Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Pak Yoga gelisah


__ADS_3

Setelah mendengar ucapan dari Alisa tentang calon menantunya itu, Pak yoga jadi tidak menentu.


Pikiran nya kacau. Resah dan gelisah bergabung menjadi satu. Pak Yoga dari tadi mondar mandir tak jelas dalam kamar nya.


Mama Alina yang melihat, merasa heran. Ada apa dengan suaminya ini.


''Pa...'' tegurnya


''Hah? Apa Ma..?'' tanya nya


''Sini! Papa duduk dulu sini! Jangan mondar-mandir terus.. pusing Mama liatin nya! Ayo.. sini duduk! Ada apa? Coba cerita, mungkin Mama bisa bantu?'' ucap nya dengan menatap Pak Yoga.


Pak Yoga menghela nafas nya. ''Papa hanya sedang gelisah aja Ma... Papa merasa hati ini sedang gundah! memikirkan bahwa Emil akan datang kemari malam ini. Papa hanya berpikir, apakah ia ingin meminta Alisa pada kita, untuk dinikahkan dengan nya? Mama masih ingat kan tentang janjinya dulu? Masih ingat?? Kalau Alisa sudah selesai ujian dan tamat dari sekolah nya, maka Emil akan segera menikahi putri kita Ma!'' ujar Pak Yoga terdengar seperti tidak rela.


Mama Alina tersenyum. ''Pa.. jika kita sudah mengikat Alisa dengan seorang pemuda, maka itulah yang terjadi. Kita sebagai orang tua hanya bisa berdoa untuk nya, semoga Alisa bisa menjadi seorang istri yang Sholehah. Patuh pada suaminya dan juga minta sama Allah agar dipermudah kan dalam segala hal, kita tidak bisa menolak takdir yang sudah tertulis untuk nya Pa.. kita hanya berdoa demi kebaikan putri kita! Sebaiknya Papa sholat! biar hati tenang, dan tidak berfikir yang macam-macam! Husnudzon Pa! Ingat itu! Ayo wudhu dulu!'' petuah Mama Alina yang diterima dengan baik oleh Papa Yoga.


''Terimakasih sayang! kamu masih setia menasehati ku! terkadang ada sesuatu didalam diriku, yang memaksaku untuk bersu'udzon pada pemuda itu. Entah kenapa, aku pun tak tau..'' ujar Papa Yoga, ia meraup wajahnya kasar sebelum ia beranjak untuk berwudhu.


Setelah berwudhu, Papa Yoga sholat dua rakaat guna untuk menenangkan hatinya. Kebetulan hampir memasuki waktu Maghrib. Jadi sekalian Pak Yoga sholat qobliyah sebelum Maghrib.


Tadi sore, sebelum Maghrib Pak Yoga beserta Mama Alina mereka berdua telah menghubungi keluarga besar dua keluarga itu.


Pakde Tarman , Bulek serta Tante Irma mereka semua sedang perjalanan. Mereka akan tiba setelah isya nanti.


Semua persiapan sudah selesai, tinggal menanti kedatangan keluarga besar mereka dan juga calon suami dari Alisa.


Walau pun sudah sholat, tak mengurangi rasa khawatir di hati Pak Yoga. Ia tetap saja, masih gelisah.


Berjalan kesana kemari, Kulur kilir tak tentu arah. Hatinya tetap resah. Entah ada apa yang terjadi dengan hatinya.


''Ya Allah.. tenangkan hatiku.. aku tak tau mengapa dari tadi perasaan ini tidak menentu? Wahai Zat yang selalu membolak balikkan hati, hamba mohon balikkan hati ini menjadi tenang. Tidak gelisah seperti ini? Bukan hamba menolak takdir yang telah Kau goresan untuk putri hamba.. hanya saja.. firasat ini sangat kentara terasa.. Ya Tuhan ku.. Tuhan Rabbul 'Alamin.. hamba mohon.. kembalikan hati ini seperti sedia kala.. sebagaimana tadi sebelum hamba mendengar tentang berita ini.. hamba hanya takut.. jika terjadi sesuatu dengan putri hamba.. Ya Tuhan ku Allah Rabbul 'Alamin.. Engkau lah maha Zat yang selalu membolak balikkan hati seluruh hamba mu.. hamba akan berusaha ikhlas walaupun berat.. Ampuni hamba ya Allah.. hamba ber husnudzon pada Mu ya Robb..'' gumam pak Yoga dalam hatinya.


Ia masih saja gelisah. Jam masih menunjukkan pukul 7.14 masih ada setengah jam lebih lagi kedua keluarga nya tiba di kediaman nya.

__ADS_1


Alisa baru saja selesai sholat saat mendengar, suara klakson di luar pintu gerbang mereka.


