
Sekarang waktunya untuk berbahagia versi Emil. Namun tidak dengan Alisa. Ia melihat Emil begitu banyak berubah.
Berubah dalam hal artian, jika ia lebih mementingkan putrinya ketimbang Alisa. Setelah pulang dari rumah sakit, perubahan itu terus bermunculan.
Emil lebih banyak menghabiskan waktu dengan putri kecilnya. Setiap hari selalu bermain dengan Ira saja,. sepulangnya dari bekerja.
Sedangkan Alisa, ia abaikan. Apakah sudah makan, sudah minum, atau perlu sesuatu, Emil tidak menanyakan hal itu.
Hal terpenting baginya ialah putri kecilnya. Sudah dua bulan Alisa merasa jika ia di abaikan oleh Emil.
Rita tidak tau apa yang terjadi dengan keadaan rumah tangga Emil. Ia pikir, Alisa dan Emil sudah tidak terjadi apapun lagi.
Emil berbicara kepada Alisa jika di butuhkan saja. Jika tidak, ia tidak berbicara sama sekali.
''Kau berubah bang.. aku pikir setelah kehadiran Ira, kita akan lebih kuat lagi.. tapi...'' gumam Alisa saat melihat Emil terus menerus berbicara dengan putri kecilnya.
Kini usia putri kecil Emil dan Alisa sudah menginjak Tiga bulan. Semakin bertambah usia, semakin banyak pertumbuhan yang terjadi pada Putri kecil mereka.
Contohnya, saat ini Ira sedang pandai-pandai nya menelungkup di lantai. Kadang miring ke kanan, kadang miring ke kiri.
Kadang pun kepalanya jatuh terbentur lantai. Membuat Emil murka. Ia memarahi Alisa yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya.
Alisa hanya diam saja. Padahal ia tau yang sebenarnya terjadi apa. Dasar Emil!
''Kamu gimana sih?! Nungguin anak kok nggak becus kayak gini sih?! Bisa-bisanya jatuh ke lantai! Bodoh kamu!'' sentak Emil.
Nyuuuuttt...
Perih hati Alisa mendengar ucapan Emil. Apakah itu salahnya?? Jika Ira jatuh sendiri ke lantai?? Kan bukan Alisa yang membuatnya jatuh??
''Abang kan tau... Ira lagi belajar tengkurap bang... jadi kalau jatuh hal itu biasa..'' lirih Alisa begitu pelan.
Ucapan Alisa itu memancing amarah Emil. Emil menoleh pada Alisa yang menunduk karena sedang menyusui Ira.
''Apa kau bilang?! Biasa kata mu?! heh?! Kau yang bodoh! anak jatuh malah dibiarkan aja!! Awas kau! jika sekali lagi aku melihat anakku terjatuh, maka kau juga akan aku buat terjatuh!'' ancam Emil, membuat Alisa memejamkan mata nya.
''Kau dengar?! hah?!'' sentak nya lagi, membuat Ira yang sedang terlelap jadi terbangun lagi.
__ADS_1
Ira menangis kencang, karena mendengar suara keras Emil. Alisa berusaha mendiamkan, agar Emil tidak marah lagi.
Susah payah Alisa menidurkan Ira, malah sekarang harus bangun lagi gara-gara Emil yang tidak bisa mengontrol emosi.
''Sayang... bobok ya nak... Ira mau apa?? Mau n**** lagi??'' tanya nya pada putri kecil nya.
Bayi itu menduselkan wajahnya pada dada Alisa. Pertanda ia ingin menyusu. Alisa yang paham, mengeluarkan buah da da nya itu dan memberikan kepada Ira.
Bayi kecil itu langsung saja menyedotnya kuat. Hingga Alisa meringis menahan sakit. Setelah nya bayi itu tertidur lagi.
Alisa menatap Emil dengan tatapan yang sulit di artikan. Sedangkan Emil yang ditatap seperti itu, menolehkan wajahnya ke arah lain.
Tidak ingin mencari ribut lagi, Alisa masuk ke dalam kamar dan menidurkan Ira sembari menyusui nya.
Emil yang melihatnya menghela nafas panjang.
Setelah nya, hubungan mereka memang tak bisa di anggap wajar. Alisa dan Emil seperti memliki kehidupan masing-masing.
Hingga Ira berusia Dua tahun lebih, hubungan Alisa dan Emil tidak lebih hanya sebagai seorang yang merawat Ira saja.
