Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Pamit


__ADS_3

''Mak.. Abang nggak mau ikut Papa! Disana tuh nggak enak! Adik tiri Abang semuanya pada judes dan galak!''


''Tama!!'' seru Mama Linda.


Alisa terkekeh. ''Sebaiknya Abang pulang ya? Mak tak apa kok. Adek kan udah lahir.. jadi Abang bisa kembali ikut Papa tinggal disana.''


Tama kesal. ''Kenapa sih Mak nyuruh Abang tinggal dengan keluarga tidak harmonis itu?? Malas Mak, tinggal disana! Anak Papa yang lain nya nggak suka sama Abang! Abang malas Mak! Mending disini, ada adek Annisa! Kalau Abang pergi, siapa dong yang bakalan anterin Mak ke klinik lagi, kalau adek demam?''


''Hus! Doa nya kok nggak baik amat sih Tama!'' tegur Mama Linda


Alisa tertawa pelan. Saat ini hari sudah malam. Baru saja mereka menunaikan sholat Maghrib berjamaah dirumah Alisa yang sempit.


''Papa sengaja membawa mu kesana, agar ada yang menemani Papa saat bekerja, Nak.. kamu kan tau jika Papa tidak percaya kepada siapapun termasuk ketiga saudara mu itu. Apalagi Mama Kinanti. Papa lebih percaya dengan Mama Linda dibanding dengan nya. Oleh karena itu, Papa sengaja ingin membawa mu kesana. Lagipun, Papa sering sakit-sakitan selama ini.. jadi Papa mohon.. kamu ikut Papa malam ini ya? Supir Papa udah nunggu kita diluar.''


Tama menghela nafas berat. Ia mendekati Alisa dan tidur di pangkuan nya. ''Abang mau bicara sebentar sama, Mak. Bolehkan? Hanya berdua saja.'' Lirih Tama dan membenamkan wajah ya di perut Alisa.


Kini tangan pemuda labil itu sudah memeluk Alisa dengan erat. Alisa tersenyum. ''Mak bau obat loh Bang.. kamu nggak jijik??'' tanya Alisa.


Tama menggeleng. ''Apapun yang ada sama Mak, Abang tidak pernah jijik ataupun bosan. Bagi Abang, Mak Alisa adalah Mak kedua bagi Abang setelah Mama Linda yang melahirkan Abang..'' sahut Tama begitu lirih terdengar di telinga Alisa.


Kedua orang tua Tama segera pamit dan menunggu Tama diluar. ''Kalau begitu, kita pamit ya Lis. Kalau ada apa-apa dengan hubungan mu dan bang Emil sialan itu! Segera kabari aku, atau pun Tama! Dengan segera kami akan menyusul mu! Kami pulang sayang, Assalamualaikum.. jaga diri baik-baik dan ketiga anakku itu.'' Ucap Linda setelah itu ia cium pipi kiri dan kanan Alisa, mereka keluar dari rumah itu.


Dan menunggu Tama di dalam mobil mereka. Sedangkan Tama, masih betah memeluk perut Alisa.


Tubuhnya berguncang. Alisa tau. Ia mengusap Surai hitam milik Tama dengan lembut.


''Sayang.. Abang.. dengarkan Mak, Nak?''


Tama semakin tersedu. ''Hiks.. Abang nggak mau pulang ikut Papa! Abang mau disini aja sama Mak! Abang mau disini! Tolong Mak.. bilangin Papa! Abang nggak mau ikut! Hiks.. Abang nggak mau! Abang nggak mau tinggalin Mak disini sama ayah Emil! Ayah jahat Mak!'' seru Tama semakin tersedu.

__ADS_1


Alisa tersenyum lagi. ''Nak.. dengarkan Mak ya? Sekarang Abang kan sudah besar. Sudah kelas tiga SMP. Sebentar lagi mau masuk SMA. Jadi tanggung jawab Abang itu semakin besar. Lebih baik belajar sejak dini, agar nanti Abang tidak terkejut lagi saat sudah besar. Abang putra tunggal sayang.. sama seperti Lana. Jadi Abang lah yang harus bertanggung jawab kepada adik-adik Abang nantinya.''


''Tapi Abang nggak mau tinggal disana Mak.. Abang maunya disini! Sama Mak dan juga ketiga adik Abang! Disana Abang sendiri nggak punya teman! Abang nggak mau...'' lirih agama lagi sambil terus terisak.


