
''Sudah selesai bersenang-senang nya?! Jika sudah selesai, silahkan keluar!!'' titah Emil dengan dingin.
Raut wajah nya begitu dingin ketika melihat sepasang anak manusia yang sedang merawat Alisa.
Alisa menoleh ke arah lain. Ia tak ingin melihat wajah Emil. Karena hatinya sekarang sedang terluka.
Dokter Alvian menghela nafasnya. ''Ayo Dek, kita pulang! Pawangnya udah pulang. Jadi kita di usir!'' ketus Alvian membuat Alisa tertawa dalam hati.
''Pulang?? Tapi...'' sela Maya si wanita polos bin lugu.
''Ya! kita pulang! Anak-anak kita hanya ditunggui oleh teyangga! Gara-gara seseorang membuat ulah memukul isterinya!'' ketus dokter Alvian lagi.
Alisa membalikkan tubuhnya menghadap dinding. Ia cekikikan disana tapi tak disadari oleh Emil.
Karena Emil masih menatap tajam pada Alvian dan Maya. ''Pintu disana! Silahkan keluar!'' ketus Emil pula.
Ira yang melihat itu terkikik, namun setelah sadar jika Ayah nya ada disana, Ira masuk kamar mandi dan cekikikan disana.
Berbeda dengan Lana, bocah berumur hampir delapan tahun itu, datar tanpa ekspresi. Ia tetap duduk di sebelah Alisa.
Emil menoleh padanya, namun Lana mbuang muka. Emil hanya bisa mengelak nafasnya. Setelah kejadian itu, kini hubungan antara ayah dan anak itu saling renggang.
Tiga hari berlalu.
Pagi ini Alisa sedang memasak di dapur sedangkan Ira sedang menyapu diruang tivi Sesekali ia mengomel tak jelas karena kelakuan Lana.
Alisa pun ikut menimpali.
''Abang! Ishh.. jangan dibuang sembarangan napa sampahnya?! Capek tau harus nyapu... aja! Sekarang gantian kamu yang nyapu!'' ketus Ira. Sembari menyerah kan sapu ijuk pada Lana.
Lana mendelik. ''Enak aja! Kan nyapu tugas Kakak? Kenapa jadi Abang pula? Ih! nggak mau Abang!''
''Pokoknya kamu harus sapu! Kamu yang nyerakin! Kamu juga yang rapihin! Tanggung jawab kamu!'' ucap Ira lagi.
Alisa yang mendengar nya ikut menengahi. ''Udahlah Bang.. sapu aja kenapa sih? Kan nggak ada ruginya kalau Abang nyapu??'' lerai Alisa, agar kedua anak itu diam dan tidak ribut.
Karena ia tau, jika Emil sedang ada dirumah dan masih tidur.
''Nggak mau!!'' pekik Lana.
Setelah itu, ia pergi ke sekolah dengan berpamitan pada Alisa. Sedangkan Ira semakin mengomel-ngomel tidak jelas.
''Tau nya gini usah makan napa?! Sekarang aku juga yang beresin? Ishh.. dasar nggak ada akhlak!'' gerutu Ira.
__ADS_1
''Sabar Nak.. namanya dia lelaki. Ya.. seperti itu kelakuan nya. Yang sabar dong, sama adek kamu?''
''Mak sih ngomong enak, lah Kakak? Tiap hari harus nyapu, nyapu, dan nyapu aja! Kayak nggak ada kerjaan lain aja!'' omel Ira lagi.
''Ya sudah, setelah ini kakak berangkat! Sarapan ya? Sapu dulu itu sampahnya sampai bersih. Dia laki-laki mana mau pula dia nyapu? Ada-ada aja kamu!'' Sahut Alisa, kemudian terkekeh.
''Mak terus aja belain Lana, sedikit, sedikit laki-laki! Memang nya laki-laki itu tidak bisa apa untuk sekedar nyapu? Heran Kakak! Kalau nggak mukul, kasar, membentak! Itu saja yang bisa di lakukan oleh orang lelaki!'' ketus Ira lagi.
Sedangkan seseorang didalam kamar, panas kuping nya saat mendengar ucapan Ira yang begitu menyinggung nya.
Ia bangun bergegas, dan mencari anak gadisnya itu. Setelah dapat, ia pukul Ira hingga Ira menangis minta ampun.
Sedangkan Alisa terkejut dengan Ira yang menangis karena di pukul oleh Emil. Tersayat hati Alisa, saat melihat wajah putrinya sudah memerah karena menangis.
Belum lagi, Emil terus menerus memukulnya tanpa henti. Tangan kecil itu menutupi kepalanya dari amukan Emil dengan sendalnya.
