Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Pasrah


__ADS_3

''Pergilah! aku ingin sendiri! cari tempat dimana bisa kau habiskan berdua dengan gundik mu itu! Aku ikhkas! aku pasrah! jika ini adalah jalan takdir yang harus aku lalui. Aku akan mengikuti arus air kemana pun ia membawa ku..'' lirih Alisa dengan pelan.


Emil menatapnya dengan tatapan yang entah seperti apa. Ingin bicara, kenyataan membuktikan jika dialah yang bersalah.


Jika diam saja, akan menambah masalah yang ada.


''Dengar, '' ucap Emil ia menatap Alisa yang sedang menunduk.


''Tidak ada yang perlu di dengar kan! Semuanya sudah jelas! pergilah! jangan lukai hatiku lagi! cukup sudah selama ini aku, kau khianati! pergilah! aku tak ingin anakku nantinya, akan bersifat sama seperti mu karena membenci mu! Jika ia seorang wanita, ia akan selalu tersakiti seperti aku, namun jika ia laki-laki, ia akan sama seperti mu nantinya. Aku berdoa, semoga kedua anakku nantinya, tidak mewarisi sifat jelek mu, hanya sifat baiknya saja yang di ikuti. Pergilah! Aku pasrah...'' imbuhnya, masih dengan menunduk.


Buliran bening, lagi dan lagi mengalir tanpa di pinta. Sakit hatinya mendapati kenyataan jika suami yang selama ini ia cintai sedemikian rupa.


Cinta?? Ah! ia lupa apa itu cinta setelah menikahi Emil. Cinta yang dulu ia dapatkan hanya bersifat semu.


''Dengar kan dulu apa yang akan aku katakan. Aku terima keputusan mu, jika memang itu yang kau inginkan, aku akan mengabulkannya. Tapi untuk sementara ini, kau harus tetap disini. Dirumah ini, sampai anakku lahir. Setelah itu, kau boleh pergi.'' ucap nya dengan datar.


Tersentak Alisa mendengar nya. Seperti tertusuk ribuan jarum di hatinya. Suami yang ia harapkan bisa menjadi panutan, ternyata tidak bisa.


Ia lebih memilih memutuskan semua itu, tanpa berpikir panjang. Alisa menatap kosong pada Emil yang sudah berlalu dari hadapan nya.


Bukan ia sengaja mengatakan hal seperti itu kepada Emil. Tujuan ia mengatakan kepada Emil, ialah agar pria itu bisa berpikir dua kali tentang pernikahan mereka.


Tapi apa yang di dapatkan oleh Alisa? Kenyataan yang membawa nya pada kehancuran. Kehancuran sudah ada di depan matanya.


Alisa hanya bisa pasrah dengan kehidupan nya. Semoga ada jalan keluarnya setelah ini. Pikir Alisa.


Lama ia duduk termenung seorang diri di ruang tivi. Setelah sadar jika putri kecilnya masih didalam, ia bangkit dan berdiri menuju ke kamar nya.


Terlihat disana jika putri kecilnya itu sudah terlelap. Entah berapa lama Alisa berdebat dengan Emil, hingga putri nya tertidur dengan pulas.


Hari hari Alisa lewati dengan perasaan hampa. Setelah pembicaraan mereka pagi itu, kini Emil tidak pernah pulang lagi kerumah mereka.


Entah dimana keberadaannya, Alisa pun tak tau. Ia hanya mendengar, jika motor yang dibawa oleh wanita itu sekarang telah kembali lagi pada Emil.


Seminggu sudah Alisa dibiarkan begitu saja. Tanpa kabar berita dan juga uang belanja. Biasanya, Alisa selalu di berikan uang seminggu sekali untuk kebutuhan dapur.


Tapi sudah seminggu ini Alisa tidak mendapatkan uang sama sekali dari Emil untuk kebutuhan dapurnya.


Untunglah Alisa masih punya tabungan yang selama ini sengaja ia simpan jika memiliki rezeki lebih.


Ia sengaja menyimpan uang itu di dalam rekening, agar memudahkan nya dalam hal apapun.


Belum lagi, terkadang, Mama Alina dan tante Irma sering kali mengirimi nya uang untuk kebutuhan Alisa dan juga putri kecilnya.


Ya, Alisa tidak pernah putus komunikasi dengan Tante Irma. Karena ialah penghubung antara Mama Alina dan dirinya.


Tapi tidak dengan papa Yoga. Sampai saat ini pun, Papa Yoga tidak pernah sekalipun bertanya tentang nya pada mama Alina dan juga pada saudaranya yang lain.


Seakan Alisa sudah tidak ada lagi di dunia ini. Alisa hanya bisa pasrah dengan keadaan. Karena dulu, inilah keputusan nya.

__ADS_1


Demi memilih Emil, ia rela memutus hubungan nya dengan kedua orang tuanya. Papa bisa bersikeras menolak.


Bagaimana dengan Mama?? Mama Alina tidak sekeras itu hatinya. Bahkan sedikit tidaknya, ia mengetahui seperti apa keadaan Alisa disana.


Sebagai orang tua, mama Alina tidak menutup mata akan hal yang terjadi pada Alisa.


Tapi demi menjaga hubungan nya dengan sang suami, ia terpaksa menyembunyikan semua berita yang ia dapatkan dari seseorang tentang keadaan Alisa.


