Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Nikmat dalam nestapa


__ADS_3

Jangan hujat othor ya.. jika bab ini tidak sesuai dengan keinginan kalian para pembaca. Kisah ini nyata. Bukan imajinasi othor.


Selamat membaca..


🌹🌹🌹🌹


Emil menarik Alisa ke dalam kamar mereka membuat Alisa panik dan ketakutan. Ingin lari, tapi rasanya kaki itu terpaku di tanah saat melihat Emil membawanya ke ranjang tempat tidur mereka berdua.


Apakah sekarang saatnya??


''Kita ngapain??''


Emil tersenyum, ''pijat Abang! biar ntar malam kuat untuk belah duren nya..'' goda Emil, membuat Alisa malu.


Ia menunduk, namun ia tetap berjalan dimana Emil berada. Alisa mengambil kayu putih, juga baby oil untuk memijat Emil.


''Ah.. enaknya.. punya istri.. ada yang mijitin! Apalagi tiap malam ada yang kasi jatah??'' godanya lagi.


Alisa memijat belakang Emil sedikit kuat. Emil yang tengkurap pun kesakitan.


''Aduh.. pelan-pelan sayang.. sakit badan Abang jika terlalu kuat.. ishh..'' gerutu Emil.


Alisa mencebik, dan itu tak luput dari tatapan Emil. Wajah Emil mengarah ke cermin, otomatis apapun Alisa lakukan ia tahu.


Emil terkekeh. ''Cantik!''


Alisa mendelik. Emil tertawa lagi. ''Kok marah sih, Dek?? Kan beneran cantik?? Adek cantik kalau nggak pakai hijab. Rambutmu halus dan panjang. Abang menyukai nya.'' ucap Emil dengan menatap Alisa dalam melalui cermin.


Alisa hanya diam, ia masih fokus dengan pekerjaan nya. Satu jam kemudian, tangan Alisa terasa kebas dan kaku.


Sedangkan tersangka sudah tertidur pulas. Alisa keluar mengambil hijab instannya dan mencuci tangan di dapur.


Setelah nya ia sibuk membersihkan rumah. Mulai dari dapur hingga ke teras. Ia membersihkan seluruh ruang itu hingga bersih.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan waktu ashar, Alisa bergegas mandi dan sholat. Setelah itu, ia memasak untuk makan malam mereka berdua.


Saat sedang asyiknya memasak, lengan kekar memeluknya dari belakang. Alisa terjingkat kaget.


''Astaghfirullah..!!'' pekik nya karena terkejut.


Sedangkan Emil tersenyum geli. Ia sengaja mengejutkan Alisa dengan cara memeluk nya dari belakang.


''Dek.. kok nggak bangunin Abang sih?? Ini udah sore loh..'' tanya nya, membuat Alisa menoleh dan..


Cup!


Alisa mendelik dan kesal. ''Abang! ishh.. suka banget sih ngejutin kayak begitu?? Ini lagi bibir! sukanya curi kesempatan aja!'' ketusnya.


Emil terkekeh. Ia sangat suka jika melihat Alisa kesal seperti ini. Gemas, menurut nya.

__ADS_1


''Abang mandi sana! udah sholat belum?? Bentar lagi masuk waktu Maghrib Lo..''


Mendengar ucapan Alisa, Emil melepas rangkulan nya. Dan beranjak pergi meninggalkan Alisa yang berdiri mematung disana.


''Eh? Abang marah kah??'' Alisa jadi bingung melihat kelakuan Emil.


Setelah nya ia tak ambil pusing. Adzan Maghrib berkumandang, menandakan sholat Maghrib sudah tiba.


Alisa mencari Emil, sedang yang dicari tidak ada disana. Terlihat pakaian kotor Emil ada disana.


Alisa membuka lemari dan melihat jika sarung berkurang satu. Alisa tersenyum. Ternyata Emil ke mesjid untuk sholat berjamaah.


Setelah tau jika Emil pergi ke mesjid, akhirnya Alisa menunaikan ibadah sholat nya sendiri. Ia duduk tepekur di sajadah. Menunggu hingga waktu isya.


Alisa heran, mengapa Emil belum pulang juga. Sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.


Ia jadi khawatir. Saat sedang memikirkan Emil, terdengar suara pintu di buka dari luar dan ucapan salam.


Alisa tersenyum, ia bangkit dan menuju ke depan.


''Assalamualaikum..''


''Waalaikum salam... Abang baru pulang??'' tanya nya.


''Ya.. tadi saat adek masak Abang keluar sebentar, terus di jalan ketemu sama bang Daman. Abang di ajak keluar sebentar. Ini dari beliau. Mi goreng dan martabak telor kesukaan mu.'' ucap Emil dengan segera masuk ke kamar dan duduk di tempat tidur.


Alisa membawa makanan itu ke dapur. Dan kembali ke dalam kamar, saat Emil sedang berbaring.


