Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Cibiran Kak Ross


__ADS_3

Setelah malam Minggu kemarin mereka bertemu, Alisa dan Emil tidak bertemu lagi. Hari ini Alisa ada kegiatan di sekolah, yang mengharuskan dirinya hadir disana sebagai panitia.


Sekolah mereka mengadakan acara lomba MTQ(Musabaqoh Tilawatil Qur'an) tingkat Madrasah Aliyah dan SMA.


Semua sekolah tetangga disekitar nya diundang oleh sekolah mereka. Sengaja mereka mengadakan acara ini, karena sebentar lagi mereka akan menyambut bulannya Al-Qur'an.


Walaupun sebentar lagi mereka akan ujian akhir, tapi mereka tetap semangat mengikuti acara ini.


Biasanya acara ini, Desa atau kabupaten, serta provinsi juga ikut andil dalam merayakan bulannya Al-Qur'an.


Alisa yang diutus sebagai panitia, sangat sibuk. Ia kesana kemari untuk melihat semua kesiapan perlombaan tersebut yang akan diadakan pada esok hari.


Acara ini hanya seminggu saja. Karena seminggu kedepannya mereka akan mengadakan ujian tryout, sebelum ujian nasional.


Alisa begitu kelelahan, ia sangat capek. Ingin rasanya mundur, tapi itu tidak mungkin. Karena wakil OSIS, sudah memberikan amanah ini untuknya.


Ia dipercaya untuk mengawasi semua kesiapan acara untuk lomba Musabaqoh Tilawatil Qur'an.


OSIS...


Alisa teringat seseorang yang selama ini selalu menghantui pikiran nya. Sudah berapa hari ini, ia begitu gelisah mengingat pemuda itu. Jauh sebelum pertemuan nya dengan Emil malam Minggu kemarin.


Alisa menghela nafasnya.


Kak Madan..


Andai lelaki itu disana, pastilah ia tidak akan kerepotan seperti ini. Sungguh! Ia begitu merindukan pemuda itu.


Kadang terlihat plin-plan. Tapi inilah hatinya. Jauh sebelum ia bertemu dengan Emil, ia sudah terlebih dahulu dilamar oleh Madan.


Hanya saja waktu itu, hatinya tak menerima kehadiran Madan walau sedikit. Ia takut kecewa. Karena yang ia tau, jika Madan pemuda yang begitu digilai di sekolahnya.


Andai waktu bisa diputar, ia ingin Madan disana menemaninya. Begitu sulit ia melakukan hal ini sendiri.


Jika ada pemuda itu, pekerjaan itu terdapat lebih ringan. Andai dia disini...


Alisa memejamkan matanya sejenak, untuk menetralisir rasa sesak dihatinya mengingat tentang kebersamaan nya dengan Madan, sebelum ia pergi untuk menuntut ilmu di kota seberang.


Tidak jauh, namun menyisakan rasa rindu yang mendalam untuk pemuda itu.

__ADS_1


Entahlah! Alisa jadi bingung sendiri dengan perasaannya itu.


Setelah istirahat sejenak, Alisa melanjutkan kembali pekerjaan nya yang tertunda. Sejenak ia menghela nafasnya dalam.


Walaupun berat tetap ia jalani juga.


****


Jam pulang sekolah pun tiba. Seluruh murid berhamburan keluar kelas. Saling mendahului ingin cepat pulang.


Alisa seperti biasa pulang dengan sepeda mininya. Ia tetap mengayuh sepedanya walaupun sangat letih yang ia rasa.


Ia mengayuh ya dengan lambat, karena tenaganya sudah terkuras habis untuk pekerjaan di sekolahnya tadi.


Setengah jam kemudian, ia tiba diperempatan jalan kerumahnya. Waktu tempuh hanya 15 menit, kini menjadi setengah jam. Waktu yang sangat lama menurut Alisa.


Tapi tak apa, semua itu terbayar dengan lunas ketika melihat hasil kerjanya yang memuaskan.


Sesampainya di tikungan perempatan toko kak Ross, ia berhenti. Karena melihat Mama nya sedang membeli sesuatu disana.


