Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Di hina lagi


__ADS_3

Setelah kepergian Tama beberapa hari yang lalu, kini Alisa sudah kembali normal seperti biasa.


Saat ini putri bungsu Alisa sudah berusia sepuluh hari. Seminggu sudah Tama pergi meninggalkan mereka demi permintaan kedua orang tuanya.


Lana duduk di depan Alisa yang sedang mengganti popok Annisa karena baru saja buang air besar.


''Sepi ya Mak?''


Alisa menoleh dan tersenyum. ''Mana ada sepi! Kan udah ada adek Annisa ?''


''Ck! Bukan adek Mak... tapi Abang Tama!''


Ira memutar bola mata malas. ''Kan memang Abang pergi karena Papa Fabian yang memintanya? Selama ini kita bertiga saja nya sebelum ada bang Tama. Sekarang udah ada adek Annisa. Jadi nggak mungkin sepi dong?''


''Ck, kakak.. Abang tuh lagi kangen sama Abang.. udah seminggu Abang pergi dari rumah kita.. Abang kesepian Kak.. biasanya tiap malam pasti ada Abang yang selalu temanin Abang tidur..'' lirih Lana dengan wajah sendu.


Alisa menghela nafasnya. ''Sabar Nak.. memang itu sudah menjadi takdirnya. Abang mu itu memang harus pergi dari kita. Semua itu demi kehidupan nya kelak. Maka dari sekarang Abang mu harus di tempah menjadi pebisnis muda yang kuat dan tahan banting!'' seloroh Alisa.


Ira tertawa. Sedang Lana manyun. ''Emang, karung beras apa harus di banting segala?!'' ketus Lana.


Alisa terkekeh. ''Wooaahh.. enak ya, suami pulang kerja bukannya disambut malah asik tertawa bersama anaknya!''


Deg!


''Nenek!'' pekik Ira.


Nenek Rima tersenyum sinis melihat kedua cucunya itu. Apalagi Alisa. ''Begini rupanya kerjaan mu ya? Pantas saja Emil tidak betah tinggal dirumah ini! Cih! berasa sok suci, padahal penipu!''

__ADS_1


Alisa diam. Tidak ingin menyahuti ucapan nenek Rima yang berujung pada pertengkaran lagi nantinya.


Lana geram mendengar ucapan Nenek Rima. Selalu... saja begitu tiap kali datang kerumah mereka.


''Jaga bicara Nenek! Sebelum menuduh orang lain lihat dulu diri sendiri!'' ketus Lana.


Nenek Rima tersenyum sinis. ''Lihatlah putra tersayang mu, wanita pembawa sial! Berani sekali dia berkata seperti itu kepadaku! Bukankah aku ini Nenek nya? Ibu dari Ayah nya? Begitukah yang kau ajarkan pada nya Alisa?''


Alisa diam mendengar ucapan mertuanya ini. Sudah sering kali Nenek Rima berkata demikian pada nya.


''Apa sih mau Nenek?? Jika tujuan Nenek datang kemari hanya untuk menghina Mak ku, lebih baik tidak usah datang kesini lagi! Datang-datang bukannya mengucap salam, malah mengomel tidak jelas!'' ketus Lana lagi.


Bukan tanpa sebab Lana berbicara seperti itu, tiap kali datang kerumah mereka jika tidak menghina, mengejek.


Sering kali Alisa disebut wanita pembawa sial oleh Nenek Rima, hingga Lana geram dengan kelakuan Nenek nya itu.


Ira terkejut begitu juga dengan Alisa. Beruntungnya Annisa sudah terlelap sedari tadi saat popoknya diganti.


Jika tidak, pastilah bayi kecil itu akan terkejut karena mendengar sentakan Nenek nya ini. Alisa menatap datar pada nenek Rima.


''Mak ada keperluan apa? Bukankah Abang tidak disini lagi? Bukankah selama ini, Mak yang melarang Abang untuk tinggal disini? Dan juga, bukankah Mak sudah memiliki calon menantu baru?'' sindir Alisa


Nenek Rima tersenyum mengejek lagi pada Alisa. ''Ya, tujuan ku datang kemari hanya untuk mengingat kan mu! Setelah masa nifasmu selesai, segera angkat kaki dari rumah ini! Tinggalkan putraku, pergi dari kehidupan nya untuk selamanya! Kau bukanlah istri yang tepat dan baik untuk nya. Putraku itu sangat berharga untukku, karena itu setiap tetes keringatnya tidak ku ijinkan mengalir ke dalam tubuh mu!''


