
''Hahaha...'' Alisa tertawa.
Emil terkejut. ''Ada apa dengan mu?? Kenapa aku merasa, jika kau tertawa diatas penderitaan ku!''
''Memang benar! karena memang itu yang sedang aku lakukan! Aku tertawa diatas penderitaan mu!''
''Kenapa??''
''Karena kau telah mengecewakan ku, makanya Allah membalas mu dengan cara kau di tipu oleh gundik mu itu! Doaku terkabul kan! Alhamdulillah...'' ucap Alisa dengan tersenyum senang.
''Apa maksudmu??''
''Maksudnya ialah.. aku sengaja berdoa kepada Allah, agar kau merasakan apa yang aku rasakan, sakit saat di abaikan! sakit saat karena di kecewakan! dan sakit karena di tipu oleh mu!''
Deg.
Emil terkejut mendengar ucapan Alisa. ''Oh... jadi kau mendoakan keburukan untukku??''
''Tanpa sengaja aku mendoakan mu! Karena jika aku diam saja, kau semakin zolim padaku! Demi wanita yang bukan siapa-siapa untukmu, kau rela hingga pulang pagi! Sedang aku?? Jangankan pulang pagi, mengantar ku saja tidak! Apa itu disebut dengan mendoakan keburukan untukmu? Siang malam, aku berdoa untuk keselamatan dan keberkahan dalam keluarga ini, tapi malah kau yang tidak beres! Sekarang aku tanya, jika kau yang berada di posisiku, apakah kau akan diam saja?? hah??''
Emil diam, ia menatap Alisa dengan wajah datarnya.
''Kakak!''
''Iya Mak!''
''Masuk kedalam, tutup pintu, dan jangan dengarkan apa yang akan Mak katakan! masuklah!'' titahnya pada Ira.
__ADS_1
Ira mengangguk patuh. Setelah nya gadis kecil itu masuk dan menutup pintu. Melihat itu Alisa menoleh pada Emil lagi.
''Jawab pertanyaan ku! Apakah kau akan terus bertahan jika aku terus berulah seperti itu?? Tidakkah kau sakit hati?? Tidakkah kau cemburu? Jika istri mu lebih senang diluar dibanding dirumah nya sendiri??''
Emil tetap diam. Alisa tersenyum miris. ''Bahkan untuk menjawab saja kau tak mampu, bang! ku rasa... jika kau yang ada di posisi ku, pastilah kau sudah memukul ku dan menendang ku dari sini? Tak peduli jika aku sedang hamil, kau pasti akan menyiksa ku! Harga diri seorang lelaki itu memang sangat tinggi! Tapi kadangnya, ia tak sadar dengan kelakuan nya, melarang istri ini itu! sedang dirinya?? bebas melakukan apa pun! Bukankah lelaki yang seperti itu egois??''
''Aku tidak seperti yang kau tuduhkan Alisa! kau salah paham padaku! Aku terpaksa melakukan semua ini demi rasa kemanusiaan! tidak lebih! Maaf.. jika aku menyakiti lagi perasaan mu. Aku terpaksa melakukan nya!'' sahut Emil, masih dengan menatap Alisa datar.
''Terpaksa?? Tapi kau menyukai nya kan?? Bahkan, kau berpikir jika kau akan pergi meninggalkan ku setelah bayi ini lahir, kau juga akan menikahi nya secara sah bukan??''
Deg.
Darimana dia tau??
''Kenapa?? Tebakan ku benar bukan?? Jangan kau kira aku tak tau dengan apa yang kau pikirkan bang Milham! Aku tau semuanya! Tapi sengaja aku memancing mu untuk berbicara, tapi sayang nya kau menutupinya dari ku! Aku hidup dengan mu sudah hampir tiga tahun lama nya, jadi baik buruk kelakuan mu, aku sudah hafal di luar kepala. Aku bukan mainan bang! aku manusia! aku punya hati dan perasaan. Jika kau menganggap aku tidak ada, kau salah bang! Aku masih hidup, aku duduk di depan mu! Jika memang kau sudah tidak ingin dengan ku, lebih baik lepaskan! Karena dengan melepaskan ku, bisa membebaskan mu dari jerat rumah tangga yang tidak kau inginkan!'' tukas Alisa dengan dingin.
Mereka terdiam tanpa suara, baik Alisa maupun Emil tidak ada yang buka suara lagi. Alisa yang merasa jika sudah tidak ada yang perlu dibicarakan, bangkit.
Ia menuju kedapur dan membereskan sisa alat masaknya tadi yang ia tinggalkan. Setelah selesai, ia duduk lagi di depan tivi tanpa melihat Emil yang terus menatap nya sedari tadi.
