
Tiga hari sudah Alisa di klinik bidan Novi. Tiga hari juga Emil dirumah di temani kedua anaknya.
Tidak dengan Tama.
Ia menemani Alisa dari pulang sekolah hingga besok paginya. Kebetulan hari ini hari Minggu, jadi Tama bisa bebas di klinik kapan pun ia mau.
''Jadi pulang hari ini kan Mak??''
''Jadi dong.. kamu udah siap??'' tanya Alisa, sembari tangannya dengan cekatan menyiapkan semua perlengkapan Annisa untuk dimasukkan ke dalam tas.
Tama mengangguk, kemudian berlalu ke luar untuk mengambil motornya di garasi klinik bidan Novi.
Setelah selesai, Alisa membawa Annisa keluar dari klinik. Disambut oleh senyuman Tama.
Begitu juga dengan bidan Novi. ''Jika ada apa-apa, kabari Kakak ya Lis?''
''Tentu Kak. Aku pamit pulang, Kak. Assalamualaikum..''
''Waalaikum salam..'' sahut bidan Novi.
Ia menatap sendu pada Alisa. ''Andai dulu nya kamu mau meninggalkan lelaki sialan itu, pastilah sekarang kamu sudah bahagia hidup dengan adik sepupu ku. Beruntung Alvian memiliki istri baik sama persis seperti kamu. Kamu istimewa, Lis! Jika sampai suami mu melepaskan mu, dia akan menyesal seumur hidupnya.'' Lirih bidan Novi dengan mata masih menatap kepergian Alisa dari kliniknya.
Tiba dirumah Alisa, Tama turun dari motor nya. Sebelumnya ia memutar kunci dan dan mencabutnya supaya motor itu tidak lari. Katanya pada Alisa.
Alisa terkekeh pelan. Dari dalam Ira dan Lana sedang sarapan bersama Emil, terdengar suara orang berbicara.
Emil tersenyum sinis saat mendengar jika suara itu, suara Alisa istrinya. Lana dengan cepat keluar begitu juga dengan Ira.
Meninggalkan Emil yang tersenyum kecut disana. Ira dan Lana berlari keluar.
''Mak!! Adek!!''
Deg!
''Adek??'' beo Emil, ia terkejut mendengar panggilan Lana.
__ADS_1
''Huhuhu.. adek Abang pulang euuy.. selamat datang di kediaman Mak Alisa adek Annisa!''
Deg!
Lagi Emil terkejut dengan ucapan Lana. ''Annisa?? Jadi...'' ucapan Emil terhenti karena melihat Alisa sudah masuk dengan menggendong seorang bayi.
Emil tertegun melihatnya. Alisa masuk dan mengucapkan salam. ''Assalamualaikum.. kita udah sampai kerumah ya Nak? Kita bobok di dalam ya?'' ucapnya pada Annisa.
Bayi itu terlelap dengan nyaman di pelukan Alisa. Alisa tersenyum tipis melihat itu. Tama dengan sigap membawa perlengkapan Annisa masuk ke dalam kamar tanpa memperdulikan jika Ayah Emil ada disana sedang menatap nya dengan datar.
''Sudah pulang kamu?! Kenapa tidak memberitahu ku jika kamu melahirkan pagi ini!'' ketus Ayah Emil.
Alisa menoleh. Wajah yang tadinya tersenyum kini berubah menjadi datar. Ia menghela nafasnya.
''Buat apa kami harus memberi tahu Ayah, jika Mak melahirkan? Apakah Ayah akan pulang jika aku menyusul mu?'' ketus Tama pula.
Alisa yang tadi ingin menyahuti ucapan Emil, malah mengap-mengap tak jadi. Ia menghela nafas nya lagi.
Emil tersenyum miring melihat Alisa ada yang mengawal nya. ''Cih! Pantas saja kamu tidak mau menghubungi ku, ternyata sudah ada pengganti ku rupanya! Apakah bocah kecil ini yang akan menjadi suami mu berikutnya Alisa?''
Deg!
''Kalau iya kenapa? Masalah buat Ayah?!'' tantang Tama.
Alisa membulatkan matanya. Lana mengulum senyum. Sedangkan Ira, melongo mendengar ucapan Tama.
''Cih! Ternyata pilihan mu tak lebih buruk dari pilihan ku! Pilihan ku masih lumayan! Lah, kamu? Bocah ingusan!'' tekan Emil, sembari tersenyum mengejek kepada Tama.
Alisa masuk dan membawa bayi kecil itu ke dalam kamar nya. Ia menidurkan di tempat yang sudah dibersihkan baru saja oleh Tama.
Alisa menggeleng kan kepala nya melihat Emil. Baju berserakan dimana-mana. Belum lagi selimut, selimut itu sudah teronggok dilantai.
Alisa keluar setelah menidurkan Annisa. Sedangkan Tama dan Ayah Emil masih bersitegang.
