Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Cinta masa lalu


__ADS_3

Setelah melihat Linda berlalu, kini Emil duduk di pinggir selokan. Dengan semua mata terus menatap dan menghujatnya.


''Maafkan aku Linda... ini lebih baik, daripada aku harus kembali lagi ke masa lalu. Masa dimana kita akan berjanji untuk menikah saat itu, tapi kau malah pergi dan menikahi orang lain. Padahal saat itu, aku sudah menyiapkan segalanya untuk keperluan pernikahan kita...'' lirih Emil dengan menunduk.


Alisa yang berada di dalam angkot, melihat sekilas pada Emil. Setelah nya ia beralih pada putri kecilnya.


Ira menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ketika sekilas ia melihat Emil disana. Tak ada yang tau, seperti apa luka dihati gadis kecil itu, saat ia tau jika ayahnya lebih memilih orang lain dari pada dirinya.


''Sabar ya, Nak.. kita pasti bisa! kakak harus kuat! nggak boleh cengeng! Kalau kakak cengeng, nanti siapa yang akan jagain adek??'' bisiknya, membuat putri kecilnya itu mendongak.


''Adek??''


''Ya, disini ada adek kakak! Kakak harus bisa menjaga adek nanti kalau dia sudah lahir. Mulai sekarang, kakak nggak boleh nangis lagi, oke??''


Gadis kecil itu mengangguk patuh. Bibirnya terus saja melengkung kan senyum saat Alisa mengatakan seorang adik.


Rita yang melihat terenyuh. Sungguh malang nasib ponakan nya itu. Tapi apa boleh buat jika ayahnya tidak beres seperti itu.


Rita mendengus saat mengingat kelakuan Emil. Andai ia bisa memukul Emil tadi, pastilah ia akan memukul Emil.


Setibanya mereka di persimpangan jalan, Alisa turun dengan di temani oleh Rita untuk menuju ke rumahnya.


Sambil berjalan mereka terus saja bercakap-cakap hingga tertawa dengan kak Rita yang slalu mengomel.


Tiba di kontrak Alisa, ia melihat sebuah motor sudah terparkir di sana. Alisa tau siapa itu, tapi ia peduli.


Yang aku mau sekarang ialah ingin makan bubur pulut hitam dicampur durian. Apalagi jika makan itu ia masukkan kedalam lemari pendingin.


Pastilah sangat menyegarkan menurut nya. Rita yang melihat Alisa sesekali tersenyum, tertawa.


''Kamu sangat ingin ya Lis, makan bubur pulut hitam, hem??''


''Hehehe.. iya kak. Rasanya udah mau neyes aja nih iler aku!'' celutuk Alisa, membuat Rita tertawa.


''Loh? bukannya ini motor kalian ya?? Apakah si sialan itu sudah pulang?? Cepat banget?'' tanya Rita, saat melihat motor milik Emil sudah terparkir di sana.

__ADS_1


Alisa terkekeh mendengarnya. ''Sialan pun adik kakak juga loh...'' goda Alisa sambil terus tertawa.


Rita mendengus. ''Ya, adik sialan! kurang ajar! kurang asam! pingin rasanya ku geplak tadi Kepala nya!'' ketus Rita.


Lagi membuat Alisa tertawa. ''Udah ah kak! nanti brojol pula aku disini! kan nggak lucu, kalau lahiran gara-gara tertawa??''


Rita tertawa. ''Ya, ya, ya. Ayo kita masuk. Lihat! rumah mu sudah terbuka! pertanda adik sialan itu sudah pulang.'' ucapnya dengan wajah datar dan dingin.


Begitu juga dengan Alisa. Seketika raut wajahnya berubah menjadi datar dan dingin. Apalagi Ira, putri kecilnya itu berubah juga.


Ketika masuk ke dalam rumah, Rita melihat Emil sedang di dapur. Sedang memasak nasi dengan penanak nasi.


Mendengar suara derap kaki melangkah, Emil menoleh. Ia tersenyum melihat putri kecilnya sudah pulang.


Ia mendekati Ira dan ingin mengendong nya, tapi sayang putri kecilnya itu malah memilih duduk di depan tivi tanpa melihat ayahnya yang sedang berdiri mematung disana.


Emil melihat Alisa, sedang Alisa melengos. Ia menuju dapur dengan Rita. Tanpa bertegur sapa dan berbicara seperti dulu.


