
"Jika tidak, nyawanya tidak akan tertolong..."
Kata kata itu terus terngiang ditelinga mereka termasuk Hendra.
Ia sangat shock.. saat tau Alisa sedang membutuhkan donor darah segera.
****
'' Pasien sedang kritis dan membutuhkan banyak darah, saya mohon siapa diantaranya bisa mendonorkan darah untuk pasien??''
'' Apa golongan darah yang dibutuhkan??'' tanya Hendra
'' Pasien bergolongan darah O resus negatif. Saat ini stok dirumah sakit sedang habis jadi terpaksa harus cari pendonor lain.''
'' Saya sus, saya papanya. Golongan darah saya sama dengan Alisa.''
'' Baik. Mari ikut saya pak..''
Sesaat kemudian papa Alisa keluar dengan wajah suram.
'' Gimana pa..? Apa Papa bisa mendonorkan darah untuk Alisa??'' tanya Mama Alina
'' Maaf buk, bapak tidak bisa mendonorkan darahnya karena beliau ada riwayat penyakit paru paru yang baru saja sembuh. Kami tidak bisa menanggung resiko jika sesuatu terjadi dengan bapak...''
'' Ya Allah pa... bagaimana ini..?? Alisa...'' Mama Alina menangis terus hingga matanya sembab.
'' Kalau begitu ambil saja darah saya sus, saya juga O tapi untuk resus saya gak tau..''
'' Baik, mari ikut saya...'' kata suster
Hendra mengikuti suster keruang pendonoran darah. Sesaat setelahnya Hendra keluar dengan wajah tertunduk lesu. Ia kecewa dengan dirinya karena tak bisa mendonorkan darahnya untuk Alisa.
Ia hanya diam tanpa kata.
'' Bagaimana nak?? Apakah kamu bisa mendonorkan darah mu untuk Alisa??''
Hendra menggeleng dengan wajah yang hampir menangis.
'' Maaf bu.. apakah ibu bisa??'' tanya suster
__ADS_1
'' Saya gak bisa sus.. karena saya punya riwayat anemia.. ya Allah Lis...'' Mama Alina sesegukan
'' Coba cari dari teman atau kerabat mungkin salah satu dari mereka ada yang memilki darah yang sama..'' ucap suster itu
'' Ba-baik akan kami coba..'' sahut Hendra.
Hendra mengambil telepon genggam nya sambil berjalan keluar, ia ingin menghubungi semua teman sekelasnya untuk menanyakan siapa diantara mereka yang memiliki golongan darah yang sama.
Pak Yoga pun sama, ia menghubungi seluruh anggota keluarga nya dan menanyakan golongan darah mereka apakah ada yang sama dengan Alisa.
Demikian juga dengan mama Alina, beliau tidak tinggal diam. Sambil menangis Mama Alina juga menelpon seluruh anggota arisannya berharap ada yang sama.
Disaat mereka sedang sibuk mencari pendonor tiba tiba pintu ruang UGD terbuka. Hendra yang melihatnya berlari kearah suster tersebut
'' Bagaimana keadaan nya sus??''
'' Kondisi pasien terus menurun secepatnya harus ada donor darah jika tidak... nyawanya tidak tertolong...''
Deg
Deg
Deg
Berbeda dengan Hendra handphonenya terjatuh dari tangannya menimpa lantai hancur tak beraturan.
Sakit sudah rasa hatinya. Hancur pula harapan nya.. ia menangis tersedu sambil terduduk.
'' Alisa maafkan aku.. terlambat menyelamatkan mu.. jika sssaja aaakuu cepat mungkin masih bisaaa dan tiiidaakk akkann seperti ini...'' Hendra menangis pilu.
Pak Yoga berdiri mematung, Mama Alina shock dan jatuh pingsan.
''Mama!'' jerit pak Yoga. Pak Yoga membopong Mama Alina dan mbawanya keruang sebelah agar tidake mengganggu kenyamanan disana.
Saat semua dalam keadaan terguncang, dikejauhan sana ada seorang pemuda memandang mereka dengan sedih. Hatinya iba melihat orang tua itu. Kakinya berjalan kearah resepsionis untuk menanyakan apa yang terjadi dengan keluarga itu.
Saat dia tau mereka membutuhkan donor darah O dengan resus negatif dirinya terdorong untuk menolong korban kecelakaan itu.
Dia bergegas menuju ke ruang pendonoran diikuti oleh seorang suster.
__ADS_1
'' Sus.. ini yang akan mendonorkan darahnya untuk pasien..''
'' Baik silahkan berbaring masnya.. rileks aja ya..''
'' Iya sus..''
***
Sesaat setelah itu pendonor yang mendonorkan darahnya, entah mengapa ia ingin sekali melihat gadis itu hatinya seakan terpanggil kakinya tergerak untuk melangkah ke sana.
Sesampainya ia disana, ia terdiam melihat kondisi orang tua korban dan juga seorang pemuda berseragam putih abu.
Disaat semua larut dalam kesedihan, pintu ruang UGD terbuka lagi membuat yang melihat menjadi tahan nafas. Mereka harap harap cemas, wajah mereka diliputi rasa khawatir.
'' Ada apa sus.. apakah anak saya...??'' Mama Alina tidak sanggup meneruskan ucapannya.
'' Alhamdulillah bapak ibu, pasien sudah melewati masa kritisnya berkat seseorang yang mendonorkan darahnya..''
Mereka yang terdiam, termangu sesaat setelah sadar barulah mereka mengucapkan..
'' Alhamdulillah ya Allah Alisa selamat...'' mereka bertiga kompak mengatakan nya.
Mereka saling pandang setelahnya mereka tertawa.. tertawa disaat terluka. Semua itu sudah berlalu berkat seseorang yang telah mendonorkan darahnya.
'' Boleh kami tau sus.. siapa pendonornya??'' tanya Mama Alina
'' Maafkan saya bu.. beliau berpesan biarlah ini menjadi rahasia dan beliau juga menitipkan sepucuk surat untuk pasien..'' kata suster sambil menyerahkan sepucuk surat yang diatasnya tertulis "Teruntuk Alisa gadis kecil berhijab" Mama Alina mengerutkan dahinya, tapi ia tidak ambil pusing yang terpenting sekarang ialah kondisi Alisa yang sudah membaik untuk masalah surat dan pendonornya akan diurus nanti setelah Alisa sadar.
'' Pa.. Mama simpan ya suratnya, nanti setelah Alisa sadar akan Mama berikan padanya..''
'' Iya ma..''
Hendra hanya terdiam memikirkan siapa gerangan orang ini dan mengapa harus ada surat pula sebagai pengantar nya. Apakah selama ini Alisa ada hubungan dengan orang itu atau apa?? Hendra terus memikirkan hal itu.
💟💟💟💟
Hayo.. siapa itu pendonor nya ?? kenapa pula babang Hendra jadi uring uringan??
Selamat membaca....
__ADS_1
🤗🤗🤗🤗😉😉
Kalau suka pencet like dan favorit ya.. biar othor lebih semangat lagi updatenya.. 😁😁