Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Lagi dan lagi


__ADS_3

Setelah Alisa membersihkan dirinya, ia masuk ke dalam kamar di mana sang suami sedang tertidur dengan pulas.


Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Alisa sangat lapar, namun ia belum sholat.


Terlebih dahulu ia sholat baru setelahnya ia makan. Tenaga nya terkuras habis saat sang suami tadi mengajaknya untuk mengarungi lautan surgawi.


''Assalamualaikum warahmatullahi..'' ucap Alisa setelah sholatnya selesai.


Sejenak ia tepekur, ia melihat dimana Emil berada. Hatinya ter iris saat mengenang kejadian yang baru saja di alaminya.


Hatinya sakit, melihat Emil bisa tertidur dengan nyenyak sedang dirinya harus menahan sakit di sekujur tubuh dan juga pusat intinya.


Alisa terisak, ia menangis dengan menutup kedua mulutnya agar Emil tidak tau. Sakit di tubuh tidak sebanding dengan luka hatinya.


Setelah tenang, ia menengadah tangan nya keatas dan berdoa,


Ya Allah ya Tuhan ku ya Robbi ya sallim.. Engkau maha pengasih lagi maha penyayang.. tiada yang luput dari pandangan mu.. baik itu besar maupun kecil.. Ampuni dosa kedua orang tuaku.. lindungilah dimana pun mereka berada serta limpahkan lah Rahmat dan karunia mu kepada mereka berdua..


Ya Allah ya Tuhan ku.. Ampuni dosa.. dosa suamiku.. baik yang sekarang maupun yang lalu.. tuntun lah ia agar selalu menuju ke kejalan MU.. Buka kan lah pintu hidayah Mu untuknya selebar-lebarnya.. Apapun yang telah ia perbuat hari ini adalah takdir yang telah kau tetapkan untukku.. aku akan menerima dengan lapang dada baik dan buruk suamiku.. aku juga bukan orang yang baik.. aku hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa.. hanya saja.. aku tidak menyangka.. jika imam ku akan berubah seperti ini.. maafkan hamba ya Robb jika hamba mengeluh padamu.. bukan hamba mengeluh.. hanya saja.. terasa berbeda.. maafkan hamba ya Robb.. aku menerima kelebihan dan kekurangan nya.. Semoga ini menjadi ladang pahala untukku untuk menuju surga Mu.. Amiiin...


Setelah Alisa selesai berdoa masih dengan memakai mukenah nya, Alisa menuju ke dapur saat perutnya semakin perih karena belum makan malam.


Makan malam yang katanya bersama dengan suami tercinta berubah menjadi santapan nikmat untuk suaminya tapi tidak untuk dirinya.


Sesampainya di dapur, ia melihat dua bungkusan yang berisi mie goreng dan martabak telur. Alisa membuka dua bungkus itu sekaligus, kemudian ia bagi dua.


Setengah mie goreng dan setengah lagi martabak telur. Dirinya yang sedang lapar berat, melihat makanan yang menggugah selera membuat dirinya kalap.


Alisa makan dengan lahap. Walau sesekali menyusut air bening yang mengalir di pipinya. Makan malam yang biasa nya bertiga dengan orang tua kini hanya sendiri.


Makan dalam suasana hati sedang terluka. Namun, setelah di pikir-pikir apa yang dilakukan Emil itu memang wajar. Toh, Emil itu kan suaminya?

__ADS_1


Entahlah! Alisa tidak tau ada apa dengan hatinya saat ini. Setelah makan malam, ia kembali ke kamar dan berbaring di sisi Emil.


Rasanya baru sebentar Alisa tertidur lelap, namun sudah terusik. Ada sesuatu yang menelusup kedalam mukenah nya.


Karena ia begitu mengantuk, Alisa tidak peduli dengan hal itu. Tubuhnya begitu lelah.


Baru sebentar ia larut dalam mimpi, sekarang tubuhnya seperti sedang dicumbui. Alisa bergerak gelisah saat sesuatu yang basah itu menggelitik dirinya.


