Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Resepsi pernikahan


__ADS_3

"Nak.. Hani.. Hendra... bangun.. waktunya kalian untuk bersiap-siap! Ck! Pengantin baru kok malah molor sih?! Ishh.. ba.. nguuunn...'' pekik Mama Lia di telinga Hendra.


Hendra terjingkat kaget. Saking kagetnya Hendra dan Hani jatuh ke bawah bersama-sama.


Dengan Hani menimpa tubuh Hendra.


Dukkk...


''Auwwwhh.. aduhhh.. sayang! sakit ini... duh...'' rintih Hendra.


''Eh?'' Hani yang terkejut refleks saja mendorong Hendra. Hingga jadilah mereka jatuh untuk yang kedua kalinya.


Kedua wanita paruh baya itu melongo melihat sepasang pengantin baru itu heboh sendiri.


''Bangun in Hani... ishh.. kok di dorong sih?! Sakit tau.. duhh.. b*k***g ku ngilu euuy.. sssttt..'' ucap Hendra mendesis.


Hani bingung harus buat apa pada Hendra. Pada saat ingin menolong Hendra, pintu dari luar di ketuk lagi.


Tok, tok, tok.


''Umi... apa yang terjadi? Mengapa Hendra menjerit seperti itu? Bolehkah kami masuk?'' tanya Abi Bram.


Kedua wanita paruh baya itu saling pandang, dan memberikan kode jika mereka berdua boleh masuk.


Umi Imar beranjak untuk membuka pintu, sedangkan Mama Lia bergegas mengambil hijab untuk Hani, dengan cepat ia memasang kan nya ke kepala Hani.


Hani yang belum siap, sedikit bingung. Namun setelah melihat jika dua orang pria paruh baya masuk, barulah Hani paham.


''Loh? Hendra kenapa?'' tanya Abi Bram.


Hani tersenyum malu. Ia menunduk. Sedang Hendra sudah duduk di bibir ranjang.


''Ck! dasar! kamu boy! Ini tuh masih siang! masa' siang-siang begini belah duren sih?! Gimana sih kamu?! Seharusnya kamu itu paham, masih ada satu kegiatan lagi setelah ini! Kan masih bisa nanti malam?! Ishh..'' Getutu Papa Putra pada Hendra.


Sedangkan Hendra merengut kesal. Mama Lia menyikut perut Papa putra. Sedangkan Abi Bram dan Umi Imar terkekeh melihat sepasang paruh baya yang begitu kocak di depan menantunya.


''Aduhh.. sakit sayang?! Ishh.. main sikut aja sih?! Papa balas sikut Mau??'' godanya dengan mata mengerling.


''Papa! nggak sopan! Awas! Mama mau bantuin Hani bersiap! Sebelumnya kalian berdua sholat dulu, sudah masuk waktu ashar. Mama sama Umi akan menunggu kalian disini. Dan.. untuk kalian berdua.. keluar!'' titahnya, membuat Papa putra melotot.


Sedangkan Abi Bram terkekeh. Umi hanya geleng-geleng kepala. Baginya sudah biasa jika melihat suami istri yang kocak itu.


''Mama! Ishh.. kok di usir sih?!'' tegur papa putra.


Mama Lia memutar bola matanya malas. Ia tau, jika sudah seperti ini akan ada lagi bantahan-bantahan yang lainnya.


''Keluar! atau Mama yang keluar?'' titahnya lagi. Mama Lia menatap Papa putra dengan mode garang.


Papa putra melotot lagi. Semua itu tak luput dari perhatian Hani. Ia terkekeh melihat kedua orang tua Hendra yang begitu kocak.

__ADS_1


Hendra melirik Hani, sedang yang dilirik menoleh. Begitu peka nya Hani pada Hendra. Mereka tersenyum bersama.


''Udah, ah! kesal aku! Besan! aku keluar! biarkan dua orang pria ini yang mengurus anak dan menantu kita! ayo!'' ajak nya pada Umi Imar.


Abi Bram dan Umi Imar terkekeh. Lagi, mereka para orang tua berbuat ulah dikamar pengantin baru.


''Mama! Ishh..'' gerutu Papa Putra. Tak ayal juga ia mengikuti wanita paruh baya itu untuk keluar.


''Ya sudah, mandi dan sholat! setelah nya petugas MUA akan masuk untuk merias kamu Hani.'' imbuh Abi Bram.


Hani mengangguk begitu juga dengan Hendra. ''Iya Abi ..''


Selepas kepergian mereka berempat, Hendra dan Hani bergegas bersiap. Mereka mandi dalam satu kamar mandi.


Biar lebih ringkas waktunya, begitu kata Hendra. Setelah mandi, mereka sholat berjamaah.


Tak lama setelah itu petugas MUA masuk untuk merias Hani. Hendra tetap duduk disana. Ia ingin melihat Hani dirias dengan mata kepalanya sendiri.


Satu jam kemudian.


Para MUA yang merias Hani, kini sudah selesai dengan tugas mereka. Saatnya resepsi pernikahan akan segera di gelar.


Hani dan Hendra bergandengan memasuki aula hotel. Semua mata tertuju pada sepasang pengantin baru yang masih belia itu.


Semua pasang mata menatap takjub pada pengantin baru itu. Cantik dan tampan. Setelah sampai di pelaminan, kini waktunya untuk Papa Putra untuk menyampaikan satu dua kata untuk menyambut pengantin baru itu.


