
Setelah Alisa di bawa ke Puskesmas, Alisa langsung saja ditangani oleh tim medis. Rita dengan setia menemani adik iparnya itu.
Sedangkan pak mengurus administrasi, agar semua cepat di tangani. Maklumlah jika Alisa tidak memiliki BPJS atau Jamkesmas.
Dan beruntung nya, pak Daman sedang memiliki rejeki lebih. Dengan sigap ia mengeluarkan seikat uang merah dan di serahkan kepada pihak administrasi.
Setelah selesai, pak Daman kembali ketempat dimana Alisa sedang ditangani.
''Maaf Bu.. sebaiknya ibu keluar dulu. Biar kami bisa menangani pasien.'' ucap salah satu pwrawat.
''Enggak! jika kalian ingin menangani adikku silahkan saja! aku tidak akan mengganggu! Lakukan tugas kalian! jangan melarang ku untuk tidak bersama adikku! Bukankah semuanya sudah dibayar?!'' ucap Rita begitu ketus kepada perawat itu.
''Tapi Bu...''
''Sudah! sudah! sebaiknya kita segera mengurus pasien agar tidak terjadi kesalahan fatal. Jika beliau bilang tidak mau, tidak apa-apa. Dan untuk ibu, saya harap kerja sama nya!'' lerai seorang dokter kandungan yang bertugas merawat Alisa.
''Ya!'' sahutnya masih dengan ketus.
Pak Daman yang melihat istrinya begitu ketus dalam berbicara terkekeh dari balik jendela.
''Semoga pengorbanan kit atidaj sia-sia ya Ta.. aku harap, walaupun nantinya Alisa tidak lagi bersama Emil, paling tidak dia mengingat kita sebagai saudara nya. Sungguh malang nasib mu Lis.. andai.. aku bisa melarang mu agar tidak menikahi gadis itu.. andai...'' lirih pak Daman dengan wajah tertunduk.
Sebulir bening jatuh di pipi nya.
Puk, puk.
''Eh?'' kejut pak Daman.
''Sabarlah Man.. semua ini cobaan untuk Alisa. Sebenarnya Emil itu sangat beruntung mendapatkan gadis sebaik Alisa. Tapi entah mengapa, dirinya bisa berubah seperti itu?? Ayah pun tidak tau..'' lirih ayah Bram.
Pak Daman menghela nafas panjang.
''Bagaimana keadaannya sekarang??'' tanya ayah Bram.
''Masih dalam penanganan Yah.. kita tunggu saja.. ada Rita di dalam.'' sahut pak Daman kemudian terkekeh teringat ucapan Rita yang begitu ketus kepada salah satu perawat.
''Kenapa kamu tertawa??'' tanya ayah Bram, ia heran akan tingkah menantunya ini.
''Nggak ada Yah.. Hanya saja istriku jika sedang marah dengan orang lain, maka yang terjadi, ia juga memarahi orang lain karena tidak terima jika dirinya dilarang untuk menemani iparnya di dalam sana.'' sahut pak Daman, lalu terkekeh lagi.
Ayah Bram pun ikut terkekeh. ''Beruntung nya Alisa memiliki saudara ipar yang begitu penyayang. Ayah harap, jika suatu saat ayah tidak ada.. Maka kalian lah yang menjadi penolong Alisa nantinya. Umur tidak ada yang tau nak..'' lirih ayah Bram.
''Ayah tenang saja! akan ku pastikan jika Alisa tidak akan tersakiti jika kami berdua masih ada di muka bumi ini..'' sahut pak Daman mantap.
Setelah nya mereka berdua sama-sama terdiam. Tidak tau harus mengatakan apa lagi.
Sedangkan didalam, Alisa masih saja ditangani. Sekarang Alisa tidak sadarkan diri. Rita masih setia menemani iparnya itu, hingga ia siuman.
Setelah selesai dokter membuka suara, sedari tadi hanya terdengar suara mereka saja. Tidak dengan Rita.
''Alhamdulillah Bu... pasien sekarang sudah kembali normal.. hanya saja..'' ucap dokter itu sembari melihat Rita yang juga sedang melihatnya.
''Hanya apa??''
