
Seseorang mengintip dari sebalik pintu kamar mandi. Ia sengaja berdiam diri disana. Karena ingin tau apa yang akan dilakukan oleh putra semata wayangnya itu.
''Wuaahh.. rendang jengkol! Aseeeekkk.. kita ambil mangkuk dulu deh!'' ucapnya sembari berlalu mengambil tiga buah mangkuk.
''Yang pertama untuk Ayah, yang kedua untuk Mak sama kakak, yang ketiga untukku! Hihihi.. jengkol euyyy! Aseeeekkk.. Mak tau aja kalau aku sukanya rendang jengkol plus ikan asin! hihihi..'' ucapnya lagi sembari cekikikan.
Emil yang mengintip Lana dari sebalik pintu kamar mandi terkekeh. ''Semoga kamu bisa menjadi anak yang berbakti terhadap kedua orang tua mu, Nak..''
Saat sedang asyik-asyiknya menyiduk nasi dengan rendang jengkol, Lana terkejut karena suara Alisa yang mengagetkan nya hingga Lana terjingkat kaget.
''Loh? Ayah mana?''
''Astaghfirullah jengkol sedap ikan asin enak!!''
''Eh? Kamu kenapa Bang??'' terkejut Alisa karena mendengar suara Lana seperti itu.
''Ck! Mak sih ngagetin aja! Untung nih jengkol nggak terbang tadi! Jika terbang, otomatis Mak yang kena timpuk jengkol! Ishh...'' sahut Lana dengan sedikit gerutuan nya.
Lagi, Emil terkekeh dari sebalik pintu kamar mandi. Sedangkan Alisa melongo mendengar perkataan putra nya itu.
''Lah... Mak kan nanya, Bang! Ayah mana? Gitu loh..'' sahut Alisa, sembari celingukan mencari Emil.
Emil masih terkekeh dibalik pintu kamar mandi. Sudah dirasa cukup melihat putra nya itu ia keluar dari persembunyiannya.
''Loh?'' tunjuk Alisa pada Emil.
''Ada apa??'' tanya Emil pura-pura bingung.
''Sedari tadi Ayah di kamar mandi??''
''Ya! Emang Kenapa??'' tanya Emil lagi masih pura-pura bingung.
''Ck! Mak kirain Ayah udah pergi tadi. Mau berangkat lagi kah siang ini??'' tanya Alisa lagi, sembari duduk di kursi di sebelah Lana.
__ADS_1
Emil pun ikut duduk juga. Walau masih dengan handuk membalut separuh tubuhnya. ''Ya, siang ini pergi lagi. Tapi pulang nya tiga bulan lagi. Kamu tak apa kan Ayah tinggal??'' tanya Emil balik, sembari tangan itu terus menyiduk nasi dan rendang jengkol nya.
''Tak apa Yah.. lagipun kan ada Abang sama Kakak yang akan temani mak? Iyakan Bang??''
''Hooh!'' sahut Lana masih dengan mulut penuh makanan.
''Ya sudah, seperti biasa ya, tiap Minggu Abang kirim uang untuk keperluan mu dan anak-anak.'' ucap Emil kemudian.
''Ya,'' sahut Alisa tanpa menoleh pada Emil yang terus saja menatap nya.
Lana yang tau hanya diam. 'Jika sampai Ayah melakukan hal yang sama lagi sama Mak, maka aku akan memaksa Mak pergi dari rumah ini! Satu lagi, jika nenek kembali berulah dan Ayah menyalahkan Mak, maka jangan harap aku akan memaafkan kelakuan Ayah!' gumam Lana dalam hati sembari terus mengunyah, tetapi mata nya awas melihat Emil yang terus menatap Alisa.
Dua Minggu berlalu.
Hari ini Alisa sedang menyapu dihalaman rumahnya, saat tiba-tiba datang seorang ibu-ibu yang langsung melabrak Alisa dengan tuduhan hutang.
''Hei Alisa!!'' panggil nya
''Bayar hutang-hutang mu!! Sudah dua bulan kamu tidak bayar! Ini sudah masuk temponya! Kalau mau berhutang itu di pikir dulu! Jangan asal minjam tapi tak tau bayar!'' ketus ibu-ibu itu.
Sedang Alisa terkejut. Kapan pula ia berhutang sama Ibu-ibu ini. Pikirnya. ''Maaf ya Buk, saya tidak pernah merasa berhutang sama ibuk? Kapan saya hutang nya?? Dan untuk apa??'' tanya Alisa balik pada ibu-ibu itu.
