Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Godaan calon suami


__ADS_3

Sebulan telah berlalu, hari dimana Alisa dan Madan bertemu untuk yang terakhir kalinya. Semenjak hari itu, mereka sudah berpisah. Dan berharap, hanya takdir lah yang akan mempertemukan mereka berdua. Nanti, disaat yang tepat.


Hari ini Alisa sudah melewati hari dimana seluruh siswa dan siswi untuk ikut ujian Nasional.


Hari ini Alisa sedang dirumahnya, tidak lagi kesekolah, karena Minggu ini adalah masa-masa tenang, setelah berperang dengan kertas dan pena yang penilaian nya dilakukan oleh para komputer.


Alisa sedang menyapu halaman saat seseorang memanggilnya.


''Dek... Alisa!'' panggil nya.


Alisa berbalik, '' Ya..'' sahutnya.


Pemuda itu tersenyum. ''Apa kabar Dek?? Lama ya udah nggak jumpa? Kangen Abang sama suara Adek!'' ucap Emil, seraya mendekati Alisa.


''Bang Emil!'' seru Alisa. Ia berhenti menyapu saat Emil mendekati dirinya.


''Ya udah, nyapu aja dulu! Abang tunggu disana ya? Kalau udah selesai, baru kita bicara!'' ujar Emil, seraya berlalu.


''Iya.. tapi kenapa Abang kesini? Apakah Abang tidak bekerja hari ini??'' tanya Alisa.


''Hari ini libur, besok baru kerja lagi! Semua bahan-bahan pokok untuk bangunan hari ini masuk, dan besok pagi baru bisa dikerjakan! Adek lanjutkan aja nyapu nya, Abang tunggu kok. Tenang aja... waktu Abang penuh hari ini! tapi tidak untuk besok!'' ujarnya seraya menggerakkan alis nya naik turun.


Alisa hanya mencebik kan bibirnya saja. Emil tergelak. Ia sangat menyukai Alisa yang bersikap apa adanya, tanpa takut di kritik olehnya.


Emil memperhatikan Alisa dengan seksama. Ia tersenyum tipis saat melihat Alisa menyeka keringat yang mengalir di dahi nya.


''Cantik!'' seru Emil, tanpa memutus tatapan nya terhadap Alisa.


Setelah Alisa selesai dengan pekerjaannya, ia berlalu kedapur dan melewati Emil, yang terus saja menatapnya tanpa beralih sedikitpun.


''Abang tunggu bentar ya? Alisa mau masuk ganti baju dulu, sekalian Alisa buatkan Abang minum! tunggu ya?'' ujar Alisa seraya berlalu dari hadapan Emil.


Emil mengangguk dan tersenyum tipis.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian, Alisa sudah selesai mandi dan juga ganti baju. Saat ia datang kehadapan Emil, ditangan nya sudah menenteng nampan berisi jus alpukat.


Emil yang melihatnya tersenyum. ''Wuuuiihh.. ada jus nih! tumben buatin Abang jus? biasanya kan selalu teteh??'' sindir Emil, serta menyeruput jus didalam gelas panjang itu.


Alisa memutar bola matanya malas. ''Heleh! bilang aja Abang nggak suka sama teh yang Alisa buat! nggak perlu nyindir-nyindir kali Bang!'' ujarnya ketus.


''Sruuup Aahh... segarnya! ya elah Dek! jangan gitu Napa ngomongnya? Becanda Dek.. jangan dimasukin kehati!'' balas Emil, ia masih saja menikmati jus yang dibuatkan oleh Alisa.


''Heleh! udah di kata in baru bilang becanda! tadi kemana Anda Bang! kok malah nyindir kayak begitu?!'' balasnya lebih ketus lagi.


Emil tergelak. ''Wuidih.. ngambek, Neng?! jangan atuh.. nanti dikira adek ketularan kambing congek lagi!'' ujarnya lagi masih dengan tertawa.


''Kambing congek??'' beo Alisa.


''Hooh! kambing congek! asal adek tau aja! kemarin pas Abang pulang beli kopi di warung, nggak sengaja Abang nabrak pot bunga ibu-ibu yang rumahnya dekat dengan tengkolan sana. Nggak sengaja sih, sebenarnya. Ketika Abang ingin tanggung jawab, malah Abang ditimpuk pakai pot yang udah pecah! belum lagi Abang dikatai kambing congek?? ishh sebel deh!'' desis Emil, membuat Alisa tertawa.