''Ya.. ayo.. Abang juga belum makan. Abang ingin makan yang lain.'' sahut Emil sembari terduduk.


Sedangkan Alisa mengernyit bingung.


''Maksudnya??''


''Abang mau makan kamu!'' bisik Emil di telinga Alisa.


Membuat Alisa terkejut. ''Ta-tapi bang.. aku belum sholat.. ini udah masuk waktu isya.. tadi karena terlalu lama nungguin Abang jadi nggak-''


Cup!


Emil mengecup bibir Alisa dan me lu maatnya. Alisa terkejut dengan perlakuan Emil.


Dengan sekali sentakan, Alisa dibawa Emil ke pembaringan dan memulai semua apa yang di inginkan.


Emil terlalu terburu buru membuat Alisa jadi tidak bisa berfikir secara nalar. Ia terus saja mengecup, menyentuh dan mere. mas apapun yang ditemukannya.


Alisa kalut tidak tau harus berbuat apa-apa. Emil terus saja menyapu apapun yang dijumpainya.


Tanpa sadar seluruh benang yang membungkus tubuh mereka telah tergeletak di lantai.

__ADS_1


Emil semakin gencar memagut bibir lembut nan menggoda itu. Turun ke bawah mencari titik surgawi, membuat nya melenguh tanpa sadar.


''Eugh...''


Semakin gencar pula Emil me lu maat dan memainkan pusat inti tubuh Alisa. Dengan sekali sentakan Emil memaksa pusaka nya untuk masuk. Penyatuan yang begitu buru-buru membuat Alisa menjerit kesakitan.


''Akkkhhh... saa.. kiiiittt...'' jerit Alisa saat Emil memaksa masuk.


Bukannya Emil mendiamkan agar Alisa merasa tenang, ia malah memaksa masuk hingga ke relung yang terdalam. Membuat Alisa merasakan sakit yang tiada Tara.


Emil tak menggubris Alisa yang sedang menahan sakit. Baginya hasrat yang sedari kemarin tersalurkan.


Emil menghentak Alisa semakin kuat, membuat sang empu menangis. Ini adalah pengalaman pertama untuknya.


Tapi, mengapa Emil begitu tega membuat Alisa tersakiti seperti ini. Sungguh, jika Alisa bisa memilih, lebih baik menyendiri seumur hidup, daripada harus menahan sakit di tubuh dan juga di hati.


Alisa mejerit kuat, Emil yang takut ketahuan sama tetangga, membungkam mulut Alisa dengan telapak tangan nya.


Suara Alisa meredam di dalam telapak tangan Emil. Sedangkan Emil terus saja menghentak tanpa henti.


Sebulir bening mengalir di pipi Alisa. Mulut yang di bungkam dengan tangan dan air mata yang mengalir, menambah luka lara di hati Alisa.


Sejak menikah dengan Emil, Alisa merasakan tidak bahagia. Entah kenapa, setiap yang dikatakan oleh papa nya terngiang-ngiang ditelinga Alisa.


Aku seperti seorang gadis yang sedang dipaksa di renggut kehormatan nya. Tak ada kelembutan sama sekali dalam setiap sentuhan bang Emil padaku.. sakkiiiiitttt.. sangat sakkiiiiitttt... lirih nya dalam hati.


Alisa terus terisak karena tubuh nya terasa sakit semua akibat perlakuan Emil padanya. Alisa terisak, sedang sang empu tergolek lemas tak berdaya setelah pertempuran itu selesai.


Penyatuan yang sangat menyakitkan. Seharusnya terasa nikmat, ini malah sebaliknya.


Alisa memilih pergi untuk ke kamar mandi. Meninggalkan Emil yang tertidur pulas di pembaringan.


Dengan langkah tertatih, Alisa melangkah ke kamar mandi. Sesampai disana, ia memutar keran dan berdiri di bawah guyuran air dingin.


Alisa menangis tersedu-sedu. Ia membungkam mulutnya agar suara tangisan itu tidak terdengar oleh sang suami.


Ya, suami. Kini Alisa telah menjadi seorang istri yang seutuhnya. Dengan rasa sakit yang terus mendera di hati.


Sakkiiiiitttt... Tuhan... aku nggak sanggup jika seperti ini... tiada kelembutan sama sekali dalam setiap sentuhannya.. aku seperti dipaksa untuk menyerahakan kesucian ku.. aku nggak kuat.. Papa.. Mama.. lirihnya dalam hati.


Malam yang seharusnya nikmat bagi sepasang pengantin, malah menjadi duka lara untuknya. Nikmat dalam nestapa.


Hanya dia yang merasakan nya sedangkan Alisa hanya merasakan sakit. Sakit di hati sakit juga di tubuhnya.


💕


Sakit loh othor nulis bagian part ini.. ini nyata.. bukan hanya sekedar halusinasi othor saja.


Sakit banget nulisnya, gimana yang ngalaminya ya?? 😟😟

__ADS_1


TBC


__ADS_2