Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Ujian


__ADS_3

Sudah satu Minggu Emil tidak mendapatkan kabar dari Alisa. Ia jadi penasaran dengan jawaban gadis itu, apakah ia menerimanya ataukah tidak? Sungguh! memikirkan hal itu membuat Emil pusing sendiri.


Hari ini ia bertekad akan menemui Alisa tapi tidak dirumahnya melainkan ia tunggu diujung jalan, karena jika kerumahnya akan membuat pak Yoga curiga bahwa ia sedang mengincar anak gadisnya.


Sedari pagi Emil sudah menunggunya di ujung jalan raya. Dipinggir jalan itu banyak ditumbuhi bunga bunga yang cantik, Emil berdiri dipinggir tembok dan tertutup oleh bunga Bougenville yang sudah tinggi seukuran Emil. Ia bersembunyi disana sengaja, jika nanti ia melihat Alisa ia akan menghentikan nya.


Tepat 6.35 Alisa melewati jalan raya itu. Emil yang melihatnya begitu senang. Saat Alisa akan menyeberang, Alisa dikagetkan dengan Emil yang sudah berdiri dihadapannya. Ia berhenti tstakala Emil memegangi tangan nya. Alisa terkejut refleks iya menepis tangan Emil, membuat Emil merasa bahwa dirinya ditolak oleh Alisa. Padahal sebenarnya bukan itu, hanya refleks saja karena ia terkejut.


''Ma-maaf bang.. bukan maksud alis-


Belum sempat Alisa mengucapkan apa yang ingin disampaikan nya Emil sudah memotongnya.


''Tak apa dek.. Abang paham kok.. emm maaf nih ya Abang cegat kamu dipinggir jalan ini, karena jika dirumah Abang nggak punya kesempatan untuk bisa bertemu.. takutnya pak Yoga salah paham sama Abang.. nggak pa pa kan dek jika kita bicara sebentar disini sebelum kamu berangkat ke sekolah..??'' tanyanya.

__ADS_1


Alisa tersenyum dalam hati, bak gayung bersambut inilah kesempatan Alisa untuk menguji Emil. Alisa berpura pura sedih melihat Emil.


''Baiklah jika itu yang Abang inginkan, Alisa akan mendengar, apa yang ingin abang bicarakan dengan Alisa?''


''Emm.. anu.. itu..''


''Abang kenapa?? ngomong aja!''


Alisa menundukkan kepalanya, iaemandang Emil dengan wajah sendu.


'' Sebelumnya terimakasih karena Abang sudah menyukai Alisa, Alisa tersanjung banget ternyata ada juga seorang lelaki yang menyukai Alisa yang hanya gadis biasa, dan maaf Alisa dengan sangat terpaksa menolak Abang.. karena papa melarang Alisa untuk menikah sebelum lulus kuliah.. maaf ya bang.. jika ini akan menyakiti Abang.. tapi sungguh Alisa tak bisa menolak keinginan Papa.. jadi Alisa harap, Abang berlapang dada menerima keputusan Alisa ini..'' ucapnya dengan wajah sendu


Emil terkejut, wajahnya mendadak suram. Ia pikir cintanya akan bersambut tapi nyatanya Alisa menolaknya bahkan sebelum berjuang. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apakah cinta ditolak, dukun bertindak?? Ah terasa seperti memaksakan kehendak saja.

__ADS_1


Alisa yang melihat raut wajah Emil berubah dari ceria menjadi suram, membuat Alisa tertawa didalam hati. Jahat sih.. tapi inilah yang harus dilakukan oleh Alisa. Ia ingin melihat seperti apa kesungguhan Emil kepadanya, apakah Emil akan berjuang demi mendapatkannya atau Emil akan mundur??.


Alisa terus saja memperhatikan Emil, ia ingin tertawa melihat wajah Emil yang tertekuk. Tapi apa daya jika dirinya sudah bertindak maka tidak mungkin ia tarik lagi. Alisa harus tegar melihat wajah bermuram durja itu.


Alisa jadi berpikir ' apakah cinta yang dielukan hanya palsu belaka?? apakah dirinya hanya sebagai permainannya saja??'


Emil yang sedang patah hati tetap berusaha meyakinkan balisa bahwa dirinya tulus menyukai gadis itu dan akan ia jadikan istri bukan sebagai permainan semata.


'''Apakah sudah tidak ada kesempatan lagi untuk Abang berjuang Lis...? Abang kalah telak Sebelum bertindak.. jangan menolak ya Lis jika Abang masih berusaha meluluhkan hatimu?aaf jika terlalu cepat.. Abang hanya takut jika kamu akan diambil orang lain.. maukah kamu menerima Abang apa adanya Lis..??


Deg!


Ini lamaran kah??

__ADS_1


__ADS_2