Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Bicara berdua


__ADS_3

Maafkan Alisa Hen.. Alisa nggak bermaksud menyakiti perasaan mu.. Alisa tak tau jika malam itu, Alisa dipinang olehnya.


Alisa tau kok.. jika dari dulu kamu menyukai ku.. tapi aku tak menggubris nya. Karena perasaan ku melamun hanya sebatas teman tidak lebih.


Alisa tak mau merusak pertemanan kita Hen..


makanya aku selalu diam saja tiap kali kamu mengatakan jika aku adalah calon makmum mu.


Maafkan Alisa Hen.. ini masalah hati. Kita tak pernah tau kepada siapa hati ini akan berlabuh.


Begitu juga denganku.


Semoga kamu nantinya mendapatkan jodoh yang lebih baik dariku.


Alisa membatin ketika ia melihat Hendra yang sedang memukul dadanya pelan.


Alisa merasa bersalah karena selama ini selalu menolak Hendra. Bukan ia tak mau tapi memang hati tak bisa berpaut padanya. Ini bukan masalah suka ataupun tidak suka. Ini menyangkut hati, yang tak tau pada siapa ia akan berlabuh.


Alisa diam, sedari tadi matanya terus saja menatap Hendra.


'Aku harus berbicara padanya sekaligus minta maaf dan terimakasih. Semoga niat baik ku ini diterima olehnya' gumam Alisa.


Alisa membisikkan sesuatu kepada Yani, Yani mendengar nya dan bergegas menuliskan di secarik kertas bahwa Alisa ingin bicara berdua dengan Hendra ditemani semua sahabatnya, agar tidak menimbulkan fitnah.


Mereka semua setuju. Setelah jam istirahat nanti mereka akan menemani Alisa dibelakang sekolah.


****


Jam istirahat pun tiba, mereka semua bergegas menuju kebelakang sekolah kecuali Alisa. Ia menunggu Hendra keluar, tapi Hendra tak kunjung keluar. Jadilah Alisa mendatanginya.


Alisa melihat Hendra duduk termenung ditepi jendela. Matanya bengkak, seperti baru saja menangis. Sesak dada Alisa melihatnya. Dengan perlahan ia mendekati Hendra dan dididik disebelahnya.


'' Hen...'' sapanya lembut.


Hendra bergeming, ia tetap pada lamunannya.

__ADS_1


Alisa membuang nafas nya pelan. Kemudian ia menepuk bahu Hendra sekaligus memanggil nya.


'' Hen.. ini Alisa.. apakah Hendra nggak mau ngomong lagi sama Alisa??'' ucapnya sendu.


Hendra tak berbalik, tapi ia menyahuti ucapan Alisa tanpa melihatnya.


'' Kenapa Lis..?? Kenapa kamu tega seperti ini?? Apakah perjuangan ku selama ini tidak artinya sama kamu?? Apakah aku tidak pantas bersanding denganmu Lis..?? Sakit Lis.. sakit hati ini.. rasanya ingin ku hancurkan saja! Daripada menanggung sakit seperti ini..!'' ucapnya sambil memukuli dadanya dengan keras.


'' Jangan seperti itu Hen.. maafkan Alisa.. bukan maksudku menyakiti Hendra.. tapi ini diluar kuasaku.. apa yang bisa kulakukan Hen.. agar kamu bisa mengerti posisi ku??'' ujarnya.


Hendra membuang nafasnya gusar.


'' Jelaskan !!''


Alisa menatap Hendra yang juga menatapnya. Alisa tak kuasa memandang mata Hendra. Mata yang dulu selalu berbinar, kini berubah menjadi sayu dan sendu. Tatapan nya tajam seperti pisau yang menghujam jantung. Sakit sekali. Tapi apalah daya jika cinta tak bisa dipaksakan.


Alisa membuang nafasnya pelan. Lalu mulai menceritakan kepada Hendra dari pertama berjumpa, bagaimana pemuda yang bernama Emil berusaha meluluhkan hatinya dan sampai ia memberikan ujian untuk pemuda itu berakhir dengan dirinya yang terluka karena salah paham yang berkepanjangan.


Terakhir ketika Alisa ingin mencoba melupakan pemuda itu, malam kemarin pada malam Minggu ia datang melamar sekaligus tunangan sebagai bukti bahwa Alisa sudah diikat olehnya.


Awalnya keluarga menolak, tapi pada akhirnya atas persetujuan dari paman Alisa, mereka semua menyetujui bahwa Alisa di lamar oleh Pemuda itu. Begitu cerita Alisa pada Hendra.