Setelah mengetahui itu, mama Alina sering mengirimkan uang untuk Alisa. Tidak banyak, tapi bisa untuk memenuhi kebutuhan putrinya itu.


Melalui Tante Irma semua itu berjalan dengan baik. Hingga saat ini, Alisa sudah mengumpulkan uang dengan jumlah yang banyak.


Yang Emil sendiripun tidak tau. Ia sengaja menyembunyikan, karena ia tau seperti apa Emil.


Tentang Alisa buka buku rekening, Emil mengetahui nya. Karena pada saat itu, ia sendiri yang mengantarkan Alisa ke bank.


Tapi untuk simpanan Alisa di bank, Emil tidak tau sama sekali. Yang ia tau, jika Alisa menyimpan disana hanyalah uang nya saja.


Bahkan jumlah uang nya pun ia tau. Maka dari itu, Emil bisa melihat sebuah motor baru karena Alisa yang menyimpan uangnya di bank.


Alisa menghela nafasnya, saat mengingat tentang uang simpanan nya. Ingin ditarik, tapi sayang.


Karena sebentar lagi, ia akan melahirkan. Belum tentukan Emil akan membiayai nya?? Pikiran terburuk Alisa adalah jika Emil pasti tidak akan menemani nya sama seperti ia melahirkan Ira dulu.


''Semoga uang ku cukup untuk biaya ku melahirkan dan juga pergi dari sini nantinya.'' gumamnya pada diri sendiri.


Saat ini kehamilan nya sudah memasuki bulan kelima. Hanya tersisa empat bulan lagi untuk ia melahirkan.


Karena hari masih siang, ia mengajak Ira untuk ke pasar. Alisa ingin membuat bubur durian dengan tangannya sendiri.


Ia mengajak putrinya untuk menemani nya ke pasar. Saat tiba di pasar, ia melihat seseorang yang sudah seminggu ini menghilang tanpa kabar berita.


Terlihat di sana, ia sedang membantu seorang wanita untuk membawa barang belanjaan.


Setelah semua belanjaan itu ia susun, orang itu menghidupkan motornya. Dan wanita yang ada dibelakang nya itupun ikut naik.


Ia memegang pinggang Emil dengan erat. Mata Alisa mendadak panas. Hatinya bergemuruh melihat itu.


Ira yang melihat nya pun menjerit kesenangan. Tanpa sadar, anak kecil itu memanggilnya.


''Ayah!!!! Ayah!!! Ayah!!! Kakak disini!!!'' pekik gadis kecil itu.


Seseorang yang membawa motor itu berhenti dan menoleh.


Deg.


Deg.


Matanya bersiborok dengan mata seorang wanita yang tengah menatapnya dengan tatapan sendu.

__ADS_1


Hatinya tetcubit melihat wanita yang sudah seminggu ini ia tinggalkan dalam keadaan lusuh seperti tak terawat.


''Ayah!!!! Kakak kangen ayah!!!!'' pekik gadis kecil itu, tanpa sadar kakinya berlari dimana sang ayah sedang menatapnya dengan datar.


Ira berlari dengan kencang hingga bertemu dengan Emil.


''Ayah!!!'' pekik Ira begitu senang.


Tapi tidak dengan seseorang yang berada di belakang nya. Wajahnya mendadak berubah menjadi masam.


Alisa masih mematung melihat pria yang selama seminggu ini tidak pulang kerumah dan sekarang ia mendapati jika pria itu sedang berboncengan dengan wanita lain.


Wanita lain lagi. Bukan yang dulu. Emil menatap Alisa dengan tatapan datar. Sedangkan seseorang dibelakang nya menjadi kesal.


''Ayo bang! aku udah kesiangan ini! Biarkan saja ia sama Mak nya! Ayo! antar aku dulu!'' titah wanita itu.


Setelah nya ia mendorong Ira hingga terjatuh di tepi selokan. Membuat gadis kecil itu menangis.


Alisa yang terkejut melihat putri nya terjatuh, berlari cepat. Ia tidak sadar jika sedang hamil lima bulan.


Seorang wanita tua menghentikan nya. ''Hati-hati, Nak! kamu sedang hamil! ingat ada bayi dalam kandungan mu!!'' pekik ibu itu, membuat Alisa tersadar dan berhenti berlari.


Ia berhenti dan memegangi perutnya yang terasa kencang. Emil yang melihat itu, mendadak panik.


Ia turun mengambil Ira yang jatuh di selokan dan mendekati Alisa yang sedang menahan sakit.


''Kamu tidak apa-apa??'' tanya nya panik.


Alisa diam, ia masih berusaha tenang. Setelah tenang, ia melihat putrinya yang di gendong Emil sambil menangis sesegukan.


''Ayo, Nak! kiat pulang!'' titah Alisa pada putri kecilnya.


''Mak... sakittt... Kaki kakak.. hiks.. hiks...''


Alisa menatap datar pada wanita yang mendorong Putri nya.


''Apa hak mu melarang seorang anak bertemu dengan ayahnya?? Kenapa dengan teganya kau mendorong nya hingga jatuh ke selokan! Jika kau ingin mengambil ayahnya, ambil! Tapi jangan halangi putrinya untuk bertemu dengan nya!''


Deg.


Deg.


''Apa?!''


💕


Ada yang tau siapa itu??


Ikuti terus kelanjutannya!

__ADS_1


Like dan komen ya! 😁😁


TBC


__ADS_2