
Cup.
''Eh??''
Hendra tersenyum, sedang Hani menatapnya dengan bingung.
''Pahala istriku.. kenapa kamu jadi bengong seperti itu?? Tidakkah kau ingin mendapatkan pahala Nya??'' tanya Hendra dengan terus menatap Hani.
Hani menggeleng. ''Bukan itu... hanya saja.. jangan dipaksakan. Aku takut nantinya kau tertekan. Biarkan berjalan seperti air mengalir.. aku bisa menjadi istrimu saja itu sudah suatu keberuntungan untukku. Karena aku sangat mencintaimu..'' lirihnya sangat pelan di ujung Kalimat.
Hendra yang mendengar ucapan Hani mengernyitkan dahinya bingung. Namun itu hanya sebentar. Setelah nya ia memeluk Hani dengan erat.
''Hani..''
''Iya By.. ups!'' Hani menutup mulutnya yang keceplosan.
Hendra mengurai pelukannya dan menatap Hani yang salah tingkah di depannya.
''Kamu bilang apa barusan??''
''Eh? Yang mana??'' tanya nya pura-pura bingung.
''Yang tadi..''
''Nggak ada Ndra..'' elak Hani.
Hendra menghela nafasnya. ''Hani...'' lirihnya dengan lembut di telinga Hani.
''Iya, by.. eh?''
Haduuhh.. kok malah keceplosan lagi sih.. malu nya aku..
Hendra tergelak. Ia sangat terhibur dengan sikap Hani yang malu-malu dihadapan nya.
''Aku suka! panggil aja seperti itu lagi. Hanny...'' ucap Hendra.
Membuat pipi Hani bersemu merah. Lagi, Hendra tergelak. Hingga suaranya terdengar keluar.
Umi Hani yang kebetulan keluar, ia mendengar gelak tawa Hendra, tersenyum.
''Terimakasih ya Allah.. akhirnya mereka berdua bisa menerima satu sama lain.. semoga sakinah ya Nak.. umi sangat berharap jika kamu akan mempertahankan pernikahan ini. Terlepas karena kalian berdua di jodohkan sejak kecil, itu tidak akan menjadi penghalang untuk bisa menyatukan kalian berdua. Cinta akan datang dengan sendirinya.. maha suci Allah yang selalu bisa membolak balikkan hati setiap manusia..'' lirih Umi Hani dengan sedikit menyusut buliran bening yang mengalir di pipinya.
Sedangkan di dalam kamar pengantin, Hendra terus saja menggoda Hani. Ia sangat suka melihat pipi Hani bersemu merah. Juga sikap Hani yang malu-malu terhadap nya.
''Hanny...''
__ADS_1
''Hubby...''
''Pertahan kan seperti itu. Mulai sekarang kita akan berjuang bersama-sama untuk mencapai ridho nya Allah di dalam rumah tangga kita. Aku akan berusaha menjadi imam yang baik untuk mu. Ayo.. lepas dulu itu sanggul nya! Nggak berat apa itu konde??'' ucap Hendra, sengaja untuk membuat lelucon.
Hani tertawa. ''Ya berat atuh by.. ini mau di lepas tapi entah mana penata riasnya?? Dari tadi ditungguin kagak nongol dia nya??'' gerutu Hani.
Hendra tersenyum. ''Sini, aku bantu! setelah ini kamu mandi, karena sebentar lagi pesta kita akan segera di mulai!'' imbuh Hendra, dengan terus menatap Hani di cermin.
Hani mengangguk. Setelah lima belas menit berlalu, barulah Hani bisa bernafas lega. Karena semua pernak pernik yang ada di kepalanya di lepas.
Demikian juga dengan Hendra. Ia bergegas menuju kamar mandi untuk mandi, karena sudah merasa gerah.
Walaupun di kamar itu ada AC, tetap saja mandi lebih tepat untuk menyegarkan tubuh. Kebetulan sekali waktu dhuhur sudah masuk.
Hendra keluar, berganti dengan Hani masuk ke kamar mandi. Hani mandi secara ringkas saja. Cukup lima belas menit.
Ia keluar dengan baju gamis berwarna merah maron dengan handuk di lilitkan di kepala. Hani tidak sadar jika seseorang disana sedang menatapnya begitu dalam.
Saat berbalik Hani terkejut. ''Astaghfirullah! Hubby!'' serunya kaget.
Hendra tersenyum. Kaki nya melangkah mendekati Hani. Hani berdiri terpaku disana dengan mata terus menatap Hendra.
''Udah wudhu??''
''Udah.''