Emil menghela nafasnya. Lelah, ia mendekati gadis kecilnya dan berbaring disampingnya gadis kecil yang sedang merengut itu.


Gemas, Emil menciumi seluruh wajahnya. Gadis itu cemberut. Wajahnya masam, karena tidak menyukai perlakuan ayah nya.


Raut wajah itu semakin masam. Emil yang melihat wajah putrinya itu tertawa. Ira mendelik.


''Sangat mirip dengan Alisa.'' ucapnya masih dengan sesekali menggoda Ira.


''Ishh... ayah! jangan ganggu kakak!'' sungutnya masih dengan menatap ayahnya dengan galak.


Emil tertawa. ''Kakak?? Kenapa sekarang anak ayah ini dipanggil kakak? Siapa yang ngajarin??'' tanya Emil pada gadis kecilnya itu.


''Mak yang ngajar ini kakak! Sebentar lagi kalau akan punah adik lagi! jadi mulai sekarang, kakak naggk boleh cengeng. Kakak harus kuat kayak Mak yang kuat saat melihat ayah dengan Uak jahat itu.'' Ketus Ira membuat Emil terkejut.


''Uak jahat??''


''Ya! Uak yang tadi dorong kakak! Sampai kakak jatuh ke selokan! kakak nggak suka Uak itu! kakak lebih suka Mak dibanding dia! Kalau ayah mau pergi dengan Uak itu, pergilah! Karena kami berdua bisa tanpa ayah! Dan ya, satu lagi. Kakak bukan gadis cengeng, ayah! ingat itu!'' ketusnya lagi.

__ADS_1


Membuat mulut Emil menganga lebar. Sedangkan Alisa memandang putrinya itu dengan cengo. Rita??


Jangan ditanya, ia tertawa terbahak di dapur. Sanagt geli hatinya mendengar ponakan nya itu berbicara seperti itu kepada Emil.


''Hahaha... kena batunya kau adik sialan! hahaha... rasakan! kau di buly oleh putri mu sendiri! hahaha..''


Emil menoleh ke belakang. Ia melihat Alisa sedang menatapnya dengan mulut menganga.


Emil tersenyum melihatnya. Tatapan mereka terkunci sesaat, setelah sadar Alisa menoleh ke arah lain.


Teringat akan perkataan putrinya, ia teringat akan Linda. Cinta masa lalu nya yang gagal. Ia ingin menikahi gadisnya itu. Tapi sayang, gadis itu memilih menikahi lelaki lain yang lebih kaya dan lebih tampan tentunya.


Dan sekarang? Ia bertemu kembali dengan cinta masa lalu nya. Karena pada saat orang suruhan Rita mendapatkan motor itu, kebetulan Linda juga sedang dengan pemuda itu.


Jadilah Linda yang mengatakan kepada Emil, kalau dirinyalah yang mendapat kan motor Emil kembali.


Karena ingin berterima kasih, Emil sengaja datang kerumah Linda. Tak disangka, putra Linda menganggap jika Emil adalah ayah kandungnya.


Anak kecil itu begitu merindukan ayah kandungnya yang pergi entah kemana. Sampai saat ini pun pemuda yang menikahi kekasih masa lalu Emil itu, tidak tau rimba nya dimana.


Letih mencari kesana kemari, dua bulan yang lalu, Linda mendapatkan sebuah surat dari suaminya.


Surat itu adalah surat putusan cerai mereka. Linda terkejut saat mengetahui sebuah fakta, kalau suaminya itu juga memiliki istri lain.


Oleh karena nya, pemuda itu melepaskan Linda. Takut akan istri pertama mengamuk dan membunuh Linda.


Begitulah yang Emil dengar dari cerita Linda, saat ia berkunjung ke rumah janda beranak satu itu beberapa saat yang lalu.


Cinta masa lalu hadir disaat ia dan Alisa sudah memiliki masa depan. Tapi sayang, masa depan itu harus kandas lagi, karena ulahnya yang selalu lebih mementingkan orang lain, ketimbang keluarga nya sendiri.


''Itu hanya masa lalu dan tetap akan menjadi masa lalu. Dan tidak akan pernah menjadi masa depan. Masa depan ku sekarang ialah Alisa, Ira dan anak yang ada dalam kandungan istriku.''


💕


Hahaha.. Ira cakep banget ya ngomong kayak begitu sama ayah Emil. Awas! dosa loh.. 😄😄

__ADS_1


Like dan komen klean selalu othor tunggu! 😘😘


TBC


__ADS_2