
''Kau yang seperti iblis! Dengan teganya kau menyuruh putramu untuk menceraikan istrinya! Apa nama nya kalau bukan iblis! Iblis nyata berupa manusia!'' seru Maya dengan suara lantang.
Emil yang mendengar mereka di hina tidak terima. ''Diam kalian!!'' sentak Emil.
Membuat nenek Rima dan Maya terdiam seketika. ''Kau Alisa! Mulai malam ini, kau bukanlah istriku lagi! Aku menceraikan mu! Aku talak kau dengan talak tiga! Malam ini juga kau harus pergi dari rumah ku! Bawa serta ketiga anakmu! Mereka bukanlah anakku! Mereka bertiga anakmu, wanita Pembawa Sial!!''
Ddduaarr..
Petir di langit kelam tiba-tiba saja menyambar. Annisa yang terlelap jadi terkejut. Bayi kecil itu menangis dengan kencang.
Alisa menatap nanar pada suaminya. Suami yang baru saja menceraikannya dalam keadaan emosi.
Alisa menoleh apa Alvian dengan mata berkaca-kaca. Maya pun ikut tercengang mendengar ucapan Emil.
Nenek Rima tersenyum puas. Apa yang dia inginkan tercapai sudah. Alisa masih saja menatap nanar pada suaminya.
Ia mendekati Emil dan duduk bersimpuh di kakinya. Melihat Alisa mendekati Emil, Nenek Rima menghadang nya.
''Ngapain lagi kau?! Ingin meminta belas kasih kepada anakku? Heh? Mimpi kau! Wanita seperti mu memang pantas di ceraikan. Kau wanita pembawa sial. Seluruh keluarga mu pembawa sial!'' seru Nenek Rima.
Maya yang mendengar ucapan Nenek Rima tersulut lagi emosi. ''Kau menuduh kakak ku wanita pembawa sial? Bukan sebaliknya ya? Kau kan yang membawa sial untuk hubungan mereka! Karena kau, mereka harus berpisah! Tega kau Nenek gayung! Memisahkan seorang istri dari suaminya! Kau akan di kutuk karena telah memisahkan pasangan yang saling mencintai! Kau menuduh nya sial! Padahal keluarga mu yang sial! Lempar batu sembunyi tangan! Kau tidak berani mengakuinya karena itu memang benar adanya!''
''Diam kau! Kau pun sama sialnya dengan wanita ini!'' tunjuknya pada Alisa. ''Kalian berdua sama! Sama-sama pembawa sial! Kau dengannya seperti benalu saja! Aku tau siapa kau Maya!''
''Oh ya? Seperti apa aku rupanya? hem?'' tantang Maya.
''Wanita buluk! kau pun sama seperti nya! kau di pungut oleh lelaki yang bergelar dokter itu. Kau orang susah tidak punya apapun! Jangankan harta, rumah pun kau tak punya! Beruntung sekali hidupmu di kutip oleh si Alvian ini! Cih!''
''Diam kau Nenek gayung! Berani sekali kau menghina ku!!''
__ADS_1
''Kau yang diam!!''
Emil yang pusing mendengar perdebatan dua orang itu, angkat suara.
''Diam kalian!!! Pusing aku dengar nya! Kalian semua sama! Kalian semua nya pembawa sial! Kau Alisa! Sekali lagi ku tekan kan! Mulai malam ini kau bukanlah istriku lagi! Aku menceraikan mu dengan talak tiga!! Kau paham? kau dengar?!?''
Lagi hati Alisa seperti dihantam paluh Godam yang begitu berat. Sakit kepala tak ia hiraukan.
Lebih sakit saat mendengar ucapan lantang dari Sang suami yang selama ini hidup bertahun bersama nya.
Lagi, Nenek Rima tersenyum puas. Sedangkan Kelima orang itu membatu di tempat mendengar ucapan talak dari Emil.
''Akhirnya... lepas juga! Ingat kau Alisa! Mulai malam ini kau bukanlah menantu ku! Dan juga ketiga anak mu bukanlah cucuku lagi! Aku benci keturunan ku yang lahir dari rahim wanita pembawa sial seperti mu!!''
Ddddduuuaaarrrr..
Tega Nenek gayung itu mengatakan jika dia membenci keturunan Emil yang terlahir dari rahim Alisa.
Ira dan Lana menatap nanar pada Nenek Rima. Ira melangkahkan kakinya menuju Nenek Rima yang sedang tertawa mengejek pada Alisa.
''Apa salah kami Nek? Kenapa Nenek begitu tega menyakiti perasaan kami! Aku tak pernah meminta untuk dilahirkan ke muka bumi ini. Jika boleh aku meminta, aku juga tidak mau dilahirkan dari keturunan biadab seperti keluarga kalian!''