''Dasar anak durhaka! bisa tidak kamu diam saja! aku capek! mau tidur! mulut mu berisik saja! jika kau tak mau menyapu biarkan saja!!'' sentak Emil.
Ia terus menerus memukul Ira. Alisa yang melihatnya mendatangi Emil dan memegangi tangan suami nya itu.
''Udah Bang! jangan di pukul terus! Kasian anaknya!'' lerai Alisa.
Tapi Emil yang sudah kalap tidak perduli. Sebagai gantinya, Emil memukul Alisa hingga wanita itu terhuyung ke belakang.
Emil memukul Alisa dengan sendal nya. Ira semakin menangis melihat Ayah nya mengamuk seperti itu.
''Dasar wanita tidak berguna! Wanita pembawa sial! Selama aku hidup dengan mu! Kau hanya bisa menghabiskan uang ku saja!! Sekarang, kau ingin membela anak sialan mu ini hah?!'' sentak Emil lagi.
Alisa mematung mendengar ucapan Emil. Apa katanya? Anak sialaaaannn?? Alisa mendongak melihat Emil yang sedang menatap nya dengan raut wajah begitu marah.
''Jika Ira anak sialan, berarti kamu Ayah sialan! Ayah tak punya perasaan! Ayah tidak tau diri! Bisanya hanya memukul dan membentak! Ira keluar dari hasil kecebong lak Nat mu itu! Karena kau! makanya Ira sekarang ada disini! Siapa yang harus di salahkan? hah? Aku? Atau kau Bang Milham!'' tukas Alisa begitu geram. Ia menahan rasa takutnya saat berhadapan dengan Emil sedang ngamuk seperti itu.
Bohong jika Alisa tidak takut, tapi demi putrinya yang ia hina. Ia kuatkan hati dan pikiran nya untuk melawan Emil.
Tak disangka, ternyata ucapan Alisa memancing api di dalam diri Emil. Ia berjalan masuk kekamar dan mengambil sabuk.
Ira yang melihat itu ketakutan. Karena ia tau, jika sabuk itu keluar berarti Emil benar-benar sedang marah sekarang.
''Apa kamu bilang?! Hah?!''
Sshhrraaashh.. plaakk..
''Aaaaaakkkhhhttt...'' pekik Ira, Alisa yang melihat itu terkejut.
__ADS_1
Dengan cepat, ia melindungi Ira dari amukan Emil. Emil terus saja mencambuk anak dan istrinya tanpa belas kasih.
Sedangkan seorang anak anak kecil disana berdiri mematung melihat kelakuan Ayah kejam nya.
Tangannya mengepal erat. Urat-urat di tubuhnya menyembul keluar. Sedangkan Emil tidak sadar, jika putra nya disana sedang melihat kelakuan bejatnya.
Ira semakin histeris saat cambuk itu melukai tubuhnya. Berbeda dengan Alisa, ia memejamkan kedua matanya untuk menahan rasa sakit dari cambukan Emil.
Tak tahan melihat Mak nya dicambuk seperti itu, Lana masuk dan mendorong Emil hingga jatuh terjungkal kebelakang.
''Sudah ku katakan padamu! Jangan sekali-kali kau menyakiti Mak ku!!! jika kau tidak menginginkan nya lagi, lepaskaaaaaannn!!!!!!'' pekik Lana begitu kuat.
Hingga membuat Emil terkejut dengan kelakuan Lana. ''Kau berani mendorong Ayah hah?!'' sentak Emil pada Lana.
''Aku berani!! Anda bukan Tuhan yang harus ku takuti!! Anda hanya manusia sama seperti kuu!!! Karena kau! Mak ku selalu menderita seperti ini! Jangan salahkan aku, jika aku akan melaporkan ini pada uwak Rita! Tunggu kau disini!!'' pekik Lana, kemudian ia berlari keluar mengejar Lana.
Sedangkan Emil tertegun dengan ucapan putranya. Setelah sadar, ia berlari mengejar Lana.
Tapi terlambat, Rita sudah muncul di hadapannya. Tanpa aba-aba Rita melayang kan tangannya berulang kali ke pipi Emil.
Plaakk
Plaakk
Plaaakk
Plaakk
Plaakk
''Sudah ku katakan padamu Adik sialaaaannn! Jika kau tidak mau lagi dengan wanita itu lepaskan! Jangan lagi kau siksa dia!!!!'' pekik Rita begitu kuat, hingga tetangga keluar melihat ada apa sebenarnya.
Lana menatap datar pada Ayah nya. ''Balasan untuk orang yang telah memukul surgaku!!''
Deg.
Deg.
💕
Hiks! Sabar Mak..
TBC
__ADS_1