Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Sedang khilaf


__ADS_3

Plaaakk


Plaakk


Plaaakk


Plaaakk


Plaaakk


Suara tamparan beruang kali di depan pintu rumah Emil dan Alisa. Siapa lagi pelaku nya kalau bukan Rita.


''Sudah ku katakan padamu Adik sialaaaannn! Jika kau tidak mau lagi dengan wanita itu lepaskan! Jangan lagi kau siksa dia!!!!'' pekik Rita begitu kuat, hingga tetangga keluar melihat ada apa sebenarnya.


Lana menatap datar pada Ayah nya. ''Balasan untuk orang yang telah memukul surgaku!!''


Deg!


Deg!


''Apa??''


''Apa? Hah?! Kau terkejut ? Karena aku datang tepat waktu?! Jika aku tidak datang kesini pastilah kau sudah membunuh istri dan anak mu!''


Plaaakk


Bug, Bug, Bug.


''Aaarrggghh...'' pekik Emil pula.


Ternyata Rita menampar dan menendang perut serta pusaka nya hingga Emil menjerit kesakitan.


''Rasakan!! Gara-gara kecebong lak Nat mu lah wanita itu menjadi seperti itu. Dan juga hasil dari benih lak nat mu itu, hingga menghadirkan dua onggik manusia yang tidak kau anggap ketika sedang kau emosi! Dasar sialaaaannn!!!!'' pekik Rita lagi.


Emil masih mengaduh menahan sakit di area pusaka nya.


''Rasakan kau!! Gara-gara pusaka kurang ajar kau itu, kau menghadirkan manusia yang tak berdosa kerumah ini!! Lebih baik sekarang juga kedua pergi!! Tinggalkan wanita itu!!''


''Nggak akan!!! Dia istriku!! Sssttt...'' sahut Emil sembari mendesis menahan rasa sakit di sana.


''Cih!!! Istri katamu?! Heh! Istri apa yang sengaja kau sakiti tanpa belas kasih. Beruntung aku kemari, jika tidak kedua orang itu pastilah sudah tinggal nama!!''


''Lepaskan wanita itu! Kembalikan kepada kedua orang tua nya!!''


''Nggak!! Sekali enggak tetap enggak!!'' bantah Emil lagi.


Mereka berdua terus saja berdebat. Sedangkan Ira dan Alisa sudah jatuh terkapar tak berdaya dilantai nan dingin.


''Ma-mak.. ba-bangun... sssttt.. banguuuunnnn... '' pekik Ira begitu lirih.


Alis takenyahuyi karena tubuhnya begitu lemas dan sekarang seluruh kulitnya terasa panas seperti terbakar akibat cambukan dari sabuk Emil.

__ADS_1


''Ma-mak...''


Alisa membuka matanya begitu sayu. Ia tersenyum melihat putri sulung nya. ''Mak tak apa.. bangun lah! Kamu harus ke sekolah kan??''


''Nggak Kakak nggak mau ke sekolah! Kakak mau merawat Mak aja! Kakak takut, nanti ayah ngamuk lagi...'' lirih Ira dengan bibir bergetar.


''Maaf... gara-gara Mak ikut campur ngomong, kamu jadi sasaran empuk kemarahan ayah.. maafkan Mak, Nak..'' lirih Alisa lagi.


Buliran bening itu mengalir tanpa dipinta. Ira yang mendengar nya pun ikut menangis. ''Nggak! Mak nggak salah.. Kakak yang salah.. maaf Mak.. hiks.. hiks..'' Ira menangis melihat keadaan Mak nya.


Hati Ibu mana yang sanggup melihat ketika darah daging nya dipukul tanpa henti seperti itu hingga anaknya minta ampun pun tidak dipedulikan.


Sakit sekali rasanya. Ingin melawan takut durhaka. Karena terpaksalah ia melawan dan akhirnya seperti itu.


Mereka berdua menangis pilu dilantai nan dingin. ''Ayo.. bangun! Nggak boleh cengeng! kita harus kuat! Ayah pasti sedang khilaf! Bangun Nak.. Mak tak apa. Kamu bisa bangun??'' tanya Alisa pada putri sulung nya.


''Bisa Mak!'' sahut Ira cepat.


Mereka berdua bangun dengan cepat. Lana yang melihatnya ikut juga membantu.


''Abang panggil Om Vian ya Mak??''


''Panggil segera!'' titah Rita.


''Ka-kak Rita!!'' Alisa terkejut melihat kakak iparnya itu disana.


''Ya! Aku disini!! Inikah yang kamu sembunyikan dari ku selama ini Lis?''


Alisa diam dan menunduk.


''Kenapa??''