Deg!
Deg!
''Kakak ..''
''Ira...'' panggil Alisa dan Nenek Rima bersamaan.
__ADS_1
''Apa salah kami bertiga Nek? Kenapa Nenek selalu benci dengan kami? Apakah kami ini begitu hina di mata Nenek, hingga tidak mau mengakui nya? Kami bertiga tidak ingin untuk dilahirkan ke dunia hanya untuk menerima pengakuan dari Nenek KANDUNG kami sendiri. Kami terlahir ke dunia karena Ayah. Putra tersayang Nenek! Tega Nenek! Selama ini aku selalu diam dengan apapun yang Nenek katakan! Bahkan yang tidak pernah terjadi dirumah, Nenek katakan ada pada Ayah.''
''Benar kata Ibuk Maya. Jika nenek adalah iblis berparas manusia. Manusia macam apa yang tega memutuskan hubungan kedua anaknya? Jika itu itu bukan iblis!'' ucap Ira dengan air mata yang terus mengalir.
Emil terdiam mendengar ucapan Ira. ''Bahkan kalian dengan teganya mengusir Mak ku dari rumahnya sendiri! Ingat Yah! Rumah itu adalah rumah Mak ku! Bukan rumah Ayah! Jadi Nenek tidak berhak atas rumah itu! Rumah itu di beli dari uang simpanan Mak selama ia hidup bersama Ayah. Uang itu dari Nenek Alina di Aceh. Uang itu di tujukan untuk kami berdua. Tapi kami berdua mengijinkan Mak untuk membeli rumah uwak Rita, agar kami punya tempat tinggal dan tidak ngontrak lagi. Jika kalian tidak percaya, tanya saja pada uwak nanti ketika ia pulang dari Rantauprapat. Aku menyesal bisa terlahir dari Ayah seperti Ayah!''
Ddddduuuaaarrrr..
Lagi suara petir itu menggelegar d atas langit malam. Emil menatap nanar pada putrinya itu. Sedangkan Alisa masih duduk bersimpuh di hadapan Emil.
Mulut Nenek Rima terkatup seketika. Ia menatap sendu pada cucunya itu. Ia tak menyangka, jika perkataan nya itu melukai hati cucu nya.
''Apakah sudah tidak ada kesempatan lagi bagiku Bang?? Apakah pengorbanan ku sia-sia? Aku mohon tarik kembali ucapan mu itu. Demi ketiga anak kita, Bang! Aku mohon..'' pinta Alisa dengan sangat.
Mata itu berkaca-kaca menatap Emil. Tapi Emil tetap diam. Lana tak ingin melihat Mak nya harus dihina lagi.
Ia melangkah mendekati Mak nya dan menarik Alisa agar bangkit dari duduknya. ''Ayo Mak! Tak perlu memohon kepada orang seperti itu! Tanpa mereka pun, kita bisa hidup! Ayo Mak kita pergi! Untuk malam ini kita akan tidur dirumah itu satu malam lagi. Besok pagi, kita harus segera pergi! Nggak ada gunanya memohon seperti itu! Abang bisa kok menghidupi Mak! Abang berdoa pada Allah, semoga setelah ini Abang akan di pertemukan dengan seorang pemuda yang menyayangi kita melebihi nyawa nya sendiri! Dia yang akan menggantikan posisi lelaki itu! Cukup Mak! Cukup sudah! Ayo kita Pulang! Mak sayang Abang kan?'' tanya pada Alisa.
Alisa mengangguk. Ia menangis sesegukan mendengar ucapan putra kecilnya itu. Begitu juga dengan Maya.
Begitu juga dengan Alvian. Ia pun menitikkan air matanya mendengar ucapan Lana begitu bijak di usia yang yang masih kecil.
''Tapi Nak.. bagaimana kita bisa hidup? Kalian akan di hina karena tak punya Ayah..'' lirih Alisa lagi masih dengan sesegukan.
''Lebih baik Abang tidak punya Ayah! Daripada punya Ayah tapi tidak mau mengakui jika kami adalah anaknya! Darah dagingnya! Begitu juga dengan nenek tua itu! Bahkan ia menyangkal kebenaran yang ada didepan matanya! Tidak perlu memohon kepada orang yang sudah tertutup hatinya Mak!. Abang yakin kok. Setelah ini, Mak akan lebih sukses dari sekarang! dan Mak akan mendapatkan lelaki yang sangat baik yang menerima kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri Mak! Dan disaat itu terjadi, maka Abang lah yang akan mendatangi dua orang ini untuk memberikan undangan pernikahan Mak itu nanti! Ayo! Adek dari tadi haus, ingin nyusu sama Mak! Mak tak ingat adek lagi?''
''Astaghfirullah! Annisa..''
TBC
__ADS_1