Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Wanita pembawa sial


__ADS_3

Setelah selesai dengan tugasnya, kini Rita sudah kembali ke Medan. Dan barubsajja tiba pagi tadi.


Ia sengaja tak mengabari Alisa, karena Rita sudah mengatakan jika ia akan pulang setelah lima hari kedepan.


Jadilah ia dirumah saja tanpa tau seperti apa keadaan Alisa disana bersama dengan kedua anaknya.


Lima hari berlalu.


Hati ini Rita pergi kerumah Emil dengan membawa oleh-oleh dari Pekanbaru. Ira yang melihat Rita datang, begitu antusias.


Gadis kecil begitu senang ketika uwaknya membawakan nya makanan. Rita memberikan titipan Emil padanya.


Alisa menerima dengan senang hati. Rita menceritakan semua yang terjadi pada Emil disana.


Alisa yang mendengarnya sangat terkejut. Alisa mengucap istighfar berulang kali. Dan ia menangis.


Setelah semuanya ia tau, kini Alisa hanya bisa menunggu kepulangan Emil. Dan ternyata, kontrak kerja mereka di perpanjang.


Jadilah hanya melalui saluran telepon saja mereka berhubungan. Walaupun Emil jarang pulang karena mencari rezeki, tapi ia tidak pernah lupa akan tanggung jawabnya.


Emil hanya bisa pulang setahun sekali. Karena semakin besar proyek yang ia lalui semakin tinggi pula gajinya.


Dan kini ia berencana ingin membangun sebuah rumah dengan uang hasil kerjanya itu.


Uang itu sudah terkumpul dalam rekening Alisa. Emil taunya jika uang yang selalu ia kirimkan utuh.


Tanpa dipakai oleh Alisa. Tidak tau saja Emil kalau Mak nya itu sering datang meminta uang pada Alisa.


Alisa yang tidak mau membantah, memberikan uang itu pada Mak mertuanya. Takut di cap menantu durhaka oleh Mak nya Emil.


Hingga beberapa tahun kemudian, Emil sudah kembali dan menetap di Medan. Ia kembali karena Ayah Bram sudah meninggal dunia saat usia anak kedua nya tujuh bulan.


Hingga sekarang Emil menetap di Medan. Walaupun sesekali keluar kota juga bersama Pak Daman.


Untuk sekarang, rumah tangga mereka adem ayem. Tidak ada guncangan dari pihak pelakor, dan juga pendatang baru dalam rumah tangga mereka.


Hingga...


Dua belas tahun kemudian, rumah tangga mereka di uji lagi dengan ujian lebih kuat. Alisa yang notabene nya sangat menginginkan anak lagi, tapi tak kunjung diberikan oleh yang maha kuasa.


Mungkin belum saat nya saja begitulah pikir Alisa. Terkadang, dalam sebuah hubungan ada tingkat kejenuhan disana.


Tinggal kita saja yang harus bisa membawa pasangan kita agar ia tidak jemu dengan kelakuan kita.

__ADS_1


Inilah yang Alisa alami sekarang. Terlihat perubahan Emil begitu drastis padanya. Biasanya pulang kerja masih ada kata-kata lembut menyapa indera pendengar nya.


Tapi sekarang? Malah sebaliknya. Alisa selalu mendengar perkataan Emil yang selalu menyalahkan nya.


''Apa sih, yang kamu bisa?! Bisanya cuma menghambur-hamburkan uang ku saja! Sana keluar kamu cari kerja! Biar tau rasanya kamu seperti apa enaknya bekerja! Bukan tau nya hanya meminta... saja padaku!'' ketus Emil membuat hati Alisa sakit mendengar perkataan nya.


Putra kedua Alisa, yang diberi nama Maulana Akbar hanya bisa diam melihat Mak nya dihina oleh Ayah nya di depan matanya sendiri.


Begitu juga Ira. Putri sulung Emil itu sekarang sudah baligh dan berusia dua belas tahun. Ia terdiam mendengar Ayah nya setiap hari hanya bisa menghina Mak nya saja.


''Kerja kamu sana! capek aku kerja terus menerus sedari dulu! Sedangkan uang yang aku kirimkan pada mu habis tak menentu! Dasar boros!! Apa sih yang bisa kamu lakukan selain menghabisi uang ku? Hah?!'' Sentak Emil, membuat Alisa terjingkat kaget.