Terkekeh Rita mendengar ucapan Alisa. Adik ipar nya. ''Aku tau seperti apa adikku itu! Jangan terus kau membelanya! Jika memang kau menginginkan pergi darinya, maka aku yang akan mengurus segala nya.''


Alisa menggeleng. ''Tidak kak.. dia hanya sedang khilaf saja Kak.. tak apa.. aku ikhlas. Jika aku berpisah dengan Ayah nya, bagaimana dengan anak-anak ku Kak?? Mereka akan selalu di ejek hidup tanpa Ayah nantinya..'' lirih Alisa dengan bibir bergetar.


''Belum lagi jika suatu saat Ira menikah, bukan kah butuh wali untuk bisa menikahkan nya?? Aku yakin, Bang Emil pasti berubah Kak..''


''Terserah padamu Lis! Kakak sudah memberikan mu saran! Buat apa hidup dengan lelaki yang tidak pernah bisa menghargai kita sebagai wanita. Sedang dirinya saja terlahir dari rahim seorang wanita. Bukan dari rahim seorang Ayah!'' sahut Rita pada Alisa, ketika melihat Emil masuk kerumah mereka.


Di belakangnya menyusul Alvian dan Maya. Maya yang melihat Alisa terduduk, mendekatinya dan menangis.


''Loh, loh? Kok nangis?? Mbak tidak apa-apa May! Kenapa kamu jadi nangis sih??''


''Mbak.. kerumah Maya aja ya??'' bujuk Maya karena tidak tahan melihat Alisa terus menerus seperti itu.


''Awas sayang! Abang obati dulu Mbak mu ini!'' ucap Alvian menengahi.


''Jangan aku! Ira dulu!''


''Oke! Ayo Kak! sini Om periksa! Abang keluar! Bagi yang tak ada sangkut pautnya disini, silahkan keluar!'' usir Alvian.

__ADS_1


Ia sengaja melakukan seperti itu, karena Emil sedari tadi berdiri mematung di pintu dapur mereka.


''Oke! Ayo Lana kita keluar! Sebaiknya kamu ke sekolah sekarang! Hampir terlambat kamu! Dan kau! Ikut aku!!'' titah nya pada Emil.


Emil mengangguk pasrah. Jalannya begitu pelan. Karena senjata pusaka nya itu masih sangat sakit.


Melihat gaya berjalan Emil, Alvian terkekeh. ''Lis? Kejam kuah ya kakak ipar mu? Apa tidak mati itu burung??'' kata Alvian dengan sedikit terkekeh geli.


''Burung??'' beo Ira.


Alisa melototkan matanya. ''Abang!!''


Alvian tergelak. ''Apa sih Mbak?? Kok manggilnya gitu banget? Mak itu lagi sakit, nggak boleh gitu ah!''


Lagi Alvian tergelak kencang. ''Ishhh...'' gerutu Alisa.


Ira kebingungan melihat tingkah para orang dewasa. Lelah dengan pemikiran para orang dewasa yang entah apa, akhirnya Ira memilih diam.


Sedangkan dokter Alvian masih saja tertawa melihat tingkah Alisa dan istri nya.


''Astaghfirullah! Sakit nggak ini??'' tanya Alvian pada Ira.


Ira hanya mengangguk. ''Ya Allah.. kasian sekali kamu Kak..'' ucap Maya.


''Pulang aja ya Mbak ke rumah kami??'' bujuk Maya lagi.


Alisa memutar bola matanya malas. Sudah yang kesekian kalinya Maya mengatakan hal itu.


Alvian hanya terkekeh saja. ''Sekarang giliran mu!'' katanya pada Alisa.


Alisa mengangguk patuh. Pertama kali Alisa menunjukkan bekas cambukan di tangan nya, Alvian mengepal kan tangannya.


Wajahnya datar sekali. Tak ada lagi wajah yang tadi bay tertawa. ''Keluar Lis!''


''Eh? Keluar kemana??'' tanya Maya


''Keluar dari rumah ini Lis! Tinggalkan lelaki kejam itu! Apakah akan selama nya kamu tinggal disini bersama nya?! Setelah apa yang telah ia lakukan pada mu?! Ayo keluar! Kita pergi dari sini!'' ucap nya pada Alisa, dengan segera memaksa Alisa untuk bangun.


''Tidak Bang! Aku tidak akan pergi dari sini!''


''Kenapa??''


''Karena..''


💕


Maaf ya kemarin othor nggak update?


Mata othor sakit sebelah gegara kemasukan binatang halus yang sering beterbangan itu.


Ini aja masih sakit. Doakan aja agar cepat sembuh dan bisa update lagi cerita ini.

__ADS_1


Hampir mendekati end! 🤧🤧


TBC


__ADS_2