
''Aku kecewa pada mu Yah! Bukannya kau melindungi Mak ku, tapi kau malah berbuat zina dirumahnya! Jika memang kau sudah tidak menginginkan nya, lepaskan! Aku masih bisa membiayai Mak ku walau hanya sekedar makan! Ayah boleh sakit hati dengan Mak ku! Tapi tidak dengan membawa wanita lain ke rumah ini! Ayah imam! Segala perbuatan Ayah itu akan menurunkan pada anak Ayah nantinya. Apakah Ayah tidak sadar jika Mak sedang hamil anak kalian berdua?? Bagiamana jika nantinya anak yang dalam kandungan kalian di perlakukan sama seperti yang sedang Ayah lakukan sekarang?? Bisakah Ayah menerima nya?? Bisakah Ayah nanti menerima putri Ayah yang sudah ternoda? Sadar Yah? Kenikmatan sesaat tapi berujung neraka! Bukan Mak Alisa yang membawa neraka ke rumah ini! Tapi Ayah lah yang membawa nya!!''
Deg!
Deg!
Deg!
''Abang...'' panggil Lana.
Bocah kecil itu berdiri mematung disana. Ia menatap nanar pada seorang gadis yang sedang duduk di sebelah ayah nya.
Begitu juga dengan Ira. Tatapan mata itu begitu sendu. Ia menatap nanar pada kedua orang yang sedang duduk berhadapan dengan Tama.
''Assalamualaikum Mak...''
''Waalaikum salam, udah pulang Nak??'' tanya Alisa dengan tersenyum lembut kepada kedua anak nya.
''Sudah Mak. Hari ini guru di sekolah ada rapat jadi kami cepat pulang. Kakak ambil sapu dulu ya Mak?? Abang! Bantu Kakak!'' titah nya pada Lana.
Lana mengangguk dengan wajah datar. Tama tersenyum melihat kedua adiknya yang juga tersenyum pada nya.
Emil masih sama. Ia masih duduk terdiam disana. Karena bekas dari lemparan gelas Tama tadi masih terasa sakit di kening nya.
''Aku tunggu kau sampai melahirkan Alisa! Setelah itu terserah kau mau apa! Jika kau ingin bercerai dariku, ayo! Akan aku kabulkan permintaan mu!''
Alisa diam tidak ingin menyahuti ucapan Emil. Tetapi tidak dengan Tama. Tama menoleh dan menatap nya tajam.
''Baguslah jika Ayah sadar! Sebaiknya Ayah bawa gundik Ayah itu keluar dari rumah Mak ku! Karena jika sampai aku melihat dia masih berada di sini, jangan salahkan aku jika kalian berdua akan aku jebloskan kedalam penjara!'' ancam Tama.
Emil terkekeh sinis. ''Heh! anak kecil sok belagu! Mengurus diri sendiri saja tidak bisa tapi mencoba ingin melaporkan ku?! Heh! mimpi kamu!''
''Silahkan Ayah merendahkan ku! Aku tak peduli! Aku Adrian Pratama putra tunggal Fabian Pratama. Sekali mulut ku terbuka maka tidak akan ada yang berani membantahnya!'' tukas Tama dengan tajam pada Emil.
__ADS_1
Emil terdiam. Ia lupa akan hal itu. Benar apa katanya. Adrian Pratama putra tunggal Fabian Pratama. Seorang pengusaha di bidang otomotif.
Melihat Emil terdiam, Tama menyunggingkan senyum tipisnya. ''Sebaiknya Ayah antar itu gundik Ayah! Jika Ayah ingin melakukan nya, lakukan ketika Ayah sudah berpisah dari Mak ku!'' ketus Tama, membuat Ira mengulum senyum nya.
Ira Segera menyapu bekas beling kaca yang pecah begitu juga dengan Lana. Ia pun ikut membantu Ira.
Sedang Alisa dan Tama diam saja. ''Bang Tama! Bantuin ih! Abang yang ngancurin, tapi kakak yang beresin! nggak asik ah!'' gerutu Ira.
Tama terkekeh. ''Iya adikku sayang... Abang bantuin deh! Apa sih yang nggak buat adek Abang yang paling cantik sejagat raya ini, hem?'' goda Tama, Ira mencebik kan bibirnya.
Sedangkan Lana tertawa. Alisa tersenyum melihat tingkah ke tiga anak nya. Sedangkan gadis yang bersama Emil tertegun melihat anak-anak Alisa.
Mereka bekerja sama untuk membuang sampah beling itu. Sesekali Tama menggoda Ira begitu juga dengan Lana.
