
''Cukup! Cukup Yah! Malu dilihat orang!'' tegur Lana.
Membuat Emil menoleh pada putranya. Wajah nya begitu bengis saat ini.
''Hoo.. Kau ingin membela Mak mu?! hah?! Sini kamu?!'' ucap nya pada Lana.
Ia berjalan mendekati Lana yang juga tengah menatapnya. Alisa yang melihatnya berlari mencegat Emil.
''Jangan Bang! Jangan Lana! Aku saja!'' tahan Alisa, saat tangannya ingin menyentuh tangan Lana.
''Apa heh?!'' sentak Emil.
''Cukup Yah! Ayah selalu saja memarahi Mak, tanpa alasan yang jelas! Jika memang Ayah tidak mau lagi dengan Mak, lepaskan! Biar kami pergi dari sini! Buat apa tinggal dengan ayah, kalau akhirnya harus disiksa tiap hari seperti ini!'' tukas Lana.
Membuat Emil semakin meradang karena putranya lebih membela Mak nya, Alisa.
''Apa kau bilang?!''
Plaakk..
Plaakk..
''Astaghfirullah!! Maaaakkk...'' pekik Lana dan Ira bersamaan saat melihat Alisa jatuh terkapar karena tamparan Emil yang begitu kuat.
Belum lagi pelipis Alisa menyentuh tepi meja hingga mengeluarkan darah. Lana yang melihat Ayah nya semakin meradang.
''Aaayyaaahh.. kau Jahaaaattt!! Berani sekali Ayah memukul Mak ku, hah?!?'' pekik Lana begitu kuat, hingga membuat Emil tersentak.
Ia menatap Lana dengan tatapan tak tau seperti apa.
''Kan sudah ku bilaaang? Jika Ayah tidak mau dengan Mak ku lagi, lepaskaaaaannn! Jangan pukul Mak kuuuu!! Dasar lelaki kejaaaammm!! Tak berperasaaaaaann... haaaa... emaaakkk... banguuuunnnn...'' pekik Lana.
Saat melihat Alisa jatuh terkapar dilantai dengan darah mengucur dari pelipisnya. Ira datang membangkitkan kepala Alisa.
''Hiks, Mak bangun hiks, Abang! Hentikan dulu tangis mu! Panggil Om Alvian!!'' jerit Ira
Membuat Lana berlari keluar dengan terus sesegukan. Setibanya disana, ia melihat Alvian baru akan masuk ke rumahnya.
Sebenarnya Alvian tau, jika Alisa di pukul oleh Emil. Tapi ia sengaja diam, karena sudah mendengar suara pekikan Lana.
Alvian tak mau ikut campur dalam masalah rumah tangga orang. Lagi pun sekarang, ia sudah menikah.
Dan sudah memiliki seorang putri berusia lima tahun. Dan anak keduanya berumur satu setengah tahun.
__ADS_1
Bahkan ketika ia menikah pun, Alisa di undang untuk menjadi pendamping nya saat menikahi istrinya.
Istri Alvian sangat ramah dan baik pada nya.
''Om Alvian... tolong...'' jerit Lana, membuat Maya dan Alvian terkejut.
Emil semakin terkejut saat melihat Lana berlari dengan menggandeng Alvian. Istri Alvian pun ikut.
''Astaghfirullah Mbak Alisa!!'' pekik Maya istri Alvian
''Tunggu Dek! Jangan sentuh dulu. Abang nggak bawa alat. kamu pulang ambil dulu ya??'' Ucap dokter Alvian begitu lembut pada istrinya.
''Tapi Bang? Mbak Alisa...'' lirihnya dengan mata berkaca-kaca.
''Sudah, tak apa. Ayo cepat! Terlambat sedikit saja, nyawa nya dalam bahaya.'' Sahutnya lagi sembari menenangkan istrinya.
Emil tertegun dengan perlakuan Alvian terhadap istri nya. Ia menatap datar pada Alvian yang terus berusaha menyeka darah yang mengalir di wajah Alisa.
Hati nya panas melihat itu. Namun, ego nya lebih tinggi. Ia lebih memilih pergi keluar, dari pada mengurus Alisa yang sedang terluka.
''Hiks, bangun Mak ..'' Isak Ira
Dokter Alvian hanya bisa menghela nafasnya. Tak lama, Maya pun datang dengan membawa tas perlengkapan dokter nya.
Karena luka nya agak lebar. Jadi terpaksa ia jahit. Ira dan Lana yang melihat nya semakin menangis.
Belum lagi sedari siang Alisa tidak makan sama sekali. Karena sibuk disuruh kesana kemari oleh Emil.
