
Setelah aku bertemu dengan bang Emil di toko kak Ros, aku pulang dan berniat ingin memberikan makanan pada bang Emil. Lama aku menunggunya tapi kunjung datang. Karena aku sedang bahagia jadi aku ingin menyusulnya ke toko kak Ros.
Tapi alangkah terkejutnya aku ketika melihat bahwa bang Emil dan kak Ros sedang duduk berdua. Mereka terlihat sangat akrab dan begitu mesra dengan kak Ros tersenyum manis dan bang Emil membalas dengan senyuman tak kalah manis pula, membuat hatiku panas seperti terbakar!
Ada rasa tak rela melihat bang Emil dengan Kak Ros.. seperti itu hatiku sakit melihat keakraban mereka. Tapi setelah aku berfikir, siapakah aku ini yang lancang akan marah padanya sedang aku dan dirinya tidak memiliki hubungan apa apa, hanya sekedar baru rasa suka belum lanjut ketahap yang serius.
Ku pandangi mereka berdua dari kejauhan, aku melihat kak Ros begitu manja pada bang Emil seakan akan mereka adalah pasangan. Tapi tunggu dulu.. mungkinkah bang Emil menyerah hingga memilih Kaka Ros sebagai pengganti ku?? Tapi mengapa ia tak mengatakannya?? Padahal katanya ia ingin berjuang untuk meluluhkan hati ku.. tapi mana buktinya?? Omong kosong!!
Rasa sakit ini terus bertambah setelah melihat, kalau kak Ros memegang tangan bang Emil. Sedang bang Emil hanya diam saja, ia tak menolaknya bahkan seperti menikmatinya.
Apakah sampai disini saja perjuangan mu Bang..??
Mana janjimu yang mengatakan kalau kamu akan lebih giat lagi meluluhkan hatiku??
Semuanya omong kosong belaka!
Berjanji tapi tak bisa menepati!!
Tak terasa buliran bening mengalir di pipiku.
rasanya sakit sekali melihatnya berdua dengan orang lain. Hancur sudah harapan ku! Baru saja aku ingin memulai.. tapi sudah kalah sebelum berjuang.
Mataku tetap memandang kedepan sana, dimana seorang pria dan wanita sedang bertatap mesra. Sungguh sakit hati ini, tapi apalah dayaku karena aku bukan siapa siapa dirinya.
Aku meremas bekal makanan yang ada di tanganku hingga buku-buku di tanganku memutih. Sejenak aku tertunduk, meratapi nasibku ini. Aku berusaha untuk tegar!
__ADS_1
Saat aku mendongak, aku melihat bang Emil berjalan perlahan sambil menunduk. Dan ketika hampir tiba ditikungan jalan ia mendongak, bertepatan dengan kakinya berhenti untuk melangkah.
Ia terkejut melihatku berdiri disana dengan bekal makanan ditangan ku. Ia berjalan perlahan menuju ketempat dimana aku berdiri mematung. Ia mendekati ku yang sedang menatap nya dengan datar.
Aku sedang berusaha meyakinkan hatiku jika bang Emil bukanlah jodohku. Tetapi jodoh orang lain.
Saat sudah berada di dekatku, ia memanggilku dengan panggilan sayangnya. Ah mana mungkin aku yang disayangi oleh nya. Mungkin memang sudah seperti itu tuturannya karena aku lebih muda darinya.
Kamu jangan ge'er Lis ...
Bang Emil tersenyum padaku, sedang aku membalasnya dengan datar. Lama ia terdiam hingga bang menegur ku.
'' Dek...'' panggilnya tetapi aku tetap diam
Heh mau tau saja dia tentangku..! Aku menjawab pertanyaan nya tapi tetap sama datar.
'' Ya.. ini bekal buat Abang.. aku sendiri yang membuat nya. Niat hati ingin memberikan langsung pada orangnya.. tapi orangnya lagi sibuk! terpaksa aku menunggu disini.'' ucapku jutek
Kutatap raut wajahnya, yang tadi tersenyum kini berubah jadi terkejut. Tapi dengan cepat ia merubah raut wajahnya menjadi normal kembali.
Bang Emil tersenyum.
''Oh iya kah? Berarti bekal ini buat Abang??'' tanyanya sedang aku hanya mengangguk
Ia tersenyum manis padaku sama seperti ia tersenyum kepada kak Ros membuat aku muak! Tapi aku tetap mencoba bisa biasa saja.
__ADS_1
'' Terimakasih dek.. sudah mau meluangkan waktu untuk masak makanan ini untuk Abang.. terimakasih ya..??'' ucapnya senang sekali.
Aku sudah tak tahan berlama lama dengan nya. Aku ingin segera pergi tapi sebelum pergi aku ingin mengatakan sesuatu padanya. Aku berbalik dan berjalan tapi belum jauh bang Emil memanggilku lagi sepertinya ia paham mengapa aku bersikap jutek padanya.
''Dek... tunggu sebentar ada yang mau Abang jelaskan.. itu semua tidak seperti yang kamu lihat! Abang nggak ada apa sama Ros..''
Aku berhenti dan berbalik.
''Aku nggak butuh penjelasan apapun dari Abang.. memangnya aku ini siapa Abang?? Kita nggak punya hubungan apa apa hanya sekedar saling sapa saja. Dan.. jika memang bang Emil berniat ingin melanjutkan hubungan itu dengan kak Ros.. silahkan! Aku tak akan melarang nya. Lagipula aku tak sedekat itu dengan Abang.. hingga Abang ingin menjelaskan nya padaku. Dan ya.. aku akan mengembalikan selendang itu kepada Abang.. akan kuberikan jawabannya. Hari Minggu aku tugas sekolah diluar jadi ketemuannya disana aja, nanti kuberitahu dimana tempatnya.'' aku berbalik menahan rasa sesak di dadaku.
Dan tak kusangka dia mencekal tanganku.
''Dek.. bukan seperti itu.. Abang hanya ingin menjelaskan padanya kalau-
Aku memotong omongannya dengan ucapanku hingga ia melepaskan tangannya dariku.
''Siapa aku untukmu bang Emil.. jika kamu memang menginginkan bersamanya kenapa kamu selalu mengganggu ku?? Apakah akunini cuma sebatas permainanmu saja? Dan setelah kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan, kamu akan membuang ku begitu??
Tega kamu bang..! aku juga seorang wanita apa bedanya aku dan dia?? tapi kamu melakukan itu seolah olah aku ini adalah pelampiasan mu Karna kamu ditolak sama dia.. Jahat kamu bang!!
Mulai sekarang aku akan merelakan mu.. tinggalkan aku.. pergilah dengannya.. bukankah dia yang Abang inginkan?? Semoga kamu berbahagia bang..''
Ia melepaskan cekalan tangannya dariku dan setelah mengucapkan itu aku berlari, aku tak mendengar lagi apa yang ia katakan. Hatiku terlanjur sakit melihatnya berdua seperti itu. Biarlah semua ini menjadi kenangan antara aku dan dirinya.
~Selamat tinggal bang.. semoga kamu bahagia dengannya..~
__ADS_1