
''Terimakasih! Terimakasih Alisa! sungguh! aku merasa malu bila di sandingkan dengan dirimu. Kau begitu tulus pada putraku, sedangkan aku? Demi mendapatkan seorang ayah untuk Tama, aku rela menghancurkan pernikahan mu.. maafkan aku Alisa.. dan terimakasih! karena kau masih aku menerima putraku sebagi putra mu! Maafkan aku Alisa... maaf...'' lirih Linda sembari menunduk.
Alisa tersenyum. ''Sama-sama kak.. dan ya! aku sudah memaafkan mu. Lagipun aku menyukai putra mu yang tampan ini! Pasti papa nya lebih tampan kan??'' celutuk Alisa sembari menarik sedikit hidung mancung milik Tama, membuat Linda tersenyum kaku.
''Mama! kita malam ini nginap disini ya??'' pinta Tama pada Linda.
Linda terdiam. Sedangkan Alisa tersenyum lembut menatap Tama. ''Tentu sayang. Mulai hari ini, Mak akan mengangkat mu sebagai anak Mak dan ayah Emil. Jadi.. kapan pun Abang ingin kemari dan menginap disini, boleh! Sebentar, Mak ambil ponsel dulu untuk menelpon ayah ya??'' sahut Alisa dengan segera bangkit dan ingin mengambil ponsel nya.
Melihat Alisa yang kepayahan bangkit, Tama berinisiatif untuk mengambil ponsel itu. Dengan cepat Tama bangkit dan berlari mengambil ponsel Alisa yang terletak di atas lemari tivi.
''Nah! Mak tak usah bangkit. Kalau perlu apa-apa, bialng Abang aja! Abang akan siap sedia!'' tukasnya penuh semangat sembari menyerahkan ponsel ke tangan Alisa.
Membuat Alisa tertawa. ''Terimakasih sayang. Ayo duduk sama Ira, Mak mau nelpon ayah dulu!''
''Nggak! Abang mau ngomong sama Ayah! Abang kangen sama ayah! Boleh kan Mak, Abang ngomong sama Ayah??'' Tama menolak sekaligus meminta pada Alisa dengan sangat harap.
''Boleh! tapi biarkan Mak dulu yang ngomong sama ayah ya??'' sahut Alisa, membuat bibir bocah lima tahun itu mengerucut.
Alisa tertawa lagi. Ia sangat suka menggoda Tama. Karena melihat Tama seperti merasa kan jika nantinya pun ia akan memiliki putra sama dengan Tama nantinya.
''Mak...'' rengek Tama.
Alisa tertawa lagi melihat tingkah Tama. Ira yang melihatnya jadi kesal. ''Sini napa?! dari tadi sama Mak... aja?!'' ketus Ira.
Linda terkekeh mendengar ucapan Ira. ''Abang...'' tegur Linda.
Tama menunduk. Alisa hanya senyum saja. Setelah nya ia mulai mendial nomor Emil.
Tut.. Tut. . Tut ..
''Hallo dek...'' Alisa tersenyum.
''Assalamualaikum bang..''
''Hehehe.. wa'alaikum salam sayang-''
''Ayah!!'' pekik Tama kegirangan. Karena setelah mengucapkan salam, Alisa menyerahkan ponsel itu pada Tama.
Deg.
''A-abang...'' lirih Emil, tapi masih terdengar Alisa.
Linda hanya diam saja.
__ADS_1
''Ayah!!! Abang lagi dirumah ayah nih!! ya kan Mak??'' tanya nya pada Alisa.
Alisa mengangguk. Tapi tidak dengan Emil. Wajahnya mendadak pias. ''A-abang sama siapa??''
''Sama Mama! tuh lagi nonton sama adek Ira.''
Deg.
Lagi jantung Emil bergemuruh hebat. Ia terdiam beberapa saat. Bahkan panggilan Tama pun tak di dengarkan nya.
Ia masih sibuk menerka-nerka, sedang apa mantan terindah nya itu dirumah mereka. Ingin sekali bertanya, tapi...
''Bang??'' suara lembut itu mengalun merdu di telinga Emil.
Emil mengerjab dan berdehem. ''Ya, Dek! kenapa-''
''Dengar dulu aku ngomong. Kak Linda dan Tama sedang ada disini. Mereka berdua kemari karena Tama sangat merindukan Abang. Dan sayangnya, Abang nggak ada disini. Bang??'' panggil Alisa lagi karena tak mendengar suara Emil.
''Ehm, ya dek!''