Emil yang sudah kalap mengetahui jika uang nya telah habis dari dua bulan yang lalu, ia mengamuk sejadi-jadinya.
Emil menyuruh Alisa untuk mengganti uang itu dengan cara ia harus bekerja. Tapi Alisa tidak tau harus bekerja apa.
Maka sedari siang tadi Alisa keliling untuk mencari pekerjaan tapi tak kunjung ia dapatkan.
Setengah hari berjalan kesana kemari mencari pekerjaan, pulang ke rumah dimarahi dan dikasari membuat Alisa sangat enggan untuk membuka matanya.
Padahal ia merasakan jika pelipis nya sedang di jahit Alvian. Alvian tau, jika Alisa sudah sadar saat pelipis nya tadi di jahit.
Namun, ia malas untuk membuka matanya. Karena ketika matanya terbuka nanti, yang terlihat adalah wajah Emil.
Wajah yang telah sekian kali melukai hatinya.
''Mak... bangun... kita pergi dari sini ya??'' Ajak Lana, karena ia tau jika Alisa sudah sadar.
__ADS_1
Namun enggan membuka matanya. ''Lis... buka mata kamu. Lihatlah kedua anak mu ini, mereka sangat membutuhkan dirimu. Ayo bangun! Alisa yang ku kenal itu kuat. Tidak cengeng seperti ini. Bangun Lis!'' seru Alvian.
Maya menatap suaminya dengan heran. ''Abang kenapa?? Mbak Alisa masih belum sadar loh.. masa' iya disuruh bangun sih?!'' gerutu Maya, membuat dokter Alvian terkekeh.
Inilah yang disukai dari Maya olehnya. Maya si gadis polos saat bertemu dengan nya. Ia melihat Alisa ada pada diri Maya.
''Sayang ku.. cintaku.. istriku.. Alisa itu sudah sadar sedari tadi. Kamu lihat saja tuh, kelopak matanya aja udah gerak-gerak? Dianya aja nggak mau bangun!'' ketus dokter Alvian pula.
Membuat Alisa terkekeh. ''Loh? Jadi bener ya yang dibilangin Abang?? Mbak udah bangun sedari tadi??'' tanya Maya dengan polosnya.
Alvian tergelak melihat tingkah Maya. Begitu juga dengan Ira dan Lana. ''Ayo bangun Mak .. Mak belum makan sedari siang tadi. Kalau udah makan, nanti Abang bantuin Mak untuk wudhu ya?'' bujuk Lana.
Alisa hanya mengangguk saja. Ia masih terkekeh dengan kelakuan Alvian dan Maya.
''Terimakasih Bang.. Maya.. tanpa kalian, mungkin aku sudah tiada sekarang.'' Lirih Alisa begitu pelan.
Dokter Alvian menghela nafasnya. ''Jika kamu sudah tidak kuat, berhentilah! Jangan dipaksakan. Yang ada kamu akan tersiksa terus setiap hari. Dan lagi, aku heran sama kamu Lis. Kok jadi cengeng gini sih? Mana Alisa yang ku kenal dulu begitu tangguh ketika bang Emil membuat ulah? Kamu sudah lupa Lis??''
Alisa terdiam. Ia pun jadi heran dengan dirinya. Mengapa pula sudah dua Minggu ini, ia selalu menangis setiap kali Emil membentak nya.
''Nggak tau Bang.. yang jelas aku pingin nangis itu aja!'' sahutnya dengan bibir yang sudah bergetar.
Maya yang melihat nya , memeluk Alisa dengan erat. ''Jika Mbak butuh sesuatu dari kami, katakan saja! Jangan sungkan! Kami siap membantu! Apapun Mbak..'' kata Maya sembari mengusap tubuh Alisa.
Alisa menangis lagi membuat Alvian menghela nafasnya. ''Kamu udah dapat belum bulan ini??''
''Hah? Dapat? Dapat apa Bang? Dapat duit kah??'' tanya Maya.
Alvian yang gemas dengan istrinya langsung saja memeluk wanita itu didepan Alisa. Membuat Ira dan Lana tertawa.
Maya di dekap begitu kuat, hingga sulit bernafas. ''Lepas! Lepasin ih! Engap Bang!'' jerit Maya tertahan.
Alvian tertawa. ''Kamu itu diam dulu napa? Abang tuh lagi nanya sama Mbak mu! Diem! Atau??'' kerlingan mata dokter Alvian membuat Maya terdiam.
Alisa terkekeh melihat tingkah pasangan itu. Ia sangat bahagia melihat Alvian bisa bahagia dengan wanita pilihan nya.
''Sudah selesai senang-senang nya?!''
Deg!
💕
Hampir mendekati end!
__ADS_1
TBC