Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Extra part 1


__ADS_3

Sebulan sudah berlalu semenjak kepergian Alisa dari rumah mereka. Hari ini Emil pulang kerumahnya itu, setelah berperang dengan batin nya.


Ceklek,


Pintu rumah mereka terbuka. Hal pertama yang Emil lihat adalah bayang-bayang saat kebersamaan mereka setelah mereka tinggal di rumah itu.


Rumah itu adalah saksi bisu kenangan manis dan pahit bersama Alisa. Ia melihat semuanya masih utuh seperti sedia kala, hati Emil tercubit.


''Ternyata kamu tidak membawa satu pun dari barang-barang mu.. semuanya kamu tinggal disini..'' lirih nya dengan terus berjalan memasuki kamar mereka.


Emil masuk dengan hati terluka melihat kamar itu kini berdebu. Dulu, saat Alisa ada kamar itu begitu bersih.


''Sekarang.. kamar ini pun menjadi sepi sejak kepergian mu Lis.. hiks..''


Emil terisak, dengan pelan ia membuka lemari pakaian mereka berdua.

__ADS_1


Krieeettt.


Suara pintu lemari yang sudah berusia dua belas tahun di kamar mereka. Terlihat semua baju Emil tersusun rapi, begitu juga dengan celana, sarung serta selimut mereka untuk tidur.


Teringat akan pergulatan mereka untuk yang terakhir kalinya waktu Alisa hamil tiga bulan. Ternyata itu adalah penyatuan terakhir mereka.


''Hiks..Abang kangen kamu Dek..'' lirih Emil dengan terisak.


Ia memandangi setiap sudut ruangan bekas ia dan Alisa Selama dua belas tahun ini. ''Abang rindu kamu Dek.. pulanglah.. Abang minta maaf.. kemarin Abang hanya emosi.. maafkan Abang dek.. ternyata sakit di tinggal seperti ini.. hiks..'' Emil sesegukan di lantai rumahnya yang dingin.


Ia sangat sesak, saat mengingat betapa kejamnya dia saat memukuli Aisa dan juga hampir membunuh putra nya sendiri.


''Maafkan Abang dek.. maaf..'' lirihnya lagi.


Seseorang berdiri di depan pintu kamar mereka dengan tangan terkepal erat. Ingin rasanya ia menghajar suami Alisa ini.

__ADS_1


''Sudah puas Abang menangis? Untuk apa Abang kesini lagi? Ingin mengenang masa lalu begitu?''


Emil menoleh, ia melihat Maya berdiri dengan raut wajah menahan amarah. ''Abang kesini karena merindukan nya-,''


''Untuk apa kau rindu ? Merasa kehilangan setelah istrimu ups! mantan istri mu pergi? Kau kecewa sekarang? Untuk apa kau kecewa, jika dulunya kau sangat berani mengambil keputusan karena desakan Mak mu? Kau bang Emil! Seharusnya, kau bisa mendamaikan kedua orang itu. Bukannya menuruti salah satu dari mereka. Sekarang kau menyesal setelah kepergian nya?''


''Nggak ada gunanya Bang! Kau sudah membuang nya malam itu. Aku saksik dari semua itu.. Demi mak mu, kau tinggalkan istrimu! Jika dia berbuat buruk padamu, boleh kau mengusir nya! Tapi ini? Mak mu lah disini yang melakukan kesalahan dan menuduh Alisa sebagai orang yang tertuduh! Lempar batu sembunyi tangan! huh!'' kesal Maya.


Emil menatap sendu pada Maya. ''Apa maksudmu?''


''Kau akan tau nanti Bang Emil! Bahwa bukan Alisa yang bersalah disini! Tapi mak mu lah yang bersalah! Saat kau tau itu, semuanya telah terlambat! Kau tidak akan bisa memilki Alisa lagi! Kau akan kehilangan wanita istimewa seperti Mbak ku itu! Aku pergi! Selamat meratapi kesalahan yang pernah kau lakukan! Tunggu saja! Mbak Rita, pasti akan marah pada mu saat ia tau, jika kau telah mentalak Alisa dan juga mengusir nya dari rumahnya sendiri! Selamat menyesal bang Milham Syahputra Syahputra! Selamat meratapi nasib mu setelah kepergian nya!''


''Karena saat kebenaran itu terkuak, kau tidak akan pernah bisa mendapatkan nya lagi! Aku pergi!'' Ujar Maya dengan segera ia melangkah kan kaki nya meninggalkan Emil yang mematung karena ucapan Maya baru saja.


''Kebenaran? Kebenaran apa? Apa yang tidak aku ketahui selama ini? Apa yang kamu sembunyikan dari ku Dek?''

__ADS_1


Emil terus bertanya-tanya apa gerangan dan kebenaran apa yang sedang di katakan oleh Maya ini.


💕💕


__ADS_2