''Kandungan adik ibu sangat lemah. Apakah tadi ada terjadi sesuatu? Atau? Seperti terjatuh??'' tanya dokter untuk memastikan.
__ADS_1
''Ya! tadi adikku ini terhempas ke dinding karena suaminya begitu kuat membuka pintu. Ia tidak sadar jika istrinya berada disana...'' lirih Rita sembari menatap Alisa yang wajahnya begitu pucat. Rita sengaja tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Karena itu merupakan aib bagi Alisa dan juga adik sialan nya itu.
Dokter menghela nafasnya.
''Inilah yang saya takutkan! Beruntung pasien cepat dilarikan kesini. Jika tidak, maka saya tidak bisa berbuat apa-apa.. untuk sekarang, biarkan pasien untuk istirahat. Tebus resepnya ya Bu.. dan kalau bisa pasien tidak boleh banyak bergerak, karena kandungan nya begitu lemah. Di mana suaminya?? Ada yang ingin saya sampaikan padanya.'' ucap dokter itu.
''Saya di sini dokter..'' lirih Emil begitu pelan.
Dokter menoleh, dan melihat Emil yang wajahnya begitu sembab seperti baru saja menangis.
Sedangkan Rita menatap tajam kepada adik sialan nya itu.
Ya, Emil menangis karena baru saja di sidang oleh ayah dan juga kakak iparnya tadi di luar.
Beberapa saat yang lalu.
''Yah.. bang...'' panggil Emil dengan nafas ngos-ngosan. Karena ia baru saja habis berlari untuk datang ke Puskesmas di mana Alisa di rawat.
Karena ketika ia tadi ia naik angkot, angkotnya mogok. Jadilah Emil berlarian ke Puskesmas agar cepat sampai disana.
Keringat bercucuran jatuh membasahi bajunya.
Kedua orang itu menghela nafasnya.
''Duduk!'' titah ayah Bram pada Emil.
Emil menurut. Ia mendudukkan dirinya tepat di sebelah ayah Bram dan diapit oleh pak Daman.
''Ayah tidak menyangka.. jika kau begitu tega terhadap Alisa Emil! Apa salah gadis itu pada mu?? Mengapa kau menyiksanya?? Apakah ia ada menyakiti perasaan mu?? Apakah ia ada melukai ibu mu?? Adakah ia menghina kakak ipar mu?? Dengan tega kau menyakiti hingga berulang kali! kau lelaki Emil! Berulang kali ayah katakan padamu, jika kau tak sanggup untuk menerima gadis itu, maka kembalikan! Kembalikan sebagaimana kau dulu mengambilnya dari kedua orang tuanya.! Atau?? Kau sengaja dengan membawa nya ke tempat tinggal mu, agar kau puas menyiksa dirinya?? Itukah tujuan mu Milham Syahputra?!?'' tanya ayah Bram, namun tegas.
''Enggak Yah! Tidak sedikitpun aku berfikir untuk itu... hanya saja.. a-aku.. entah mengapa akhir-akhir ini, emosi ku begitu meningkat ketika melihat nya...'' lirih Emil.
Pak Daman tersenyum kecut. ''Bilang saja.. jika gundik mu itu, baru saja habis memoroti uang mu! Iyakan? Mengapa harus bawa-bawa Alisa segala sih?! Cu.. Cu...'' potong pak Daman sembari menggeleng kan kepalanya.
Emil memejamkan matanya.
''Uang yang seharusnya kau belikan perlengkapan Alisa, malah kau berikan kepada gadis itu! Apakah selama ini, Alisa pernah meminta sesuatu pada mu??'' tanya pak Daman.
''Tidak ada... inilah permintaan pertama nya..'' lirih Emil.
Pak Daman terkekeh. ''Bodoh kau Emil! Bodoh! Dasar pria bodoh! Bisa-bisanya kau di tipu oleh gundik mu itu?! Sekarang dari mana kau akan mendapat semua biaya Alisa selama disini?? heh?!'' akhirnya pak Daman meluapkan emosi kepada Emil
Emil menunduk. ''Maaf Bang..'' lirihnya lagi.
Kemudian ia terisak. Ia menagis.
