
Warning!
Ada 21+ nya! Yang dibawah umur menyingkir! Atau skip aja yah...
🏵️🏵️🏵️
Satu Minggu berlalu sejak kejadian itu. Kini rumah Alisa terasa tenang. Karena setelah perdebatan antara Emil dan putra semata wayangnya, kini kedua orang itu perang dingin.
Alisa berusaha menyatukan mereka berdua, tapi tetap saja Lana tidak mau. Baginya, jika sudah berulang kali dinasehati tak juga di dengar, maka ia lebih memilih diam.
''Dosa Nak.. Ayah itu Ayah mu.. Bicaralah dengan nya walau hanya menegur saja.'' Peringat Alisa pada putra semata wayang nya.
Lana menatap Alisa dengan raut wajah sendu. ''Abang nggak bisa Mak! Bukan sekali atau dua kali Ayah melakukan kesalahan yang sama. Tapi berulang kali! Abang berusaha ikhlas menerima nya Mak, karena Mak yang meminta nya! Jika bukan Mak, maka Abang tidak sudi untuk tinggal disini lagi!'' tegas Lana.
Putra kecil Alisa itu sungguh lah keras kepala. Sangat menurun dari sifatnya. Alisa menghela nafasnya.
Lelah rasanya membujuk putra nya itu untuk berbicara dengan Emil. ''Ya sudah, kalau di depan orang bersikap baiklah pada Ayah mu. Tidak baik rahasia rumah kita di ketahui oleh orang lain. Itu sama saja dengan kita membuka aib kita sendiri di depan orang. Ingat ya Nak??''
''Ya,'' sahut Lana.
Setelah itu Lana berangkat ke sekolah. Meninggalkan Alisa seorang diri di rumah. Sedang Emil, pagi ini sedang ada pekerjaan diluar sebentar.
Katanya seperti itu. Sementara Ira sudah berangkat duluan tadi sebelum Lana.
Satu jam kemudian, Emil sudah pulang dari pekerjaannya. Ia masuk kerumah dan melihat Alisa baru saja selesai mandi.
Ada rasa ingin menyentuh wanita itu. Entah kenapa, Emil pun tak tau. Alisa pun demikian, saat ini ia sangat ingin di sentuh oleh Emil.
Rasa ingin yang tiba-tiba saja muncul pada dirinya. Alisa menggeleng kan kepalanya. Semua itu tak luput dari tatapan Emil.
Alisa tidak tau jika ada Emil disana. Emil mendekati istrinya dan memeluk Alisa dari belakang.
Ia mengecupi ceruk leher Alisa yang begitu wangi karena baru saja selesai mandi. Sedangkan Alisa tersentak saat ada seseorang memeluknya dari belakang.
Tau jika itu Emil, Ia berbalik dan menatap Emil. Emil tersenyum. ''Udah mandi??''
''Udah,'' sahutnya.
Emil terus saja menatap Alisa, sedangkan sang empu ingin sekali jika dirinya di sentuh saat ini.
Alisa menggigiti bibir bawahnya untuk menahan hasrat yang terus memaksa nya untuk segera di tuntaskan.
Emil tersenyum tipis. ''Abang ingin, bolehkah??''
Alisa menatap Emil dengan wajah sayunya. Ia mengangguk dan menunduk. Malu. Itulah yang dirasakan nya sekarang.
Emil merangkum wajah Alisa untuk bisa menatap nya.
Cup!
__ADS_1
Sesuatu yang lembab dan basah itu menyentuh Alisa. Alisa tersentak saat tubuh nya menginginkan lebih.
Emil tersenyum dalam pagutan nya itu. Ia terus membawa sang istri agar terbuai dengan cumbuan nya.
Berhasil!
Alisa melenguh. Kedua tangannya memegang pinggang Emil dengan erat. Sedangkan Emil masih saja mengecap dan memagut bibir tipis milik Alisa.
''Euugghh..'' lenguhan demi lenguhan terus keluar dari bibir Alisa saat Emil mulai bermain di dua gundukan yang sudah lumayan besar menurutnya.
Baru menyentuh dari luar saja Alisa sudah kelojotan. Emil tersenyum lagi. Ia sangat suka melihat Alisa seperti itu.
Ah..
Desahaan Alisa mengudara di kamar sempit milik mereka. Alisa sudah tidak tahan lagi. Emil masih saja mencumbui dirinya.
Sambil berdiri, Emil melepaskan baju Alisa dan membuangnya asal. Emil melihat jam, ternyata masih pukul sepuluh pagi.
Masih ada waktu dua jam lagi sebelum Lana pulang sekolah. Pikirnya.
Ia membuka baju Alisa yang tersisa hanya CD dan kacamata kuda saja. Emil membukanya dan membuang nya entah kemana.
Ia mendorong sang istri untuk duduk di ranjang mereka. Sampai disana Emil menekukkan kaki Alisa, sebelumnya CD itu sudah terlepas.
