Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Perdebatan lagi


__ADS_3

Setelah kepulangan Emil, Pak Yoga langsung saja menelpon keluarga besarnya untuk membicarakan perihal kedatangan Emil kerumah mereka.


Pakde Tarman yang mendengar kabar bahwa Emil datang untuk membicarakan perihal pernikahan nya dengan Alisa,engangguk setuju.


Secepat nya pakde Tarman akan kesana untuk membahas hal itu. Setelah semua nya berkumpul, tepat habis sholat Maghrib seluruh keluarga berkumpul.


Pakde Tarman menyetujui usul pemuda itu. Tapi tidak dengan pak Yoga. Iaasih kekeuh pada pendirian nya.


''Baiklah, keputusan sudah bulat! Bahwa di Minggu dari sekarang, pernikahan Alisa dan calon suaminya akan diadakan disini! Mau tak mau, setuju dan tidak setuju kau harus menyetujui nya Yoga! Karena adlah goresan takdir untuk putri mu! Jika kau menentangnya, sama saja dengan kamu menentang takdir!!'' ujar Pakde Tarman, dengan menatap tajam pak Yoga.


''Sebaiknya, Abang sama Alisa berbicara berdua dulu, agar nantinya tidak ada kesalahpahaman lagi seperti yang sudah-sudah! Ingat Bang! Kebahagiaan putri kita ada ditangan mu! Jangan menentang kodrat, karena kodrat seorang wanita yang sudah baligh adalah menikah! Kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk hubungan mereka! Dan bukan menentangnya!'' seru paklek Hilman.


''Iya Kak.. jangan menentang takdir! Ini memang berat untuk kita semua.. tapi memang inilah yang harus terjadi.. ikhlaskan kak... jangan membenci sesuatu yang sebenarnya sangat disukai Nya, dan jangan pula menyukai sesuatu yang sebenarnya buruk malah di sukai oleh Nya?? Kakak paham kan??'' jelas Tante Nafisah.


Pak Yoga menatap adik bungsunya itu. Ia menghela nafas panjang.


''Baiklah, saya akan berbicara dulu dengan Alisa dari hati ke hati. Untuk sekarang, silahkan beristirahat karena hari sudah mulai malam!'' sahut pak Yoga yang pasrah.


''Kami tidak bisa menginap disini! Kami harus kembali. Tapi jika kau membutuhkan bantuan ku! segera hubungi kami! Kami akan segera datang kesini untuk membantu mu!'' ujar pakde Tarman.


Ia sengajaemberikan ruang kepada ayah dan anak itu, untuk berbicara dari hati kehati.


''Oke. Jika itu keputusan kalian, aku bisa apa??'' imbuhnya, seraya menatap saudaranya itu satu persatu.


''Ayo Bu.. kita pulang! Bicarakan Yoga menyelesaikan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab nya! Kami pamit! Assalamualaikum...''


''Waalaikum salam...''

__ADS_1


''Kami pulang Kak... jangan terlalu keras pada Alisa. Kakak harus mengerti posisi nya, ya?? Adek pulang ya Kak?? Assalamualaikum..'' imbuh Tante Nafisah, seraya mengambil tangan Pak Yoga untuk disalami, begitu juga dengan yang lain.


Mereka berlalu setelah berpamitan denah palk Yoga dan keluaraga. Kini yang tersisa hanya Mama Alina. dan Alisa yngasih setia duduk dilantai tanpa bergeser sedikitpun.


Sedari tadi, khatibnya begitu gundah. Takut akan terjadi sesuatu dengan Alisa. Karena Mama Alina sangat tahu seperti apa pak Yoga.


Mama Alina menghela nafasnya. Terasa sesak di dada.


''Alisa.. kamu tau kan kenapa pakde. menyuruh kita untuk berbicara??'' tanya nya.


Alisa mengangguk.


''Sekadang Papa ingin bertanya padamu. Apakah kau serius dengan pemuda itu?? Apakah kau yakin denah pemuda itu yang akanenjadi imamm mu kelak?? Papa hanya takut.. jika suatu saat terjadi.. maka Papa lah orang yang paling terluka, jika sampai kau mengalami masalah karena pemuda itu!''


"Alisa yakin Pa.. Alisa hanya mohon doa restu dari Papa dan Mama.. Alisa tidak butuh yang lain.. soal ke depannya seperti apa.. Alisa ikut keputusan takdir! Karena tidak ada seorang pun bisa menolak takdir, Pa..". pijat Alissa dengan menunduk. Tangan saling meremas karena gugup.