''Apa salahnya jika aku ingusan? Lebih baik ingusan tapi bertanggung jawab! Ketimbang Ayah, dewasa tapi tidak bertanggung jawab! Yang seharusnya menjadi tanggungan mu malah Mak sendiri! Ayah macam apa kamu?! Bagaiman kalau kalau suatu saat nanti, putra dan putri mu mendapatkan suami seperti mu? Apakah Ayah bisa menerima nya? Ku rasa tidak! Terlihat jelas seperti apa Ayah sebenarnya! Beruntung nya aku ada di rumah ini. Jadi aku bisa belajar banyak dari kelakuan buruk mu itu! Kau terlalu banyak buruknya Yah, ketimbang baiknya!'' tukas Tama, membuat Emil meradang.
__ADS_1
''Heh, anak sialan-''
''Aku anak terhormat! Bukan sialan seperti Ayah!!''
''Dasar!! Pergi kau dari rumahku!! Keluar kau! Ini bukan rumah mu!!'' seru Emil lantang.
Tama terkekeh. ''Rumah mu?? Kapan rumah ini menjadi rumah mu?? Ini rumah Mak ku! Aku hadir dirumah ini karena nya! Aku pikir, dulu aku sangat membutuhkan seorang Ayah sepertimu, tapi sayang Ayah yang aku harapkan tidak bisa menjadi tauladan untukku! malah menjadi lawan untukku sekarang! Menyesal aku mengenal mu, Ayah Emil! Tapi aku tidak pernah menyesal mengenal dan mempunyai Mak seperti Mak Alisa!''
Emil mengepalkan tangannya. ''Aku peringatkan sekali lagi Alisa. Kamu masih ingin tinggal dirumah ini, atau pergi dari sini. Jika kau masih ingin tinggal dirumah ini, maka kau harus mengganti semua uang ku yang sudah kau habiskan tidak menentu itu. Dasar penipu!''
Deg!
Alisa memejamkan kedua matanya. Sakit. Sakit lagi ulu hatinya. Sudah lama tak pulang seharusnya ia sadar, akan tanggung jawab nya.
''Aku akan mengganti semua uang mu! Kenapa sih selalu uang yang selalu kau permasalahkan?? Aku tanya, apakah selama ini kau tidak ikhlas menghidupi ku dan kedua anak mu? Hingga kau mengungkit-ungkit tentang uang yang sudah habis? Aku pakai uang itu untuk keperluan dapur, selebihnya biaya sekolah anak mu!''
''Alah.. usah banyak bicara kau! Gara-gara kau uang ku habis tak menentu! Aku tak mau tau, secepat nya kau harus mengganti uangku yang sudah kau habiskan untuk penipu itu! Selama ini kau hidup dari uangku! Bahkan usaha risol mu pun dari uangku! Cih! berlagak sok punya uang! Sedang uang saja sepeser pun kau tak punya! Jika aku tidak memberi mu, maka sampai kapanpun kau tidak punya uang Alisa!''
''Ya, aku tau selama ini aku makan dari uang mu. Segala kebutuhan ku adalah dari uang mu! Tapi kau jangan lupa Bang Emil, jika apa yang kau berikan pada ku itu adalah hak ku sebagai seorang istri. Aku tau aku tidak bisa membantu mu mencari uang, karena aku lebih mementingkan anakku ketimbang uang.''
''Cih! Kamu itu bisanya cuma menghabiskan uang ku saja. Terlalu banyak bicara kau Alisa! Sadar diri kau, jika uang yang kau pakai untuk biaya melahirkan anak mu itu, uangku. Aku heran, kenapa kau tak mati saja saat melahirkan kemarin?''
''Astaghfirullah al a'dhim...'' lirih ketiga anak itu.
Alisa memejam kan kedua matanya. Lagi, rasa sakit itu menghantam ulu hatinya. Hingga rasanya tak bisa untuk di obati lagi.
''Hidup dan mati itu bukan ada di tangan mu! Sebanyak apapun kau menyumpahi ku untuk mati, maka aku tidak akan mati. Ingat Bang Emil, sumpah itu akan berbalik pada diri mu sendiri. Dan ya, Roda kehidupan itu berputar. Sekarang kau diatas, sedang aku dibawah. Bisa saja suatu saat nanti aku yang di atas sedang kamu dibawah, tidak menutup kemungkinan bukan?''
Emil terdiam. ''Memang benar kok apa yang aku katakan, selama ini memang aku yang memberi mu makan! Bukan diri mu sendiri! Tidak usah menyangkal Alisa. Seharusnya kau sadar diri, sudah hidup enak, numpang lagi dirumah orang! Aku harap kau segera membayar uangku! Jika tidak, segera angkat kaki dari rumah ini! Dan aku akan segera melepas mu menjadi istriku!''
Ddddduuuaaarrrr...
💕
Ikuti terus kelanjutannya!
__ADS_1
Episode-episode menuju akhir!
TBC