''Sudah sedari dulu aku melarang nya untuk menikahimu wanita sial seperti mu, dan sekarang? Terbuktikan, Apa yang aku katakan? Maka dari itu aku sengaja membuat hutang di mana-mana agar kau yang membayar nya! Aku tidak sudi uang putraku habis tidak menentu di tangan mu! Lebih baik ku berikan saja pada orang lain. Dan itu lebih baik, daripada harus mengalir ke dalam tubuhmu. Ingat Alisa, sebelum kamu bercerai dari putraku, kembalikan semua uang yang selama ini ia berikan kepada mu! Mulai dari kalian betunangan, sampai dengan kau menikah dengan nya!''


''Termasuk mahar yang ia berikan kepada mu! Kembalikan kepadaku! Karena itu adalah hak ku! Bukan hak mu! Kau hanya orang lain dalam kehidupan nya! Sedang aku, Mak nya! aku yang lebih berhak dari semua yang selama ini ia berikan kepadamu! Aku tak mau tau, jika kau tidak membayar nya, maka semua itu aku anggap hutang piutang! Sampai mati pun aku tidak mengijinkannya! Sampai matipun aku tidak menerima mu sebagai menantu ku! Termasuk ketiga anak mu ini! Bisa saja kan jika ketiga anak mu itu bukanlah darah daging Emil? Dasar jalaaang!!''

__ADS_1


Ddddduuuaaarrrr...


Alisa tersentak mendengar ucapan Mak mertua nya ini. Begitu juga dengan Lana dan Ira.


Mata Ira dan Lana mengembun. Segitu tega nya kah Nenek nya ini hingga menuduh Mak mereka seorang jalaang?


Bahkan mereka menuduh Alisa dengan mengatakan jika ketiga anak itu bukanlah anak Emil.


Lalu, mereka anak siapa?


Lana menatap datar pada Nenek Rima. Ia mengepalkan kedua tangannya. ''Segitu tidak inginkah Nenek kepada Mak ku? Segitu bencikah Nenek kepada Mak ku? Segitu hina kah Mak ku di mata Nenek? Sampai-sampai Nenek menuduhnya yang bukan-bukan? Sebenarnya apa yang Nenek inginkan?! Belum puas kah selama ini kalian merusak kehidupan Mak ku?! Belum puas kah kalian menyiksakan nya dengan ucapan kalian yang begitu pedas setiap harinya?! Jika tujuan Ayah menikahi Mak ku hanya untuk disakiti seperti ini, maka pastilah Mak ku tidak mau! Siapa yang mau hidup dengan suami yang tidak menerima istrinya apa adanya?''


''Aku tak diminta untuk dilahirkan kedunia ini! Kami bertiga ada di dunia ini karena putra tersayang Nenek! Dan sekarang, dengan teganya Nenek menuduh Mak ku, surgaku yang bersalah disini? Nenek punya kaca tidak? Jika memang tidak punya kaca, Maka akan aku berikan! Agar orang tua seperti Nenek bisa berkaca dulu sebelum mengatai orang lain!''


''Tak ku sangka Nenek yang selama ini ku sayang, ternyata tak lebih dari seorang Nenek lampir yang tidak punya perasaan terhadap sesama! Jika aku boleh meminta, aku juga tidak mau dilahirkan dari seorang Ayah dari wanita ren da haan seperti Nenek! Berani mengatai orang, tapi tidak berkaca pada diri sendiri! Sebelum menuduh Mak ku, lihat dulu diri Nenek seperti apa dulunya ketika di nikahi oleh Atok! Apakah Nenek lebih baik dari Mak ku? Kurasa tidak! bahkan Nenek lebih buruk dari Mak ku!!''


Ddddduuuaaarrrr..


Nenek Rima membeku mendengar ucapan cucu kandungnya ini.


💕💕


Mak author : Hati-hati bang Lana, jangan kelewatan! ntar kualat loh..


Lana : Biarin! Biar tau rasa tuh nenek peyot! taunya menghina orang saja! Sebelum menghina orang lain, berkaca dulu pada diri sendiri! Apakah dia lebih baik atau lebih buruk?😒


Mak author : Terserah mu lah Bang! pusing Mak! 😵

__ADS_1


TBC


__ADS_2