Tak banyak disampaikan. Hanya ungkapan syukur dan juga pujian untuk sahabatnya Abi Bram, karena beliau begitu banyak membantu usaha Papa Putra selama ini.


Di kajauhan sana, Hani melihat sahabatnya dan juga sahabat Hendra sudah datang. Begitu melihat Hani dan Hendra, mereka semua menjerit histeris.


Salah satunya adalah Moly. Dia yang paling rusuh diantara yang lain. Hani menutup telinga nya saat Moly menjerit memanggil namanya.


''Haniiiiiiii... selamat berbahagia... huhuuuu.. kalian berdua curang! begitu nikah! begitu ngabarin! nggak asik, ah!'' serunya dengan bibir mengerucut.


''Hehehe.. maaf sayang.. aku juga nggak tau kalau bakalan seperti ini.. awalnya Abi cuma bilang jika aku akan dijodohkan dan menikah tanpa resepsi. Nyatanya mereka ngeprank aku! huh! sebal akunya!'' ujar Hani sedikit jutek.


Semua itu tak luput dari tatapan Hendra. Ia tersenyum tipis melihat Hani yang jutek seperti itu.


''Apa loh.. liatin temen gue! naksir ya..??'' ledek Moly pada Hendra.


Hendra terkekeh. ''Suka pun nggak masalah! Toh, Hani kan istriku? Apa salahnya jika aku menatapnya?'' tanya Hendra.


Hani menunduk malu. Pipinya bersemu merah. Wajahnya memanas. Hatinya berbunga-bunga.


''Heleh! sekarang elu senang nikah sama Hani! dulunya elu nangis kejer lihat Alisa menikah dengan orang lain! Ish.. gimana sih lu?! nggak konsisten banget sih nih anak!'' gerutu Moly lagi.


Hani menatap Hendra, sedang yang di tatap tersenyum kikuk.


''Hehehe.. maaf atuh.. jangan marah dong.. Alisa hanya masa lalu.. sedangkan Hani masa depan.. Akau akan berusaha menelusup kan nama Hani di hatiku.. walau aku tau jika tempat Alisa tidak pernah tergantikan. Tapi aku yakin.. jika aku ikhlas menerima pernikahan ini, pasti cinta akan segera hadir dalam kehidupan kami setelah ini.'' imbuhnya sembari menatap Hani.

__ADS_1


''Uuuhh co Cwweeeett.. gemes deh ah! nggak tau aja dia Jika Hani udah dari dulu sukanya sama elu? Cinta juga kan Hani???'' goda Moly lagi, membuat Hendra terkejut.


''Moly!''


''Apa?? Gue nggak salah dung.. ngasi tau suami elu?? Emang elu dari dulunya udah cinta sama nih bocah! tapi sayang, doi nggak sadar! karena sibuk mengejar sahabat kita! Eh? Ngomong tentang sohib gue! ada yang ngundang nggak kerumahnya? Atau di telpon gitu??'' tanya Moly.


Hendra terkejut lagi. Ia melupakan sesuatu.


''Hani..''


''Ya...''


''Aku udah ngabarin Alisa tadi pagi saat kita sudah selesai ijab qobul.'' ucap Hendra dengan menunduk.


Hani tersenyum. ''Tidak apa-apa.. toh, Alisa juga kan baru dua hari ini menikah?? Jadi sudah sepantasnya kamu memberi tahu mereka berdua. Alisa sahabat ku By.. nggak ada salah nya kan??'' tanya Hani.


Hendra tersenyum dan mengangguk. Namun setelah nya ia berubah menjadi murung kembali.


Semua itu tak luput dari perhatian para sahabat Hani dan Hendra.


''Kenapa??''


''Alisa nggak akan datang Hani.. hari ini Alisa akan berangkat ke Medan untuk mengikuti suaminya tinggal disana..'' lirih Hendra namun masih bisa di dengar Hani.


Lagi, Hani tersenyum. ''Nggak apa-apa By.. toh, selepas acara ini kita juga akan ke Medan kan?? Kita akan menetap disana? Jadi biarkan aja Alisa berangkat dengan suaminya. Karena setelah ini kita berdua yang akan menemui mereka disana? Iyakan??'' ucap Hani dengan terus menatap Hendra.


Hendra mendongak, mendapati Hani tersenyum manis padanya.


''Terimakasih Hani.. my wife... your the best Hanny...'' ucap Hendra, membuat Hani tersipu malu.


''Cie.. cie... pengantin baru saling goda euuyy.. ikutan dong...'' ledek Moly.


Sedangkan yang lain tertawa melihat pasangan pengantin yang baru menikah tadi pagi.


Setelah nya mereka semua menikmati hidangan yang tersedia disana. Dengan gelak tawa yang selalu menghebohkan suasana.


Apalagi kalau bukan sahabat Hendra dan Hani. Para orang tua yang melihatnya bernafas lega.


Ternyata perjodohan mereka di terima dengan baik oleh Hani dan Hendra. Semoga Hani dan Hendra Sakinah Mawadah Warohmah. Amiiin...


💕


Selesai ya kisah Hani dan Hendra.


Kita lanjut pada Alisa dan Emil.


Apakah Alisa sanggup menjalani ujian pertama pernikahannya??


Nantikan terus kelanjutannya!

__ADS_1


TBC


__ADS_2