Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Kemarahan Rita.


__ADS_3

Saat Emil sudah keluar dari pekarangan klinik bidan Novi, Emil menelpon Rita. Untuk menyampaikan bahwa istrinya sekarang sedang berada di klinik bidan Novi.


''Hallo kak..''


''Assalamualaikum adik sialan!'' ketus Rita dari sebatang sana.


''Waalaikum salam kak..'' sahut Emil sembari menghela nafasnya.


Sangat berbicara baik-baik dengan kakak nya ini.


''Cih! Ada apa??'' ketusnya lagi.


''Malam ini aku sama Abang kan akan berangkat ke Pekanbaru, tolong kakak jaga Alisa ya? Karena sekarang, dirinya sedang berada di klinik bidan Novi.''


Rita tersentak. ''Apa?!? kau apakan lagi Alisa?! Adik sialaaaannn?!?!'' pekik Rita di sambungan ponsel nya.


Emil meringis dan menjauh kan ponsel nya dari telinga, karena telinga nya berdengung mendengar kan jeritan Rita.


''Tidak ada apa-apa kak, hanya-''


''Kemari kau adik sialaaaannnn'' pekik Rita lagi dari seberang sana.


Membuat Emil menghela nafasnya. Jika bukan karena Alisa sedang sakit, dan dia juga akan pergi malam ini, pastilah Emil malas berurusan dengan kakak kandung nya yang super duper galak ini.


''Ya, aku kesana sekarang!'' sahut Emil setelah ia mematikan sambungan ponsel nya dari Rita.


Sedangkan Rita sudah gusar menunggu kedatangan adik sialan nya itu. Lima menit kemudian ia melihat dari kejauhan jika Emil sedang menuju kerumahnya.


Belum lagi Emil turun dari motor nya, Emil sudah di semprot duluan oleh Rita.


''Kau apakan Alisa lagi, hah?!'' sentak Rita.


Membuat Emil terjingkat kaget. Emil menggelengkan kepalanya melihat tingkah kakak nya ini yang benar-benar galak!


Emil menghela nafasnya. ''Tadi...'' Emil pun menceritakan asal muasal dari ia melihat Alisa sampai dengan ia berdebat dengan Alvian.


Dan terakhir, Emil memukul Alvian tapi di halang oleh Alisa. Jadilah, Alisa yang mendapat bogem mentah dari dirinya.


Ini senjata makan istri namanya! Bukan senjata makan tuan!


Wajah Rita merah padam mendengar penjelasan Emil.

__ADS_1


Plaakk..


''Dasar tidak berguna?! kapan kau bisa berubah hah?!'' sentak Rita lagi di depan wajan Emil.


Plaaakk..


Lagi Rita menggeplak kepala Emil, hingga pemuda yang berstatus ayah itu meringis menahan sakit.


''Udah Ta! kamu ini kenapa?? jangan menyiksa adik mu seperti itu! masih bagus dia mau mengakui nya?'' cegah pak Daman saat melihat Rita ingin memukul Emil lagi.


Rita menatap pak Daman dengan tajam. ''Diam!'' titahnya dengan raut wajah tak terbantahkan.


Pak Daman menghela nafasnya. Jika sudah seperti ini, maka akan sulit untuk membujuk Rita lagi.


''Apa sih yang ada di otak kamu?! hingga kau harus memukul Alvian?! Apa salah yang di katakan oleh nya?! Semua yang dikatakan olehnya itu benar adanya! Tapi kau?!'' sentak Rita lagi.


Emil menundukkan kepalanya tidak berani menatap Rita. Sedangkan pak Daman sudah berlalu pergi meninggalkan dua saudara yang sedang bersiteru itu.


''Maaf kak...'' lirih Emil dengan menunduk.


''Cih! sudah berbuat baru minta maaf! kemana kau tadi saat memukul Alisa hah?!'' Sentaknya lagi.


''Apa salah ku kak?! Salah kah jika seorang suami melihat istrinya lebih senang tertawa dengan orang lain dari pada dengan suaminya?! Salah kah aku, jika aku terlalu mencintai nya hingga aku takut kehilangannya? Salah kah aku jika cemburu melihat istriku berduaan dengan pemuda lain di dalam rumah ku?! hah?! Di mana salah ku kak?? Kau selalu menuduhku! Membahas yang dulu itu kesalahan ku! Tapi sekarang ini ingin berubah lebih baik lagi kak! Kenapa di mata kakak aku selalu... saja salah?! Semua orang selalu menyalahkan ku! Tanpa melihat bagaimana posisi ku?! Seandainya kalian bisa merasakan apa yang akan ku rasakan, kalian pasti tidak akan bertingkah seperti ini pada ku?! Aku kecewa dengan mu kak! Saat aku ingin berubah, kau bukannya mendukung ku! Tapi malah menyalahkan ku! Aku Pulang!'' ketus Emil, kemudian ia menghidupkan motornya dan berlalu meninggalkan Rita yang termangu karena ucapan adik sialan nya itu.