''Apa yang aku tangisi?! heh?! menangisi gundik mu itu?! atau uang mu yang sudah kau berikan pada gundik mu itu?!?'' tanya pak Daman begitu sarkas.
Lagi dan lagi Emil menagis.
''Sudah lah tidak perlu kau menangisi gundik mu itu lagi! Akan ku pinjam kan uang itu kepada mu, tapi...''
''Tapi apa bang...''
''Setiap Minggu gajian mu ku potong.'' Dan ya.. setelah uang itu terkumpul akan ku serahkan pada Alisa, karena dia berhak akan uang mu lelaki bodoh! umpat pak Daman dalam hati.
__ADS_1
''Baik bang..''
''Sekarang masuklah! Saat ini dokter pasti sedang mencari mu!'' titahnya.
Emil mengangguk. Dan masuk kedalam ruangan dimana Alisa di rawat.
''Saya disini dokter...'' lirih Emil.
Dokter menoleh begitu juga dengan Rita. Mereka menatap Emil dengan tatapan yang sulit diartikan.
''Begini Pak.. kandung istri anda ini sangatlah lemah.. lain kali harus hati-hati.. seharusnya kandung istri anda begitu kuat, tetapi karena guncangan menyebabkan ia terkejut begitu juga dengan janin nya. Bersyukur nya kakak anda cepat membawa nya kemari, jika tidak.. maaf.. mungkin janin anda tidak tertolong. Dan ya satu lagi, selama sebulan ke depan anda tidak di izinkan untuk menjenguk bayi anda!'' ucap dokter itu.
Mendengar itu Rita tertawa terbahak. Dokter yang melihatnya terkejut.
''Bu.. anda tidak apa-apa??'' tanya dokter itu khawatir begitu juga dengan ayah Bram dan pak Daman.
Dengan cepat mereka masuk dan berdiri mematung disana.
''Ya.. saya baik-baik saja dokter! Hahaha.. kena kau! Sebulan? Hahaha.. jangan kan sebulan, sehari saja ia tidak sanggup? Hahaha..'' Rita tertawa terbahak.
Dokter yang paham tersenyum tipis.
''Ini demi kandungan istri anda pak! Jadi tolong dijaga ya?? Tebus resepnya! Apapun yang diinginkan olehnya penuhi, dan tetap sabar! Kadang emosi orang yang sedang hamil itu tidak menentu. Jadi saya tekankan sekali lagi, bapak harus bersabar dalam menghadapi ibu hamil.''
''Baik dokter. Terimakasih!''
''Ya.. saya permisi! Ingat pesan saya tadi! jangan di jenguk dulu selama sebulan! Setelah sebulan baru boleh, itupun harus pelan-pelan. Bu pak saya permisi ingin periksa pasien lain.'' ucap dokter itu kemudian berlalu dari hadapan mereka semua.
Lagi dan lagi Rita tertawa terbahak. Setelah selesai dengan tertawa nya, kini Rita menatap Emil dengan tatapan tajamnya.
Emil menunduk.
''Bersukurlah kau Milham Syahputra! Karena janin yang ada di pertunjukan istri mu masih baik-baik saja! Dan.. lihatlah! Tuhan begitu adil dan menghukum mu dengan puasa selama sebulan! Itu belum seberapa Milham! Itu tidak seberapa, jika di bandingkan dengan perbuatan bejatmu! Ingat Milham, setelah ini aku akan terus memantau kelakuan mu terhadap adik ipar ku! Sekarang ku tanya! Apakah kau masih menginginkan Alisa menjadi istri mu??''
💕
Maaf ya kemarin othor nggak update?
Sebenarnya othor lagi sakit, maaf othor kambuh.
Dan Alhamdulillah nya hari ini udah agak mendingan. Doakan othor ya..
Agar othor cepat sehat dan cepat bisa menyelesaikan cerita Alisa dan bang Emil sialan ini.😄😄
Dan juga Agra cepat bisa ke cerita sebelah, sekuel Alisa dan Gilang.
Ada yang udah tau?? kalau belum, cuss kepoin! 😁😁
Kalau ada typo, komen aja ya.. nanti othor revisi..
Salam hangat dari othor.
Melisa.
TBC
__ADS_1