Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Menangis di sisa malam terakhir


__ADS_3

Setelah kepergian Ayah Emil, luruhlah sudah pertahanan nya. Ira duduk dilantai dengan terus menangis. ''Hiks.. Ayah tega! Ayah tega menyiksa adikku! Apa salah nya? Ia hanya ingin melindungi Mak kami! Tega Ayah! Hiks.. sakit sekali hatiku! Jika aku tak takut dosa, pastilah aku juga akan memukul Ayah! Aku menyayangi Ayah, tapi Ayah membenci kami karena terlahir dari Mak Alisa! Apa salahnya jika kami terlahir dari Mak Alisa? Hiks .. Ayah kejam! Hiks.. hiks..'' Isak Ira di belakang pintu rumahnya.


Sedangkan Emil masih berdiri disana. Ia mendekati pintu dan mendengar raungan hati anak gadisnya begitu pilu.


Ia pun ikut merasakan sakit. ''Maafkan Ayah Nak.. Ayah khilaf.. maaf...'' lirihnya di belakang pintu dengan mengusap pintu itu.


Suara isakan Ira dan Alisa sahut menyahut dari dalam rumah itu. Emil semakin merasa bersalah dibuatnya.


Namun tekadnya sudah bulat untuk segera melepaskan Alisa demi Mak nya. Nenek Rima.


Semua ini ia lakukan karena permintaan nenek Rima. Belum lagi ucapan tuduhan yang dilayangkan oleh kedua orang tua tunangan nya begitu membuat Emil marah besar.


Mereka mengatakan jika Rita datang karena Alisa yang menyuruhnya untuk membatalkan pertunangan itu.


Emil yang baru pulang bekerja langsung saja marah-marah saat mengetahui jika tunangannya itu menangis akibat ulah Alisa.


Dengan segera ia mendatangi Alisa. Dan terjadilah seperti yang ia inginkan tadi.


Suara sesegukan terus terdengar di dalam rumah itu. Ketiga orang itu menangis tersedu di belakang pintu masing-masing.


Menangisi nasib mereka yang tidak beruntung memiliki Ayah dan juga Mak nya memiliki suami seperti Ayah Emil.


Suara lirih itu sayup-sayup tidak terdengar lagi. Emil dengan segera bangkit dan pulang ke rumah Nenek Rima.


Di pertengahan jalan ia bertemu dengan Alvian. Alvian menatapnya datar, sedangkan Maya wajahnya sembab seperti habis menangis.


''Tunggu Bang!'' cegat Maya.


Emil berhenti dan menatap datar pada wanita yang sedang menatapnya dengan sendu. Lelehan air mata itu terus mengalir di pipinya.


''Hiks.. tak kusangka! Suami seperti dirimu dengan teganya memukul istri sendiri karena wanita yang lain yang bahkan belum jelas statusnya! Kenapa kau harus menyiksa nya? Apa salahnya padamu? Tiap hari yang aku dengar hanya suara tangisan ketiga orang itu! Apa sih yang membuat mu hingga seperti itu?! Jika memang dulunya kau tidak menginginkan nya, kenapa kau menikahi nya?! Tega kau Bang! Selalu dan selalu menyiksa Kakak ku!!''


Emil menatap datar pada Maya. Begitu juga dengan Alvian. Ia menatap datar Emil yang sedang menatap istrinya.


Ternyata yang melihat kejadian itu adalah Maya. Karena mendengar suara ribut-ribut ia keluar dan mendekati rumah Alisa.


Tiba disana betapa terkejutnya Maya saat melihat Emil memukul Alisa dan menghempaskan nya hingga jatuh terhuyung ke lantai.


Dengan kepala lebih dulu membentur dinding. ''Laki-laki macam apa kau! Tega nya hanya pada perempuan saja! Setelah puas kau menyiksa istrimu, kau ingin membunuh pula darah daging mu?! Dasar brengsek kau Bang Milham! Tega sekali kau jadi manusia! Sekejam-kejam nya hewan masih ada rasa simpati untuk menolong sesama! Bahkan kau tidak sama sekali! Kau tak lebih buruk dari seekor hewan! Kau bajingan! Kau iblis berparas manusia!!'' seru Maya begitu kencang.


Emil tersentak mendengar nya. Ia menatap tajam pada Maya. ''Apa?! Kau ingin memukul ku sama seperti kau memukul Kakak ku?! Iya?! Lakukan! Maka aku juga akan membalasmu!''

__ADS_1


Buuggghh..