Rita masih mematung diluar seorang diri, sedangkan Emil sudah kembali ke rumahnya. Sepanjang jalan, air mata itu mengalir tanpa henti.


''Kenapa selalu aku yang disalahkan??''


''Kenapa mereka tidak melihat sedikit saja diriku yang ingin berubah ini?''


''Segitu burukkah aku, hingga aku tidak pantas untuk dimaafkan??''


''Aku tau.. aku terlalu banyak melukai Alisa. Tapi aku ingin berubah. Dimana letak kesalahan ku??''


''Apakah salah jika aku Cemburu??''


''Bagaimana aku tidak marah melihat Alisa tertawa senang dengan orang lain, dibandingkan dengan diriku??''


''Apakah aku tidak pantas bersanding dengan wanita sebaik Alisa???''


Emil terus saja bergumam-gumam kecil saat mengendarai motornya. Setibanya dirumah, Emil mengambil sebuah ransel, dan mengemas semua bajunya.

__ADS_1


Hanya tersisa sedikit saja. Semuanya ia bawa. Dalam keadaan hati yang begitu kalut, lagi dan lagi ia membuat masalah baru.


Ia tidak sadar, jika nanti Alisa pulang, ketika ia mbuka lemari melihat semua pakain Emil sudah kosong.


Hanya tersisa sedikit saja.


Emil terus saja bersiap. Setelah nya ia mendorong motor nya masuk kedalam dan menggemboknya.


Nanti saat sampai dirumah Rita, ia akan menyerahkan kunci itu pada kakak super galak nya itu.


Emil keluar dengan menyandang ransel berukuran besar. Ia memutar kunci pintu dan berjalan kaki meninggalkan kontrakan nya bersama Alisa.


Seseorang menatapnya dengan tatapan yang entah seperti apa.


Tibanya dirumah Rita, ia menyerahkan kunci motor nya pada Pak Daman untuk diberikan kepada Rita.


Lama ia menunggu kedatangan bus keberangkatan mereka. Sedangkan Rita sudah tidak disana lagi.


Rita sudah ke klinik untuk menjenguk adik ipar nya itu. Setengah jam kemudian, bus mereka tiba.


Emil dengan segera menaiki nya begitu juga dengan pak Daman. Ketika melewati sebuah lorong yang menunjukkan klinik bidan Novi, mata Emil mendadak buram.


Teringat akan istri dan juga putri kecilnya disana. Emil menghela nafasnya. Pak Daman hanya bisa diam.


''Sabar... dan berubah lah kearah yang lebih baik lagi. Jadikan pelajaran. Kita pergi dalam jangka waktu yang lama Cu. Dan selama itu, kau harus bisa merubah pribadi mu itu. Berubah kearah yang lebih baik lagi.''


''Ya, aku tau dan paham bang...'' lirih Emil.


Ia memejamkan kedua matanya untuk menghilangkan rasa sesak yang sedang melanda dirinya.


Pak Daman hanya bisa menepuk bahu untuk menguatkan adik iparnya itu.


''Kenapa lah tidak dari dulu kau berubah Cu?? Di saat semuanya hampir saja usai, barulah kau sibuk! Aku tak paham dengan jalan pikiran mu. Bukankah sudah pernah ku katakan, jika kau tidak bisa membawa wanita itu kejalan yang benar, maka berusahalah menjadi suami yang baik untuk nya. Karena dengan kau berbuat baik padanya, maka dia pun akan berbuat baik pada mu. Tapi lihatlah, wanita itu. Begitu banyak kau menyakiti hatinya, tapi dia masih bersedia menerima kau sebagai suaminya. Berubah lah kearah yang lebih baik lagi. Jika kau tak mampu untuk membahagiakan nya, maka kembalikan ia pada kedua orang tua nya.''


💕


Masih mau lanjut??


Setelah ini akan ada yang lebih mengejutkan lagi.


Ikutin terus ya!

__ADS_1


Like dan komen!


TBC


__ADS_2