Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Menjemput Tama


__ADS_3

''Hidup dan mati itu bukan ada di tangan mu! Sebanyak apapun kau menyumpahi ku untuk mati, maka aku tidak akan mati. Ingat Bang Emil, sumpah itu akan berbalik pada diri mu sendiri. Dan ya, Roda kehidupan itu berputar. Sekarang kau diatas, sedang aku dibawah. Bisa saja suatu saat nanti aku yang di atas sedang kamu dibawah, tidak menutup kemungkinan bukan?''


''Jika tujuan mu pulang hanya untuk mengungkit uang mu, sebaiknya tidak usah kau pulang lagi. Pulang kerumah bukan mau melihat anak nya, malah berbicara yang bukan-bukan! Heran aku sama sikap mu bang Emil, kau itu sudah tua, seharusnya kau sadar diri! Tak selama nya kita hidup di dunia ini, kita akan mati! Yang di bawa hanya kain putih bukan uang segepok seperti yang kau katakan! Pusing aku dengan kelakuan mu! Uang, uang dan uang saja di pikiran mu! Suatu saat jika kau tak punya uang, baru tau rasa kau jika dulu pernah merendahkan seseorang karena uang!'' Ketus Mak Alisa.


Tama terkekeh mendengar gerutuan Mak Alisa. Begitu juga dengan Lana. Sedangkan Ira, ia lebih memilih masuk kamar daripada harus mendengar perdebatan non faedah dari kedua orangtuanya.


Jika aku sudah besar, aku pun akan membantu memgembalikan uang Ayah! Apa salahku aku terlahir dari Mak?


Katanya keturunan Mak itu buruk! Buruk dimana nya? Bagian mana nya yang buruk? Tega sekali Ayah mengatakan hal itu kepada ku! Kenapa aku harus memiliki Ayah sepertinya ya Allah...


Astagfirullah!! Sadar Ira! Emil itu Ayah mu! Ck! Batin Ira menggerutu.


Emil terdiam. Namun hanya sebentar, setelah itu ia melanjutkan ucapan nya yang begitu menyakitkan untuk Alisa.


''Memang benar kok apa yang aku katakan, selama ini memang aku yang memberi mu makan! Bukan diri mu sendiri! Tidak usah menyangkal Alisa. Seharusnya kau sadar diri, sudah hidup enak, numpang lagi dirumah orang! Aku harap kau segera membayar uangku! Jika tidak, segera angkat kaki dari rumah ini! Dan aku akan segera melepas mu menjadi istriku!''


Ddddduuuaaarrrr..


Alisa tersentak mendengar ucapan Emil. Sungguh kejam suaminya ini. Dirinya baru saja pulang dari klinik, baru kemarin ia bersalin melahirkan seorang anak perempuan.


Darah daging suaminya, dan hari ini? Tega-teganya Emil mengatakan jika akan melepaskan nya?


Semudah itukah mengucapkan perpisahan tanpa berpikir terlebih dahulu? Di mana hati nurani nya?


Tidak ingatkah dia, jika Alisa baru saja melahirkan?


''Selesai dari nifasmu, angkat kaki dari rumah ini! Aku tidak sudi memiliki istri boros dan penipu seperti kamu! Cukup sudah aku bertahan selama ini. Sekarang tidak lagi! Aku tunggu sampai kau selesai dengan nifasmu, setelah itu segera angkat kaki dari rumah ku!''


Tama tergelak. ''Rumah mu Yah? Kamu yakin, jika rumah ini rumah mu?'' ejek Tama.


Sedari tadi ia hanya diam, tidak berkata ataupun menyela perkataan Emil sedikitpun. Alisa menatap nanar pada Emil.

__ADS_1


Raut wajah sendu itu begitu kentara di wajah tirus nya. Emil tak peduli. Ia tetap pada pendiriannya.


''Kamu orang lain disini Pratama! kau tak berhak sedikit pun tentang rumah ini! Kau Hanya putra angkat yang sengaja diangkat oleh istriku! Jadi lebih baik kau diam! Tidak perlu kau ikut campur! Kenapa kau tidak pulang saja ke rumah mu! Bukankah Mama mu sudah kembali dengan ayah mu, Pratama??''


Deg!


''Darimana Ayah tau?''


''Tak perlu kau tau darimana aku mengetahui nya! Yang jelas sekarang, kau harus pergi dari rumah ini sekarang juga! Lihatlah siapa yang datang?'' tunjuk Emil pada seseorang yang berdiri di depan pintu rumah mereka.


Tama terkejut. ''Mama!''


