
''Ojek??'' tanya Alisa dengan menatap Emil bingung.
''Iya, Abang jadi kang ojek selam seminggu ini. Setiap pulang kerja, Abang selalu ngojek. Lumayan juga dapat nya. Bisa untuk menambahi kebutuhan kita dan juga biaya melahirkan mu...'' lirih Emil, membuat Alisa menghela nafasnya.
''Termasuk wanita yang kemarin sama Abang??''
Deg.
Emil mengerjab mendengar ucapan Alisa.
''I-iya.. selama seminggu ini setiap pulang kerja, Abang selalu ngojek dan salah satu pelanggan nya adalah wanita itu.''
''Tapi kenapa Abang nggak pernah pulang?? Padahal jika dipikir, bukankah rumah wanita itu tidak jauh dari rumah kita?? Hanya berjarak dua puluh menit saja? Kemana Abang selama seminggu ini?! Apakah Abang menginap dirumahnya???'' selidik Alisa, karena melihat raut wajah Emil yang begitu gugup ketika membicarakan wanita itu.
''I-it-itu... se-sebenarnya...''
''Kenapa?? Apakah wanita itu lebih penting dari kami, keluarga mu?!'' tanya Alisa dengan wajah datar.
Membuat Emil merasa bersalah lagi. Lagi, ia membuat Alisa sedih. Wajah datarnya itu menutupi luka hatinya.
Selama hampir tiga tahun Emil hidup bersama Alisa, sedikit tidaknya ia tau seperti apa sifat Alisa.
''Namanya Linda... wanita itu cinta pertama Abang dulunya. Dulu kami sudah berjanji akan menikah, tapi wanita itu memilih pergi dan menikah dengan pria lain dari pada Abang yang hanya orang biasa saja. Pemuda pilihan nya itu lebih tampan dan lebih kaya tentunya.'' ujar Emil.
Ia menghela nafasnya saat melihat raut wajah Alisa tetap sama. Yaitu datar. Tanpa ekspresi.
''Abang bertemu dengannya, karena motor kita dialah yang menemukan nya. Ia menunggu Abang disaat Abang pulang kerja. Kami bertemu di persimpangan jalan dengan tetangga kita bersama nya.'' lanjut Emil, masih dengan menatap Alisa.
Alisa tersenyum sinis pada Emil. ''Bahkan Abang tidak tau, siapa sebenarnya yang menemukan motor kita.'' celutuk Alisa, membuat Emil mengernyit bingung.
''Maksud kamu??''
''Hah! bukan wanita itu yang menemukan motor kita! Tapi Alvian!'' seru Alisa.
Membuat Emil terkejut. ''Apa?! bukannya Linda ya yang menemukan motor kita??''
Alisa tersenyum kecut. ''Bahkan Abang sangat percaya dengan ucapan wanita itu ketimbang tetangga kita disini! Padahal Alvian lah yang menemukan motor itu. Karena dia sengaja mencari dan mengikuti gadis mu itu!'' ujar Alisa dengan dingin.
Emil semakin terkejut mendengar fakta jika Alvian lah yang menemukannya bukan Linda. Lantas? Mengapa Linda mengaku, jika ia yang mendapatkan motor itu?? Pikir Emil.
''Sudahlah bang! nggak usah di pikirkan. Yang ada kau tidak akan menemukan jawaban dari pertanyaan mu itu! Karena wanita itu memang menginginkan dirimu, bukan hanya motor mu!'' imbuh Alisa dengan dingin.
__ADS_1
Setelahnya ia bangkit membawa piring makannya dan juga gelas susu yang sudah kosong milik Ira.
Sedangkan teh hangat Emil, masih tersisa separuh lagi. Emil menatap nanar pada Alisa yang berlalu.
Emil menghela nafas panjang. ''Ternyata aku di tipu lagi... aku beneran serius ingin menolong nya dengan cara menjadi kang ojek. Tapi malah dia menipuku. Maafkan Abang, Dek..'' lirih Emil saat melihat Alisa berlalu masuk ke kamar dan tidak keluar lagi.
Putri kecilnya melihat Alisa masuk, ia pun ikut mengikuti Alisa masuk ke kamar. Ia lebih mengikuti Alisa ketimbang ikut duduk bersama Emil.
Kebersamaan yang telah berubah saat Emil meninggalkan mereka selama seminggu ini.
Keesokan paginya.
Hari ini Emil berangkat lebih awal. Karena pak Daman menghubungi nya agar datang lebih cepat ke tempat proyek.
