
Emil gugup, dahinya keluar keringat dingin dengan cepat ia mengusapnya. Sesaat matanya menatap Alisa nan jauh disana. Alisa menatapnya tanpa kedip, matanya memerah sisa air mata yang baru tumpah karena melihat Emil. Alisa sengaja menjauh dari semua orang. Karena tak ingin ketahuan bahwa ia sedang menangisi Emil.
Walaupun jauh tapi Emil tetap tau dimana keberadaannya. Begitulah cinta.. jika sudah melekat, sejauh apapun pasangan nya ia pasti tau dimana kekasihnya itu berada.
Sebelum mengutarakan niat nya itu terlebih dahulu pak Daman menyampaikan sepatah dua kata hanya untuk basa basi saja. Terakhir pak Daman mengatakan kalau ia ingin melamar Alisa untuk adik iparnya.
''Begini pak... buk.. saya mewakili adik ipar saya yaitu ucu atau Emil, ingin menyampaikan bahwa adik saya ini berniat ingin melamar putri bapak dan ibu yaitu Alisa, untuk dijadikan istrinya. Ayo cu! sampaikan apa yang menjadi keinginan mu!''. ucap pak Daman sambil menepuk bahu Emil.
Emil membuang nafasnya.
''Bismillahirrahmanirrahim... saya Milham Syahputra ingin mengatakan bahwa, saya ingin melamar putri ibu dan bapak untuk dijadikan istri saya, apakah bapak dan ibu menerima niat baik saya ini??'' ucap Emil mantap tanpa ada keraguan didalamnya.
Deg!
Deg!
Semua yang ada disana terkejut. Mama Alina dan pak Yoga lebih terkejut lagi, mereka sampai melotot melihat Emil, sedang yang ditatap tersenyum kikuk. Emil tau jika mereka akan menolaknya jika melamar secara pribadi, maka jauh sebelum melakukan hal seperti ini, Emil terlebih dahulu merencanakan nya dengan pak Daman serta pak Oman
FLASHBACK
Saat kejadian dimana Emil dan Alisa saling kejar kejaran hingga sampai kerumah Alisa, Disana ada seseorang yang melihat kejadian itu. Melihat bagaimana ia mengetuk pintu serta memanggil nama Alisa, ialah pa Oman.
Sempat kaget melihat Alisa berlari dan menangis masuk kerumah dengan menutup pintu begitu kencang. Pak Oman terjingkat kaget, begitu keras nya pintu rumah dibanting oleh Alisa. Untung saja pada saat itu pak Yoga dan Mama Alina sedang pergi masih amanlah.. jika tidak pasti akan banyak pertanyaan yang diajukan oleh mereka berdua.
Pak Oman mengusap dadanya.
''Astaghfirullah nak Alisa kenapa membanting pintu seperti itu?? Kalau copot tuh pintu kan kasian.. hadeuuuhhh... kaget pisan euuuyyy ... nak Alisa ini ada ada saja! ada masalah apa hingga marah dengan pintu?? ck! kalau sampai pak-
Belum selesai ia berbicara sendiri, dari kejauhan ia melihat Emil yang berlari mengejar Alisa sampai kerumahnya. Mata pak Oman memicing, pasti ada yang tidak beres pikirnya.
Ia keluar dari rumahnya dan mendatangi rumah Alisa. Disana ia melihat bahwa para tetangga juga kaget dan heran, mengapa Emil mengetuk pintu serta memanggil Alisa berulang-ulang.
Banyak yang ingin ditanyakan oleh mereka, tapi ragu untuk bertanya melihat Emil wajahnya begitu kusut. Menyadari pintu rumah itu tak kan terbuka dan Alisa pun tak akan keluar, jadilah ia berbalik dan pulang. Saat sampai didepan pagar rumah Alisa ia terkejut melihat pak Oman ada disana.
__ADS_1
Emil berjalan perlahan mendekati pak Oman.
''Kenapa nak Emil?? Apakah ada sesuatu antara kamu dan nak Alisa??'' pertanyaan yang begitu tepat pada sasaran nya.
Emil terkejut lagi.
''Nggak usah kaget begitu.. bapak sudah tau antara kamu dan nak Alisa pasti ada sesuatu, iyakan Mil??''
Emil menunduk dan mengangguk. Ia pasrah dengan pertanyaan pak Oman. Ingin disembunyikan pun percuma sudah ketahuan. Lebih baik ngomong aja sekalian pikirnya.
Emil membuang nafasnya.
''Benar pak.. memang diantara kami ada sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa diucapkan dengan kata kata tapi hatilah yang merasakan nya!''