Linda tersenyum pada putra nya. Alisa pun tersenyum melihat Linda. ''Assalamualaikum Alisa.. sahabatku.. adikku.. apa kabar mu? Mana putri kecilku?'' tanya Linda sambil melangkah masuk dengan seseorang berdiri diluar sana tersenyum ramah pada Alisa dan Emil.


''Eh? Bang Bian ya?''


''Assalamualaikum Alisa.. ya, saya Fabian! Ayah kandung Adrian! Putra angkat mu yang super nakal ini!'' sahutnya.


Membuat Tama mendelik kesal. ''Ngapain kalian kemari? Tugasku belum selesai disini!'' ketus Tama, Linda yang mendengar nya menoyor kepala putra nya.


Fabian tertawa. ''Sudah waktunya Nak.. bukankah Mak mu sudah melahirkan? Jangan bohongi Papa Adrian! Papa tau segalanya! Papa pun tau apa yang sudah kau lakukan! Jangan terlalu ikut campur Nak! Tidak baik! Tugasmu sudah selesai! Kami datang kemari untuk menjemput mu!'' Ucap Fabian menatap Tama dengan serius.


Tama memutar bola mata malas. ''Ya, ya, ya! terserah anda yang mulia Fabian Pratama!'' ketus Fabian lagi.


Alisa yang mendengar nya tertawa. ''Mari silahkan duduk! Baru kemarin saya melahirkan sih. Hari ini tiga hari. Ayo Bang! Duduk dulu!'' ajak Alisa.


Fabian dan Linda menurut. Ira keluar dan bersalaman dengan Fabian dan Linda. ''Mama! Papa!'' Seru Ira.


Linda dan Fabian tersenyum. ''Sudah besar ya ternyata putri sulung Mama ini?''


''Hehehe.. Mama bisa saja! Kalau masih kecil adek Annisa dong! Masa' Kakak nggak besar-besar? Kan aneh jadinya? Kecuali kuntet!''

__ADS_1


''Hahaha.. kamu bisa saja Nak! Ini bawa ke dapur! Tadi Mama belikan makanan ini untuk kita makan siang dan makan malam! Mama sengaja kemari untuk menjemput Abang mu! Waktunya sudah habis disini! Papa ingin mengajaknya tinggal dirumahnya di Medan sana..'' lirih Mama Linda sendu.


Alisa menghela nafasnya. ''Jangan dipaksakan jika Tama tidak mau..''


''Tapi ini harus Alisa, waktuku sudah tidak banyak lagi. Jadi aku harus menempah Tama menjadi seorang pebisnis mulai dari sekarang. Kamu kan tau jika Abang dan Linda, terpisah karena hal ini??''


Alisa mengangguk. Ya, Alisa sudah mengetahui kenapa alasan Fabian meninggalkan Linda.


Semua itu demi keselamatan Linda, agar kelak Tama bisa menjadi pewaris sah nya. Sedangkan Fabian sudah memiliki keluarga lain selain Linda.


Fabian mencintai Linda tanpa melihat status nya dari kalangan biasa. Makanya Fabian menikah siri dengan Linda.


Tapi setelah Tama lahir, Fabian segera menguruskan akta nikah mereka di KUA. Dan itu membuat istri muda Fabian meradang.


Makanya Fabian pulang kerumah istri mudanya agar Tama selamat. Dan yang istri muda tau jika mereka sudah bercerai.


Padahal belum sama sekali. Bahkan nafkah lahirnya selalu ia berikan kepada Linda secara diam-diam.


Alisa mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju ketika mendengar penjelasan Fabian, Papa nya Tama.


''Dan kamu Tama! Malam ini kamu harus segera ikut Papa tinggal dirumah Papa! Di keluarga besar Pratama! Kamu putra tunggal Papa! Jadi kamu harus ikut Papa, jika ingin Mama dan Mak mu selamat!'' ancam Fabian.


Tama melotot tak percaya. ''Papa ih! Jangan ngancam-ngancam Abang dengan membawa Mak dan Mama! Nggak baik ah! Tanpa di ancam pun, Tama akan pulang!'' ketus Tama lagi.


Ia begitu kesal dengan keputusan yang diambil Papa nya. Makanya ia kabur dan memilih tinggal dirumah Alisa.


Alisa terkekeh kecil melihat itu. Emil? Sejak Fabian dan Linda masuk, ia keluar entah kemana.


Dan Linda pun tak ambil pusing. Toh, yang mau ia jumpai adalah adik serta sahabat nya itu.


💕

__ADS_1


Beberapa bab lagi menuju akhir! pantengin terus ya!


TBC


__ADS_2