
''Jika seperti ini jadinya, lebih baik aku tidak memiliki menantu sekalipun! Karena memiliki seorang istri kau malah melawan ku?! Dasar anak durhaka?! Tidak tau terimakasih! Menyesal aku melahirkan mu ke dunia ini! Menyesal aku merestui pernikahan mu! Kali ku tau kau akan membangkang pada ku! Baru dua hari kau menikah dengan gadis ini! Tapi kau sudah berani melawan ku! Sungguh, gadis seperti hanya menawarkan pengaruh buruk untuk keluarga ku!!'' serunya lantang.
Ddddduuuaaarrrr..
Alisa tersentak, ia begitu kaget mendengar penuturan ibu mertuanya itu. Serasa di hantam paluh Godam yang begitu besar.
Terhantam hingga ke dasar, hingga sulit untuk bisa bangkit lagi. Matanya berkaca-kaca.
Ia menatap nanar pada wanita paruh baya yang mengatakan dirinya adalah pengaruh buruk untuk putra nya.
''Astaghfirullah.. ya Allah... Rima!! Apa yang kau katakan?! hah?! Benar-benar! sudah buta mata! buta juga mata hati mu! tidak bisa melihat, mana yang membawa pengaruh buruk! mana yang bukan! Kecewa aku padamu! lebih baik aku memulangkan mu kepada keluargamu! agar kau bisa di didik lebih baik lagi! lidah mu sungguh tajam Rima! aku tak menyangka! Selama ini tak pernah sekalipun kau menunjukkan sifat asli mu itu! Kau bermuka dua Rima?! Sungguh!!!'' tukas ayah Bram.
Membuat ibu Rima melebarkan kedua matanya.
''Ayah!!! berani sekali kau mengatakan itu pada ku!?! hah?! Karena membela gadis sial ini, ( tunjuknya pada wajah Alisa ) kau menuduhku yang membawa pengaruh buruk??? Tega sekali kau Bram!?!'' sarkas ibu Rima.
Emosi nya meluap-luap mendengar sang suami lebih membela menantu baru ketimbang dirinya yang menjadi istrinya.
Emil terdiam. Begitu juga Alisa. Ia tak menyangka, jika kedatangan nya sungguh membuat pernikahan mertuanya itu kacau.
Aku harus apa??
Ya Allah.. sakit sekali rasanya.. aku tidak ingin rumah ini hancur karena kedatangan ku.. tapi apa yang harus aku perbuat jika suamiku menginginkan aku tetap disini??
Bantu aku ya Robb.. aku ingin keluar dari rumah ini... lirih Alisa di dalam hati.
''Sungguh aku kecewa dengan mu Yah.. berpuluh tahun kita hidup bersama.. belum pernah sekalipun kau menghardik ku seperti ini. Andai aku bisa memilih.. aku juga tidak ingin seperti ini! Apa salahku padamu wahai gadis tidak tahu diri?! hah?! Karena kedatangan mu kedalam keluarga ku, kau menghancurkan pernikahan yang selama ini ku jalani! Sungguh kau! kehadiran mu membawa pengaruh buruk untuk kehidupan kami!!'' pekiknya lagi. Ia begitu marah saat ini hingga ingin rasanya menghajar menantunya itu. Ia menunjuk-nunjuk wajah Alisa saking geram nya.
''Hentikan Rima!! kau sudah keterlaluan!! sekali lagi aku ingatkan! jika lidah mu tidak berhenti untuk menyakiti menantuku.. maka jangan salah kan aku.. jika aku akan melepaskan mu!!'' serunya dengan wajah datar namun terkesan dingin.
__ADS_1
Ibu Rima tercengang mendengar ucapan ayah Bram. Lagi dan lagi ia di salahkan.
Lagi, Alisa tersentak. Lidahnya terasa Kelu, walau hanya untuk membalas satu patah kata saja untuk melawan ibu mertua nya ini.
Dengan bibir bergetar, Alisa mencoba untuk berbicara walau relung hatinya begitu sakit mendengar ucapan demi ucapan yang dilontarkan oleh ibu mertuanya ini.
''Yah... jangan berbicara seperti itu.. Mama benar, jika aku bukanlah siapa-siapa disini. Aku hanya pendatang baru di dalam keluarga kalian. Maafkan aku.. jika kehadiran ku disini.. sudah membuat kalian tidak nyaman.. maafkan aku.. Jika kehadiran ku disini kalian tercerai berai.. Aku tidak bermaksud untuk merebut siapa pun disini.. Mama... maafkan Alisa, jika Alisa sudah merebut putra Mama.. Alisa tidak bermaksud seperti itu... Bang...'' Alisa menoleh pada Emil.
Emil menoleh dengan wajah datar. Alisa mencoba untuk tersenyum walau terpaksa. Namun demi menyenangkan semua orang, ia rela terluka.
