Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Jualan kue


__ADS_3

Pagi ini Alisa sudah bangun sedari jam empat pagi. Ia mulai membuat risoles untuk di titipkan di kantin sekolah Ira dan Lana.


Walau perut besar tidak menghalanginya untuk bergerak. Alisa sangat semangat untuk memasak.


Belum lagi, Alisa sekarang ini sangat hobi makan. Apalagi makan makanan yang manis-manis.


Alisa sangat menyukai nya. Kadang ia berpikir, apakah janin yang ada di dalam perutnya ini doyan makan??


Alisa terkekeh mengingat itu. Tangan nya terus sibuk menggulung risol dan membalur nya dengan tepung panir sebelumnya ia celupkan ke dalam adonan basahnya.


Setelah selesai, ia menggoreng semua risoles itu. Lana dan Ira yang mencium bau risoles buatan Alisa bangun dari tidurnya langsung berlari ke dapur.


''Woaahh.. udah jadi rupanya ya? Kita bantu ya, Mak??'' ucap Lana sambil mencomot risol yang masih panas dan ia siapkan kedalam mulutnya.


''Hhoaahh.. wanashh... haaahhh vanashh...'' ucap Lana sembari terus mengunyah risol itu.


Alisa terkekeh melihat tingkah Lana. Begitu juga dengan Ira.


''Kamu Bang! Asal makan aja! Nggak tau apa risol nya masih panas??'' Ira terkekeh setelah mengatakan hal itu.


''Hahisnya hooaaahh.. vaanaashhh.. enyaaakk hhoaaahh..'' sahut Lana masih dengan mulut penuh risol tapi panas.


Alisa yang tidak tahan dengan kelakuan lana tergelak hingga kepalanya mendongak ke atas. Begitu juga dengan Ira. Mereka bertiga seru-seruan di dapur.


Semua sudah di goreng, tinggal di masukkan ke dalam tupperwaree untuk dibawa kesekolah Ira dan Lana di titipkan di kantin sekolah mereka berdua.


Sekarang Alisa mandi dan bersiap, ia juga harus menitipkan seluruh kue buatan nya di warung-warung terdekat.


Emil yang melihat Allah dan sedari pagi sudah sibuk dengan kue nya berdecih. ''Cih! Giliran punya hutang baru sibuk nyari duit! Coba kalau nggak, enak-enakan tidur kamu dirumah ini!'' cibir Emil.


Alisa diam. Ia tidak menyahuti perkataan Emil. Baginya, jika memang uang itu harus di ganti, ya di ganti.


''Ayo, Mak! Kita jalan sama-sama! Walaupun Abang tidak bisa bantu Mak untuk bayar hutang sama orang, paling tidak Abang tidak merendahkan Mak karena menjual risol. Jika tau dulu seperti ini, lebih baik Mak buka toko kue aja Mak! Kan lumayan bisa untuk bayar hutang! Juga kita nggak minta-minta lagi sama orang!'' sindir Lana, membuat Emil meradang.

__ADS_1


''Kamu! Sudah berani mengatur Ayah ya kamu?! Sini kamu?!'' ucap Emil dengan geram.


''Sudah, sudah! Pagi-pagi itu diawali dengan keberkahan bukan dengan keributan! Gimana mau aman, jika setiap hari harus seperti ini saja.'' lerai Alisa.


''Halah.. jangan sok jadi guru kamu! Urus dirimu sendiri, jangan menggurui orang lain. Kamu yang berbuat salah, tapi anak-anak ku yang kamu libatkan! Pintar sekali kamu menyuruh mereka untuk menjual kue mu! Tinggalkan tempat itu Ira! Ayah yang membiayai kalian makan dan juga sekolah kalian! Bukan Mak kalian! Jika kau tak mau dengar, angkat kaki segera dari rumah ini!''


Deg!


Lagi seseorang diluar sana tersakiti hatinya. Ia mengepalkan kedua tangannya untuk menahan rasa sakit di hatinya.


Sungguh tega Ayah berbicara seperti itu kepada Mak ku! Akan ku bayar hutang itu hari ini juga! Lihat saja!


Gumamnya dalam hati. Ia mengusap sudut matanya yang basah. Setelah itu ia masuk dan mengucapkan salam.


''Assalamualaikum.. Mak?? Ira?? Lana??'' Panggil Tama di depan pintu.


Lana yang mendengar suara Tama berlari ke depan.