Alisa terkekeh. ''Abang kenapa sih?? Gini loh.. aku cuma mau bilang, kalau Tama udah ku angkat jadi anak angkat kita! dan juga Tama ingin sekali menginap disini. Bolehkan Bang??''
Emil terdiam. Ia masih mencerna setiap bait ucapan Alisa. ''Maksudnya, kamu anggap anak Linda jadi anak angkat kita begitu??''
Alisa tersenyum. ''Ya. Aku melihat Tama kesepian tanpa ayah nya. Dan apa salahnya kita menganggap Tama jadi anak kita?? lagi pun, Abang sering sibuk! kakak nggak ada temannya dirumah! sedang Niko nggak dibolehin lagi sama kak Nita untuk kesini?!'' ketus Alisa.
''Nggak suka bukan berarti aku benci kan?!'' ketus Alisa lagi.
Membuat Linda terkekeh geli. Emil kalang kabut disana.
''O-oke, oke! Abang mengijinkan mu menganggap putra Linda menjadi anak angkat kita. Tapi kamu harus ingat, jika kamu tidak sanggup jangan dipaksa kan ya?? Abang nggak mau terjadi sesuatu padamu, sedang Abang jauh darimu...'' lirih Emil.
''Hem, dan ya satu lagi! Malam ini mereka berdua akan menginap dirumah kita!'' ketus Alisa lagi.
''Iya boleh kok. Minggu depan Abang kirim uang ke rekening mu ya? Pergunakan sebaik mungkin untuk kebutuhan mu dan anak kita!'' sahut Emil lagi.
''Ya, terimakasih! Udah ya? Assalamualaikum!''
''Waalaikum salam...'' sahut Emil, sembari terkekeh kecil.
Mengingat kelakuan Alisa yang kadang lembut dan kadang ketus terhadapnya. Tapi Emil senang, karena Alisa sudah mau berbicara lagi pada nya.
Sedangkan Alisa tersenyum ketika melihat Tama dan Ira begitu akrab. ''Bang Tama malam ini boleh kok nginap disini.'' celutuk Alisa, membuat Linda yang sedang nonton mengalihkan pandangannya pada Alisa.
__ADS_1
''Beneran Mak ..??''
''Ya!'' sahut Alisa.
Linda tersenyum. ''Terimakasih Lis, karena sudah mau menerima putra ku sebagai anak angkat mu..''
''Sama-sama kak! aku senang, punya anak banyak! Apalagi anaknya gemas kayak bang Tama! ya kan Bang??'' sahut Alisa sembari memeluk erat tubuh Tama.
Tama tertawa ketika Alisa mencium pipinya.
Ya Allah.. maafkan aku .. karena aku pernah berniat ingin merusak keluarga mereka.. maafkan aku ya Allah ..
Setelah ini.. aku akan fokus dengan hidup ku dan Tama saja. Jika nanti Fabian datang untuk mengambil Tama, maka akan ku titipkan pada Alisa!
Karena hanya Alisa yang bisa mengurusi putra ku ketika aku bekerja nanti. Kau sangat beruntung bang Emil, mendapatkan bidadari surga seperti Alisa.
Maaf.. kalau aku pernah berniat buruk pada mu. Tapi hari ini, mataku terbuka oleh istri mu.
Dia sangat baik pada ku dan juga putra ku. Dia tak membedakan jika Tama itu adalah putra ku.
Tapi dia menganggap putra ku adalah putra nya. Sekali lagi aku katakan, jika kau sangat beruntung memperistri kan Alisa bang Emil.
Jika suatu saat terjadi sesuatu dengan Alisa, maka aku yang akan berada di garda terdepan untuk melindungi nya dari mu bang Emil!
Itu janjiku!
Linda tersenyum saat melihat keakraban Alisa dan juga putra nya itu. Sungguh mulia hati Alisa.
Ia mau menerima seorang anak kecil yang bahkan dulu, ibunya begitu jahat terhadap putrinya.
Sekarang, Tama memiliki dua ibu dan dua ayah. Putra Linda itu begitu bahagia ketika Alisa mau menerima nya dengan senang hati.
Linda tersenyum, tak terasa buliran bening itu mengalir lagi di pipi nya. Ia mengusap nya dengan cepat, takut Alisa melihatnya sedang menangis.
Dua orang yang saling bersinggungan karena seorang pria, kini telah damai karena ada seorang pemilik hati yang begitu bersih.
Rela memaafkan walaupun sering dilukai.
💕
Bang Tama ini akan nongol di cerita sebelah ya!
Lanjutan dari cerita ini. cus kepoin! mana yang belum tau, datang aja!
__ADS_1
Othor tunggu klean disana untuk ninggalin jejak buat othor! 😁😁
TBC