Alisa yang sudah bangun sejak subuh sudah siap sedia dengan segala kebutuhan Emil. Walaupun ia sedang hamil lima bulan, Alisa tidak mau bermalas malasan.
Setiap hari itulah kesibukan Alisa. Mulai dari pagi hingga sore hari. Hanya pada siang hari Alisa bisa istirahat sejenak.
''Dek, dibungkus aja ya sarapan Abang. Abang nggak sempat sarapan dirumah. Ini bang Daman udah nelpon Abang, untuk segera datang ke proyek, katanya atasan mau cek pekerjaan kita.'' ucap Emil, membuat Alisa mengangguk.
Dengan cepat Alisa membungkus semua pesanan Emil. Termasuk kopi susu kesukaan Emil.
Setelah selesai, Emil pun berlalu pergi meninggalkan Alisa dan juga putri kecilnya dirumah.
''Andai .. Abang setiap hari seperti ini, pastilah aku tidak merasa menyesal karena telah menikah dengan mu. Tapi ini? Hari ini seperti ini kelakuan mu. Tapi besok?? Mungkin saja kau berubah lagi. Aku hanya bisa pasrah akan semua takdir ini. Inilah takdir yang harus aku jalani.'' gumam Alisa sembari masuk kedalam rumah dan membereskan semua peralatan dapur yang masih berserakan.
Setelah selesai, Alisa mencuci dan mandi. Semua telah beres dan juga putri kecilnya sudah bangun.
''Mak... haus...'' ucap Ira dengan mengucek matanya.
Alisa menoleh dan tersenyum. Saat ini ia sedang memakai baju karena baru saja selesai mandi.
''Kakak mau susu??''
Ira menggeleng. ''Minum air putih aja, Mak.''
''Oke,'' sahut Alisa sembari berlalu ke dapur dan mengambil minum untuk putri kecilnya.
Setelah memberikan minum, Alisa menuju ke dapur dan menyiapkan sarapan untuk dirinya dan putri kecilnya.
Alisa menyiapkan susu hamil untuk nya dan susu coklat kesukaan Ira.
__ADS_1
''Ayo nak, dimakan!''
''Hem, enaakkk... Mak masak sambal udang ya??'' tanya begitu senang.
Alisa tertawa. ''Iya nak.. ayo dimakan! cuci muka dulu!'' titah nya.
Ira berlalu meninggalkan Alisa yang sudah duduk di depan tivi. Ia memutar siaran kesukaan Ira, yaitu Avatar Aang.
Ira sangat suka melihat siaran itu. Ia betah berlama lama ketika menonton tivi. Alisa tersenyum melihat tingkah putri nya itu.
Saat mereka berdua sedang makan, pintu rumah mereka diketuk dari luar. Alisa yang tau ada yang datang membuka pintu.
''Eh?? Bang Alvian?'' Alisa terkejut melihat Alvian ada didepan rumahnya.
Alvian tersenyum. ''Assalamualaikum, Dek..''
''Ehehe.. Waalaikum salam... mari masuk! ih ada bang Niko rupanya!'' celutuk Alisa saat melihat seorang anak kecil lebih besar dari Ira.
''Ibuk! Ira nya ada??'' tanya bocah berumur empat tahun itu.
Alisa tersenyum. ''Ada! mari masuk! Ira lagi sarapan pagi. Ayo!'' ajaknya pada bocah kecil itu.
Ia menggamit tangan Niko dan membawa nya masuk. ''Ayo bang, masuk!'' ajaknya pada Alvian.
Alvian mengangguk dengan sedikit senyum tipis di bibirnya.
''Ira!!'' pekik bocah lelaki itu.
Ira terkejut. Hampir saja sarapan paginya terbang saking terkejutnya. Alvian yang melihat itu tertawa.
Begitu juga dengan Alisa. Alvian menatap Alisa dengan instens. Alisa sadar jika dirinya sedang di tatap.
''Ayo bang, duduk dulu. Aku buatkan minum dulu ya? Ayo bang!'' ajaknya lagi.
Membuat Alvian mengangguk. Ia duduk di sebelah Ira. Membuat Ira begitu senang ketika melihat Alvian duduk di sebelah nya.
''Kakak senang, kalau Om Alvian sering kesini tiap pagi! Kakak kesepian kalau ayah pergi... Om maukan temani kakak disini setiap kali ayah udah pergi kerja??''
Deg.
💕
__ADS_1
Hayoo.. kakak kenapa tuh?? Awas loh.. nanti ayah Emil ngamuk! 🤣🤣🤣
TBC