Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Sisi lain pasangan


__ADS_3

Tok, tok, tok.


Pintu diketuk dari luar. Emil menggerutu sebal. Baru saja ingin menikmati waktu berdua, malah ada lagi pengganggu.


''Lagi??! Ck! Hadeuhhh.. ini dia yang membuat aku bosan! jika tinggal dirumah mertua! ada saja yang mengganggu!'' gerutu nya sambil berlalu dan membuka pintu.


Ceklek,


''Bu...''


''Eh? Sudah bangun?? Alisa mana??'' Mama Alina yang terkejut karena Emil tiba-tiba muncul di hadapan nya.


''Belum, baru saya saja sih.. kayaknya masih pulas. Ada apa ya Bu..''


''Panggil Mama aja kayak Alisa ya! Gini Nak.. hari ini kami ada kegiatan diluar kota, tiga hari baru pulang. Untuk itu Mama ingin mengabarkan pada kalian berdua, dan ternyata Alisa belum bangun toh.'' imbuhnya dengan menatap Emil.


''Kapan Mama akan berangkat??''


''Hari ini juga! Itu bus nya udah nongol di depan. Mama hanya ingin mengabarkan itu saja. Sampaikan pada Alisa ya, Nak.. Mama pergi dulu! Jangan khawatir... Alisa pintar memasak! kamu nggak akan kelaparan karena di tinggal kami berdua!'' serunya sambil tersenyum.


Emil tersenyum, '' hati-hati di jalan, Ma! semoga selamat sampai tujuan!''


''Ya, terimakasih! kami tidak akan lama kok. Hanya tiga hari saja. Karena tiga hari setelah kami pulang, kalian yang akan pergi dari rumah ini..'' lirih Mama Alina dengan wajah sendu.


Emil tau itu. Tapi tak bisa berbuat apa-apa. Karena ini adalah rencananya. ''Baiklah.. maafkan saya, Ma.. yang akan membawa Alisa jauh dari kalian berdua..'' lirih Emil sambil menunduk.


Mama Alina tertawa kecil. ''Sudah, sudah! Mama pergi dulu ya? Jaga Alisa dan rumah ini baik-baik. Assalamualaikum..''


''Waalaikum salam..'' sahut Emil.


Setelah nya Mama Alina berlalu pergi dari hadapan Emil. Emil yang penasaran, mengikuti mama Alina dari belakang.


Sesampainya disana, ia melihat keluarga Alisa sudah berkumpul. Mereka akan segera berangkat.


Pak Yoga menatap Emil sekilas, kemudian masuk ke dalam mobil, dan pergi meninggalkan rumah mereka.


Emil menghela nafas lega. Akhirnya... penantian panjang sirna lah sudah. Waktunya beraksi.


Emil berbalik dan..


''Astaghfirullah! Adek! Haduuhh.. kenapa berdiri di belakang Abang dengan diam?? hem?''


''Hehehe.. tadi ketika bangun aku tak mendapati Abang di sebelah, karena mendengar suara deru mobil, akhirnya aku keluar untuk melihat ada apa. Ternyata benar dugaan ku! jika Mama dan papa akan pergi hari ini.'' ucap Alisa seraya berlalu.


Sedangkan Emil menutup pintu dan menguncinya.


Saat melihat Alisa berjalan, hasratnya tiba-tiba timbul. Ia sangat ingin menikmati madu yang tersuguhkan di depan nya ini.

__ADS_1


Secepat kilat Emil berjalan dan menangkap Alisa.


Grep!


''Abang! ish.. awas ih! aku mau sholat dulu.. udah masuk waktu dhuhur ini.. belum lagi perut ku lapar! Apa Abang nggak lapar??'' tanya Alisa masih dalam dekapan Emil.


Hembusan nafasnya terasa di ceruk leher Alisa. Karena Emil sudah bermain disana. Alisa berontak, karena merasa sangat engap.


''Abang! lepas ih! Nanti malam aja ya.. ini kan masih siang?? Nggak enak di dengar tetangga..'' lirih Alisa dengan sesekali melenguh.


''Nggak! Abang nggak mau! Abang mau nya sekarang! tidak ada bantahan!'' tegas Emil.


Alisa terkejut, mata nya berkaca-kaca. Ia menangis. Membuat Emil melepaskan dekapannya.


''Lah, loh! kok nangis sih?! Abang kan nggak ngapa-ngapain adek loh.. kenapa??''


Ish... pake' nanya lagi! dasar suami nggak peka!