Ingin bangun, tapi tidak sanggup. Karena dirinya begitu lemas tidak bertenaga. Alisa hanya bisa melenguh tanpa sadar.


Seseorang yang sedang menguasai tubuhnya terbakar kabut gairah, saat mendengar lenguhan dan desa Han dari sang pemilik tubuh.


Alisa menggeliat tak karuan dibawah Kungkungan nya. Semakin ia menelusup, semakin kuat pula erangan Alisa.


Alisa seperti sedang di cumbuan oleh sesuatu di dalam mimpinya. Namun, untuk sekedar membuka mata saja ia tidak sanggup.


Remang-remang terlihat seseorang disana, seseorang yang begitu merindukan dirinya. Alisa hanya melihat tubuh belakang nya saja. Tanpa sadar Alisa melenguh panjang.


Sedang tersangka tersenyum. Ia tau jika sang istri baru saja melalui pelepasan yang pertama.


Saat penyatuan itu terjadi, Alisa tersentak. Ia membuka mata dan melihat Emil sudah ada di atasnya.


Alisa menatapnya dengan sendu. Sedangkan Emil menatapnya dengan kabut gairah. Saat Emil memajukan mundurkan pinggulnya, Alisa menjerit.


Baginya ini masih terasa sakit. Karena baru tadi malam ia melakukan dengan sang suami. Sebulir bening mengalir di pipinya.


Melihat Alisa menangis, ia malah tersenyum. Alisa membuka matanya dan melihat Emil sedang tersenyum dengan tubuh bagian bawah terus bergerak di atasnya.


Alisa menatap nanar pada Emil. Lagi dan lagi, Emil mengabaikan Alisa yang sedang menangis terisak.


Hancur hatinya, luruh sudah harapannya. Baru saja tadi ia berdoa, berharap jika suami nya akan sedikit lebih peka padanya. Namun lihatlah sekarang.

__ADS_1


Apa yang terjadi tadi, sekarang terulang lagi.


Erangan dan desa Han di dalam kamar Alisa terus terdengar.


Hanya dirinya yang menggeram dan mendesis. Sedangkan Alisa larut dalam duka nestapa.


Pada hentakan terakhir, Emil memeluk Alisa begitu erat. Ia memeluk Alisa dengan mata terpejam dan nafas terengah-engah.


Alisa yang melihatnya terdiam. Setelah selesai Emil menarik tubuhnya dari tubuh Alisa.


Penyatuan itu sakit menurut Alisa sedangkan menurut Emil, sangat menyenangkan. Lagi, Emil mengabaikan Alisa.


Tidak ada ucapan sayang, juga tidak ada ucapan terimakasih dari nya. Membuat Alisa terisak.


Ia tidur dengan membelakangi Emil. Berharap pemuda itu akan memeluknya. Sayang.. hingga setengah jam Alisa menunggu, tetap tidak ada pelukan hangat dari sang suami.


''Ya Robb.. kuatkan aku.. aku ikhlas jika ini memang takdirku.. ini kewajiban ku.. tapi kenapa rasanya begitu sakit saat di abaikan seperti ini??'' bisiknya sambil terisak.


Lama Alisa menangis, tanpa sadar ia terlelap hingga waktu subuh ia pun tidak sadar. Alisa bangun saat matahari sudah menunjukkan sinarnya.


''Ehm.. jam berapa ini??'' ucap Alisa dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Ia melihat ke sisi lain pembaringan. Tidak ada siapa-siapa disana. Alisa kecewa. Karena ia sudah kesiangan, ia bergegas bangkit dan menuju kamar mandi.


Saat akan bergerak, lagi Alisa merasakan perih yang tiada Tara. Alisa menghela nafasnya.


''Ssssttt.. sakit sekali.. kayaknya hari ini, aku nggak bisa masak deh. Auwh.. Aduhh .. sakit sekali..'' lirihnya.


Ia terus berjalan sambil menahan rasa sakit di pusat intinya. Alisa menangis.


Lagi dan lagi ia kecewa terhadap suaminya.

__ADS_1


💕


TBC


__ADS_2