''Aku akan pergi dari sini.. tolong... lepaskan aku.. carilah pengganti ku sesuai dengan keinginan Mama.. biarkan aku memilih jalan ku sendiri, begitu juga dengan Abang.. tolong.. aku tidak ingin merusak hubungan siapa pun disini.. jika memang kehadiran ku disini tidak dianggap, maka biarlah aku pergi.. tolong lepaskan aku bang.. demi kebaikan bersama..'' lirih Alisa begitu pelan.
Emil dan ayah Bram terkejut.
''Dek!!''
''Nak..''
Ibu loh.. ibu... Alisa bukanlah wanita yang bisa melihat air mata wanita lain. Ia juga akan menjadi seorang ibu.
Durhaka dirinya jika ia memaksakan Emil untuk lebih memilihnya. Bukankah surga seorang anak lelaki ada pada ibu nya?? Dan juga surga seorang istri ada pada suaminya??
Emil melotot menatap Alisa. Sedangkan Alisa menunduk. Kemudian melanjutkan lagi ucapannya.
''Maafka aku.. aku tak bermaksud membuat keluarga kalian tercerai berai.. daripada kalian terus menerus harus seperti ini.. biarlah aku yang mengalah. Nggak ada gunanya pun bersikeras mempertahankan tanpa restu orang tua. Papa menara bang.. Abang bukankah jodoh yang tepat untukku.. carilah pengganti ku yang sesuai dengan kriteria Mama.. aku ikhlas jika pernikahan kita cukup sampai disini. Jangan membantahnya bang.. beliau surga mu.. jika kau memilih ku.. nanti kau durhaka padanya.. lepaskanlah aku.. karena ini memang yang harus kita berdua lakukan. Sedari awal kan Papa sudah bilang, jika Abang tidak bisa dengan ku?? Tapi... tak apa.. hidup dan mati itu sudah menjadi ketetapan Nya. Aku harap Abang harus bisa adil terhadap kami berdua.. sekali lagi terimakasih karena sudah mengijinkan aku tinggal disini selama dua hari ini.. dan Maaf.. kita cukup sampai disini... Alisa pamit bang.. Ayah.. jangan bertengkar lagi ya dengan Mama.. Alisa akan pergi dari sini. Semoga kalian bahagia..'' lirih Alisa begitu pelan.
Rasanya tiada daya dan upaya dirinya sekarang melainkan Allah yang maha kuasa sebagai pegangan nya.
Emil tersentak mendengar ucapan Alisa. Ia menggeleng. Alisa sudah berlalu ke kamar nya mengambil ransel yang berisikan bajunya.
__ADS_1
Sambil terisak Alisa bergegas memasukkan semua bajunya ke dalam ransel. Sekarang ia bingung harus kemana.
Ini di kampung orang. Ia tidak atau apa pun tentang jalan disana.
''Ya Allah.. bantu aku.. jika ini adalah jalan Mu.. aku ikhlas.. apapun keputusan mu terhadap hidupku.. inilah yang terbaik.. aku serahkan semuanya kepada Mu ya Robb...'' lirih Alisa dengan terisak.
Setelah selesai Alisa keluar dan berpamitan dengan ketiga orang yang duduk disana dengan diam.
Ayah dengan tatapan sedihnya. Ibu mertua dengan tatapan kosongnya. Sedangkan Emil menatap Alisa dengan raut wajah yang tidak terbaca.
Setelah sampai disana, Alisa mengulurkan tangan kepada ayah Bram untuk pamit. Mata ayah Bram berkaca-kaca.
Sedangkan Alisa tersenyum dalam tangis. Ia menjulurkan tangannya kepada ibu mertuanya, Tapi tidak di gubris.
Alisa mengambil tangan ibu mertuanya dan di salami dengan penuh takzim. Ia menciumnya begitu lama, hingga tanpa dirasa sebulir bening menetes di tangan ibu mertuanya itu.
Ibu Rima tertegun. Ia menoleh pada Alisa yang juga menoleh nya dengan tersenyum lembut.
''Muali sekarang.. Alisa mengembalikan putra Mama.. maaf.. jika kedatangan Alisa kesini.. membuat mama terluka daneraa di asinhakn oleh putra Mama sendiri.. sekarang Alisa membebaskan bang Emil dari pernikahan yang tidak di restui ini. Carilah pengganti ku sesuai dengan pilihan Mama. Jangan benci bang Emil, jangan marah pada ayah.. Alisa pamit Mama.. assalamualaikum..''
Deg.
💕
Masih penasaran dengan kelanjutannya??
Ikutin terus ya..
Like dan komen. Jangan dilompat-lompat like nya. Agar othor tau jika klean para pembaca sudah meninggalkan jejak di cerita othor ini.
__ADS_1
😄😄😘😘
TBC