''Aaarrrgghhhtt... brengsek kau Maya!!!''


''Kau yang brengsek Emil sialaaaaannn!!! Bajingan! Tak berperasaan!! Aku mengutuk mu karena kelakuan mu yang begitu buruk terhadap Kakak ku! Aku mengutukmu Emil! semoga kelak akan ada seorang wanita yang akan membalas rasa sakit hati kakakku! Dua wanita yang akan menghancurkan mu dan juga Mak mu!!! Ingat itu!!! Bajingan!! Brengsek!!! Arrggghhhtt...''


Plaaakk


Plaakk..


Bugghhh..


Bugghhh..


Alvian terkejut melihat reaksi Maya yang begitu brutal memukuli Emil. Maya kalap ingin menghabisi Emil.


Ia begitu marah dengan kelakuan Emil yang menyiksa Alisa tanpa belas kasih. Hingga Lana pun jadi sasaran nya.


''Astaghfirullah! Sadar sayang!'' pekik Alvian.


Ia melerai Maya yang sedang berusaha memukul Emil menggunakan kayu yang terletak disana.


Tidak cukup disitu, Maya benar-benar kalap saat melihat Emil tadi mencekik Lana hingga kehabisan nafas.


Dengan segera ia menaiki tubuh Emil dan memukul Emil dengan kuat. Ia melayangkan tinjunya kewajah Emil hingga pemuda itu wajahnya terhuyung kesamping kiri dan kanan.


Alvian melihat Maya semakin kalap, bingung harus melakukan apa. Sejenak ia berfikir..


''Ponsel!'' gumam nya, dengan segera ia menghubungi nomor Alisa sementara tangan satunya mencegah Maya yang ingin terus memukuli Emil.


Tersambung, tapi begitu lama di angkat. Berulang kali Alvian mencoba nya, tetap sama.


Hingga panggilan yang ke dua puluh kalinya, Alisa mengangkat panggilan Alvian.


''Hallo Bang.. ada-''


"Dasar bajingan!!! brengsek!!! lelaki seperti mu memang harus di lenyapkan!! Kau harus mati! Tempatmu bukan di dunia! Tapi di neraka!! Pergi kau Milham Syahputra!!! Aku benci kau yang telah membuat kakakku selalu menderita!!! Aaaarrggghhtt..."


Bugghh


Bugghh

__ADS_1


Bugghh


"Aaaarrggghhtt... hentikan wanita sialaaaannn!! Berhenti kataku!!!"


Deg!


Alisa terkejut mendengar suara itu. "Kamu sekarang kesini Lis! Adikmu mengamuk memukuli suami mu! Aku tidak bisa menahan nya! Ayo cepat! Sebelum istriku benar-benar membunuhnya! Dan aku tak ingin berurusan dengan hukum!''


Tut!


Sambungan ponsel itu terputus. Dengan cepat Alisa keluar. Sebelum keluar ia menuju pintu Ira terlebih dahulu.


''Kakak jaga adek! Mak mau menyusul Ayah mu!'' seru Alisa di depan pintu kamar Ira.


''Apa?! Kenapa Mak?!'' pekik Ira dari dalam kamarnya.


''Makanya keluar dulu! Kamu jaga adek sama Abang! Mak harus menghentikan ibuk Maya yang sedang mengamuk disana memukuli Ayahmu! Mak Pergi!'' kata Alisa saat melihat Ira keluar dari kamar nya berdua dengan Lana.


Masih dengan mata yang sembab Alisa berlarian ketempat dimana Maya sedang memukuli Emil dengan kalap.


Alisa berlari dengan kencang. Tiba disana, ia melihat Maya yang sedang menyepak Emil terus menerus hingga lelaki itu kesakitan.


Ia meraung menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Jangan salahkan Maya jika memukul Emil seperti itu.


Sebelum ia sekolah jurusan perawat, Maya adalah seorang juara karate tingkat kabupaten.


Dirinya pemegang piala terbaik wanita dalam hal karate. Alisa yang melihat Emil di pukuli seperti itu tertegun.


Wajah lebam dan juga tubuh yang sudah di penuhi tanah. Belum lagi ia meringkuk menahan sakit di pusat tubuhnya akibat terjangan Maya.


''Berhenti Maya! Cukup! Kau akan membunuhnya! Apa kau ingin bersifat sama seperti nya?!''


Deg!


''Mbak Alisa!''


💕💕


Ho oh Neng Maya! Garang amat sih?! 🤣🤣🤣


TBC

__ADS_1


__ADS_2