Alisa berlari tanpa melepas mukenah nya terlebih dahulu.


Wuuushhh..


Alisa berlari secepat kilat. Mama Alina yang melihat Alisa berlari terkejut. Sungguh putrinya itu berhasil membuat diri nya sport jantung.


''Astaghfirullah Lis!!'' pekik Mama Alina.


''Hehe.. maaf Ma.. Alisa mau ketemu dengan Tante Irma. Udah lama, jadi kangen..'' ucap nya seraya berlari ke depan di mana keluarga besar itu telah tiba.


''Tante!!'' seru Alisa.


Seorang wanita dengan hijab berwarna biru laut, dengan baju gamis berwarna senada dengan hijabnya menoleh.


''Putri ku...'' ucapnya seraya berlari mendekati Alisa.


''Tante..'' ujar Alisa sambil memeluk Tante kesayangan nya ini.


Alisa tertawa, demikian juga dengan yang lain.


''Ishh.. nggak sadar umur apa?! Udah tua juga! Udah punya buntut! Kamu juga Lis! Bukannya dibuka dulu tuh mukenah, langsung ngacir aja!'' serunya jutek pada mereka berdua.


''Wow.. wow.. Mbak ku yang sudah tua tapi masih cantik! Apa kabar Mbak?? Kangen banget aku sama Mbak..! Ih kok jutek gitu sih wajahnya?? Cemburu ya?? hem??'' ujar Tante Irma. Sengaja ia menggoda kakak satu satunya ini, karena ia tahu jika Alisa sudah berjumpa dengannya, maka Mama Alina tersingkir kan.


''Heh, cemburu gundul mu! cemburu kok sama perempuan! Cemburu tuh ya sama lelaki! emang kalian berdua ngerebut apa dari ku? Hingga cemburu??'' ketusnya lagi.


Pakde Tarman tertawa. Sedangkan Irma terkekeh melihat tingkah kakak nya yang satu ini.


''Ya, kali kan Mbak cemburu sama kami berdua? Siapa tahu? Karena yang aku tahu, kalau aku kesini pasti putri Mbak lebih dekat denganku, dibanding dirimu! iya toh??'' ucapnya sambil menggerakkan alisnya naik turun.


Membuat Mama Alina mencebik kan bibirnya.

__ADS_1


Tante Irma yang melihat terkekeh lagi. Ia sangat suka menggoda kakaknya ini.


Mereka berdua hanya dua bersaudara. Mama Alina yang sulung sedangkan Tante Irma yang paling kecil. Ada adik mereka satu lagi, laki-laki. Tapi sudah meninggal saat usianya masih tujuh tahun.


Jadilah tante Irma yang paling bontot.


Pak Yoga yang mendengar suara riuh gelak tawa keluarganya tertawa. Ia mendekati kakak tertuanya yaitu, Pakde Tarman.


''Apa kabar Kak??'' tanya nya.


''Seperti yang kamu lihat? Kakak baik dan tambah tampan tentunya!'' ujarnya jumawa.


Pak Yoga terkekeh-kekeh. ''Ya, ya.. kakak memang yang paling tampan diantara kita bertiga. Ayo mari silahkan masuk?'' ajaknya sambil mbawa tas bawaan kakak tertuanya itu.


''Tapi sebentar, mana Hilman dan Rasmi ? Apakah mereka tidak datang? Mengapa hanya Kakak saja yang datang?'' tanya pak Yoga.


Pakde Tarman ingin menjawab, tapi dari kejauhan terlihat sorot lampu yang begitu terang.


Tit, tit.


Bunyi klakson mobil kijang Innova berwarna silver. Mobil itu berhenti tepat di depan pakde Tarman dan juga yang lainnya.


''Assalamualaikum mas??'' sapanya


Pak yoga tersenyum dan merentangkan kedua tangannya untuk memeluk adik ke empatnya itu.


''Waalaikum salam sayang.. kenapa lama sekali sih sampainya? Yang kayak jauh aja rumahku?!'' ujarnya jutek.


Tante Rasmi memanyunkan bibir nya. ''Ishh.. jangan panggil sayang napa?! Aku kan udah besar mas! bukan anak kecil lagi! ishh..'' gerutu nya kesal.


''Haha.. bagiku kau tetap lah adik kecilku walaupun kau sudah menikah, namun bagiku kau tetap sayangku! jadi jangan cemberut oke?'' ujar ya seraya memeluk adiknya erat.


''Ya sudah, mari semua silahkan masuk! semua sudah tersedia didalam!'' ucap mama Alina.

__ADS_1


Mereka semua berlalu masuk kedalam untuk makan malam bersama. Sebelum nantinya, tamu yang akan di tunggu tiba.


__ADS_2