Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Melahirkan.


__ADS_3

Keesokan paginya.


Adzan berkumandang menandakan jika waktu subuh sudah tiba. Alisa menggeliatkan tubuhnya.


Terasa berat dan sempit. Pikirnya. Karena penasaran, ia berbalik dan melihat Emil tertidur begitu pulas disebelah nya.


Alisa mengerjab. Setelah ia sadar jika waktu subuh tinggal sedikit, ia bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu.


Selesai wudhu Alisa sholat diluar takut akan mengganggu Emil yang sedang terlelap. Setelah sholat, Alisa beberes karena Ahri ini Tian akan datang kerumah mereka.


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh. Ponsel Emil berbunyi. Emil yang terkejut mengambilnya tanpa melihat siapa yang menelpon nya.


''Hallo...'' ucapnya dengan suara serak.


''...''


''Oh? iyakah?? Baik! Abang segera kesana! tunggu sebentar!''


Setelah nya ponsel itu mati dan Emil bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi.


''Dek .. Abang jemput Tian dulu ya?? kayaknya orang nya udah datang! siapkan makanan dan minuman ya??''


''Iya Abang!'' sahut Alisa.


Mereka bergerak cepat untuk menyelesaikan apa yang harus diselesaikan. Lima belas menit kemudian Tian tiba dirumah mereka.


Dan disambut hangat oleh Alisa. Ia sarapan bersama setelahnya di ajak untuk ke mesjid terdekat untuk mencari seorang ustad untuk bisa meng Islam kan Tian.


Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Sekarang Tian sudah menjadi mualaf. Dan semua itu berkat Alisa.


Emil bangga akan hal itu. Mereka bercerita bersama dan bergembira bersama termasuk Tian.


Alisa mengatakan jika nanti ia kembali ke rumah sakit, maka carilah seorang bidan bernama Shinta yang bersahabat dengan Alisa.


Jika mereka sudah bertemu jangan lupa untuk mengabari Alisa untuk kelanjutan hubungan mereka.


Dan Tian menyanggupi itu. Baginya, Alisa adalah Dewi penolong untuk hidupnya.


Hari- hari Alisa di lewati dengan bahagia. Tanpa ada lagi duka dan juga masalah baru. Semoga saja.


***


Delapan bulan kemudian.

__ADS_1


Alisa yang sedang hamil tua, merasa kepayahan saat bangkit dan berdiri. Ia berusaha semampu nya.


Namun apalah daya jika kondisi ibu hamil itu memang seperti itu. Dengan tubuh yang semakin berisi, pipi yang chubby menambah daya tarik tersendiri di diri Alisa.


Sedari pagi hingga sore Alisa tiada hentinya untuk bergerak. Begitu kata bidan yang akan menangani nya melahirkan.


Ia masih sibuk di dapur dan berkutat dengan piring dan wajan. Saat Alisa ingin menumis kangkung, terasa nyeri di bagian pinggang.


Semakin lama semakin panas. Begitu juga dengan rasa sakit di perut. Alisa menahannya hingga mengeluarkan keringat dingin di dahinya.


Ia tidak boleh panik. Harus tenang. Ia berjalan perlahan ke kamar untuk mengambil semua perlengkapan untuk ia melahirkan.


Saat ingin membuka pintu, bertepatan dengan Emil yang juga membuka pintu.


Terlihat Alisa begitu pucat. Ia meringis menahan sakit.


''Astaghfirullah! kamu kenapa dek?? kok pucat gini muka nya??''


''Hufftt.. hufft.. hufffttt.. bawa aku ke rumah sakit bang! klinik bidan Novi! aku mau melahirkan!''


''Apa?!?'' Emil begitu shock. Tak tau harus berbuat apa, ia malah terdiam tanpa kata.


Sedang Alisa perutnya semakin mulas tak tertahankan.


''Bang... aku nggak kuat.. hufffttt.. hufffttt.. ayo...'' ajak Alisa lagi.


Alisa tak bisa menyahut lagi ucapan Emil. Ia begitu sakit menahan mulas yang terus mendera perut serta pinggang bagian bawah nya.


''Ya Allah... kuatkan aku.. selamat kan kami berdua.. sekarang ku serahkan pada Mu hidup dan mati ku ada di tangan Mu..'' lirih Alisa sembari berjalan keluar dengan Emil yang menuntun nya.