"Kamu pintar, Nak.. Apakah sebaiknya kamu undur dulu pernikahan ini?? Kamu menikah setelah lulus kuliah saja? Bagaimana??" tanya Pak Yoga.


"Bukan Alisa menolak keinginan Papa.. tapi saat ini Alisa telah diikat dengan seseorang yang sebentar lagi akan menjadi suami Alisa Pa.. Alisa sangat ingin bisa melanjutkan sekolah lagi. Tapi kan tidak mesti disini?? Doakan saja bisa bukan?? Asalkan Alisa punya ijazah, Di mana pun universitas nya mereka pasti menerima. Lagi pun setelah menikah, Alisa kan harus ikut suami Pa.. Setwlaheniakh dengannya, otomatis surga Alisa akan berdampak dengannya.. biakn lagi bersama Mama dan Papa.." lirih Alisa.


Pak yoga tersenyum sinis. "Sudah pintar berbicara kau rupanya! Baiklah! Sekali lagi Papa tanyakan! Kamunharusemilih antara dua! Pertama, jika kau memilih melanjutkan sekolah mu lagi.. maka kau harus meninggal kan pemuda itu! Tapi.. jika kau lebih memilih dengan pemuda itu... maka kau harus angkat kaki dari sini!" imbuh pak Yoga. I asengjs menekan Alisa. Berharap Alisa berfikir, dan lebih memilih melanjutkan sekolahnya dibandingkan dengan pemuda itu.


Alisa mendongak, matanya berkaca-kaca. Sungguh tega Papa nya memberikan pilihan hal yang sangat sulit untuk dipilih.


Alisa merasa dirinya seperti simalakama. Dengan berat hati Alisa menjawab pertanyaan Pak Yoga.


"Pa.. Alisa tau.. Papa akan kecewa dengan keputusan Alisa ini. Alisa lebih memilih bmeenikah dengan bang Emil. Untuk melanjutkan sekolah, di Medan pun bisa kan?? Yang terpenting dananya." sahut Alisa.

__ADS_1


"Cih! Papa tak menyangka.. jika kau lebih memilih pemuda itu! Kadahal papa sudah memberikan jalan padda mu! Tapi kau tetap meemilihnya! Hah! Payah sekali membujuk orang yang sedang jatuh cinta!" sindirnya denah ketus.


Alisa hanya diam.


"Baik! jika itu yang menjadi keputusan mu, Papa terima! Tapi ingat! sekali kau melangkah meninggalkan rumah ini, maka selamanya rumah ini akan tertutup bagimu! Dan jika suatu saat terjadi sesuatu denganmu! Jangan pernah mencari Papa! selesai Maslah mu sendiri! Karena ini adalah keputusan mu!"


"Papa!" seru Mama Alina.


"Apa?? kami ingin membela anak yang tidak tau diri ini? hah?!" sentak Pak Yoga.


"Astagfirullah! Papa! sadar Pa! Alisa ini putri kita! Mana mungkin ia akan dengan pemuda itu tanpa restu dari kita! Apa sih, yang Papa inginkan?! hah?! Sejak dari awal Alisa dipinang oleh pemuda itu! Papa berubah! Papa bukan lagi, Papa yang Mama kenal! Papa berubah! Papa tega dengan anak sendiri!! Papa egois!!!" pekik ma Alina.


"Mama..."


"Kau! cih! Ya! aku memang egois!! kau sudah berani menentang keputusan ku Alina!! jika kau ingin ikut bersama putri mu! silahkan! Aku tak akan melarang! lagi pula buat apa mempertahankan sesuatu yang tidak ingin di pertahankan! Lebih baik ku lepas! dari pada ku kekang! Tapi melukai diriku!" tukas Pak Yoga.


Alisa yang mendengar nya menangis. Sulit sekali mendapatkan restu dari pak Yoga. Alisa tau itu.


"Papa kejam! Mama tak menyangka, papa akan sekejam ini pada anak sendiri! Harusnya Papa mengalah demi kebahagiaan putri kita! Ingat Pa! Apa yang kau tabur, itu yang kau tuai! Kau membutuhkan kebencian untuk putri mu, maka kau akan menuai penyesalan, Pa! ingat Itu!" seru Mama Alina dengan bibir bergetar.


"Ma.. Papa benar! Alisa akan pergi dari sini setelah Papa melepaskan Alisa dengan pemuda yang tidak di inginkan oleh Papa!"


Deg!


💕


Mau lanjut??

__ADS_1


TBC


__ADS_2