Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Melahirkan seorang putra


__ADS_3

Setelah pertemuan antara Linda dan putranya, kini kandungan Alisa telah memasuki sembilan bulan.


Linda dan Tama sering menginap dirumah nya. Karena tau, jika Emil sedang merantau ke Pekanbaru.


Hubungan ibu dan anak angkat itupun semakin dekat. Setelah percakapan mereka hari itu, Linda memutuskan untuk bekerja.


Jadilah Tama selalu bersama Alisa jika Linda sedang bekerja. Setiap hari dan malamnya Tama selalu bersama Alisa.


Sejak kehadiran Tama, bisa mengobati sedikit kerinduan nya pada Emil nan jauh di sana. Sudah dua bulan ini, kontak Emil tidak bisa di hubungi, begitu juga dengan uang.


Selama dua bulan ini Emil tidak lagi mengirimi nya uang lagi. Ingin tanya sama kak Rita, nanti yang ada kak Rita malah marah lagi sama Emil.


Jadilah Alisa hanya diam saja.


Sedari sore Alisa mulai merasakan tidak nyaman pada pinggang dan perut bagian bawahnya.


Ia terus meringis menahan sakit. Tama yang melihat pun ikutan meringis. Ingin membantu, tapi tak tau harus bantu apa. Pikir anak kecil itu.


''Mak.. Abang keluar cari Om nya Niko ya? Biar dibawa ke rumah sakit?'' tanya Tama.


Alisa terdiam. Sudah lama sekali Alisa tidak melihat Alvian. Apakah semenjak kejadian itu, ia menghindar dari Alisa??


''Mak??''


''Eh? Nggak usah ya, Nak. Abang ambil aja tuh tas Mak yang ada didalam lemari. Juga sama.. sssttt... hufffttt.. dompet. Bangunin Ira, bawa juga baju ganti Abang sama Ira ya? Kayaknya Mak mau lahiran.'' sahut Alisa, membuat anak kecil berumur lima tahun itu bergerak cepat.


Setelah melihat Ira keluar dengan wajah banyak nya, kini Tama mengambil tas, dompet, baju mereka, serta ponsel.


Anak itu begitu pintar. Tanpa diberitahu pun ia sudah tau jika ponsel itu pasti berguna nantinya.


Selesai dengan perlengkapan, kini Alisa dan Tama keluar dari rumah. Ira mengikuti dengan malas dari belakang.


Tama berlarian ke depan untuk melihat seseorang yang mungkin bisa menolong mereka untuk membawa Alisa ke klinik bidan Novi.


Terlihat dari kejauhan seperti sorot lampu motor. Tama yang melihat itu kegirangan. Secepat mungkin ia berlari dan menghadang seseorang itu.


''Stoooopp!!!" pekik Tama, ia menghadang seorang bapak-bapak yang sedang lewat.


"Astagfirullah!!" bapak-bapak itu terkejut melihat seorang anak kecil menghadang jalan nya.


''Atok! tolong Mak Abang! Mak Abang mau lahiran, tapi ayah nggak ada!Bayah kerja ditempat yang jauh jadi nggak ada yang bisa bantuin Mak, Abang Tok! Tolong ya Tok, bantuin??'' ucapnya dengan sesekali melirik ke belakang, dimana Alisa sedang berdiri menahan sakit.


Bapak-bapak itu melihat ke arah dimana anak kecil itu melihat.

__ADS_1


''Alisa!!'' pekiknya.


Alisa tak mendengarkan siapa yang memanggil nya itu. Saat ini ia sedang kesakitan.


Sesekali meringis, sesekali menghela nafas.


''Ayo! Atok bantu Mak mu!'' Bapak-bapak itu masih terkejut dengan anak kecil yang menyebut Alisa sebagi Mak nya.


Saat ini bukan waktunya untuk bertanya. Pikirnya. Saat tiba di depan Alisa, Bapak-bapak itu langsung saja menggamit tangan Alisa dan dibawanya ke motor.


Karena Alisa semakin merasakan sakit, jadi Alisa tidak perhatikan siapa bapak-bapak paruh baya yang menolong nya ini.


''Ayo naik!'' titahnya pada Alisa dan kedua anak kecil itu.


Alisa menurut. Tama berada didepan duduk diatas tas Alisa. Sedangkan Ira disampingnya Alisa.


Mereka duduk bersempitan karena ada Ira dan Tama.


Tibanya dirumah sakit, Alisa langsung dibawa keruang bersalin. Sedangkan kedua anak kecil itu bersama bapak-bapak itu.


Sesaat ia menelpon seseorang. Ia ingin memberitahukan jika Alisa sedang melahirkan di klinik bidan Novi.


