
Aku sangat senang ketika melihat Alisa begitu terkejut, ketika melihatku sedang memeluk Emil dengan erat.
Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini. Hanya saja pikiran dan hatiku tak sejalan. Aku heran dengannya yang dipilih oleh lelaki yang aku suka.
Berharap bertemu dengan gadis itu dan menyelesaikan masalah. Malah aku yang kena damprat.
Sial!!
Sungguh jelas sekali pesona gadis muda itu. Ia begitu mudah menaklukkan Emil! Sedangkan aku? Sangat sulit untuk menaklukkan nya!
Aku kesal! sebal! marah! campur aduk jadi satu. Ingin rasanya, aku memukul gadis itu! Tapi itu tidak mungkin. Yang ada malah aku nantinya yang dapat masalah.
Belum lagi sekarang Emil begitu membenciku. Apa yang harus aku lakukan agar Emil mau kembali padaku??
Oh Tuhan.. sakit sekali hati ini.. seperti terhimpit palu besar didalamnya. Apa yang harus aku perbuat sekarang?
Aku masih saja menangis. Menangisi nasib percintaan yang kandas sebelum dimulai. Dimana sebenarnya jodohku.
Aku berharap jika Emil adalah jodohku. Ternyata.. aku salah! Emil bukanlah jodohku. Aku sangat kesal dengan gadis itu.
Saat aku masih meratapi nasibku, tiba tiba aku mendengar suara orang yang begitu ku kenal. Ia memanggil ku? Apakah aku tidak salah dengar?
'' Bangun Ross ..''
Suara yang begitu merdu di telingaku hingga menembus jantungku. Rasanya seperti gurun pasir yang panas tersiram oleh air es
Nyeesss..
Begitu dingin dan menyejukkan!
Hatiku yang tadinya sakit, kini berubah menjadi bahagia. Akhirnya... penantian ku tidak sia sia!
Emil kembali! Welcome back Emil!
Aku bangun dan berlari memeluknya. Aku memeluknya begitu erat. Hingga aku merasakan, Emil begitu sulit bernafas. Aku tak peduli! Sekarang aku sedang bahagia! Yang penting bagiku adalah Emil!
Ia kembali lagi padaku!!
Aku sadar, Emil risih dengan pelukanku. Tapi aku tak menghiraukan nya. Bagiku, jika ia sudah ada dalam genggaman ku, tidak akan kulepas lagi.
Akan ku pegang erat tangannya, agar ia tidak kembali lagi pada gadis itu. Aku sangat tidak menyukai nya.
Aku benci padanya!!
__ADS_1
Andai saja ia ada disini, akan kutunjukkan padanya, bahwa Emil lebih memilihku dibanding dirinya.
Tak disangka, aku melihat sekelabat bayangan mirip dengan nya. Dan setelah ku perhatikan, benar! Itu adalah Alisa.
Pucuk dicinta ulampun tiba.
Kebetulan sekali perempuan itu ada disini. Sekalian saja ku tunjukkan padanya, bahwa Emil adalah milikku! Bukan miliknya!
Aku begitu senang melihat nya menderita. Entah kenapa, semenjak kedatangan Emil, perempuan itu selalu saja merebut perhatian Emil dariku.
Sungguh aku sangat muak melihat wajahnya. Ini kesempatan bagus untukku! Waktunya beraksi! Mumpung Emil tidak menyadari kehadiran perempuan itu.
Aku semakin memeluk Emil dengan erat. Hingga ia kesulitan bernafas. Aku tersenyum sinis pada gadis itu. Ia menatap kami dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Aku tertawa dalam hati. Sangat senang melihat wajah piasnya itu. Aku menunjuk jari tengahku padanya, pertanda ia cemen! Tak bisa berbuat apapun. Karena Emil lebih memilih ku dibanding dirinya.
Aku melihat, ia berbalik dan meninggalkan kami berdua disana. Pasti saat ini ia sedang menangis! Haha.. kejam sih.. tapi aku sangat senang sudah membuatnya terluka hari ini.
Yes! Dia pergi dengan membawa luka lara dihatinya! Rasain Lu.. Ross dilawan! huh!