Melihat itu Alisa tersenyum. Ia turun dari sepedanya dan mendekati Mama Alina disana.


Mama Alina yang mendengar suara Alisa pun menoleh. Ia tersenyum hangat pada putrinya itu.


'' Wa'alaikum salam, Lis! kamu sudah pulang? Kok lama? Ini udah lewat dari jam biasanya loh.'' balas Mama Alina.


Ia mencecar Alisa dengan pertanyaan nya, membuat seseorang disana menatapnya dengan senyum remeh dibibir nya.


'' Gimana nggak lama pulangnya.. kan ketemuan dulu noh dipojokan jalan?! Ya kan Lis?? Maklumlah Bu Alina.. kan masih anget angetnya!'' cibir kak Ross.


Membuat senyum mama Alina dan Alisa luntur seketika.


Mereka menatap aneh pada kak Ross yang telah mencibir Alisa.


Mama Alina melihat Alisa, bertanya ada apa? melalui sorot matanya. Sedang Alisa hanya menggeleng seraya tersenyum kaku pertanda tidak ada apa-apa.


'' Ya sudah, Mama mau pulang ayo!'' ajaknya pada Alisa.


Kak Ross tersenyum sinis menatap Alisa. Ia sudah menebak ucapannya itu akan menjadi kemarahan untuk Alisa.

__ADS_1


Karena ia tau sendiri seperti apa Mama Alina. Alisa menatap Mama Alina yang juga menatapnya.


''Mama duluan aja! Alisa mau beli minuman seger dulu! Karena disekolah tadi nggak sempat minum! jadi haus.. Mama duluan aja ya nanti Alisa nyusul.'' ujarnya, membuat mama Alina mengangguk.


''Baiklah.'' Mama Alina pun pergi setelah membayar belanjaannya.


''Minuman ini satu kak!'' ucapnya tetap ramah pada kak Ross.


Walaupun wanita itu sering kali menyindir nya, ia tak peduli. Baginya ia anggap hanya angin lalu.


Bukankah dari Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa,


Jika ada kata-kata yang datang melukaimu, maka lewatilah! Agar hatimu tidak merasakan lelah. Dari Ali bin Abi Thalib.


Jika ada seseorang yang menyakiti kita dengan perkataan nya, maka anggaplah ia angin lalu. Dan jika kita masukkan kehati yang ada akan menimbulkan kerusakan dihati kita. Begitulah nasihat dari sahabat Nabi kita.


Wallahu alam.


'' Ya iyalah kamu diam! bukankah yang aku katakan barusan benar adanya?! Lis! jangan terlalu murah menjadi perempuan! yang mahal dikit dong..! kalau ketemuan tuh dirumah! jangan dijalan! dipojokan pula!'' cibirnya, membuat Alisa tersenyum.


Baginya kata kata kak Ross ini sudah menuduh! tapi ia tak peduli itu! toh kenyataan nya tidak seperti yang ia katakan.


Alisa tersenyum.


''Terimakasih kak nasehatnya! akan selalu saya ingat! bukankah sesama muslim harus saling mengingatkan! bukannya menggurui? benarkan kak ross??'' tanya nya.


Kak Ross terkejut, ia merasa tersindir dengan jawaban Alisa. Raut wajahnya berubah menjadi masam.


Alisa tau itu. Dan dia hanya tersenyum saja. Ia bukan menyindir, tapi mengingatkan. Jika kak Ross salah paham, itu mah terserah dia atuh..


Kita tak bisa memaksa orang untuk menerima semua ucapan kita. Kalau dipaksakan yang ada nanti nya malah bertengkar. Seperti Alisa sekarang.


'' Ini uangnya kak! saya permisi mau pulang dan istirahat!'' ujarnya sambil berlalu meninggalkan kak Ross yang kesal sendiri karena jawaban Alisa tadi menurutnya menyindir dirinya.


Entahlah!


Rambut sama hitam! Tapi hati siapa yang tau??


💕

__ADS_1


TBC


__ADS_2