
Alisa tersentak saat seseorang mengguncang tubuhnya begitu kuat. Matanya terbuka perlahan. Ia melihat sekitar, dan sadar jika itu bukanlah di alam mimpi lagi. Tetapi di dunia nyata.
''Gilang... aku kangen kamu...'' lirih Alisa. Seseorang di depannya terpaku mendengar ucapan Alisa.
Sedangkan seseorang disana juga tersentak dari tidurnya. Sebutir keringat mengalir dari dahinya.
''Alisa .. aku juga kangen banget sama kamu..'' lirih pemuda kecil itu.
Ya, mereka berdua adalah pasangan yang di jodohkan langsung oleh alam semesta. Mereka terpaut usia yang begitu jauh.
Jika Alisa sudah SMA sedang pemuda kecil masihlah SD. Tapi karena takdir yang mengikat mereka, maka umur tidak akan menjadi penghalang untuk keduanya.
''Gilang??'' tanya Tante Irma.
''Hah?? Eh? Tante!! Sejak kapan Tante disini??'' tanya Alisa.
''Ditanya malah balik tanya! Siapa itu Gilang?? Hingga kau mengigau memanggil namanya?? Hingga kau merindukan nya?? Jawab Alisa?!''
''Eee.. mmmm... i-itu... di-dia...''
''Siapa Sayang?? cepat katakan! Bukankah calon suami mu bernama Emil ya?? Kenapa pula jadi Gilang!''
Alisa menghela nafasnya. ''Bukan siapa-siapa tante! Itu hanya mimpi belaka! Alisa udah sehat, kok! Beneran!'' imbuhnya.
'Nggak mungkin dong.. aku bilang, jika Gilang itu suami masa depan ku? Bisa berabe nanti nya! dikira aku ngigau lagi! Mana ada suami hayalan bisa jadi suami beneran?? Lebih baik sekarang aku diam saja! Sampai dimana Gilang yang sesungguhnya akan hadir di kehidupan ku di kemudian hari.' bisik nya dalam hati.
''Ya sudah, Tante Tak akan memaksa mu! jika kau tidak ingin bercerita! Yang penting sekarang gadis kecil ku sembuh dan sehat seperti sedia kala? Terimakasih kamu sudah kembali sayang!'' ucapnya dengan senyum tulus di bibirnya.
''Iya tante! Mari kita keluar! aku suntuk dikamar terus! sudah semalaman aku tidur! Ayo tante! kita masak bersama? Kita petik sayur dari kebun Mama aja ya??'' tanya nya dengan senyum manis.
Tante Irma tersenyum. Senyum manis Alisa tertular hingga ke Tante Irma.
''Ya udah, ayo kita masak! udah lama juga Tante nggak lomba masak bareng kamu!!'' serunya, setelahnya mereka keluar dari kamar dan menuju ke belakang unyukemetik sayur di kebun Mama Alina.
Kebetulan pada hari itu, Pak Yoga dan Mama Alina sedang keluar untuk mengikuti rapat di kantor desa.
Sedangkan pakde serta paklek dan juga Tante Rasmi, sudah kembali sejak tadi pagi. Karena pekerjaan mereka tidak bisa di tunda. Maklum aparat desa. Tidak boleh kosong kursi pemimpin nya.
Rumah terasa sunyi saat keluarga Alisa pulang ke tempat masing-masing. Hanya tersisa Tante Irma yang dengan setia ingin menemani Alisa yang sedang sakit.
''Lis! yang mana ini sayurnya?? Kok banyak banget gini?? Tante bingung mau milih yang mana?'' ucap Tante Irma.
__ADS_1
Alisa terkekeh geli. Alisa sangat suka mengajak Tante Irma ke kebun sayur Mama Alina. Karena Alisa akan melihat wajah kesal tantenya itu.
Alisa seorang gadis pendiam jika diluar, tapi jika dalam kalangan keluarga nya, Alisa terkenal usil. Contohnya saat ini.
Alisa cekikikan, ''hihihi.. pilih aja salah satu nya Tante... kan banyak tuh! Ada kangkung.. ada sawi... ada bayam.. tauge pun ada digambarkan sama Mama. Mau tomat? cabe? Bawang? Semua ada Tante... tinggal di pilih.. mau buat salad? Tuh daun selada nya udah tinggi tinggal metik aja!'' serunya sambil cekikikan.
''Ishhh.. yang mana mau dimasak lalu begini mah.. oh Alisa! Bantuin napa?!'' sewot Tante Irma.
''Hihihi...'' Alisa cekikikan.
''Lah? bocah! Di suruh bantuin malah cekikikan! gimana sih?!'' gerutu Tante Irma.