Baju gamis Alisa sudah basah karena air mata Tama. ''Abang kapan pun bisa kok datang kesini. Kapan pun Abang mau, Abang bisa datang. Pintu rumah ini selalu terbuka dengan lebar untuk putra sulung Mak ini. Tapi.. Abang harus ngomong dulu sama Papa kalau mau kesini, agar mereka berdua tidak kebingungan mencari Abang. Hidup kita terus berlanjut Nak.. Suka tidak suka, mau tidak mau kita tetap harus mengikuti nya. Bukankah ini takdir Abang? Abang terlahir dari darah seorang bangsawan sayang.. banyak tanggung jawab yang harus Abang pikul sejak dini. Belajarlah! Belajarlah dengan baik disana. Buktikan kepada Papa dan keluarga baru Papa Abang, kalau Abang bisa di andalkan!''


Tama mendongak melihat Alisa. Alisa tersenyum lembut. Cup!


Tama memejamkan kedua matanya untuk meresapi kasih sayang yang Alisa berikan untuknya.


''Abang harus kuat! Abang harus bisa melawan mereka! Apakah Abang tidak ingin tau, mengapa Papa Fabian sakit-sakitan?''


Deg!


''Maksudnya?''


Bahunya berguncang. Alisa menangis. Ia pun sama seperti Tama. Berat rasanya melepaskan putra angkat nya itu.


''Hiks.. Abang nggak mau pulang, Mak.. Abang mau disini sama Mak.. Boleh ya Mak? Hiks..''


''Abang harus pergi Nak.. mereka orang tua Abang. Abang mau di cap anak durhaka? Selamanya tidak pernah berkah jika melawan orang tua?''


Tama menggeleng. ''Nggak! Abang nggak mau! Abang sayang sama Mak! Abang sayang adek! Jangan paksa Abang untuk ikut dengan Papa, Mak.. Abang mohon..''


''Abang tetap harus ikut Papa Fabian! Ini perintah! Tidak dan bantahan! Selamanya Abang akan menjadi putra sulung Mak! Mak janji! Jika suatu saat nanti Abang butuh bantuan Mak, Abang boleh datang kemari untuk menemui Mak. Nomor ponsel Mak masih Abang simpan kan??''


Tama mengangguk dan memeluk Alisa lagi. Mereka berdua tersedu disana. Dengan Linda menatap haru kepada mereka berdua.


''Udah! nggak boleh nangis! Abang laki-laki! harus kuat! Pergilah! Mama Linda sudah menunggu!'' Ucap Alisa lagi sembari mengurai pelukannya dari tubuh Tama.

__ADS_1


Tama terpaksa melepaskan nya. Ia bangkit dan mengambil ransel nya yang sudah ia persiapkan sejak tadi.


Ketika berbalik, Tama mendapati ketiga adiknya berdiri dibelakang nya dengan menangis.


Tak tahan melihat itu, Tama memeluk mereka bertiga. Tama mengecup kening ketiga adiknya.


Yang paling lama adalah Annisa. Seakan tau, bayi kecil itu menangis kencang. Tama semakin menangis.


Ia mengambil Annisa dan menggendongnya. Ia berbisik pada bayi itu membuat bayi kecil terdiam dari menangis nya.


Lagi, ia mengecup kening bayi kecil itu. Lagi, hal yang sama terjadi lagi. Tak tahan mendengar suara Annisa yang terus menangis, Tama memberikan Annisa pada Ira dan berlari keluar.


Tiba diluar mama Linda memeluknya. Ia menangis sesegukan disana. Begitu juga dengan ke empat orang disana.


''Tama pamit Mak, Assalamualaikum.. selamanya kalian adalah keluargaku! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan kalian semua..'' lirih Tama, Alisa melambaikan tangan nya begitu juga Ira dan Lana.


Tama pergi dengan membawa hati yang tertinggal disana. Seorang bayi kecil yang begitu menginginkan kehadiran nya terpaksa ia tinggalkan demi kedua orang tua nya.


Karena itu adalah perintahnya, termasuk perintah Alisa juga yang tidak bisa ia bantah sama sekali.


💕


Semua itu akan berlanjut nanti ya!


Akan segera rilis! Pantengin terus!


Kalau belum ikutin othor, cus silahkan di follow! Agar kalian tau jika nanti othor udah rilis cerita baru lagi.


TBC

__ADS_1


__ADS_2