merasa kan stress! Tapi kau tetap ngeyel. Hampir saja keduanya mati!''


Deg.


Emil terkejut. ''Maksudnya??''


Bidan Novi menatap Emil dengan dingin. ''Seharusnya jika kau marah, tidak perlu memukulnya seperti itu. Tanpa kau pukul pun, Alisa sudah menderita! Begitu juga dengan janin nya! Dan sekarang?? Kau mencoba untuk membunuh kedua orang itu?!''


Deg.


Lagi, Emil terkejut. ''Jika kau sudah tidak menginginkan Alisa, maka lepaskanlah! Karena jika ia masih bertahan bersama mu! tapi kau tidak berubah juga, maka keduanya akan mati secara perlahan!''


Ddddduuuaaarrrr..


💕


Like dan komen euuuyyy..


Othor tunggu loh...

__ADS_1


TBC


__ADS_2