Hendra tersenyum. ''Ayo.. sini aku bantu keringkan rambutmu! Masih ada waktu. setelah kita sholat, kamu istirahat. Jam Tiga baru acara resepsi nya akan di gelar. Dari sore hingga malam. Ayo.. sini!'' titah Hendra. Hani menurut.
Ia duduk di depan meja rias yang masih banyak pernak pernik baju pernikahan. Hendra dengan telaten mengeringkan rambut Hani.
Untuk sesaat mereka hanyut dengan tatapan masing-masing. Setelah dirasa kering, Hendra memberikan mukenah yang tadi jadi maharnya untuk dipakai Hani saat mereka sholat untuk pertama kali.
''Pakailah! Setelah nya kita akan sholat berjamaah.''
''Iya.'' Hani mengambil mukenah itu dan memakai nya.
Mereka pun mulai melakukan sholat berjamaah di kamar pengantin yang sengaja di khususkan untuk mereka berdua. Pertama kali sholat berjamaah setelah sah menjadi suami istri.
Setelah selesai sholat, Hani beristirahat di ranjang yang penuh bunga itu. Karena lelah, Hani dengan sekejap sudah terlelap. Sedangkan Hendra masih sibuk membalas pesan teman-temannya.
Saat ia menoleh, ia melihat Hani yang sudah terlelap. Tanpa sadar ia mengulas senyum tipis. Ia mendekati Hani dan berbaring disampingnya.
Ia memeluk Hani dari belakang. Tak ada penolakan. Hendra tersenyum. Mereka berdua terlelap hingga waktu yang di tentukan.
***
__ADS_1
Suara gedoran pintu begitu mengganggu pendengaran Hani. Ia terusik dengan suara gedoran pintu yang begitu kuat.
Ketika ingin berbalik, tubuhnya terasa berat. Saat ingin berbalik, Hendra berbisik.
''Disini aja Hani.. aku masih ngantuk! Itu siapa sih, yang ngetuk pintu kencang banget?! ganggu orang tidur aja!'' sewotnya.
Membuat Hani terkekeh. ''Bangun by.. itu Umi sama Mama sedang diluar. Ayo bangun! aku nggak pakai hijab loh.. hijab ku tadi kan basah dan bau??'' lirih Hani di telinga Hendra.
Hendra menggumam, ''nanti aja sayang.. aku masih ngantuk inih... hoaaamm.. bilangin deh tuh Mama sama Umi! pengantin baru lagi tidur digangguin terus dari tadi! ck!'' decak Hendra.
Ia begitu terganggu dengan pintu di ketuk terus menerus.. Hani masih saja terkekeh.
''Ayo bangun by.. mau kamu Abi sama papa datang kemari, buat nguliahin kita berdua?? Kamu belum tau jika Abi itu kuliah kayak apa??'' imbuh Hani masih dalam pelukan hangat Hendra.
Hendra bergeming. Ia semakin menelusupkan wajah nya ke ceruk leher Hani. Membuat Hani merinding. Hani menggigit bibirnya untuk menahan rasa geli di ceruk lehernya akibat deru nafas Hendra.
Karena terbuai dengan pelukan Hendra, Hani Kembalii terlelap. Tapi itu tidak lama. Karena dua pasang paruh baya di luar sedang berdebat ingin membuka pintu kamar anak mantu mereka.
''Papa yang buka!'' titah mama Lia.
''Nggak! Besan aja yang buka!'' elak papa Putra.
''Jangan saya atuh besan.. mana enak saya sama mantu?? Gimana kalau Umi aja?? Ya, Mi??'' tanyanya pada sang istri.
Umi Imar pasrah. ''Ya sudah, Umi yang buka! mana kunci duplikat nya. Biarkan Umi sendiri yang masuk! Sedang kalian bertiga, tetap disini! Paham??'' tanya pada mereka bertiga.
Mereka mengangguk patuh. Setelah nya Umi Imar membuka pintu dengan kunci duplikat nya.
Ceklek,
Pintu terbuka. Pemandangan yang pertama kali terlihat adalah sepasang pengantin baru yang tidur dalam selimut yang sama.
Dengan wajah Hendra menelusup di leher Hani yang tanpa hijab.
Umi Imar berdiri mematung di depan pintu. Sedangkan Mama Lia yang penasaran mendekati besan nya.
Saat sampai disana, mulut Mama Lia menganga lebar. Para Ayah yang penasaran tidak berani melihat karena mendapat tatapan dari Mama Lia yang mengatakan mereka tidak boleh melihatnya.
''Nak... Hani... Hendra.. bangun.. waktunya kalian bersiap-siap! Ayo.. bangun! Ck! Pengantin baru kok pada molor sih?!''
Duk!
Auww...
💕
__ADS_1
Eh? apaan tuh??
TBC