Setelah gadis itu pergi, aku melepas pelukan ku dari Emil. Ia masih shock dengan perlakuan ku tadi. Wajahnya masih kentara sekali terlihat. Ia begitu terkejut dengan tingkahku.
Biarlah dia menganggap ku tak tau malu. Aku tak peduli! Yang penting sekarang , aku senang sudah membuat luka untuk wanita lain selain diriku. Wanita pilihanmu!
Aku tak mau cintaku bertepuk sebelah tangan. Maka dari itu aku sengaja melakukan hal ini. Tak disangka perjuanganku akhirnya tidak sia-sia !
Good job Ross.. kamu terbaik..!
Aku memandang Emil yang juga memandangku. Aku terhanyut oleh rasa. Dekapan yang tadi terlepas, kini erat kembali.
Perlahan tapi pasti aku mendekati wajahnya. Hembusan nafasnya terasa di wajahku. Begitu harum.. wangi khas seorang pria.
Bibir itu.. sangat menggoda. Bolehkah kiranya aku mencicipi sedikit saja? Aku sangat penasaran dengan bibir tebal itu. Sungguh memikat!
Aku berjinjit sedikit, perlahan tapi pasti aku ingin mengecup bibir yang begitu menggodaku. Sedikit lagi hampir sampai, tiba tiba saja Emil menolehkan wajahnya kesamping. Jadilah aku hanya mencium pipinya saja.
Aku terkejut. Kupikir ia akan dengan senang hati memberikan ciuman pertama kami? Rupanya ia menghindar! Aku kecewa.
Wajah yang tadi ceria berubah sendu dengan seketika.
Aku melihat Emil menatapku tajam. Setajam silet yang akan menggores hatiku. Ia melepas paksa pelukanku.
Aku tersentak.
__ADS_1
Ia mengusap wajahnya kasar. Ia juga menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar. Aku termenung melihatnya. Apa ada yang salah? Apakah aku salah menilai jika Emil juga menyukaiku?
Apa aku terlalu pede menyebutnya sebagai jodohku? Ini aneh! Kenapa sikapnya berbanding terbalik dengan perkataan nya.
Apakah aku terlalu memaksakan kehendak ku padanya? Hingga ia menjauh?
Baiklah.. jika itu yang ia mau, aku akan berubah lebih baik lagi. Aku kembali merengkuh tangan besarnya, tapi ia menepis ku. Kami sama sama terdiam, tanpa sepatah katapun.
Aku berusaha membujuknya dengan perbuatan ku, tapi tetap saja ia menolak.
Apa salah ku padanya? Mengapa seakan aku ini begitu hina dimatanya? Mengapa dia jadi berubah?
Baru aja kami berbaikan. Bahkan ia memelukku dan juga mengelus punggung ku dengan lembut. Tapi sekarang mengapa terasa berbeda?
Apakah ada yang terlewat?
Aku termenung, terdiam tanpa suara. Hingga pada akhirnya ia mengucapkan satu kata yang begitu menyakiti hati ku.
'' Kamu benar benar gadis tak punya malu Ross! Dengan sengaja kamu ingin menciumku? hah! Dasar gadis tak tau malu!! Dimana harga dirimu hah??'' ia mengusap wajahnya kasar.
Aku mematung. Tanpa dirasa air mataku meleleh, menetes membasahi pipiku. Tak kusangka Emil tega mengucapkan kata seperti itu padaku.
Sungguh sangat sakit terasa. Luka yang belum kering kini disiram lagi dengan air garam. Perih.. dan sakit diwaktu yang bersamaan.
Mengapa dimatanya aku begitu hina? Apakah salah jika aku ingin menciumnya? Apakah aku terlalu buru buru menyimpulkan jika Emil memilihku, bukan gadis itu?
Jika memang ia memilih gadis itu? Lantas mengapa ia datang padaku disaat aku sedang terpuruk? Seolah ia kembali untuk mengobati luka hatiku.
Apa sebenarnya yang ada dalam pikiran mu??
Apa sebenarnya yang kamu inginkan Emil??
Mengapa aku merasa, jika kamu menghindari ku?
Apa yang ingin kamu katakan padaku?
Mengapa rasanya aku tak rela jika kamu lebih memilihnya dibanding diriku??
Ada apa sebenarnya??
POV END.
💟💟💟💟
__ADS_1
See you again..