
'' Dek.. Abang akan jelaskan! Sebenarnya..''
Emil menghirup udara segar sebanyak mungkin untuk memenuhii paru-parunya yang terasa sulit untuk bernafas.
" Sebenarnya pada saat itu, Abang kembali ke tempat kak Ross, untuk mengatakan sesuatu, tapi setibanya disana, malah ia memeluk Abang dengan erat, hingga sulit untuk bernafas. Awalnya Abang nggak curiga dengan kelakuannya itu, tapi saat Abang melamunkan kamu, ia malah ingin mencium Abang. Abang terkejut, reflek aja Abang menghindar, dan dia hanya dapat mencium pipi Abang aja..'' ujar lirih diujung kalimatnya.
Alisa berhenti tertawa. Tapi saat mendengar penuturan Emil, ia ingin mendengar lebih. Ia membuka telapak tangannya.
Emil tersenyum, tapi aneh ya? Kok wajah Alisa nggak ada air matanya? Saat ia melamunkan wajah Alisa, tiba tiba Alisa mengejutkan nya.
'' Jelaskan! apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu!'' tukasnya.
Emil mengangguk patuh, kemudian ia mulai menceritakan bagaimana awalnya ia mendatangi kak Ross untuk menyampaikan sesuatu berujung dengan perkataan yang menyakiti hati perempuan malang itu.
( Ada pada bab 55 ya.. )
Emil menghela nafasnya.
'' Abang tau dek.. Abang salah.. karena telah mengatakan dirinya seorang wanita yang begitu buruk. Tapi Abang terpaksa mengatakannya! Abang ingin dia tidak mengganggu hubungan kita lagi. Oleh karenanya Abang berkata demikian..'' lirihnya, membuat Alisa menatapnya instens.
Mencari sebuah kebohongan disana. Tapi nyatanya yang ia dapat hanyalah kejujuran. Alisa jadi dilema. Apa yang sebaiknya harus ia lakukan. Disatu sisi, ia sangat ingin dengan Emil, disisi lain ada seorang wanita yang terluka.
Aku harus apa ya Robb..
Alisa memejamkan matanya sejenak. Emil terus saja menatapnya. Tatapan penuh akan cinta.
" Dek.. Abang mohon.. jangan tinggalin Abang ya? Abang benar benar serius dengan mu.. nggak ada niat sedikitpun untuk menyakiti mu! Yang harus adek tau, seperti inilah Abang! bisa bergaul dengan siapa saja dan ganteng tentunya..'' ujar Emil, membuat Alisa memutar bola matanya malas.
__ADS_1
Emil terkekeh, sedang Alisa membuang muka. Ada saja tingkah nya, lagi serius malah negombal. Dasar Emil!
'' Abang disini atuh dek.. kok liatin tembok sih?'' ujarnya lagi. Alisa hanya diam tak menyahuti.
'' Abang beneran dek.. serius sama kamu! jika Abang hanya pura pura buat apa Abang kerja banting tulang selama dua bulan, hanya demi membelikan mu sebuah cincin? Abang rela tubuh Abang capek, nggak tau panas, nggak tau hujan, semua itu Abang lakukan demi memberikan sesuatu yang spesial untukmu, sebagai tanda jadi kalau Abang beneran serius dengan hubungan ini.''
Hati Alisa terenyuh mendengar setiap ungkapan hati Emil. Ingin sekali ia mengatakan jikalau ia menerima Emil. Tapi ada sesuatu yang masih mengganjal dihatinya tentang Emil.
Tiga bulan sudah hubungannya terjalin bersama Emil. Tapi Alisa belum juga mengenal Emil dengan baik.
Terkadang Alisa ragu akan pilihannya, tapi hatinya mengatakan jika adalah pemuda baik. Alisa benar benar bingung dengan keadaan ini.
Sebentar lagi, ia akan tamat sekolah. Apakah setelah tamat, Emil benar benar akan menikahinya??
Masih menjadi tanda tanya untuk Alisa. Lama mereka terdiam. Dua duanya larut dalam pemikiran Masing masing.
Hingga mereka berdua dikejutkan dengan suara orang mengucap kan salam.
'' Wa'alaikum salam Bu.. habis isya saya langsung kemari.. tapi ketika saya datang, ibu dan bapak nggak ada dirumah.'' ucapnya sambil memandangi pak Yoga dibelakang Mama Alina.
Emil bangkit, mengulurkan tangannya
untuk disalami. Pak Yoga hanya diam saja, Emil jadi salah tingkah ditatap seperti itu.
'' Pa.. diterima atuh tangan Mak Emil?'' tegur mama Alina, membuat pak Yoga tersentak.
'' Ah iya .. ya sudah bapak masuk dulu ya.. Lis! kalau udah selesai cepat masuk! nggak baik lama lama diluar!'' imbuh pak Yoga seraya berlalu seraya masuk ke dalam.
__ADS_1
'' Kami duluan ya nak.. udah capek, mau istirahat.'' ujar mama Alina.
'' Iya Ma..'' sahut Alisa, sedang Emil hanya tersenyum tipis.
Apa ini hanya perasaan ku saja ya? Kalau Pak Yoga tidak merestui hubungan kami berdua?? bisik hati Emil. Ia masih saja memandang kedua orang tua Alisa. Padahal mereka berdua sudah tak terlihat lagi.
Alisa yang melihat Emil melamun, menegurnya.
'' Abang!'' tegur Alisa
'' Hah? Iya apa dek?'' sahutnya.
'' Ada yang ingin disampaikan lagi nggak?? kalau nggak ada Alisa mau masuk kedalam. Besok Alisa sekolah, jadi harus cepat tidur agar lebih fit ketika bangun paginya.'' jelas Alisa.
Emil hanya diam, ia larut dalam lamunannya.
'' Ya sudah, kalau begitu Alisa masuk ya bang??''
'' Hah? eh? iya dek.. masuklah! Abang tunggu jawabanmu ya? waktu mu tinggal tiga bulan lagi sebelum Abang resmikan hubungan kita di depan penghulu! Abang harap kamu memikirkannya!'' serunya, sambil melangkah pergi dari rumah Alisa.
Alisa terdiam.
'' Abang pulang dek..''
'' Ya.''
Apa yang harus aku lakukan ya? Sungguh bingung aku, benar benar bingung.
__ADS_1
💕
TBC