Jangan tanyakan soal hubungan suami istri. Setiap kali Emil meminta, Alisa pasti memberikan nya.
Sering kali Alisa menangis seorang diri, disaat Emil pergi bekerja. Apakah memang seperti itu yang dikatakan dengan, rumah ku surga ku??
Sayang nya tidak. Tidak untuk rumah tangga Alisa dan Emil. Memang tidak terjadi hubungan seperti dulu lagi, Emil yang sering keluar malam dan pulang pagi.
Kebiasaan itu sudah mulai berkurang semenjak kehadiran Ira. Tapi kebiasaan Emil yang selalu lebih mementingkan ponsel, masih berlanjut.
Jika ia sedang memegang ponsel, maka telinga nya itu seakan tuli tidak mendengar apapun.
Bahkan Ira menangis pun diabaikan olehnya. Saking geram nya Alisa, ketika Emil tertidur Alisa membuka ponsel Emil dan membaca seluruh pesan nya.
Alangkah terkejutnya Alisa, saat membaca seluruh isi pesan itu. Alisa menatap Emil dengan tatapan sendu.
Bagaimana tidak, Emil masih sama seperti dulu. Ternyata, jika sudah malam Minggu Emil keluar untuk menemui gadis itu.
Masih saja berhubungan. Tidak ketemu, namun ponsel selalu berjalan. Pantas saja selama ini, Alisa melihat gelagat Emil yang mencurigakan setiap malam Minggu.
__ADS_1
Setelah membaca seluruh pesan itu, Alisa termenung. Tanpa di pinta buliran bening mengalir di pipi tirus nya.
''Aku pikir, kau sudah berubah bang... ternyata tidak sama sekali... bahkan lebih parah dari yang dulu.. Apakah seistimewa itu, gadis mu itu?? Hingga kau mengabaikan kami dirumah berdua?? Tega kau bang.. Ya Allah... aku yakin suami ku suatu saat pasti akan berubah... ampuni segala dosanya.. baik yang sekarang maupun yang masa lalu...'' lirih Alisa sambil terisak.
Ia membekap mulutnya agar suara tangisan itu tidak terdengar oleh Emil. Sedangkan Emil, tidur seperti orang mati.
Tidak sadar apapun lagi jika sudah ketemu bantal.
Hari-hari yang Alisa lewati begitu berat. Rasanya ia tak sanggup lagi dengan pernikahan nya.
Tapi ia tetap berusaha sabar. Sabar tiada batasnya. Sabar itu seluas samudera. Alisa mencoba bersabar dengan kelakuan Emil yang semakin hari semakin menjadi.
Perjalanan umah tangga yang begitu monoton seperti tidak ada cinta lagi untuknya. Karena cinta Emil telah terbagi untuk yang lain.
Alisa sabar, hingga buah kesabaran nya itu membuah kan hasil. Bagaimana tidak, saat Alisa dalam kemelut rumah tangga yang tidak menentu, ia di titipkan lagi anugerah yang begitu istimewa untuk nya.
Namun, kali ini Alisa tidak akan mengatakan nya pada Emil. Apapun yang ia inginkan, ia cari sendiri.
Bahkan ia pernah keluar berdua dengan Ira karena sangat menginginkan makan Mie Aceh kesukaan nya pada malam Minggu kemarin.
Saat itu Emil sedang tidak berada dirumah. Alisa sudah tau, Emil kemana. Karena setiap malam Minggu nya Emil pasti menghilang tanpa kabar, dan pulang ketika adzan subuh.
Alisa sudah terbiasa dengan itu. Walaupun kadang hatinya sering sakit saat mencium bau parfum perempuan di jaket Emil.
Alisa menghela nafasnya berulang kali. Sesak rasanya. Seperti ada sesuatu yang menghimpit dadanya begitu kuat.
Alisa hanya bisa pasrah dan sabar dengan kelakuan Emil, berharap jika suatu saat Emil pasti berubah.
Kadang itulah yang terjadi, saat kita merasakan kepahitan hidup yang tiada Tara, tapi Allah mengganti nya dengan yang lebih baik.
Berharap suatu saat akan berubah, maka ia pun bertahan. Walaupun seringkali sembilu menggores batin nya.
Semoga ia bisa bertahan hingga pada waktunya. Ya, semoga saja.
💕
Masuk tahap Kedua ya.. kalau nggak tahan gigit jari aja 😄😄
__ADS_1
Maafkan othor telat update. Othor kehabisan kuota 😄😄
TBC