''Syukuriinn! emang enak! dikatain kambing congek? padahal kan ya? Abang itu orang ganteng loh! kayak opa -opa Korea! salahnya hanya di kulitnya yang agak kecokelatan! selebihnya, Abang mirip banget kayak artis Korea! beneran! Eh? Ups!'' Alisa menutup mulutnya setelah mengakui Emil tampan kayak aktor Korea.


Wajahnya memerah karena malu. Ia ketahuan memuji Emil langsung di depan orangnya. Membuat Emil tergelak kencang. Ia baru mendengar, jika Alisa mengatakannya tampan seperti seorang artis.


Alisa menggeleng. Emil tergelak lagi. ''Kenapa??'' tanya nya


Alisa menggeleng lagi. ''Malu...'' cicitnya.


Lagi dan lagi Emil tergelak melihat tingkah Alisa yang malu karena ulah nya sendiri.


''Ishhh.. ketawanya udah Napa?!'' sewotnya


Emil masih saja tertawa.''Kenapa, hem? nggak suka lihat Abang tertawa kayak gini?'' goda Emil, membuat sang empu menggeleng dengan tangannya yang juga seperti melambai pamit.


''Bu-bukan begitu Abang! Ishh.. gimana sih?! dibilang malu..'' cicitnya lagi seraya menunduk.


Lagi, Emil tertawa lebar. Puas rasa hatinya menggoda Alisa. Setelah sekian lama tidak tertawa, baru kali ini ia tertawa bebas. Sangat membuat nya senang. Apalagi yang digoda adalah calon istri. Nggak salah dong?

__ADS_1


''Haha.. iya! Abang berhenti ketawanya! tapi jangan jutek gitu Napa mukanya? kayak istri yang kurang jatah!'' goda Emil lagi.


Alisa melotot. Bukan ia tak paham dengan jatah apa yang dimaksud Emil.


Lagi Emil tertawa terbahak melihat Alisa yang melotot seperti itu. ''Kamu mikirin apa sih Dek? Jatah?? Jatah yang mana ni??'' goda Emil lagi.


Geram Alisa, ia menimpuk paha Emil begitu keras. Ia memukulnya berulang kali tanpa henti. Membuat Emil mengaduh kesakitan.


''Duh, duh, aduhhh.. sakit sayang! kok malah dipukul sih Abang?? harusnya tuh ya disayang... dicium gitu..'' goda nya lagi.


Bertambah marah lah Alisa. Ia semakin gencar memukul Emil. Sesekali ia mencubit pinggang Emil, membuat Emil tertawa geli.


''Udah! udah sayang! Abang nggak kuat! beneran ya? kamu itu kuat banget nimpuknya! belum lagi dicubitin nih paha! kan tambah enak!'' godanya lagi.


Alisa tak tau lagi harus berbuat apa terhadap Emil. Semakin gencar ia memukul pemuda itu, semakin gencar pula Emil menggodanya.


''Ishh.. sebel sama Abang! Sono pulang Abang! usah kesini lagi! males Alisa lihat Abang!'' ketusnya lagi membuat Emil berhenti tertawa.


''Iya deh iya.. Abang diem! nggak akan tertawa lagi! tapi.. kayaknya pukulannya tadi memang asoy deh? Pukulan dari seorang gadis itu memang menyenangkan ya? Apalagi nanti setelah kita nikah? Pastinya lebih enak lagi! Kenyang dipukulin, kenyang di puasin-'' belum sempat Emil menyelesaikan ucapannya. Alisa sudah menyentak Emil.


''Abang!!'' sentak Alisa. Wajahnya merah padam. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, serta kaki yang juga di hentak-hentakan ke lantai. Kayak anak kecil ngambek!


''Hahaha... Adek kenapa begitu?? Abang nggak ngapa ngapain loh.. kok bisa merah gitu mukanya??'' seloroh Emil.


''Abbaaaannnggggg... tak timpuk pakek sendal ya?! ayo lagi! ketawa in Alisa! Tak timpuk pakai nampan ini sekalian! Mau??'' ujarnya sewot.


Emil masih saja tergelak. Baginya menggoda Alisa adalah keseruan tersendiri untuknya. Saat kepenatan tentang pekerjaan yang menuntut otak serta tenaganya harus ekstra, maka inilah jalan satu-satunya. Yaitu menggoda Alisa.


''Santai sayang... Abang cuma becanda! Tapi.. nanti kalau kita udah nikah, jatah Abang selalu dicukupin ya??''


''Aaabbaaaannngggg....'''


💕

__ADS_1


😄😄✌️


__ADS_2