Dirasa dirinya akan dijamah oleh Emil, Alisa merentang kan tangan ke belakang sebagai penyangga tubuhnya.
Emil melahap lembah itu seketika, membuat Alisa terkejut. Namun, ia menikmati perlakuan Emil.
Tangannya sibuk menyentuh tubuh Alisa yang lain, membuat wanita yang sedang hamil itu semakin mengerang dan mendesaah.
Semakin lama, semakin nikmat terasa. Hingga ada seperti sesuatu yang menggelitik pusat inti dan juga perutnya.
Alisa terus saja melenguh, membuat Emil semakin terbakar hasrat. Ia menyentuh pusaka nya yang sudah siap tempur dengan lembah surgawi milik Alisa.
Alisa semakin kelojotan dengan perlakuan Emil, hingga pada saatnya ia melentikkan tubuh nya ke belakang dan mengerang panjang.
Sesuatu yang lembab keluar dari sana. Emil tersenyum melihat itu. Ia berdiri dan membuka seluruh pakaiannya.
Dan mulai memasuki Alisa. Alisa yang merasakan milik nya sesak, tersadar. Padahal ia baru saja ingin tidur.
Emil mulai menghentak pinggulnya dengan perlahan, karena tau jika Alisa sedang hamil anaknya.
Pelan dan lembut, membuat Alisa kesal. ''Ishh.. cepetan dikit napa?! Jalan kok kayak keong!'' gerutu Alisa pada saat Emil menghentak miliknya.
Emil terkekeh. ''Tentu, seperti yang kamu inginkan sayanghhh...'' sahut Emil dengan menambah kecepatan laju hentakan nya.
Alisa mengerang hebat. Suara desahaan sahut menyahut di kamar sempit milik Emil dan Alisa.
Mereka terbuai akan rasa ingin yang sudah lama tidak di dapatkan semenjak pertengkaran mereka tiga Minggu yang lalu.
__ADS_1
Rasa rindu untuk ingin menyentuh itu selalu ada pada mereka berdua. Tapi karena masalah yang menimpa mereka, jadilah hal itu terkubur begitu saja.
Dan hari ini, hal itu terlampiaskan tepat waktu. Hingga pukul setengah dua belas siang, Emil baru menyudahi pekerjaan nya membuat Alisa lelah.
Alisa terkapar dengan mata terpejam. Nafas mereka memburu. Emil menatap Alisa yang begitu cantik menurutnya saat ini.
''Terimakasih sayang.'' Bisiknya di telinga Alisa.
Setelahnya ia bangkit dan menyelimuti Alisa dengan selimut. Sedangkan Emil keluar dan membuka kunci pintu rumah mereka.
Dan tepat!
Baru saja Emil berjalan masuk ke kamar mandi yang berada di dapur, sudah terdengar suara Lana mengucapkan salam.
Ia masuk dan celingukan mencari Alisa. Ia membuka pintu kamar Mak nya. Terlihat disana, jika Alisa sedang tertidur di tutupi oleh selimut ke seluruh tubuhnya.
Dengan kipas angin menyala. Terlihat ada seonggok baju yang Emil letakkan dalam keranjang kotor sebelum ia keluar tadi.
Lana menghela nafasnya. ''Ternyata ada Ayah dirumah. Tapi dimana kah orang itu??'' gumam nya sembari melangkah masuk ke kamar mereka yang berada di sebelah kamar Alisa.
Setelah selesai mengganti bajunya, Lana keluar ingin masak nasi. Dan ternyata nasi pun sudah masak di cosmos.
Lana membuka tudung saji yang ada di meja, disana juga sudah ada makanan. Lana tersenyum, berarti Mak nya sudah masak sebelum Ayah Emil pulang tadi.
Ia mengambil piring dan mencuci tangan terlebih dahulu. Setelahnya ia duduk di meja makan yang hanya terbuat dari kayu dan menyiduk nasi serta lauk pauknya.
Hanya ada rendang jengkol dan ikan asin sambal balado disana. Itu saja sudah membuat Lana tersenyum tanpa henti.
Semua itu tak luput dari perhatian Emil dari sebalik pintu kamar mandi. Ia tau Lana sudah pulang. Emil sengaja mengintip pekerjaan putra semata wayangnya itu.
Dan Emil juga tau apa kebiasaan putra nya itu. Satu mangkuk rendang jengkol ia bagi tiga.
Satu untuk dirinya. Satu untuk Ira dan Alisa. Dan satu lagi untuk Ayah nya. Emil tersenyum melihat itu.
''Semoga kamu bisa menjadi anak yang berbakti terhadap kedua orang tua mu, Nak..''
''Loh? Ayah mana?''
Eh?
💕
Hehehe.. othor tak pandai dalam menulis yang hot hot pop! makin gaya makin ngepop!
Eh?
Hehehe.. malu.... 🤣🤣🤣
TBC
__ADS_1