Orang itu terkejut, dan bergegas menuju ke klinik bidan Novi. Ira begitu mengantuk saat ini.


Jadilah ia tidur dipangkuan Tama. Dengan kepala Tama sesekali terkantuk-kantuk. Bapak-bapak itu masih terkejut melihat anak kecil berusia lima tahun itu.


Ia merogoh ponsel itu dan mengangkat nya.


''Hallo Mama! cepat kesini! Mak Alisa sedang melahirkan adek bayi!'' serunya begitu panik ketika mendengar suara itu milik mama nya, Linda.


''Oke, oke! Mama sekarang kesana! Abang sama siapa disana??''


''Abang sama Ira juga...'' ia melirik Bapak-bapak yang juga sedang meliriknya.


''Hehehe.. Abang nggak kenal Ma! Kesini aja deh, biar mama tau siapa Atok ini. Iyakan Tok?''


Bapak-bapak itu tersenyum dan mengangguk. Setelah itu, ponsel Alisa mati.


Dari kejauhan bapak-bapak itu melihat Rita. Ya, tadi yang di hubungi oleh Bapak-bapak itu adalah Rita.


Kakak nya Emil. Rita berlari dengan cepat ketika melihat, Ira dan Tama berada disana sambil bercakap-cakap dengan bapak-bapak yang tadi menghubungi nya.


''Wak!!''

__ADS_1


''Ta! Alisa sedang melahirkan di dalam sana! Temani dia, biar uwak yang nemani kedua anak kecil ini.'' titahnya dan mendapat anggukan dari Rita.


Setibanya didalam kamar bersalin, terlihat Alisa masih menahan sakit.


''Gimana kak??''


''Masih lama, Ta! Sekitar jam dua malam nanti baru lahiran. Ini aja masih buka tiga.'' sahut bidan Novi.


Rita hanya mengangguk patuh. Rita mencoba mengajak Alisa untuk berbicara agar tenang. Agar Alisa baik-baik saja, kini ia ingin membawa keponakannya itu untuk pulang.


''Loh?? kamu?!'' seru Rita saat melihat Linda sudah berada disana.


''Iya kak. aku kesini karena ingin menyusul putra ku. Tak disangka Alisa malah lahiran. Ya sudahlah, lebih baik aku bawa pulang Ira kerumah ku saja. Biar Kakak disini temani Alisa. Besok, sebelum berangkat kerja aku akan mampir lagi kesini.'' sahut Linda dan dingguki oleh Rita.


Sebenarnya Rita tidak menyukai wanita ini. Tapi, apalah daya jika Alisa yang meminta nya untuk tidak memarahi wanita itu lagi.


Ya, Rita sudah tau jika Tama sudah diangkat menjadi anak oleh Alisa. Baru seminggu yang lalu Rita tau.


Setelah mendapat izin Rita, kini Ira dibawa pulang oleh Linda kerumahnya. Tak jauh dari rumah Alisa.


Melihat Linda berlalu, kini Rita masuk lagi ke dalam. Dan bapak-bapak tadi sudah pulang karena Rita yang menyuruhnya pulang setelah mengucapkan terimakasih.


Pukul dua lebih empat puluh lima menit, Alisa melahirkan bayi laki-laki yang begitu rendah berat badan nya.


Bayi Alisa harus masuk tabung inkubator, karena saluran pernafasan nya tersumbat. Dan beruntung nya, di klinik bidan Novi semua fasilitas itu sudah lengkap.


Sedang Alisa masih dalam perawatan. Karena harus menjalani hating lagi di daerah jalan lahirnya.


Rita masih setia menunggunya disana. Rita sudah menelpon suaminya untuk memberitahukan tentang kelahiran putra nya pada Emil.


Tapi Pak Daman bilang, jika Emil tidak lagi bekerja dengan nya. Ia sudah pindah tempat. Karena di perintah oleh seorang mandor.


Dan kebetulan mandor nya itu seorang perempuan. Rita yang mendengar itu, merah padam wajahnya.


''Awas kau Milham!! sekali lagi kau berbuat kesalahan, maka aku yang akan memutuskan hubungan mu dengan Alisa.''


Geramnya Rita saat tau keadaan Emil yang sebenarnya disana. Hidup enak dan didampingi wanita cantik.


Membuat Rita meradang. Ia tunggu Alisa sembuh, baru setelah itu ia tanyakan kebenarannya pada Alisa.


💕


Nah loh.. babang sialan berulah lagi tuh..

__ADS_1


Awas Uwak Rita ngamuk! 🤣🤣


TBC


__ADS_2