Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
First night Gagal!


__ADS_3

Setelah acara pernikahan selesai, kini saatnya mereka untuk istirahat. Emil mengikuti Alisa yang ingin memasuki kamar.


''Eh? Abang ngapain??''


Emil mengernyitkan dahinya. ''Ya.. mau masuk kamar lah! mau ngapain lagi??''


''Ho.. eh? ma-masuk kamar?? kamar Alisa?? berdua??'' ujar Alisa sembari menunjukkan telunjuknya ke dada sendiri.


Emil terkekeh, ''iya sayang.. kamar kamu! gimana sih?! kok jadi pikun begini sih?? Kita kan baru aja nikah? Masa' iya Abang tidur di luar??''


''Hehehe... maaf bang! lupa!'' sahut Alisa dengan nyengir kuda.


Emil tersenyum dan mengacak kepala Alisa yang masih dibalut hijab, serta pernak pernik pernikahan.


''Abang masuk duluan ya! capek! mau istirahat!'' imbuhnya dengan segera berlalu meninggalkan Alisa yang termangu disana.


''Eh? ishh.. Abang! kok di tinggalin sih?! ishh.. mana ni konde berat amat lagi?! ishh.. Tante Irma mana lagi? Udah nggak tahan ini..'' gerutu Alisa sambil melangkah masuk ke dalam kamar nya.


Pertama kali masuk ke dalam kamar Alisa, Emil melihat semua polesan cat berwarna putih.


Dengan ranjang besar ukuran king size yang baru seminggu lalu ia beli. Sebuah foto terpampang jelas disana.


Yaitu foto ia dan Alisa saat belanja keperluan pernikahan Minggu kemarin. Kaca rias yang cantik, sesuai dengan pilihan Alisa.


Emil tersenyum.


Serta seluruh dinding kamar ditutupi dengan kain tipis yang menjuntai ke bawah. Seperti masuk kedalam kawasan pantai. Banyak kain tipis yang bergelantungan.


Satu kata yang tepat untuk kamar itu,


''Cantik!''


''Hah??''


''Kamar nya cantik! seperti orang nya!''


''Gombal!''


''Beneran sayang! Ini kamu sendiri yang memilihnya??'' tanya Emil.


'' Ya! karena aku lebih menyukai warna putih, jadi ya warna ini yang tergantung di sini.'' imbuhnya santai.


Setelah nya mereka berdua saling diam. Tidak tahu lagi harus bicara apa. Sesekali Alisa meringis saat kepalanya yang penuh dengan pernak pernik pengantin, terasa berat.


Ingin memanggil Tante Irma, segan. Karena masih banyak tamu disana. Emil yang melihat Alisa meringis, bangun dan mendekati Alisa.


Padahal dirinya sangatlah letih. Satu hari harus menyalami para tamu pak Yoga yang lumayan banyak.


''Sini, Abang bantuin! Mana dulu nih.. yang harus di buka??'' tanya nya, dengan menyentuh bahu Alisa.


Deg!


Serr!

__ADS_1


Bulu halus Alisa meremang. Alisa menatap Emil yang juga menatapnya dari pantulan kaca.


Emil tersenyum, dibalas senyum oleh Alisa.


Ya Allah.. semoga pernikahan ini abadi.. aku mencoba untuk menerima takdirku. Takdir yang seharusnya aku jalani.. semoga pernikahan ini menjadi ladang pahala untukku.. semoga apa yang dipikirkan oleh papa itu salah! Aku hanya bisa berharap, jika bang Emil bisa menjadi pelindung serta imam yang bisa membawa ku ke surga Nya Amin..


Emil menatap lembut pada Alisa melalui cermin.


''Terimakasih.. karena telah menerima Abang yang hanya dari orang biasa ini! Semoga pernikahan ini langgeng ya? Sampai maut memisahkan kita..'' ucap Emil dengan menundukkan wajahnya sejajar dengan wajah Alisa yang sedang duduk.


Cup!


Alisa melototkan. Emil terkekeh. ''Udah halal Dek.. jangan melotot gitu, ih! mau Abang cium lagi??'' goda Emil.


Blushhh..


Lagi, Emil terkekeh. ''Kenapa pipi mu merah begini dek.. ada yang salah kah dari omongan Abang?? hem?''


''Abang! ish... sana... pengap, ih!'' elak Alisa.


Emil tergelak, ''udah halal Dek .. nggak akan ada yang marah.. ayo sini! Mana yang harus dibuka??''


''Emang, Abang bisa??''


''Nggak tau, kan belum di coba Dek! makanya sekarang di coba dulu! ini konde besar amat yak?? nggak berat kah??'' tanya Emil, dengan memegang konde yang lumayan besar.


