
''Selamat menempuh hidup baru, Alisa..''
Deg!
''Hendra...'' lirih Alisa.
Hendra tersenyum, dan menyalami kedua pengantin itu. Mata Hendra juga berkaca-kaca memandang Alisa.
''Ehm...'' Emil berdehem, membuat mereka berdua memutuskan kontak mata secara tiba-tiba.
Hendra memalingkan wajahnya dari Alisa dan menatap ke sembarang arah. Alisa terkekeh melihatnya.
''Menangislah.. jika menangis membuatmu merasa lega...'' lirih Alisa dengan bibir bergetar.
''Haha.. aku nggak nangis kok.. mata ku hanya kelilipan.'' ujarnya sambil mengedip-ngedip kan matanya. ''Bang... jaga Alisa dengan baik ya.. sekarang ia jadi tanggung jawab Abang.. aku tidak bisa menjadi pelindung nya lagi disaat ia terluka.. aku tidak bisa lagi menjadi pelipur lara nya disaat ia sedang gundah.. Sayangi ia dengan sepenuh hatimu.. karena aku tau.. ia gadis yang baik.. pantas untuk dibahagiakan.. Jika Abang sudah tidak menginginkan lagi dirinya.. hubungi aku.. dengan senang hati aku akan menerimanya.. Lis... jadilah istri yang baik untuknya.. jangan jadi istri yang durhaka.. patuhi segala perintahnya.. jika ia salah tegur lah dengan kata yang lembut, aku tidak bisa menjadi pendamping mu.. karena kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama.. kamu ditakdirkan untuk menjadi milik orang lain.. begitu juga denganku.. takdir ku bersama dengan orang lain.. selamat menempuh hidup baru ya.. semoga selalu bahagia.. Lis.. Bang.. bolehkah aku memegang tangannya sebentar saja?? hanya sebentar! tidak akan lama kok? Ya, bang? bolehkan??'' tanya Hendra dengan sendu.
Alisa menangis tersedu. Hani yang berada di belakang Hendra mendekati Alisa.
''Lis...''
''Ha-hani...'' Alisa memeluk erat Hani. Ia tak sanggup melihat Hendra hancur karena melihat ia bersanding dengan orang lain.
Emil yang melihat wajah sendu Hendra mengangguk. Ia tidak sampai hati pada pemuda itu. Emil tau rasanya patah hati seperti apa.
''Silahkan...'' sahut Emil.
Semua tamu yang hadir disana menatap sedih kepada dua pasang anak manusia yang sedang bersedih itu.
''Lis... aku ingin kau memakai ini untukku! Simpan ini sebagai kenang-kenangan.. hanya ini yang aku punya untukmu! Ini hasil kerja keras ku selama ini.. berikan tangan mu..'' ucap Hendra dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
Alisa menggeleng, ia tidak sanggup melihat Hendra menangis seperti itu.
''Aku mohon Lis.. untuk yang terakhir kalinya.. ini sebagi tanda jika bukan hanya bang Emil yang pernah menyukai mu.. tapi juga aku! Walaupun kita tidak ditakdirkan untuk bersama.. paling tidak gelang ini sebagai tanda kenang-kenangan dari ku untukmu! Dan jika aku boleh meminta Pada Allah.. aku ingin meminta.. jika aku tidak berjodoh dengan mu.. Maka keturunan kita selanjutnya yang akan meneruskan cinta kita ini.. em.. maksudnya cintaku saja.. Tolong diterima Lis.. aku mohon..'' pinta Hendra dengan sangat.
Air mata membasahi pipi mulus nya. Hendra terus saja menangis. Membuat Alisa tidak sanggup untuk melihatnya.
''Lis.. aku mohon..'' lirih Hendra.
__ADS_1
''Aku tidak pantas menerima barang pemberian mu Ndra.. berikan gelang itu pada calon istrimu nantinya.. tapi bukan aku.. Takdirmu bersama dengan orang lain.. hiks.. hiks..''
Hendra menggeleng, ''tak apa Lis.. aku ikhlas memberikan gelang ini untukmu! Jika kau tidak ingin memakai nya, maka simpanlah! karena suatu saat nanti gelang ini akan menyatukan kita kembali dalam sebuah keluarga besar. Aku yakin itu! Terima ya..'' pinta nya lagi.
Alisa menatap Hendra, Hendra menganggukkan kepalanya. Alisa tersenyum dalam tangis.
''Baiklah..'' lirih Alisa.
Hendra menekukkan kakinya kelantai di mana Alisa duduk bersanding dengan Emil, pemuda itu hanya menatap datar pada mereka berdua.
Hatinya sedikit tercubit saat mengetahui, jika bukan dirinya saja yang menyukai istrinya itu. Tapi juga pemuda lain.
