Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Dirumah sakit


__ADS_3

Mama Alina yang baru saja sadarkan diri dari pingsan terbangun, sesaat dia terdiam setelah ia ingat ia berlari keluar keruang UGD ditempat dimana Alisa sedang dirawat.


Saat ini Alisa sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


Alisa masih belum sadarkan diri, jarum infus masih menancap ditangan kirinya. Wajahnya pucat pasi dengan perban dikepalanya.


Pak yoga yang melihat Mama Alina berlari keruang UGD menghentikannya.


'' Mama mau kemana??''


'' Alisa? Alisa mana pa??''


'' Tenang dulu Ma.. Alisa udah melewati masa kritisnya dan sekarang sudah dipindahkan keruang perawatan.''


'' Alhamdulillah ya Allah..'' Mama Alina bernafas lega


Dikejauhan sana ada seorang pemuda memakai seragam yang sama dengan Alisa. Ia berdiri menyenderkan punggungnya ke dinding dengan kepala menengadah keatas.


Mama Alina yang melihatnya mendatangi pemuda tersebut. Mama Alina menepuk bahunya, ia terjingkat kaget saat tau kalau itu mama Alina ia jadi salah tingkah.


'' Kamu teman sekelas nya Alisa ?? tanya Mama Alina


'' Iya Bu.. saya teman sekelasnya kebetulan ketika kecelakaan itu saya disana melihatnya..''

__ADS_1


'' Beruntung kamu disana.. jika tidak...'' Mama Alina menghentikan omongannya lehernya terasa tercekat


'' Alhamdulillah Bu.. Alisa masih diizinkan Allah untuk hidup.. kalau tidak pun saya akan merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan nya..'' Mama Alina diam mendengar perkataan Hendra


'' Siapa nama mu nak..??''


'' Nama saya Hendra Bu.. saya tinggal tidak jauh dari sini.. cuma lima belas menit aja naik motor udah Sampai.''


'' Terimakasih nak... karena kamu sudah membawa Alisa tepat waktu.. terimakasih.. rasanya beribu terima kasih pun tak akan cukup..''


Pak Yoga datang menghampiri mereka berdua.


'' Sebaiknya nak Hendra pulang dulu kerumah, nanti orang tua nak Hendra jadi khawatir..''


'' Untuk masalah itu bapak gak usah khawatir, Hendra udah mengabari kalau Hendra sedang dirumah sakit menolong Alisa..''


Hendra yang mendengar pun membenarkan perkataan pak Yoga sesaat dia berpikir ia harus pulang dulu besok saat pulang sekolah ia akan mampir kesini lagi.


Hendra berpamitan pada pak Yoga dan Mama Alina, ia berjalan sambil melamun kan siapa kiranya orang yang sudah mendonorkan darah untuk Alisa. Saat sedang melamun kan Alisa tak sengaja ia menabrak seorang pria dirinya hampir terjungkal kalau si pria tak menangkapnya pastilah ia sudah mencium lantai.


'' Maaf bang saya gak sengaja..'' ucap Hendra sambil memangku kedua tangannya di dada.


'' Iya gak papa kok.. lain kali kalau jalan jangan melamun ya??''

__ADS_1


'' Iya bang sekali lagi terima kasih..''


'' Ya..'' sahut pria itu Hendra hanya memperhatikan saja setiap gerak geriknya hingga matanya tertuju ke tangan disebelah kiri dengan perban kecil yang menempel di tangannya.


Tangan itu seperti baru saja habis diambil darahnya.. apakah orang ini pemuda itu??


Hendra diam terpaku. Saat ia tersadar ia melihat pria tadi sudah meninggalkan rumah sakit pergi dengan mengendarai motornya.


Hendra berlari mengejarnya tapi sayang terlambat pria itu sudah keburu pergi.


Hendra jadi berpikiran bahwa pria itulah yang telah mendonorkan darah nya untuk Alisa.


Sial!!


Terlambat ia untuk tau siapa pemuda itu. Dan siapa namanya.


Dan juga ia ingin tau ada hubungan apa pria itu dan Alisa hingga ia tak berani menemui orang tua Alisa hanya sepucuk surat saja sebagai pengganti dirinya.


*Si**apa dia sebenarnya*...


💟💟💟💟


Selamat membaca..

__ADS_1


Semoga kalian syyuukkaaa..


🤗🤗🤗😉😉


__ADS_2