Pak Oman tersenyum.
''Oh.. kamu sedang berusaha meluluhkan Alisa toh... apakah berhasil??''
''Hah yang ada malah ditolak terus pak! yang ini lebih parah! Alisa salah paham sama saya..''
''Ih cemberut gitu mukanya, kamu laki Mil.. harus pintar dong dalam membuat strategi..''
''Maksudnya??''
''Haishh ni anak muda pintar dalam bekerja tapi bodoh dalam bercinta!!''
Emil membulatkan matanya, membuat pak Oman tertawa lagi. Ia semakin gencar menggoda Emil.
''Lah bapak kok ngomongnya kok gitu sih?? Saya belum bercinta dengan Alisa pak.. Alisa itu masih suci saya juga masih perjaka! enak aja dibilangin bodoh dalam bercinta!!''
Pak Oman tambah tertawa melihat Emil berbicara keluar dari haluan. Ia tertawa sampai air matanya keluar.
''Hahaha.. anak bodoh.. mana ada saya bilang kalau kamu bodoh dalam hal begituan.. yang saya maksud adalah kamu bodoh dalam menaklukkan hati Alisa. Hahaha Emil .. Emil..''
__ADS_1
Mata Emil melotot mendengar perkataan pak Oman. Sungguh orang tua ini membuat dirinya merasa dibodohi.
''Hoo..saya kira bapak meragukan kejantanan saya.. hehehe..''
''Ohh.. salah paham toh.. memang salah paham apa sih?? hingga Alisa berlari dan menutup pintu begitu kencang! Apakah kamu menyakiti hatinya mil??''
Emil meringis mendengar ucapan pak Oman. Tak mungkin ia bilang kan kalau Alisa salah paham karena melihat dirinya duduk berdua bersama Ros ditokonya bisa berabe nanti urusannya.
''Emm.. hanya masalah kecil aja sih.. tapi bapak Taulah Alisa.. ia begitu sensitif terhadap hal hal kecil menyangkut diriku jadilah ia salah paham''
''Hoo...Terus mengapa tadi Alisa berlari sambil menangis??''
''Emm.. i-itu.. tadi .. ah susah pak jelasinnya.. yang jelas Alisa salah paham sama saya. Ia pikir saya ini menduakannya, maka dari itu ia menangis..''
''Salah paham apa sih Mil?? coba ceritakan.. saya masih bingung atuh.. belum paham saya yang kamu jelaskan!''
''Yang jelas, Alisa itu salah paham karena saya duduk berdua dengan Ros sambil cerita dan bercanda itu tak luput dari perhatiannya dan saat ingin menjelaskan ia tambah marah dan lari.. saya bisa apa pak??''
Pak Oman menarik nafasnya.
''Jadi begitu toh.. ya sudah sebaiknya sekarang kamu jangan dulu menemuinya, biarkan ia tenang dulu. Untuk sementara kamu harus menjauh darinya hingga kamu bisa mengumpulkan uang dan membeli cincin untuk melamarnya. Saya kenal betul siapa pak Yoga, jika kamu datang secara pribadi kamu pasti akan ditolak olehnya! Maka dari itu kita harus menyusun rencana agar berjalan dengan mulus kamu harus membicarakan nya dengan pak Daman. Kamu paham??'' jelasnya membuat Emil berbinar senang.
Dan sejak hari itu pula ia dan pak Daman serta pak Oman menyusun rencana. Terlebih dahulu ia mengatakan keinginannya kepada pak Daman, yang disetujui eh beliau.
FLASH BACK OFF
Setelah mengatakan itu, suasana menjadi hening sepi.. seperti tanpa ada siapa siapa. Pak Yoga menatap Emil instens, yang ditatap tersenyum kikuk. Emil jadi salah tingkah. Ia masih penasaran apakah diterima atau ditolaknya.
Pak Yoga memejamkan matanya sesaat, kemudian ia menarik nafas dalam dalam dan membuangnya. Setelah lama ia bergelut dengan pikiran nya, akhirnya pak Yoga menjawab pertanyaan Emil dengan wajah datar tanpa ekspresi. Sulit untuk ditebak.
''Baiklah.. saya terima niat baik nak Emil ingin melamar putri saya Alisa, tapi mohon maaf.. saya harus bertanya dulu dengan keluarga saya.. karena ini mendadak maka kami pun harus melakukan rapat daruratnya juga mendadak juga.. jadi sekali saya mohon maaf..''
Deg!
__ADS_1
Apakah aku ditolak??