''Ya mana saya tau! Yang jelas sudah dua bulan ini kamu tidak membayar cicilannya! Saya sudah dituntut oleh pihak Bank! Terpaksa saya harus nutupin pakai uang saya! Dan sekarang, kamu harus bayar uang itu! Saya nggak mau tau! Saya maunya sekarang juga!'' tegas ibu-ibu itu lagi.
''Jika memang saya berhutang di Bank, mana buktinya?? Saya ingin lihat!'' tegas Alisa, ia harus bersikap tegas dengan ibu-ibu ini.
''Ck! Sudah saya duga! Berani berhutang tapi tidak berani bertanggung jawab! Cih! Noh, kamu baca!'' katanya pada Alisa, sambil menyerahkan sebuah bukti pinjaman yang sah dari Bank untuk para nasabah nya.
Alisa mengambil kertas itu dan membacanya. ''Astaghfirullah al'adhim... Mak?? Kenapa jadi aku yang ditulis disini sebagai pembayar nya? Sedang beliau yang mengambil nya?? Jadi selama ini...''
''Sudah tau kamu siapa yang meminjam dan siapa yang membayar?? Bayar sekarang juga! Atau apapun yang ada dirumah mu akan saya sita! mana suami mu? Biar saya yang akan bicara padanya!'' ucap ibu-ibu itu, ia berjalan kerumah Alisa dan berdiri tepat di depan seorang anak kecil yang sedang mencoba menghalanginya.
''Mana Ayah mu??''
__ADS_1
''Ayah nggak ada! Ayah lagi kerja! Jika nenek ingin nagih hutang sama Mak ku? Nenek salah! Seharusnya yang nenek tagih itu nenek Rima! Selama ini nenek kan yang mengambil hutang di Bank?? Dan asal nenek tau, selama ini Mak ku yang membayar hutang itu untuk kalian. Aku heran sama kalian berdua? Masa udah setahun hutang itu tidak lunas-lunas?? Bukan kah dalam perjanjian itu cuma setahun? Apakah kalian sengaja menipu Mak ku hah?!'' sentak Lana.
Ibu-ibu itu terkejut dengan ucapan Lana. Begitu juga dengan Alisa. ''Abang! tidak boleh berbicara seperti itu, Nak! Beliau orang tua.. yang sopan sedikit.'' tegur Alisa pada putranya itu.
''Biarkan saja Mak! Abang udah tau jika selama ini mereka-''
''Saya tidak mau tau! Yang jelas saya minta uang nya sekarang juga! Kalau tidak? Saya akan melapor kan hal ini ke polisi!'' ancam ibu-ibu itu.
Alisa yang mendengar nya terkejut. ''Oke! Tunggu saya ambilkan dulu uang nya!'' sahut Alisa dengan berlari sedikit masuk kedalam rumahnya.
''Mak!!!''
''Tak apa Nak.. biar Mak tanggung hutang nenek mu itu. Jangan beri tahu Ayah ya?? Kasian nenek sudah tua? Ya sayang?? Mak mohon...'' pinta Alisa dengan wajah sendu nya.
Lana hanya bisa pasrah jika Alisa sudah memintanya. ''Oke. Tapi jika suatu saat Mak tau akan kebenaran ini, Mak jangan salahkan Abang! Kenapa Abang tidak mau mengatakan nya sama Mak! Ingat Mak! Serapat-rapat nya menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga! Begitu juga dengan nenek!'' tunjuk Lana pada wanita belum paruh baya itu.
''Sekarang nenek bisa bekerja sama dengan orang itu untuk menguras harta Mak ku! Tapi ingatlah ini! Suatu saat aku akan kembali dan mengambil apa yang menjadi hak Mak ku! Ingat itu! Hukum tabur tuai berlaku di dunia ini! Aku mengalah karena Mak ku! Jika tidak, aku sudah membongkar semua rahasia kebusukan kalian berdua! Semua bukti sudah ada di tangan ku! Sebentar lagi! Tunggu sebentar lagi!'' ucap Lana, setelah itu ia berlalu pergi meninggalkan Alisa yang berdiri mematung di depan pintu dengan tangan memegang uang untuk membayar hutang nya pada ibu-ibu itu.
💕
Hayoo.. apa yang di ketahui oleh Abang Lana??
Bisa ke tebak??
Jawabannya nanti ada di cerita sebelah ya!
Cerita ini sebentar lagi end!
Jadi pentengin terus!
Kawasan rawan konflik menuju akhir!
TBC
__ADS_1