''Kenapa??'' tanya Emil, membuat Alisa memiringkan sedikit kepalanya, kemudian beralih menghadap ke tivi lagi.
''Karena aku sudah berjanji kepada kedua orang tuaku, jika aku mendapatkan masalah, baik besar maupun kecil, aku tetap harus bertahan dengan mu! Walaupun kau sering zolim pada ku! Tunggu sampai bayi ini lahir, setelah nya kau bebas untuk memutuskan!'' sahut Alisa tanpa menoleh pada Emil.
''Kau berubah Lis!''
''Aku berubah karena mu!'' sahut Alisa lagi.
__ADS_1
''Sekarang, apa yang kau inginkan??''
''Aku tak menginginkan apapun lagi. Bagiku, jika memang sudah seperti ini jalan takdir untuk diriku, aku tidak bisa berbuat apapun!''
''Dan jika kau ingin pergi meninggalkan aku demi wanita lain, silahkan! Tapi kembalikan waktuku yang terbuang percuma selama kurang lebih tiga tahun ini aku mengurus mu! Kalau pun aku kuliah, pastilah sekarang aku sudah bekerja! Demi mengikuti mu, aku mengubur keinginan ku! Bisakah kau kembalikan lagi padaku? Waktu yang sudah terbuang selama tiga tahun ini??''
Emil diam. Ia merasa kesal dengan perkataan Alisa baru saja. Mata nya nyalang menatap Alisa.
''Ternyata selama menikah dengan ku.. kau tak pernah ikhlas dalam segala hal! Bahkan kau meminta ganti waktu yang terbuang selama menikah dengan ku! haha.. kau sama saja dengan wanita lain! semuanya sama! tak ada yang ikhlas!''
''Aku?? tak ikhlas?? Sama dengan wanita lain?? Sekarang aku tanya, apakah jika gundik mu menjadi istrimu selama tiga tahun hanya tau dapur kasur dan sumur, apakah ia akan bertahan dengan mu?? Apakah ia akan bertahan dengan tingkah mu yang selalu lebih mementingkan orang lain dibanding dirinya?? Apakah ia akan sanggup, hidup dengan serba apa adanya seperti ini?? Sedangkan ia terbiasa hidup senang?? Apa yang akan ia lakukan jika tau, bahwa suaminya itu lebih suka bermain diluar dibanding dirumah?? Aku tak ikhlas katamu?? Jika aku tak ikhlas, aku tak mau mengurus mu selama ini! Aku tak mau melahirkan penerus mu! Aku tak mau mengurus nya! Sekarang kau bilang aku sama dengan wanita lain?? Bagian mana aku yang sama dengan wanita lain?? Jekaskan!'' titah Alisa, ia menghadap ke Emil dengan tatapan dingin nya.
Emil menatap Alisa. ''Kau-''
''Aku tidak sama dengan gundik mu itu! aku tidak bersifat seperti nya! Aku tidak mengeruk harta mu! Setelah aku dapat aku membuang mu! Aku tidak seperti itu! Bahkan akulah yang kau buat seperti itu! Harta, kau yang cari, tapi aku yang simpan! Hingga kau bisa membeli apapun yang kau mau! Itu yang kau sebut aku sama dengan wanita lain??''
''Ubah sudut pandang mu itu terhadapku! Baru sekali dapat teguran, kau malah menuduhku lagi. Belum cukup dengan karma yang di bayar kontan yang kau rasa sekarang??''
''Kau selalu menuduh orang lain ketika kau kesal! tanpa melihat mana yang baik dan buruk, langsung saja kau menilai orang itu seperti yang kau lihat dan sama seperti di mata mu! Aku tak sama dengan gundik mu itu, Jangan kau samakan aku dengan nya! Karena aku bukanlah dirinya, bukan juga dirimu! Yang selalu menilai orang ketika dalam keadaan marah saja! Tanpa melihat kebaikan apa yang selama ini ada didepan matamu! Seolah apapun yang aku lakukan sekarang adalah salah di mata mu! Dan gundik mu itu lebih benar! Jika memang ia benar, mengapa ia membawa kabur motor mu? Mengapa dengan beraninya ia mengambil yang bukan hak nya! Mengapa selalu aku yang salah dimata mu, sementara ada orang lain yang melakukan kesalahan fatal kau malah menutup mata??''
Deg.
💕
Ada yang gini nggak kalau lagi kesal? Kalau yang salah hanya yang nampak Dimata saja? Sedang yang lain tidak salah? Walaupun sudah terbukti bersalah??
Like dan komen nya ya!
__ADS_1
TBC