Hendra memakaikan gelang itu ditangan kiri Alisa. Gelang emas dengan banyak permata diatasnya dengan ukiran nama Alisa di setiap permata putih itu.
''Cantik!'' ucap Hendra sambil tersenyum manis.
''Terimakasih Ndra.. aku akan menyimpan ini untuk anak-anak kita nanti.. semoga kamu juga mendapatkan jodoh yang terbaik! Aku yakin! Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik untukmu! Dan terimakasih untuk gelang ini! Aku sangat bersyukur, karena pernah dipertemukan dengan teman seperti mu.. Maafkan aku Ndra..'' lirih Alisa dengan menundukkan kepalanya.
Hendra tersenyum dan mengangguk kan kepalanya.
Hani mengangguk, ''Lis.. aku pamit pulang ya.. ini untukmu.. semoga bermanfaat ya.. aku pulang.. selamat menempuh hidup baru, semoga sakinah mawadah warahmah..'' ucap Hani.
Alisa mengangguk, ''terimakasih Hani.. Jangan lupakan aku, walaupun aku jauh dari kalian semua.. tolong jaga Hendra untukku.. aku tau kau menyukainya sedari dulu.. aku mendoakan mu.. semoga kau juga cepat menyusul seperti ku...''
Hani terkejut dengan ucapan Alisa, ia salah tingkah. Alisa yang mlihatnya tertawa. Demikian juga dengan Emil, ia terpana melihat sang istri yang tertawa.
''Bang.. jaga Alisa untuk kami semua ya.. jika suatu saat Abang sudah tidak menginginkan nya lagi, kembalikan Alisa dengan baik seperti Abang mengambil nya. Aku doakan semoga kalian hidup menua sampai akhir hayat. Amiiin..'' ucap Hani dengan tulus.
''Amiinn..'' sahut Emil dan Alisa.
''Ya sudah, aku pamit. Assalamualaikum..''
''Waalaikum salam Hani..'' jawab mereka berdua.
Setelah teman Alisa berlalu dari sana, kini tiba giliran Emil pula yang akan menggoda Alisa.
''Ehm.. ternyata istri Abang ini banyak yang mengincar ya?? Tapi sayang.. jika gadis cantik di sebelah ku ini sudah sah menjadi milikku seutuhnya!" bisik Emil di telinga Alisa.
__ADS_1
Alisa mematung. Nafasnya terasa memburu saat Emil berbisik di telinga nya.
"Sayang.. kamu kenapa? Kok diam? Ada yang salah ya dengan ucapan Abang..?? Atau kamu sedang melamunkan malam pertama kita? hem??" bisiknya lagi.
Blushhh..
Wajah Alisa merona. Emil yang melihatnya terkekeh. Ia sangat suka melihat Alisa yang merona seperti itu.
''Ishh.. apaan sih, Bang! Nggak lucu tau!'' elak Alisa. Wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
Ingin sekali Emil tertawa, tapi ditahan. Karena masih dalam suasana pesta pernikahan nya dengan Alisa.
Sedang asyik-asyiknya menggoda Alisa, seseorang menyapa Alisa lagi. Alisa menoleh, dan betapa bahagianya Alisa saat melihat, seluruh sahabatnya berkumpul disana.
Menghadiri pesta pernikahan nya.
''Selamat menempuh hidup baru, my sis... huhu.. kamu udah nikah! Aku belum hiks! Lama amat ya jodoh ku! hiks! kasian amat ya gue??'' ucapnya sambil memeluk Alisa.
Alisa tertawa mendengar gerutuan Moli. Ya, Moli adalah sahabat Alisa yang paling kocak diantara yang lain.
''Selamat menempuh hidup baru sayang.. semoga samawa ya..'' imbuhnya dengan memeluk Alisa begitu erat.
Begitu juga dengan yang lainnya. Ema, Sinta, Umay, Yani dan satu lagi Dija. Ia adalah sahabat baru mereka, yang juga akan menjadi sahabat bagi Alisa.
''Ya ampuuuunnn.. Opa...'' seru Dija.
Ema memutar bola mata nya malas. '' Elu gimana sih?! Masa' suami Alisa dibilang Opa?? Apa iya, suami Alisa ini mirip Opa Korea?? Hadeuuuhhh.. dasar Dija!! Giliran lihat yang ganteng aja, semua dibilang Opa! ck! Ada-ada saja tuh anak!! heh?!'' gerutu Ema. Ia bersungut-sungut melihat kelakuan sahabat barunya itu.
Emil dan Alisa terkekeh mendengar gerutuan sahabat Alisa itu. Mereka masih larut dalam kebahagiaan pernikahan Alisa.
Semoga pernikahan itu tidak bersifat sementara. Semoga saja!
💕
Masih mau lanjut?? Sebentar lagi akan masuk ke konflik yang sesungguhnya!
TBC
__ADS_1