''Ayo.. pelan-pelan.'' titah Emil.


Baru sebentar berjalan Alisa berhenti lagi. Perutnya mulas lagi, bahkan sangat mulas. Ia meremat tangan Emil begitu kuat.


Hingga cengkraman tangan itu meninggalkan bekas merah disana. Saat ingin membawa Alisa menaiki motor, ponselnya berbunyi.


''Siapa lagi sih?! Nggak tau apa bini aku lagi mulas begini?! Hallo!!'' bentak Emil.


''Emilllll!!!!!'' Dasar adik sialaaaannnn!!!!'' umpat Rita diseberang ponsel.


Emil terkejut. ''Astaghfirullah! kak Rita!! maaf kak! aku lagi panik! ini Alisa perutnya mulas!kayakanya mau melahirkan! ini aku aku bawa kerumah bidan Novi! kakak kesana aja ya!''


Tut.

__ADS_1


Emil mematikan ponsel itu, tanpa tau apa yang akan diucapkan oleh Rita lagi. Alisa yang mendengar nya terkekeh.


''Kamu sakit loh.. kok masih bisa tertawa gitu sih?! Abang yang liatin kamu aja ngilu? Kamu kok malah tertawa?!'' sungut Emil.


Alisa masih saja terkekeh. Saat perutnya kembali mulas, Alisa membuang nafas berkali-kali.


''Hufftt... hufffttt... hufffttt... cepat bang! kayaknya mau keluar inihh... aduhhh....'' Desis Alisa menahan sakit.


Semakin panik lah Emil. ''Ayo! ayo! Abang gendong aja kalau begitu! mana kain gendong? nggak usah naik motor ya?? biar cepat!'' ucap Emil tidak menentu.


''Isshh... gimana sampainya Abang.. mau aku keluarin disini anak kamu begitu?! sssttt...'' Desis Alisa lagi.


''Hah? oh? eh? Iya ya? ayo- ayo Abang pikul aja kalau begitu!'' imbuhnya ingin memikul Alisa.


Membuat Alisa memukul bahu Emil karena gemas. ''Abang.... aku mau melahirkan inihh... ayo.. motor nya.... sssttt... hufffttt.. hufffttt...'' ucap Alisa lagi.


''Aduhh... iya-iya sebentar tahan ya??disumbat dulu kalau begitu! jangan dikasi keluar! bahaya anak aku kok bisa lahir dijalan! apa kata dunia euuy...'' ujar Emil dengan segera membawa motornya kerumah bidan bersalin.


Setibanya disana, Emil gopoh. Bukannya Alisa yang dibawa, malah bidannya yang ditarik. Siapa pun yang melihat tingkah Emil merasa lucu.


Namun karena Alisa yang akan melahirkan, bidan Novi maklum.


''Ayo.. bawa Alisa masuk biar saya periksa dulu sudah buka berapa?'' ucap bidan Novi.


Emil segera memapah Alisa untuk dibawa masuk agar di periksa bidan. Setelah Alisa dibawa masuk, sekarang bidan sedang memeriksa Alisa.


'' Sudah buka Lima ya... sebentar lagi tidak akan lama lagi. Cepat juga untuk kamu orang baru pertama kali melahirkan. Tadi dirumah sedang apa?? Sedang bergerak atau olahraga kah??'' goda bidan Novi seraya melirik Emil.


Yang dilirik Emil hanya menatap nya dengan bingung. Alisa terkekeh.


''Saya lagi masak tadi kak.. semenjak saya hamil tua Abang jarang menyentuh saya.. takut katanya anak nya brojol duluan sebelum waktunya aduh... ssssttt...'' Desis Alisa lagi.


Bidan Novi tergelak mendengar ucapan Alisa. ''Kamu bisa saja Lis... udah bawa perlengkapan nya??''


Alisa melirik Emil. Sedang yang dilirik menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. ''Hehehe... saking buru-buru nya saya meninggalkan nya dirumah kak..'' imbuh Emil dengan sedikit meringis.


''Pulang! dan bawa kemari!'' titah bidan Novi.


''Tidak perlu! saya sudah membawa nya! Saya tau kelakuan adik sialan ini! Bukannya di bawa malah di tinggal!'' gerutu Rita.


Membuat Alisa terkekeh geli. Begitu juga dengan bidan Novi.


💕

__ADS_1


Ada yang pernah gini nggak??


TBC


__ADS_2