Rupanya aku kalah cepat dengan pemuda itu Lis..


Hendra menatap Alisa dalam. Ia tak tau harus berbicara apa lagi pada Alisa. Karena ia sudah terlambat untuk berjuang. Ia pikir, setelah tamat dari sekolah nya barulah ia akan mengatakan yang sebenarnya pada Alisa, bahwa ia ingin melamar Alisa sekaligus mengikatnya sebagai calon istri. Tapi ternyata takdir berkata lain.


''Siapa nama pemuda itu??''


Alisa tersentak mendengar pertanyaan Hendra. Ia menatap Hendra heran.


Sesakit itukah kamu Hen.. hingga kamu sangat ingin tau siapa nama pemuda yang sudah melamar ku.. maafkan Alisa Hendra...


'' Siapa namanya Lis..??'' Hendra bertanya lagi membuat Alisa sadar dari lamunannya.


'' Namanya Milham Syahputra..'' ucapnya seraya menundukkan wajahnya tak berani menatap Hendra, yang menatapnya dalam.

__ADS_1


'' Kamu bahagia dengannya Lis..??'' tanya nya lagi.


Alisa mengangguk '' Ya... aku bahagia bersama nya..''


Hendra memejamkan matanya '' Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan mu Lis.. semoga kamu berbahagia dengannya! Tapi.. jika suatu saat kamu terluka dan tidak ingin lagi bersama nya, maka datanglah padaku! Aku akan setia menunggumu..!!'' ucapnya getir.


Alisa tersenyum kaku. Bagaimana mungkin ia akan kembali pada Hendra jika dirinya sudah dengan Emil. Ah, Hendra ada ada saja pemikiran nya. Tak ada yang tau seperti apa masa depan. Pikir Alisa.


Sejenak mereka terdiam, merenungi apa yang sudah terjadi pada mereka saat ini. Setelah lama merenung akhirnya Alisa berbicara lagi membuat Hendra menatap nya dengan diam.


'' Hen.. maafkan Alisa ya... karena Alisa tidak bisa membalas rasa suka mu untukku! maafkan jika aku terlalu dalam menyakiti mu.. maafkan aku jika aku hadir dalam kehidupan mu tanpa disengaja.. maafkan aku yang tak bisa membalas cintamu.. maafkan Alisa Hen.. Hiks!'' Alisa menangis.


Hendra termangu. Mulutnya terkunci tak bisa berbicara sepatah katapun. Semua yang Alisa katakan adalah isi hatinya yang ingin ia sampaikan kepada Alisa. Tapi malah sebaliknya.


Alisa masih menangis. Dalam tangisannya itu ia berusaha lagi untuk berbicara.


'' Te-terima kasih Hen.. karena kamu sudah mencintai ku begitu dalam.. terimakasih karena kamu selama ini selalu memperhatikan aku walaupun aku cuek padamu.. maafkan Alisa Hendra...'' ucapnya sesegukan.


Hendra pun menangis, tanpa sadar mereka menangis berdua disaksikan oleh sahabat Alisa dan juga Hendra.


Hendra ingin memeluk Alisa tapi tak berani. Tangannya sudah terangkat ingin memeluk Alisa tapi ia urungkan. Takut nanti Alisa akan marah padanya.


Ia mengepalkan tangannya erat hingga buku buku tangan nya memutih. Hendra berusaha meredam rasa amarah dalam hatinya. Berulang kali ia membuang nafasnya. Semua itu tak luput dari perhatian sahabatnya.


Mereka tau jika Hendra sangat sakit menerima cobaan ini. Cobaan sebelum berjuang ia sudah kalah terlebih dahulu. Ingin rasanya ia merebut Alisa dari tangan pemuda itu, tapi ia masih waras memikirkan Alisa yang begitu bahagia dengan pemuda itu.


Semua itu sangat jelas terlihat saat Alisa menceritakan nya pada sahabatnya.


Setelah beberapa Hendra berusaha meredam rasa amarah dihati nya, Hendra memegang bahu Alisa dan mengarahkan Alisa berhadapan dengan nya.


Hendra mencoba tersenyum. Tersenyum yang begitu sakit, sekuat tenaga ia menahannya hingga cengkraman tangannya dibahu Alisa sedikit keras. Membuat Alisa terkejut dan merasa sakit disaat yang bersamaan.


'' Sakit Hen..'' rintih Alisa


Deg!

__ADS_1


💟💟💟💟


Masih ada yang nunggu kah?


__ADS_2