Dasar Ira yang memang cerewet ketika dirumah, jadilah bulan bulanan kedua saudaranya.
Alisa tersenyum melihat itu. Baginya, kebahagiaan anaklah yang paling utama. Setelah selesai, Emil keluar dengan membawa serta gadis yang entah siapa itu.
Empat bulan berlalu.
Sejak kejadian dimana Emil ketahuan oleh Tama, kini keluarga itu tinggal menunggu hari ha untuk kelahiran bayi Alisa yang ketiga.
Tama masih tinggal disana. Dia lah yang sangat antusias menunggu kelahiran bayi Alisa.
Alisa sudah menebak jika bayi dalam kandungan nya itu pastilah perempuan. Walau cara mengidam nya dengan Ira berbeda, tapi Alisa tau jika janin yang sekarang masih ada dalam kandungan nya ialah perempuan.
Emil sudah jarang berada dirumah. Ia sering kali menginap dirumah nenek Rima. Lana tau semua itu, karena ia sendiri yang melihat Emil disana bersama nenek nya dan juga gadis yang dulu pernah di rumah mereka.
Melihat Emil tertawa-tawa disana, begitu membuat Lana kecewa. Ia pikir setelah kejadian itu, Ayah nya akan berubah.
Ternyata tidak. Bahkan nenek Rima lah yang membujuk Ayah Emil untuk meninggalkan Mak nya.
''Tunggu sebentar lagi, setelah ini kami akan pergi dari kehidupan kalian semua. Tapi sebelum itu, aku akan meminta sama Allah, agar Ayah mendapat karma dari apa yang telah ia perbuat kepada Mak ku! Surga ku! Begitu juga dengan nenek Rima. Aku tidak bisa membalasnya. Tapi akan ada seseorang yang akan membalasnya untuk Nenek. Aku yakin, Allah itu Tuhan yang adil! Tunggu saja!''
__ADS_1
''Jika suatu saat itu terjadi pada kalian berdua, maka ingatlah ini. Aku Maulana Akbar putra tunggal Alisa Febriyanti tidak akan memaafkan kalian berdua kecuali Mak ku yang memintanya kepada kau! Cukup sudah kalian menyakiti hati Mak ku! Cukup sampai disini! Ingat itu! Ayah pasti akan menyesal nantinya! Dan saat semua itu terjadi, Ayah akan kehilangan kami semua. Semua akan terlambat bagi Ayah untuk menyadari semua nya. Dan saat itu aku akan melupakan Ayah, kalau Ayah adalah Ayah kandungku!'' gumam Lana, dengan segera ia menghapus secara kasar buliran bening yang mengalir dari pipi nya.
Dan tepat seperti dugaan Tama, jika semua itu terjadi karena nenek Rima yang ikut campur.
Tapi Tak apa. Tama sudah mengantongi bukti yang kuat tentang nenek Rima dan juga Ayah Emil.
Saat ini mereka berempat sedang duduk lesehan dilantai. Ira sedang mengerjakan tugas sekolah nya.
Lana sedang baca buku, sedangkan Tama sedang membantu Alisa menggulung risoles nya.
Selama beberapa bulan ini, hasil penjualan Alisa begitu meningkat. Sangat banyak peminat risol Alisa ini.
Semua ini karena Tama. Ya, Tama. Adrian Pratama. Seseorang yang akan terikat dengan nya seumur hidup.
''Ssssttt...'' Alisa mendesis menahan sakit di bagian bawah perutnya.
Tama menoleh, ''Mak kenapa?? Sakit?? Apa akan melahirkan??'' tanya Tama dengan wajah panik.
Alisa tersenyum, ''Nggak Nak.. hanya saja seperti kencang sekali.. sssstttt... hufftt...'' sahut Alisa dengan sesekali menahan sakit.
Ira yang melihat nya terkejut. ''Bang Tama! Siapkan aja segala sesuatu nya! Kakak yakin adek pasti akan segera launching!!'' seru Ira dengan panik.
Bukan nya bergerak, Tama malah tertawa. ''Hahaha... kamu bisa saja Kak! Masa adek mau launching sih? Memang produk yang akan segera dipasarkan??''
''Eh? Iyakah? Astagfirullah! Aduhh.. maaf Mak! Hehehe..'' Ira nyengir setelah mengatakan hal itu.
Begitu juga dengan Alisa. Walau perutnya sesekali sudah mulai sakit, tapi tak menyurutkan semangat nya untuk menggulung risoles itu kedalam tepung panir yang sudah di sediakan disana.
💕
Otw ye bayi Alisa yang ketiga!
TBC
__ADS_1