''Waalaikum salam. Abang Tama!!!'' pekik Lana kesenangan.


''Udah Bang! Tapi kami lagi berdebat masalah kue nya Mak, Bang! Gara-gara harus ganti rugi setiap hari harus kena caci maki!'' ketus Lana, ia sengaja berbicara seperti itu karena melihat Emil melangkah ke arah depan untuk menyapa nya.


''Sudah lama, Nak??''


''Tidak! baru saja!'' sahutnya datar.


Wajah yang tadinya tersenyum kini berubah menjadi datar. Emil yang melihat itu mengernyit kan dahinya.


''Ada apa dengan nya??'' gumam Emil sambil berlalu.


''Mak??'' Panggil Tama saat melihat Alisa berjalan dengan kepayahan Karena harus membawa empat kotak Tupperware sendirian.


''Nak? Sama siapa?? Mama nggak ikut??'' tanya Alisa saat mendekati putra angkatnya itu.

__ADS_1


Tama mengulurkan tangannya untuk menyalami Alisa dan disambut oleh Alisa dengan tersenyum.


''Biar Abang yang bawa semua kue ini. Sekolah Abang itu banyak orang nya! Mak nggak usah kesana kemari. Dirumah aja. Siapin lagi bahan risoles nya. Tapi... Abang boleh coba nggak??'' tanya nya sedikit ragu Karena melihat Ayah Emil menatap nya datar.


''Boleh, boleh! silahkan aja di coba! Mana tau cocok di lidah kamu!'' sahut Alisa dengan segera membuka tutup Tupperware nya dan mengambil beberapa untuk diberikan kepada Tama.


''Lah.. banyak amat Mak! Abang cobanya satu aja! Kebanyakan ini..'' tolak Tama dengan segera ia masukkan lagi ke dalam tupperwaree itu.


''Udah, itu rejeki buat Abang! Ayo Mak juga mau sekalian belanja lagi di warung Mpok Atun. Disana bahan nya lengkap semua.'' ucap Alisa, sembari mengangkat tupperwaree itu untuk dibawa keluar.


''Sini Mak, Abang yang bawa! Abang bawa motor kok.''


''Motor?? Motor siapa??'' tanya Alisa sedikit bingung.


''Ya, motor! Motor punya Abang Mak.. Biar Abang antarkan Mak sekalian ke warung Mpok Atun ya? Kan searah?? Ah iya, Lana sama Ira kalian berdua jalan kaki aja ya? Abang mau ngantar Mak sekalian ke warung. Nanti siang, Abang pulang kesini. Mulai hari ini Abang akan tinggal bersama kalian untuk membantu Mak buat kue! Sekalian belajar! Mana tau bisa kecipratan ilmu nya! Ya kan Mak??'' seloroh Tama membuat Alisa terkekeh kecil.


''Mama gimana?? Apa tau jika kamu nginap disini?? Lagian...'' Alisa menoleh ke Emil yang terlihat biasa saja.


Tama yang paham pun mendekati Emil. ''Yah, untuk beberapa bulan kedepan sebelum Abang tamat sekolah, Abang nginap disini ya? Mama lagi kerja jauh. Abang nggak punya teman disana. Ayah kan tau.. kalau nenek udah nggak ada?'' lirih Tama dengan menunduk.


Walau ekor matanya melihat Emil. Emil menatapnya dalam hingga menghela nafasnya. ''Ya... tapi-''


''Ayah tenang aja! Biaya makan nya nanti Abang kasi uang sama Mak kok untuk beli segala keperluan dapur. Abang paham... jika numpang dirumah orang itu harus tau terimakasih.. Selama tinggal disini, Abang lebih banyak tau tentang arti hidup sederhana dari Mak. Abang hanya orang luar yang tiba-tiba masuk kedalam rumah kalian.. jadi Abang tau diri, kok.'' imbuh Tama membuat Emil sejenak tertegun.


Tama menarik sedikit ujung bibirnya. Saking tipisnya, Alisa pun tidak tau. Padahal jarak antara Alisa dan Emil tidaklah jauh.


''Ya sudah, tapi jika kamu macam-macam selama tinggal disini, jangan salahkan Ayah! Jika Ayah akan mengusir mu!''


''Astaghfirullah..''


💕


Awas Yah, akan ku bayar hutang Mak ku sama rentenir itu! 😠😠

__ADS_1


TBC


__ADS_2