''Berat atuh abaaaang.. kalau nggak berat, mana mungkin aku meringis menahan sakit?? ishh...'' gerutu Alisa.


''Hehehe.. maaf Dek.. kan Abang nggak tahu? Emang kalau pernikahan adat Aceh, memang harus memakai pakaian seperti ini ya?? Abang rasa, kasihan sama ceweknya, karena konde ini terlalu berat? Belum lagi selempang nya ini, kan berat juga??'' tanya Emil, dengan tangan kanannya terus bergerak melepas bunga yang tertancap di kepala Alisa.


Emil mengangguk, ''Adek benar! adek cantik memakai pakaian adat seperti ini.'' imbuhnya, sesekali menatap Alisa di cermin.


Baru sedikit yang di buka, Tante Irma masuk ke kamar.


''Loh, Emil? kok jadi kamu sih yang ngelepas in? kan ada penata rias nya??'' tegur Tante Irma.


Emil tersenyum kikuk, ''hehe maaf tante! saya kasihan melihat Alisa yang keberatan menahan sanggul ini, jadi ya.. saya bantuin untuk melepasnya!''


''Ya sudah, biar Tante saja!''


Emil mengangguk, setelahnya Tante Irma melepas semua pernak pernik baju pengantin adat Aceh yang tadi siang di kenakan Alisa.


Satu jam setelah akad tadi, Alisa dibantu penata rias untuk mengganti gaun pengantinnya.


Setengah jam kemudian, semua nya telah selesai. Kini tinggalah Alisa dan juga Emil disana berdua.


Emil yang sudah tidak sabar, memeluk Alisa dengan erat.


''Abang! lepas ih! pengap aku nya??''


''Nggak akan! Lama sekali Abang menantikan hari ini, Abang nggak akan melepaskan mu walau sesaat,'' imbuh Emil, membuat Alisa melotot.


''Kita jadi kan dek.. itu..''

__ADS_1


''Apa??''


''Malam pertama!'' bisik Emil ditelinga Alisa.


Karena terkejut, Alisa bangkit dengan tiba-tiba. Membuat Emil yang memeluknya erat tersentak ketika dagunya kejeduk kepala Alisa.


Duk!


''Aduhh... ishh.. pelan-pelan Napa sih Dek?! sakit ini dagu Abang! awas kamu Abang balas ya!'' geram Emil, ia menangkap Alisa yang ingin berlari darinya.


Grep!


''Ha.. adek mau kemana?? nggak akan bisa lari dari Abang!''


''Ih, Abang! lepasin ah! aku mau sholat dulu, itu waktunya udah sholat maghrib!'' elak Alisa.


''Haha.. udah lewat dek.. tadi kan adek udah sholat?? Abang belum lupa deh!'' ujar Emil, masih dengan memeluk Alisa erat.


Duk! duk! Krakk!


''Akkhhh... abaannngg... sakit, ih! pelan-pelan dong...! sakit akunya! ishh..'' jerit Alisa.


''Shhuuutt.. diam Napa dek?! dikira kita lagi ngapain ntar! Ayo sini Abang bantu! pelan-pelan! Adek sih.. entah ngapain pula lari?? Kan nggak Abang makan dek??''


Alisa mencebik, ''hilih! nggak makan, nggak makan! tapi akunya nggak dilepasin! huh!'' gerutunya lagi.


''Ya.. habis.. adek kayak ketakutan gitu Abang peluk?? Masih di peluk, gimana belah duren??'' goda Emil, dengan menggerakkan alisnya naik turun.


''Ishh.. sana ih! sakit ini kaki ku! Awas Abang ah!''


Emil yang melihatnya terkekeh. Setelah dirasa Alisa tenang. Barulah Emil mendekati Alisa. Lama ia menatap Alisa, hingga hadis itu menoleh ke arahnya.


Cup!


Alisa melotot. Emil terkekeh. Semakin gencar ia ingin melahap Alisa malam ini juga.


Cup!


Kali ini lebih lama dan menghanyutkan. Alisa terbuai dengan perlakuan Emil. Namun, saat Emil ingin merebahkan Alisa di pembaringan, pintu kamar mereka diketuk dari luar.


Tok, tok, tok,


''Lis! buka pintunya!''


Sejenak mereka saling pandang. Ingin tau siapa sebenarnya yang mengganggu malam pertama mereka.


''Lis! buka pintunya! Ini Tante Irma! ada yang harus Tante omongin sama kamu!''


Lagi, pintu diketuk dari luar. Membuat Emil menggerutu sebal.


''Sial!''


💕

__ADS_1


Ada yang pernah begini nggak?? lagi malam pertama malah ke ganggu! hihi..


TBC


__ADS_2