Tak tahan Alisa tertawa.
''Hahaha... Tante.. bingung ya... hahaha...''
Tante Irma yang melihat Alisa tertawa, menoleh.
''Alhamdulillah.. ya Allah... putri kami telah kembali seperti sedia kala.. semoga senyum dan tawa ini terus mengukir hari harinya nanti.. Amiiin..'' gumam Tante Irma.
Karena Alisa terus saja tertawa membuat Tante Irma pun ikut tertawa. Sesekali mereka cekikikan melihat bentuk sayur dari Mama Alina yang aneh menurut penglihatan mereka.
****
Ketakutan itu hadir begitu saja. Ia merasa gelisah akan masa depan yang belum jelas kadar keadaan nya.
''Astaghfirullah! Ya Allah! ada apa denganku? Kenapa sejak pulang dari rumah Alisa hati ini menjadi gelisah seperti ini?? Ada apa sebenarnya?? Apakah terjadi sesuatu dengan nya??'' gumamnya pada diri sendiri.
''Mil!'' panggil pak Daman.
''Ya!'' sahutnya.
''Ku ke rumahnya Pak Oman ya! Ambilkan berkas yang tertinggal disana! Berkas itu harus diserahkan hari ini! Segera Mil! Setelahnya kau harus ke pasar terdekat untuk membeli bahan material yang sudah berkurang! Besok barang itu harus masuk, kamu tau kan? Waktu kita hanya sebulan dari sekarang??'' tanya pak Daman.
''Ya, tuliskan apa saja yang harus dibeli, biar aku akan segera kesana u tuk mengambil berkasnya.'' sahut Emil.
''Oke! Ini semua catatan barang yang harus kau beli!'' ujarnya sambil memberikan secarik kertas berisi bahan-bahan material yang harus dibeli.
''Oke! aku pergi!''
Setelah nya Emil berlalu pergi kerumah pak Oman terlebih dahulu untuk mengambil berkas.
__ADS_1
Sesampainya disana, ia mengetuk pintu dan memanggil pak Oman.
''Assalamualaikum, pak Oman... ini Emil!''
''Ya, sebentar! ishh.. ini kain sarung jok melorot aja sih?! nggak tau apa?! ada tamu di depan??'' tanya nya pada kain sarung yang sedang di gulung sambil berjalan.
Emil yang mendengar gerutuan pak Oman terkekeh. Ada ada saja, pikirnya.
Ceklek!
Pintu terbuka, ''waalaikum salam, nak Emil! mari silahkan masuk! bapak ambil dulu berkasnya, tunggu sebentar!'' ujarnya seraya berlalu meninggalkan Emil yang berdiri mematung disana melihat seseorang yang sudah menghantui pikiran nya pagi ini.
Alisa begitu sumringah saat melihat Tante Irma kesal. Ia terus saja menggoda Tante nya itu. Hingga membuat Tante Irma berubah menjadi jutek.
Emil tak berkedip melihat nya. Jarak antara rumah Alisa dan pak Oman berjarak lima meter, berkelang satu rumah saja.
''Alhamdulillah... ternyata dugaan ku salah! Ternyata.. cintaku baik-baik saja!'' gumamnya sambil tersenyum.
Pak Oman yang sudah berada di samping Emil, melihat nya tersenyum ke depan. Pak Oman pun melihat ke depan.
Dan ternyata..
''Alisa toh... tak kirain sopo! Mil! ini berkasnya!'' ucap pak Oman dengan menepuk pelan bahu Emil.
Emil berbalik, ''ya! terimakasih, Pak! kalau begitu saya pamit! Harus kepasar membeli bahan material untuk bekerja besok!'' sahut Emil.
''Ya! Apa kau tidak mau bertemu dulu dengan calon istrimu??'' goda pak Oman.
''Tidak, Pak! Biarlah nanti saja ketika diamnya hari yang sudah diputuskan untuk kami berdua menikah! Untuk sekarang, biarlah aku Mandang ya dari jauh saja! Karena dengan melihat nya bahagia seperti itu, sudah mengurangi beban dihatiku.'' ucap Emil ambigu.
Pak Oman mengernyitkan dahinya. 'Beban dihati? Apa maksudnya?' gumamnya dalam hati.
''Saya pulang, Pak! assalamualaikum..''
''Ya, Wa'alaikum salam...'' sahut Pak Oman, seraya memandangi Emil dengan pikiran yang berkecamuk.
Banyak praduga yang timbul di pikirannya. Tapi tak berani menanyakan nya pada Emil. Pak Oman menghela nafasnya.
Biarlah waktu yang menjawab praduga ini.
💕
__ADS_1
TBC