''Aku takut.. ini pertama kali nya untukku.. bisakah Abang pelan-pelan saja..'' lirih Alisa sambil menunduk.


Emil membuang nafasnya.


Sabar...


''Ya sudah, nanti malam saja! tapi ingat! jangan nolak lagi, oke??''


Alisa mengangguk.


''Iya.. Abang tidak sholat?? Kita jamaah ya??''


''Kamu duluan aja! nanti Abang nyusul!'' sahutnya dengan segera berlalu ke dapur dan membuka kulkas, mengambil bolu yang sengaja di simpan disana, sisa pernikahan mereka kemarin.


Alisa berdiri mematung. Hati berdenyut mendengar Emil menolaknya untuk sholat berjamaah.


Apakah ini salah satu bagian dari diri mu bang?? Apa lagi setelah ini??


Alisa menatap Emil dengan sendu. Tak disangka jika Emil menolaknya saat akan beribadah bersama.


Setelah selesai dengan sholat nya, Alisa ke dapur dan melihat Emil yang sudah duduk di kursi sedang makan sendirian.


''Eh? Abang ambil sendiri??'' tanya Alisa, ia pikir Emil akan perlu pelayanan dari nya. Ternyata tidak.


Sesak lagi hatinya.


''Ngapain nungguin kamu! kamu lama sholatnya! Abang udah lapar! sedari pagi belum sarapan! Dan sekarang baru bisa makan. Jadi buat apa menunggu kamu??'' tanya dengan mulut penuh makanan.


''Hoo.. ya sudah! mau Alisa buatkan teh??''

__ADS_1


''Nggak! tuh udah ada sirup sisa pesta kita kemarin. Udah itu aja!'' sahutnya, tanpa menatap Alisa sama sekali.


Astagfirullah...


''Inikah lagi kebiasaan mu yang tidak aku ketahui bang??'' lirihnya sambil berjalan menuju ujung dapur.


Emil yang melihat Alisa menuju dapur, cuek aja. Ia sibuk dengan makanan nya. Ia melihat semua pekerjaan rumah sudah beres.


Tidak ada yang perlu di kerjakan lagi. Karena sebelum pergi, Mama Alina sudah mengurusnya semua.


Sedangkan Alisa berdiri termangu disana seorang diri. Ia melamunkan pesan mama nya tadi malam, sebelum ia tidur.


''Nak.. kamu tahu arti pernikahan kan??''


Alisa mengangguk.


''Pernikahan bukan hanya menyatukan dua pasangan untuk menyempurnakan agama. Tapi pernikahan itu juga menggabung kan dua sifat yang berbeda. Tidak hanya menggabungkan keluarga tetapi juga penggabungan diri dengan pasangan kita. Setelah menikah, nanti kamu akan banyak melihat yang tidak sesuai dari pasangan mu..''


''Mama harap kamu bisa memahami nya. Karena setelah menikah, kebiasaan-kebiasaan yang tidak ditunjukkan di hadapan kita akan keluar dengan sendirinya setelah menikah. Jadi kamu jangan terkejut, jika melihat sesuatu yang tidak mengenakkan dari suami mu.'' tutur nya lembut, membuat Alisa merenung.


''Banyaklah bersabar.. ajaklah ia pada kebenaran jika ia tidak di jalan Nya. Tegur lah ia dengan kata yang lembut agar tak menyinggung perasaan nya. Kita seorang istri fitrah nya adalah patuh. Sedangkan suami fitrahnya pemimpin bukan penghukum! Yang berhak menghukum hanya Allah SWT. Jadi.. jangan berkecil hati, jika nantinya kamu mendapati sisi lain dari suami mu. Kunci nya hanya satu. Banyak bersabar dan terus mendekatkan diri pada Allah yang maha kuasa." jelas mama Alina, membuat Alisa mengangguk.


"Dek..."


"Hah??" Alisa terkejut, saat Emil memanggil nya.


"Kamu kenapa?? kok malah kaget Abang panggil??"


"Oh.. nggak apa-apa bang. Hanya sedang melihat tanaman Mama saja disana, rencananya sih mau nyusun balik biar ada kegiatan sambil nunggu malam." sahut Alisa.


Emil mengangguk-angguk kan kepalanya. Sedangkan Alisa masih berdiri mematung disana sambil menerawang tentang kejadian yang baru saja terjadi di dalam kehidupan pernikahan nya.


Cup!


''Eh??''


''Ayo...''


''Kemana??''


Emil tersenyum smirk, membuat Alisa bergidik ngeri.


💕


Otw unboxing ye..


TBC

__ADS_1


__ADS_2