Alisa hanya bisa menunduk. Ia tak menyahuti sedikitpun perkataan Emil. Ia hanya bisa diam.


Padahal saat ini, hati nya begitu sakit mendengar setiap kalimat yang dilontarkan oleh Emil untuknya.


Ya Allah... aku harus apa?? Apakah aku harus bekerja untuk mengganti uang nya yang sudah habis oleh ibunya itu??


Apa yang harus aku lakukan? Bantu aku ya Allah..


''Kenapa kamu diam?! Biasanya mulut mu sangat nyinyir berbicara kepada ku?! Kemana suara mu? Sudah rusak? Karena terlalu banyak memakan uang ku?? Jawab Alisa!!'' Sentaknya lagi.


Lana bukan main takutnya saat melihat Emil ngamuk seperti itu. Sedikit tidaknya ia tau apa yang terjadi selama ini.


Alisa lebih memilih mengalah. Lebih baik dimarahi Emil, daripada harus durhaka sama Mak mertua nya.


Entah apa yang merasuki Emil, hingga ia tega menimpuk Alisa menggunakan tas sekolah Lana.


Puk, puk.


''Dasar tidak tau diri! Kenapa sih? kau selalu saja mencari masalah dengan ku?! Kurang puas kah kau selama ini membuatku susah seperti ini hah?! Dasar pembawa sial!! Menyesal aku menikah dengan mu!!!'' pekik Emil.


Ddddduuuaaarrrr..


Alisa tersentak tatkala mendengar jika dirinya adalah wanita pembawa sial dalam kehidupan nya.


Aku?? Pembawa Sial??


Alisa menatap nanar pada Emil yang terus saja mengumpati Alisa tiada henti. Lana dan Ira sudah saling berpelukan dan menangis.


Begitu sakit telinga mereka saat mendengar jika Mak nya itu di anggap wanita pembawa sial oleh Ayah nya.


''Kalau ku tau dulu akhirnya seperti ini, aku tidak akan menikah dengan mu! Aku menyesal menikahi wanita pembawa sial seperti mu! Pergi kau! Muak aku melihat mu!! Gara-gara kau! Semua uang ku lenyap tak bersisa! Kembalikan uang ku heh?! Kembalikan!!'' sentak Emil lagi.

__ADS_1


Ia sudah kalap saat melihat Alisa wajahnya yang beruraian air mata.


Plaaakk..


''Dasar tak berguna!!! Pembawa siallll!!! Aaakhhh...'' jerit Emil frustasi


Alisa hanya bisa menahan perih di pipi dan kepala nya. Alisa terisak.


''Aku tak pernah menghabiskan uang mu sepeser pun! Uang itu aku ambil untuk keperluan dapur dan juga biaya sekolah Lana dan Ira. Teganya kau menuduhku mengambil semua uang mu?'' ucap Alisa.


Tak tahan, jika ia selalu di salahkan oleh Emil. Emil menatap nyalang padanya.


Plaaakk..


Lagi tangan kasar Emil menyentuh pipi halus Alisa membuat wanita itu meringis menahan sakit begitu juga hatinya.


''Setaannn!!! berani kau menyahuti ucapan ku hah?! Muak aku melihat mu!! Pergi kau dari rumahku!!'' pekik Emil lagi.


Ia berlalu ke kamar dan mengambil semua pakaian Alisa dan membuangnya keluar rumah mereka hingga bertaburan disana.


Dari kejauhan terlihat seseorang baru pulang kerja, melihat kelakuan Emil terhadap Alisa ia mengepalkan tangannya hingga kuku nya memutih.


''Jahat kau Bang! Bukan aku yang menghabiskan uang mu! Tapi Mak mu!!'' jerit Alisa pula.


Ia sudah tak tahan karena dirinya terus disiksa. Bukan hanya fisik namun juga batin nya.


Emil menoleh pada Alisa. Wajah nya bengis melihat Alisa. ''Apa kau bilang?! Kau menuduh Mak ku, hah?! Lempar batu sembunyi tangan kau rupanya?! Dasar wanita pembawa sial!!!''


''Cukup! cukup Yah! Malu dilihat orang!'' tegur Lana.


''Kamu ingin membela Mak mu?! Sini kamu?!''


Plaakk..


Plaakk..


''Tidaaaaaakkkkk...''


💕


Tahan nafas, kita masuk kawasan banyak konflik. Kalau nggak kuat, mundur alon-alon.. 😄😄


TBC

__ADS_1


__ADS_2